[Di sarankan membaca Transmigrasi Istri Pemburu Season 1 terlebih dahulu]
↓↓
Sesama Reinkarnasi yang mencari misteri kisah kehidupan masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
orangtua baru
Kereta kuda hanya bisa mengantar sampai ke batas kota, Yuwen dan Yue terpaksa harus menginap semalam di penginapan sebelum melanjutkan perjalanan. Untung saja Yi'er tidak rewel dan mau jadi anak penurut.
"Yi'er, apa Ibu boleh bertanya sesuatu?." Tanya Yue.
"Iya." Jawab Yi'er.
"Apa Yi'er masih ingat semuanya?." Tanya Yue penasaran.
"Ya." Yi'er menganggguk lucu.
"Saat perang dengan semua umat?." Yue memastikan.
"Ya, saat Ayah menusuk Yi'er dengan pedang. Saat Ayah dan Ibu menjemput Yi'er di hutan, semuanya." Lirih Yi'er.
Deg.
"Yi'er.. apa kau takut?." Tanya Yue merasa khawatir.
"Tidak." Yi'er menggeleng.
"Kenapa begitu?." Yue merasa aneh.
"Karena Ayah dan Ibu akan selalu melindungi Yi'er, Yi'er akan baik-baik saja." Jawab Yi'er yakin.
Yue dan Yuwen yang mendengar itu tertegun, kepercayaan yang begitu besar dari Yi'er sungguh sangat menyentuh. Yuwen bahkan merasa malu karena sampai saat ini masih belum bisa menjadi sosok Yuwen yang dulu, dia masih perlu beradaptasi dan melakukan pendekatan dengan Yi'er.
"Coba beritahu Ayah dan Ibu, apa yang di rasakan Yi'er saat ini." Tanya Yue pelan.
"Senang." Jawab Yue.
"Senang?." Yue mengerutkan keningnya.
"Senang bisa memiliki kesempatan bertemu dengan Ayah dan Ibu lagi. Meskipun kalian jadi aneh, tapi Yi'er senang." Ucap Yi'er, dia masih sedikit cadel.
"Aneh?." Kaget Yuwen.
"Ya, Ayah jadi aneh karena tidak mencintaiku lagi." Jujur Yi'er, terlihat murung.
"Mencintai?." Kaget Yuwen, bahasa yang terlalu intim untuk hubungan Ayah dan anak.
"Iya, Ayah sudah tidak mencintai Yi'er lagi. Ayah berubah, hanya Ibu yang tetap sama." Yi'er merajuk.
"Benarkah? Ibu tetep sama?." Yue merasa bangga.
"Iya wajah Ibu masih saja seperti siluman monyet." Ceplos Yi'er.
"Pftttttt." Yuwen tidak bisa menahan tawanya.
"Heyy kalian ini jahat sekali pada Ibu ya, sudahlah kalian hidup saja berdua." Yue membalikan badannya merajuk.
"Apa yang kau lakukan Yi'er? kau membuat Ibu sedih, kau benar-benar anak yang nakal." Ucap Yuwen pura-pura marah.
"T-tidak, Yi'er tidak nakal." Yi'er panik.
"Jika tidak nakal kenapa membuat Ibu bersedih, bagaimana mungkin seorang anak mengatai Ibunya seperti monyet. Ini kejahatan besar, harus di hukum berat." Yuwen kompor.
"Apa?! Tapi kan Ayah yang bilang jika Ibu itu aslinya Siluman monyet." Yi'er tidak terima.
Deg.
"A-apa?." Kaget Yuwen.
"Benar, Ayah yang mengatakannya. Yi'er siluman Naga, Ayah siluman kadal dan Ibu siluman monyet." Ucap Yi'er klarifikasi.
"Tapi kau siluman Phoenix api kan?." Yuwen mencari alasan.
"Dulu bukan." Yi'er menjerit marah.
"Hey kenapa malah jadi kalian yang berdebat, harusnya kalian membujuk ibu yang marah. Kalian ini benar-benar tidak pernah menganggap Ibu ya, sudahlah Ibu maumenna di suami dan anak baru saja." Yue beranjak berdiri.
"TIDAK BOLEH."
Yi'er dan Yuwen menahan Yue dengan erat, Yuwen memeluk Yue sedangakan Yi'er bergelantungan di kaki Yue. Yue tersenyum sombong, ternyata dirinya orang penting.
"Kaya ada yang mau keluar." Batin Yue.
Broottt
Yuwen dan Yi'er langsung mundur menjauh dan menutup hidung mereka. Yue hanya menggaruk rambutnya canggung, dia tidak menyangka jika kentutnya akan sekeras itu.
"Hehehehehehehhehe." Cengir Yue malu.
"Hueekkkkk." Yi'er bahkan sampai muntah.
"Astaga Yi'er." Yuwen memijat tengkuk Yi'er kasihan.
