NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Abang Tiri

Cinta Terlarang Dengan Abang Tiri

Status: tamat
Genre:Angst / Cinta Terlarang / Cintapertama / Tamat
Popularitas:76.2k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

“Jika mencintaimu adalah dosa, biarkan aku berdosa selamanya.”

Sejak ayahnya menikah lagi, hidup Davina terikat aturan. Ia hanya boleh ke mana pun ditemani Kevin, abang tiri yang dingin, keras, dan nyaris tak tersentuh.

Delapan belas tahun bersama seharusnya membuat mereka terbiasa. Namun siapa sangka, diam-diam Davina justru jatuh pada cinta yang terlarang … cinta pada lelaki yang seharusnya ia panggil 'abang'.

Cinta itu ditolak keluarganya, dianggap aib, dan bahkan disangkal Kevin sendiri. Hingga satu demi satu rahasia terbongkar, memperlihatkan sisi Kevin yang selama ini tersembunyi.

Berani jatuh cinta meski semua orang menentang? Atau menyerah demi keluarga yang bisa menghancurkan mereka?
Sebuah kisah terlarang, penuh luka, godaan, dan cinta yang tak bisa dipadamkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh Lima

Gelap tidak langsung datang sebagai hitam pekat. Awalnya hanya kilatan cahaya yang berpendar tak beraturan, lalu rasa nyeri yang datang terlambat, seolah tubuh Kevin baru sadar apa yang barusan terjadi.

Tubuhnya terhimpit. Dada terasa sesak. Napasnya pendek-pendek, setiap tarikan terasa seperti pisau yang mengiris dari dalam. Dashboard mobil menekan perut dan dadanya, sabuk pengaman menjerat tubuhnya dengan kasar. Kepalanya terbentur keras, pandangannya berkunang-kunang.

Darah mengalir dari pelipisnya, menetes ke kemeja yang sudah kusut. Tangannya bergetar, mencoba bergerak, tapi nyeri menjalar ke seluruh tubuh, memaksanya menyerah.

Suara hujan masih terdengar di luar. Tipis, tapi cukup untuk membuat udara terasa dingin. Lampu mobil berkedip-kedip sebelum akhirnya mati. Sunyi menyergap, hanya tersisa bunyi napas Kevin yang berat dan tak beraturan.

“Davi …,” gumamnya lirih, hampir tak bersuara.

Ia mencoba meraih ponselnya, tapi tangannya terlalu lemah. Benda itu entah terlempar ke mana. Kelopak matanya terasa berat. Setiap detik berlalu terasa seperti menariknya semakin jauh dari kesadaran.

Tidak ada suara langkah. Tidak ada teriakan minta tolong. Jalanan itu sepi untuk sebuah kecelakaan besar. Mobil-mobil jarang melintas, dan yang lewat pun mungkin tak menyadari sosok yang terjebak di dalam mobil ringsek itu.

Kevin tak tahu berapa lama ia terdiam di sana. Sepuluh menit, tiga puluh menit, atau mungkin lebih. Yang ia tahu, rasa dingin mulai merambat ke ujung-ujung jarinya. Pandangannya semakin gelap.

Hingga akhirnya, samar-samar, terdengar suara.

“Eh, itu mobil kenapa berhenti miring gitu?”

“Ada bekas tabrakan kayaknya.”

Lampu senter menyorot ke arah mobil Kevin. Cahaya itu menyilaukan matanya yang setengah terpejam. Suara langkah tergesa, disusul seruan panik.

“Mas! Mas! Dengar saya nggak?”

Kevin ingin menjawab. Ingin bilang ia masih hidup. Tapi suaranya tak keluar. Bibirnya hanya bergerak lemah.

“Cepat, telepon ambulans!” suara lain berteriak.

Itu hal terakhir yang Kevin dengar sebelum kesadarannya benar-benar runtuh.

Suara monitor berdetak pelan memenuhi ruangan IGD. Lampu putih menyala terang, kontras dengan tubuh Kevin yang kini terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit.

