Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari - hari menjadi kurir
Setelah beberapa saat Cantika belajar ,sekarang ia sudah mulai terbiasa dan sudah menikmati hari - hatinya .
Hari itu Setelah semua pengiriman selesai, Rani dan Cantika duduk di trotoar depan ruko sambil makan snack yang disediakan: roti isi cokelat dan air mineral dingin.
Perut Cantika langsung berbunyi sebelum ia sempat membuka plastik roti.
Rani menatapnya dengan senyum geli. “Laper banget ya?”
“Laper parah. Aku dari pagi belum makan.”
“Makan lah. Kamu kayak ayam kurus gitu.”
“Ayam kurus dari dukun mana coba…”
Rani dan Cantika tertawa bersamaan.
Cantika mengunyah roti pelan, menikmati rasanya. Roti biasa saja, tidak istimewa. Tapi di lidahnya, rasanya seperti makanan paling enak karena dimakan tanpa tekanan, tanpa paksaan, dan tanpa takut dimarahi.
“Ran…” panggil Cantika pelan.
“Hm?”
“Terima kasih. Udah bawa aku ke sini. Udah bantuin aku.”
Rani tersenyum lembut. “Kamu berhak hidup bahagia, Tik. Dan kamu bakal bahagia. Mulai hari ini sampai seterusnya.”
Cantika menatap langit cerah. Untuk pertama kalinya Ia merasa punya masa depan yang bisa ia raih dengan tangannya sendiri.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena dijual.
Tapi karena ia memilihnya.
---
Sore Hari – Pulang dengan Rasa Capek yang Menyenangkan
Mereka kembali ke dapur, mengembalikan motor, lalu pulang ke kos naik ojek online.
Cantika memegangi pinggangnya sambil meringis. “Ran… badan aku remuk…”
“Itu tandanya kamu kerja beneran. Besok sama lusa bakal kerasa banget. Tapi nanti kamu terbiasa.”
Cantika tertawa kecil. “Capeknya beda ya… capek tapi seneng.”
Rani mengangguk. “Karena kamu capek buat diri kamu sendiri, bukan buat orang yang cuma manfaatin kamu.”
Sesampainya di kamar kos, Cantika langsung rebah di kasur.
“TIK! Mandi dulu!” bentak Rani sambil menunjuk pintu kamar mandi.
“Mau mati dulu sebentar…”
“Nggak! Bau keringat kamu kayak kucing kehujanan.”
Cantika langsung bangkit. “Ran! Jahat banget omongannya!”
Rani ngakak. “Cepet mandiiii!”
---
Malam Hari – Harapan Baru
Setelah mandi, makan sederhana, dan nyantai sebentar, Rani melihat Cantika terdiam menatap langit-langit.
“Kamu mikir apa?” tanya Rani.
Cantika tersenyum kecil. “Aku mikir… kalo aku bertahan di desa… mungkin sekarang aku udah duduk di samping Juragan Somad…”
Rani meringis getir. “Ih serem bayanginnya.”
“Makanya…” Cantika duduk tegak. “Aku bersyukur banget kabur.”
Cantika duduk tegak. “Aku bersyukur banget kabur.”
Rani memeluk bahunya. “Kamu udah ambil keputusan paling berani dalam hidup kamu.”
Cantika menghela napas panjang. Berat, tapi lega.
“Ran… besok aku mau kerja lebih semangat lagi. Aku mau nabung. Aku mau cari kosan, mau belajar, mau hidup bener.”
Rani tersenyum bangga. “Nah gitu dong! Cantika versi baru!”
Cantika terkikik. “Cantika upgrade.”
“Cantika 2.0.”
“Kalo udah lulus jadi kurir profesional, naik level lagi.”
“Cantika 3.0.”
Mereka berdua ngakak lagi.
Di kamar mungil itu, dua sahabat tertawa lepas. Di luar, Jakarta tetap riuh. Tapi di dalam kamar itu, ada ketenangan.
Ada awal baru.
Ada mimpi yang mulai tumbuh.
Dan Cantika… akhirnya merasa ia berada di jalan yang benar.
--
Ke esokan harinya
Matahari belum sepenuhnya naik ketika Cantika sudah terjaga. Bukan karena alarm, tapi karena semangat yang menggelitik dari dalam. Ia menoleh ke arah Rani yang masih mendengkur pelan, selimut nyaris jatuh ke lantai. Dengan senyum kecil, Cantika bangkit pelan, tidak ingin membangunkannya.
