Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa dilindungi
Pagi berikutnya, rumah keluarga Pradipta tidak seramai biasanya. Semua orang terasa… tegang. Bahkan Mbak Rini yang biasanya cerewet pun cuma jalan cepat sambil pelan-pelan ngomel “Astaga gosip kok lebih cepat dari kilat.”
"iya ,gosip itu ingin menjatuhkan non Cantika ,padahal keluarga non viona yang berbuat ulah ." sahut temannya .
"iya dasar keluarga sok kuasa ,padahal mereka yang buat ulah ,tapi mengancam keluarga tuan dan nyonya ."
"ya ,dan non cantika ,yang jadi imbasnya ,padahal ia tidak tahu apa - apa dan hanya menjadi korban ."
Para pekerja berhenti bergosip dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka masing -masing
Cantika turun dari kamar dengan langkah ragu. Semalaman dia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah netizen dan komentar-komentar pedas itu muncul. Sampai dia kebangun tiga kali buat minum air,yang mana sebenarnya cuma alasan buat kabur dari pikiran.
Saat tiba di ruang tamu, Yoga sedang berdiri di depan televisi. Tangannya terlipat, rahangnya mengeras. Wajahnya… galak. Galak elegan. Galak mahal.
Di layar TV, ada pembawa acara infotainment sedang membahas postingan viral itu.
# wanita bernama Cantika, yang disebut-sebut sebagai ‘pengantin pengganti’, mendadak menikah dengan pewaris Pradipta Group setelah calon pengantinnya kabur…”
Yoga langsung menyalakan mute, lalu mematikan TV.
Keheningan menggelantung.
Yoga menoleh, akhirnya melihat Cantika.
Tatapan mereka bertemu.
Yoga menghela napas, mendekat. “Kamu nggak seharusnya nonton itu.”
Cantika tersenyum lemah. “Nggak sengaja. TV-nya nyala sendiri pas aku lewat.”
Yoga menyipitkan mata. “Itu TV, bukan hantu.”
Cantika mendecak. “Aku cemas, Mas, bukan drama rumah kosong.”
Yoga berdiri tepat di depannya. “Mulai hari ini, kamu jangan lihat media sosial dulu.”
“Oke, tapi kalau grup WA tempat kerja aku ribut gimana?”
“Ga usah dibaca.”
“Oh. Mudah untuk Mas, tapi aku—aku ini bahan gibah kantor, tau!”
"Nggak usah kamu pedulikan ."
"Gimana aku nggak peduli ,gara - gara gosip itu aku hari ini sampai nggak berani berangkat kerja ."
"ya ,susah kamu nggak usah kerja ,kamu di rumah saja !"
"Terus ,kalau aku nggak kerja ,aku dapat duet dari mana ? Emang duwet bisa turun dari langit ?"
"Mana ada uang turun dari langit ,kalau kita nggak usaha ."
"Makanya ,itu aku kan harus kerja ."
"Kamu nggak usah kerja lagi ,lagipula kamu itu istriku ,jadi sudah seharusnya aku memberi nafkah kamu ,jadi kamu nggak usah repot -repot kerja ,cukup dirumah saja menjadi istriku ."
Cantika terdiam.
Kata-kata itu sederhana. Tapi entah kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang bertumbuh dalam dadanya. Sesuatu yang… hangat.
---
Setelah sarapan—yang mana lebih banyak diisi Cantika menatap piring daripada makan,Bu Ratna memanggil mereka ke ruang kerja kecil di lantai dua.
Yoga langsung masuk dulu. Cantika mengikuti dengan langkah pelan, berharap tidak ada interogasi kaya di drama kriminal.
Bu Ratna duduk sambil memegang beberapa dokumen. “Yoga, Cantika. Aku sudah bicara dengan tim humas perusahaan.”
Cantika refleks menelan ludah.
Yoga duduk tenang. “Terus?”
“Kita perlu melakukan klarifikasi resmi.”
“Klarifikasi apa?” tanya Cantika hati-hati.
Bu Ratna memiringkan kepala. “Bahwa pernikahan kalian… terjadi karena kalian saling suka.”
Cantika langsung batuk-batuk. “S-suka??!”
Bu Ratna mengangguk santai, seolah barusan bilang ‘cuaca lagi cerah.’ “Ya. Kita harus tampilkan kalian sebagai pasangan harmonis. Dengan begitu, isu pengantin kabur, diganti kurir, dan motif negatif bisa tenggelam.”
Cantika memandang Yoga dengan panik.
Yoga mengelus pelipis, tapi jauh lebih tenang daripada istrinya yang setengah stres. “Mama… itu terlalu cepat.”
“Terlambat malah,” jawab Bu Ratna. “Gossip sudah menyebar.”