Dokter dan perawat bergerak cepat. Instruksi terdengar bersahutan. Infus terpasang. Luka di kepalanya dibersihkan. Darah yang mengering di wajahnya dihapus perlahan.

“Tekanan darahnya turun.”

“Siapkan CT scan, ada benturan keras di kepala.”

Kevin tidak sadar. Wajahnya pucat, bibirnya membiru samar. Dadanya naik turun dengan bantuan alat.

Di luar ruangan, malam masih menggantung. Hujan telah berhenti, menyisakan udara dingin yang menusuk.

Pagi datang dengan kabar yang menghantam seperti petir. Mama Ema baru saja meletakkan ponselnya ketika tubuhnya melemas. Tangannya gemetar hebat. Panggilan itu datang dari nomor rumah sakit luar kota. Kalimat yang ia dengar membuat kepalanya berdengung.

Kevin kecelakaan. Kondisinya serius. Dirawat di rumah sakit.

Tas langsung diraih. Tanpa banyak bicara, Mama Ema keluar rumah. Ia telah meminta izin suaminya untuk berangkat. Papa Robby mengatakan akan menyusul setelah membereskan urusan kantor. Matanya berkaca-kaca, tapi langkahnya tegas. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya dipenuhi bayangan Kevin, anaknya yang selalu terlihat kuat, selalu mengalah, selalu mencoba jadi penenang.

“Bertahan, Nak …,” bisiknya berkali-kali, seolah Kevin bisa mendengar.

Di rumah Papa Robby, suasana jauh dari kata tenang. Davina mendengar kabar itu dari percakapan pelayan yang berbisik-bisik di ruang tengah. Kata “kecelakaan” dan “Kevin” membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

“Apa?” Davina berlari mendekat. “Siapa yang kecelakaan?”

Pelayan itu terkejut. Wajahnya pucat. “E-eh, non … saya cuma dengar katanya … Bang Kevin .…”

Kalimat itu tak perlu dilanjutkan. Lutut Davina langsung lemas. Tangannya mencengkeram sandaran kursi agar tidak jatuh.

“Di mana?” suaranya bergetar hebat. “Rumah sakit mana?”

Namun sebelum siapa pun sempat menjawab, suara langkah berat terdengar dari belakang.

“Cukup.”

Papa Robby berdiri di ambang pintu. Wajahnya keras, rahangnya mengeras seperti batu.

“Papa,” Davina menoleh cepat, matanya sudah basah. “Bang Kevin kecelakaan, Pa? Aku mau ke sana. Tolong, Pa. Aku harus ke sana.”

Papa Robby mendekat, lalu berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya dingin, menilai, tanpa empati.

“Kamu nggak akan ke mana-mana,” katanya tegas.

“Apa?” Davina menatap tak percaya. “Pa, dia kecelakaan! Aku ....”

“TIDAK,” potong Papa dengan suara lebih keras. “Kamu tetap di sini.”

Air mata Davina jatuh tanpa bisa ditahan. “Pa, tolong … aku mohon. Aku cuma mau lihat Bang Kevin. Aku cuma mau tahu dia selamat.”

Papa Robby terdiam beberapa detik, lalu berkata dingin, “Kita bicara. Empat mata.”

Davina ingin menolak. Ingin berteriak. Tapi tubuhnya terlalu lemah. Dengan langkah gemetar, ia mengikuti Papa masuk ke ruang kerja. Pintu tertutup. Sunyi menekan.

Papa Robby berdiri di balik meja, menyilangkan tangan di dada. Davina berdiri di depannya, wajahnya pucat, mata sembab.

“Kecelakaan ini bukan kebetulan,” kata Papa pelan tapi menusuk. “Semua ini akibat ulah kamu.”

Davina tersentak. “Pa ....”

“Kalau kamu benar-benar peduli sama Kevin,” lanjut Papa tanpa memberi celah, “Ada satu cara supaya dia selamat.”

Jantung Davina berdegup kencang. “Apa maksud Papa?”

