“Jika mencintaimu adalah dosa, biarkan aku berdosa selamanya.”
Sejak ayahnya menikah lagi, hidup Davina terikat aturan. Ia hanya boleh ke mana pun ditemani Kevin, abang tiri yang dingin, keras, dan nyaris tak tersentuh.
Delapan belas tahun bersama seharusnya membuat mereka terbiasa. Namun siapa sangka, diam-diam Davina justru jatuh pada cinta yang terlarang … cinta pada lelaki yang seharusnya ia panggil 'abang'.
Cinta itu ditolak keluarganya, dianggap aib, dan bahkan disangkal Kevin sendiri. Hingga satu demi satu rahasia terbongkar, memperlihatkan sisi Kevin yang selama ini tersembunyi.
Berani jatuh cinta meski semua orang menentang? Atau menyerah demi keluarga yang bisa menghancurkan mereka?
Sebuah kisah terlarang, penuh luka, godaan, dan cinta yang tak bisa dipadamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Lima
Davina masih duduk di lantai ruang kerja Papa Robby cukup lama setelah percakapan itu berakhir. Papa sudah keluar lebih dulu, meninggalkan pintu tertutup dan udara yang terasa semakin menekan. Tangannya gemetar, dadanya naik turun tak beraturan. Ia seperti baru saja ditarik paksa ke dalam kesepakatan yang tak pernah ia minta, tak pernah ia inginkan.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka. Papa Robby berdiri di ambang pintu. Nada suaranya kini lebih terkendali, tapi tetap dingin. “Papa sudah hubungi Shaka. Dia setuju bertemu hari ini.”
Davina mendongak pelan. Matanya sembab, wajahnya pucat. “Hari ini?”
“Iya. Kamu siap-siap. Jangan buat Papa mengulang omongan yang sama dua kali,” lanjut Papa. “Dan satu hal lagi.”
Davina bangkit perlahan, menahan pusing. “Apa?”
“Jangan lagi bertingkah dengan menolak. Kamu datang untuk bicara baik-baik. Mengerti?”
Davina mengepalkan tangan. Ia ingin berteriak, ingin bilang bahwa semua ini salah. Tapi bayangan Kevin terbaring di ranjang rumah sakit kembali menampar kesadarannya.
“Iya, Pa,” jawabnya pelan.
Papa Robby menatapnya beberapa detik, lalu berbalik pergi. Davina menutup mata. Air mata kembali jatuh. "Bang Kevin … aku cuma mau kamu selamat."
Sore itu, Davina sudah siap dengan pakaian sederhana, blus krem dan celana panjang hitam. Tidak ada riasan berlebih. Rambutnya dibiarkan tergerai seadanya. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi ia tak punya tenaga untuk peduli.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah. Sopir membuka pintu belakang.
“Non Davina, Tuan Shaka sudah menunggu,” kata sopir sopan. Davina mengangguk pelan lalu masuk ke dalam mobil.
Di sana, Shaka sudah duduk rapi. Jas abu-abu gelap, kemeja putih, wajah tenang seperti biasa. Namun begitu matanya bertemu Davina, ada sesuatu yang berubah di sorot matanya kaget, lalu langsung melembut.
“Kamu kelihatan pucat,” ucap Shaka. “Kita bisa tunda kalau kamu nggak enak badan.”
Davina menggeleng lemah. “Nggak apa-apa.”
Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman rumah. Di sepanjang perjalanan, keheningan menggantung. Davina menatap keluar jendela, sementara Shaka beberapa kali meliriknya, seolah ragu untuk membuka pembicaraan.
Akhirnya, Shaka yang lebih dulu bicara. “Papa kamu bilang … ada kabar buruk.”
Davina menelan ludah. “Bang Kevin kecelakaan.”
Shaka terdiam sejenak. “Aku dengar sekilas. Tapi Papa kamu nggak jelasin detail.”
“Kondisinya serius,” suara Davina bergetar. “Dia dirawat di rumah sakit luar kota. Aku bahkan nggak tahu keadaannya sekarang.”
Shaka mengangguk pelan. Tidak terkejut. Seperti sudah menduga.
Restoran tempat mereka bertemu adalah restoran tenang di tengah kota, bernuansa hangat, tidak ramai. Shaka sepertinya memang sengaja memilih tempat yang tidak terlalu terbuka.
Begitu duduk berhadapan, Davina langsung merasa tenggorokannya tercekat. Semua kalimat yang ia siapkan di kepala mendadak berantakan.
Shaka memperhatikannya dengan sabar. “Kamu mau pesan dulu? Atau mau langsung bicara?”
Davina menggeleng. “Aku … aku mau bicara.”
Shaka mengangguk. Ia memberi isyarat pada pelayan untuk menunggu.
Davina menarik napas dalam-dalam. “Shaka … aku jujur aja. Aku datang ke sini bukan karena aku siap ngomongin pernikahan.”