Pak Bram masuk dari pintu samping, wajahnya lelah. “Dan satu lagi… keluarga viona mengirim pesan via pengacara. Mereka minta permintaan maaf publik.”
Cantika memegang kursi, takut pingsan. “M-maaf publik?! Aku salah apa?!”
“Mereka bilang kamu sudah merusak hubungan viona dan Yoga,” jelas Pak Bram.
Cantika langsung lompat berdiri. “LOH?! Aku baru ketemu Mas Yoga 48 jam yang lalu! Masa iya aku merusak hubungan orang! Orang aku salah alamat, bukan salah niat!”
Yoga perlahan bangkit, mendekat ke arah orang tuanya. Suaranya dingin, tajam, jelas.
“Kalau ada yang harus bicara di publik, aku yang akan ngomong. Bukan Cantika.”
Mata Cantika melebar.
Bu Ratna mengangkat alis. “Kamu yakin?”
“Tentu.”
“Dan apa yang mau kamu bilang?”
Yoga menoleh ke arah Cantika.
Cantika menelan ludah.
Yoga menatapnya tanpa berkedip. “Bahwa aku menikah karena keputusanku sendiri.”
Cantika tersentak.
Yoga melanjutkan, suaranya pelan tapi kuat. “Dan aku bertanggung jawab atas keputusanku. Siapa pun yang menyalahkan Cantika… sedang menyerang aku.”
Bu Ratna tersenyum bangga.
Pak Bram mengangguk pendek.
Cantika?
Cantika cuma bisa berdiri di sana, merasa seperti hatinya diaduk-aduk blender tapi rasa strawberry milkshake. Antara deg-degan, mau nangis, dan mau teriak “YA AMPUN MAS YOGA BAHAYA!!”
---
Setelah rapat kecil itu selesai, mereka berjalan berdua menuju kamar.
Atmosfernya aneh.
Diam tapi hangat.
Canggung tapi nyaman.
Yoga akhirnya membuka suara duluan. “Kamu kenapa diam?”
Cantika menarik napas panjang. “Mas… kok kamu bela aku banget?”
Yoga berhenti.
Cantika berhenti.
Yoga menatapnya dalam. “Karena kamu istriku.”
“Tapi nikahnya… mendadak.”
“Itu keputusan kita berdua.”
“Tapi aku cuma kurir—”
“Status kamu sekarang istri Yoga Pradipta.”
Cantika tercekat.
“Dan aku nggak mau siapa pun seenaknya ngomongin kamu buruk.”
Cantika meremas ujung bajunya.
“Mas… kalau nanti klarifikasi publik… aku harus gimana?”
Yoga mendekat pelan.
Sangat pelan.
Sampai jarak wajah mereka cuma sejengkal.
“Kamu cukup ada di sampingku.”
Cantika mematung.
Wangi parfum laki-laki itu menguar lembut, bikin pikiran Cantika nge-freeze.
Yoga menatapnya sambil menurunkan suaranya. “Kalau kamu butuh pegangan tangan… aku ada.”
Cantika berkedip cepat. “Maksudnya… buat foto-foto? Biar kelihatan harmonis?”
Yoga tersenyum miring.
MIRING.
“Ya. Dan kalau bukan foto pun… nggak apa-apa.”
Jantung Cantika meledak berkali-kali.
“Eh… i-iya… oke… kalau butuh pegangan tangan… nanti aku… eh tangan aku… ya… bisa…”
Yoga malah ketawa pelan kali ini. “Kamu gugup?”
“SIAPA YANG GUGUP?!”
“You.”
“Aku nggak!”
“You are.”
“Aku ngg—”
Yoga tiba-tiba meraih tangannya.
Lembut.
Hangat.
Stabil.
Cantika langsung membeku seperti es batu di freezer.
“Aku cuma mau kamu tau,” ucap Yoga. “Aku bakal ada buat kamu. Mau ada gosip apa pun.”
Cantika menghela napas yang dia tidak sadar ia tahan. “Mas…”
“Ya?”
“Ini baru awal konfliknya, ya?”
Yoga mengangguk. “Iya.”
Cantika tersenyum kecil. “Baik. Kita hadapi bareng.”
Yoga balas tersenyum tipis. “Bareng.”
Untuk pertama kalinya…
Cantika tidak lagi merasa terjebak dalam pernikahan mendadak.
Untuk pertama kalinya…
Dia merasa dipilih.
Dicintai? Belum.
Tapi dihargai? Iya.
Dan itu cukup untuk membuat hatinya mulai goyah. Mulai membuka celah untuk seorang Yoga Pradipta masuk.
Masalah mereka belum selesai.
Tapi hubungan mereka…
Baru saja benar-benar dimulai.