Papa Robby menatapnya tajam. “Kamu menikah dengan Shaka.”

Kalimat itu membuat dunia Davina seakan berhenti berputar. “Apa?” suaranya nyaris tak terdengar. “Papa … ini bercanda, kan? Sudah aku katakan, aku tak mencintai Shaka. Ini tak adil untuknya!"

Papa Robby menggeleng pelan. “Ini serius. Dan ini bukan pernikahan biasa. Ini pernikahan bisnis. Tak peduli kamu cinta atau tidak, jika Shaka mau menerimanya, tak ada yang perlu di kuatirkan!"

Davina tertawa kecil, tapi terdengar rapuh. “Pa, Bang Kevin lagi di rumah sakit. Ini bukan waktu yang tepat ....”

“Justru ini waktu yang paling tepat,” potong Papa. “Relasi bisnis Papa dengan keluarga Shaka bisa menyelamatkan banyak hal. Termasuk Kevin.”

Davina menatap Papa dengan mata membesar. “Papa mengancam?”

Papa Robby mendekat satu langkah. “Papa menawarkan solusi. Kalau kamu mau Kevin selamat, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”

Napas Davina tersendat. Dadanya terasa sesak, lebih sesak dari malam saat Papa menamparnya.

“Kamu pikir Papa nggak bisa bikin segalanya jadi jauh lebih buruk?” lanjut Papa dingin. “Atau sebaliknya, menghentikan semuanya sekarang juga?”

Air mata Davina jatuh tanpa suara. Tubuhnya gemetar hebat.

Ia teringat wajah Kevin. Senyumnya. Suaranya. Cara ia selalu bilang, ‘Apa pun yang terjadi, aku di sini.’

“Aku butuh waktu,” bisik Davina akhirnya.

Papa Robby tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih mirip senyum orang yang yakin akan menang. “Waktu kamu nggak banyak.”

Davina terdiam. Kepalanya penuh. Hatinyanya hancur. Kalau ia menolak, apa yang akan terjadi pada Kevin? Kalau ia menerima, apa yang tersisa dari dirinya?

Di luar ruang kerja itu, matahari pagi menyinari halaman rumah dengan terang. Tapi bagi Davina, semuanya terasa gelap.

Davina menunduk. Air mata jatuh ke lantai marmer. Di kepalanya hanya ada satu kalimat yang terus berputar, menghantuinya tanpa henti "Kalau aku harus mengorbankan diri sendiri demi Bang Kevin, apakah itu pasti akan menyelamatkan Bang Kevin?"

1
Nar Sih
siiap mam 👍di tunggu uup lgi👍
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Alhamdulillah Kevin sadar
Linfaurais
Gak adil bgt NT
Eva Karmita
padahal ceritanya bagus sekarang NT sangat jahat 😩😭
Cindy
lanjut kak
Teh Euis Tea
sabar ya mam,pdhal ceritanya bagus
abimasta
lanjy thor jangan ngegantung gotu
Patrick Khan
.aku padamu mam😍😍😍😍lanjutkan
Patrick Khan
akhirnya sadar jg kevin
Oma Gavin
segitu parahnya nt udah ngga kasih keuntungan ke outhor masih saja ribut minta update hadehhhh
Nar Sih
lanjutt mam👍
Cindy
lanjut kak
abimasta
semangat berkarya thor
Teh Euis Tea
semoga km sembuh kevin dan bawa jauh davina kalian hrs bahagia
astr.id_est
smg kevin g amnesia
Ilfa Yarni
emang mereka ga bisa dipisahkan dan buat mama kevin cobalah km mengerti tentang ank mu dan restuilah mereka
Humaira
akhirnya kevin sadar juga... 😭😭
Ida Nur Hidayati
kasihan Kevin...setega itu ayah Davina mencelakai Kevin
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Oma Gavin
jadi penasaran kenapa ayah davina kekeh ngga mau kevin jadi suami davina jelas" anaknya cinta banget justru malah ingin membunuh kevin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!