Ia menyalakan kompor kecil, memasak air untuk kopi instan,bekal dari warung langganan yang memberinya bonus dua bungkus kemarin. Tangannya bergerak cekatan, seolah tubuhnya ingat bagaimana caranya merawat diri sendiri, meski selama berbulan-bulan terpaksa melupakan itu.
Saat Rani akhirnya terbangun, ia dikejutkan dengan secangkir kopi hangat di meja kecil dan Cantika yang sedang mengancingkan seragam kurir dengan rapi.
“Kamu sudah mandi?” tanya Rani, masih setengah sadar.
“Sudah. Aku juga cuci baju kemarin. Nggak mau badan atau baju bau kucing kehujanan lagi,” jawab Cantika sambil
Mereka Sarapan seadanya,roti tawar dengan selai kacang yang hampir habis,Cantika membuka dompet kecilnya. Di dalamnya, hanya ada beberapa lembar uang receh dan satu lembar uang kertas yang masih baru.
“Ini bayaranku kemarin. Aku simpen buat kosan sendiri nanti,” katanya pelan, seolah sedang berjanji pada dirinya sendiri.
Rani mengangguk, lalu mengeluarkan buku catatan kecil dari laci. “Ayo kita bikin rencana. Nabung tiap hari, cari info pelatihan kurir resmi, dan mulai bikin CV sederhana.”
Cantika menatapnya, mata berkaca-kaca. “Kamu beneran mau bantu aku sampe sejauh itu?”
“Kita kan tim. Tim nggak nyerah,” jawab Rani mantap, sambil mencoret-coret kertas dengan pulpen warna-warni,dan mereka berdua dengan semangat bersiap untuk berangkat bersama
Sementara itu suara klakson ojek dan deru mesin motor mulai ramai. Tapi di dalam kamar itu, ada ritme baru,yaitu ritme harapan yang mulai berdetak konsisten.
Hari ini, Cantika tidak hanya mengantar paket.
Ia mengantar mimpi-mimpinya sendiri, satu langkah demi
---
Hari berikutnya
Titik pengiriman pertama, Cantika hampir salah menyerahkan paket ke alamat yang mirip. Tapi ia segera mengoreksi diri—mengingat nasihat Rani: (“Periksa dua kali, malu sekali kalau salah.”) Ia tersenyum kecil, lega. Ternyata, belajar dari kesalahan kecil itu terasa jauh lebih ringan daripada dulu, saat setiap salah dihukum dengan bentakan atau hinaan.
Sore itu, saat istirahat di taman kecil dekat stasiun, ia duduk di bangku kayu yang catnya mulai mengelupas. Ia mengeluarkan buku catatan kecil yang kemarin dibelikan Rani#“Investasi pertama buat masa depanmu,” katanya. Dengan tulisan cekatan, Cantika mencatat rute hari ini, waktu tempuh, dan pelanggan yang ramah. Ia bahkan mulai memberi kode: bintang untuk yang suka kasih tip, senyum untuk yang selalu bilang “hati-hati, ya”.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Rani: #“Jangan lupa minum air! Aku udah cek cuaca,panas banget hari ini.”#
Cantika menghela napas, hangat. Pertama kalinya ia merasa (dijaga), bukan (dimiliki).
Pulang sore itu, ia tidak langsung rebah. Ia mencuci seragamnya sendiri, menjemur di jendela
Sebelum tidur, ia menatap langit malam Jakarta yang redup oleh polusi, tapi tetap menampakkan bintang-bintang samar.
"Bapak ,ibu ,kamu disana pasti hidup bahagia ,doakan anakmu ini ,supaya bisa tercapai cita citaku .' Cantika menatap bintang - bintang yang bertaburan di langit gelap .ia merasa lega tapi dia juga harus menyemangati dirinya ,karena perjalanan masih panjang ,bebas dari paksaan menikah dan lari ke kota bukan Akhir ,tapi ini baru permulaan perjalannya .
“Nggak usah jadi bintang paling terang,” gumamnya pelan. “Cukup bersinar cukup buat lihat jalan sendiri,semangat Cantika ,kamu pasti bisa ," Cantika kembali menyemangati dirinya sendiri .
Sementara itu ,di sampingnya, Rani sudah tertidur pulas. Tapi senyumnya masih menggantung di bibir,seolah tahu, sahabatnya saat ini sudah menemukan jalan untuk menyongsong masa depannya .