Shaka tidak tersenyum, tidak tersinggung. Ia hanya menatap Davina lurus. “Aku tahu.”
Davina tertegun. “Kamu tahu?”
“Iya,” jawab Shaka tenang. “Aku juga tahu alasan sebenarnya Papa kamu mendesak kamu menikah.”
Jantung Davina berdegup kencang. “Papa bilang?”
“Sebagian,” kata Shaka. “Sebagian lagi … aku bisa nebak sendiri.”
Davina menunduk. Tangannya mencengkeram tas kecil di pangkuannya. “Seperti yang pernah aku katakan, aku nggak mencintai kamu, Shaka. Aku … aku mencintai bang Kevin. Aku tak mau kamu terlibat dengan situasi ini. Kamu orang baik."
Shaka tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip kelegaan. “Aku sudah mengerti, Davina.”
Davina tertawa kecil, getir. “Papa bilang aku harus menikah sama kamu kalau mau Kevin selamat.”
Shaka menghela napas panjang. “Aku juga menduga itu.”
“Kamu marah?” tanya Davina lirih.
Shaka menggeleng. “Nggak. Aku justru kasihan sama kamu.”
Kalimat itu membuat air mata Davina akhirnya jatuh. Bukan isakan keras, tapi air mata yang turun perlahan, seperti bendungan yang akhirnya jebol.
“Aku terjebak,” bisiknya. “Aku nggak tahu harus ngapain. Kalau aku nolak, Papa bisa bikin keadaan Kevin lebih buruk. Tapi kalau aku setuju, ini tak adil untukmu. Kamu berhak dapat yang lebih baik dariku … aku kehilangan diriku sendiri. .”
Shaka menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajahnya serius, tapi suaranya tetap lembut. “Dengerin aku baik-baik, Davina.” Davina mengangguk pelan.
“Aku nggak akan memaksa kamu menikah sama aku,” ucap Shaka tegas. “Aku nggak mau pernikahan yang dibangun dari paksaan dan rasa takut.”
Davina terdiam. “Tapi … Papa.”
“Aku akan hadapi Papa kamu,” lanjut Shaka. “Dengan caraku sendiri.”
Davina menatapnya ragu. “Kamu serius?”
“Iya,” jawab Shaka tanpa ragu. “Dan satu hal lagi. Kalau yang kamu butuhin sekarang adalah Kevin, bukan pernikahan, aku bisa bantu.”
Napas Davina tercekat. “Bantu … gimana?”
Shaka mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Aku tahu Papa kamu melarang kamu keluar kota. Tapi aku juga tahu celahnya.”
Davina menahan napas.
“Aku bisa jadi alasan,” lanjut Shaka. “Secara resmi. Aku yang jemput kamu. Aku yang bertanggung jawab. Papa kamu nggak bisa sembarang melarang kalau aku yang minta izin.”
Air mata Davina kembali mengalir. “Kamu mau … nemenin aku menemui Bang Kevin?”
“Iya,” jawab Shaka mantap. “Aku akan temani kamu. Kita cari cara supaya kamu bisa ketemu Kevin.”
Davina menutup mulutnya dengan tangan. Dadanya terasa penuh, antara lega dan takut. “Kenapa kamu sebaik ini sama aku?”
Shaka tersenyum kecil. “Karena aku nggak mau jadi orang yang mengambil kebahagiaan orang lain. Dan karena … aku peduli sama kamu.”
Pelayan datang membawa minuman, tapi suasana meja itu terasa jauh lebih berat dari sekadar makan malam.
Davina mengusap air matanya. “Kalau Papa tetap menolak?”
Shaka menatapnya tajam. “Aku akan yakinkan dia. Aku punya kepentingan bisnis juga, Davina. Percaya sama aku.”
Davina terdiam lama. Untuk pertama kalinya sejak kabar kecelakaan itu datang, ada secercah harapan yang masuk ke dalam hatinya.
“Kita nggak akan langsung ke sana malam ini,” lanjut Shaka. “Aku harus bicara dulu sama Papa kamu. Tapi aku janji satu hal.” Davina mengangkat wajahnya.
“Aku akan bantu kamu ketemu Kevin,” ujar Shaka pelan tapi tegas.
Kalimat itu menggantung di udara, seperti janji yang terlalu berani untuk diucapkan, tapi terlalu berarti untuk diabaikan.
Davina menatap Shaka dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih .…”
Shaka hanya mengangguk. “Istirahatlah malam ini. Besok kita mulai cari caranya.”
Di luar restoran, lampu kota mulai menyala satu per satu. Malam turun perlahan. Dan di tengah segala ketidakpastian, Davina menggenggam satu harapan tipis, bahwa mungkin, akhirnya, ia akan bisa melihat Kevin dengan matanya sendiri.
Ditunggu kelanjutannya kk
semangattt thor
semoga kevin cepat sembuh dan ke2 ortunya merestui hubungan mereka