Bagaimana tidak? Yi'er bergelantungan tepat di samping pantat Yue, tentu saja dia yang paling banyak menghirup kentut bangkai milik Yue. Yuwen hanya bisa menahan senyumnya, siapa sangka dia akan merasakan kejadian aneh seperti ini dalam hidupnya yang selalu serius.
"Uhukk.. uhukk.. huhuhu... itu lah kenapa Yi'er tidak suka Ibu." Yi'er menangis kesal.
"Hey Ibu kan tidak sengaja, lagian wajar saja manusia kentut." Yue merasa malu.
"Tidak wajar, aku pertama kali mencium kentut se busuk ini." Jujur Yuwen.
"YUWEN!!!!!." Teriak Yue malu berat.
Yuwen dan Yier hanya tertawa, terus menggoda Yue yang wajahnya sudah memerah saking malunya. Yuwen baru pertama kali melihat wajah Yue saat malu, ternyata lucu juga.
Besok paginya Yue dan Yuwen melanjutkan perjalanan mereka naik kereta kuda lagi. Yi'er duduk dengan tenang di pangkuan Yuwen, berbeda dengan sebelumnya, kali ini di kereta kuda ada penumpang lain yang juga ingin ke luar kota.
"Apa ini anak kalian?." Ujar seorang wanita paruh baya.
"Benar." Yue mengangguk.
"Kalian terlihat sangat muda, tapi sudah memiliki anak sebesar ini. Putra kalian sangat tampan sekali ya, mirip dengan Ayahnya." Ucap wanita itu.
"Tidak, putra kami mirip kami berdua." Ralat Yuwen.
"Benarkah? menurutku dia lebih mirip denganmu." Ujar wanita tadi.
"Ibu, bibi ini mulutnya jahat." Ucap Yi'er julid.
"Benarkah? jahat kenapa?." Yue pura-pura polos.
"Intinya jahat, Yi'er tidak suka bibi itu. Benar kan Ayah?." Yi'er mengajak teman.
"Iya." Jawab Yuwen menurut saja.
"Astaga, masih kecil sudah di ajari tidak sopan. Begitu lah jika salah memilih istri, mendidik anak pun tidak becus." Wanita itu menggerutu.
"Hentikan kereta kudanya, kami turun disini." Yuwen berucap dingin.
Kereta kuda berhenti, Yuwen membayar lebih dan buru-buru pergi. Sungguh dia merasa kesal, kenapa di setiap kesalahan selalu istrinya yang terkena imbasnya? padahal sejak tadi Yue diam saja.
"Kenapa kau yang kesal?." Tanya Yue, dia senang karena di bela.
"Kenapa selalu kau yang terkena kebencian orang? padahal kau sedari tadi diam saja, baik di desa maupun di sini semuanya sama." Ujar Yuwen, merasa dongkol.
"Begitu lah nasib wanita, menjadi wanita apalagi seorang istri itu sulit. Jika suami kurus yang di salahkan itu istri, jika suami selingkuh yang di salahkan istri, jika anak nakal yang di salahkan istri, jika suami bangkrut yang di salahkan tetap istri. Apapun yang terjadi yang salah tetaplah istri, dan biasanya yang menyalahkan sesama perempuan." Ucap Yue.
"Kenapa? kenapa mereka seperti itu?." Heran Yuwen.
"Karena hidup mereka tidak bahagia, karena itu mereka sibuk mengurusi hidup orang lain. Jika ada wanita yang sedang dalam masa sulit, mereka akan merendahkan dan mengejek agar merasa derajat mereka lebih tinggi. Jika ada wanita yang di manja suami mereka akan menghina karena iri, intinya jika seorang istri di bahagiakan oleh suaminya dia tidak akan punya waktu untuk mengurusi hidup orang lain." Ucap Yue.
"Kau benar, tapi kau terus saja terkena hinaan orang apa aku gagal membahagiakan mu?." Tanya Yuwen, mulai insecure.
"Aku bahagia, itu karena di zaman ini derajat wanita itu rendah. Istri di perlakuan seperti pembantu, seakan tidak punya harga diri dan harus menjilat kaki suaminya. Suami yang keji seperti itu selalu saja menambah banyak istri, supaya dia terlihat hebat dan mengagumkan." Ujar Yue bicara fakta.
"Jadi memiliki banyak istri bagi pria itu kesalahan?." Tanya Yuwen.
"Jika kau bertanya padaku, jawabanku itu salah besar dan menjijikan. Sederhananya seperti ini, jika posisinya di balik dimana wanita di perbolehkan memiliki suami lebih dari satu, maka respon semua orang menganggap wanita itu pelacur. Jadi apa julukan pelacur untuk seorang pria?." Ucap Yue.
"Pelacur." Celetuk Yi'er.
Deg.
kira² apa ya yg mau disampaikan yuwen dewasa 🤔🤔
pinter juga yue jadi bisa me time terus 🤣🤣🤣😁😁😁😆😆