NovelToon NovelToon
Numpang Jadi Pacar Kamu Dong, Bang!

Numpang Jadi Pacar Kamu Dong, Bang!

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Trauma masa lalu / Cintamanis / Cinta Murni / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Hai hai ... hadir nih spin offl dari "mendadak papa" kali ini aku jadiin Kevin sebagai tokoh utama. Selamat membaca

Gara-gara nggak mau dijodohin sama cowok sok ganteng bernama Sion, Aruntala nekat narik tangan seorang pelayan café dan ngumumin ke seluruh dunia—

“Ini pacar gue! Kami udah mau tunangan!”

Masalahnya... cowok itu cuma menatap datar.

Diam.

Nggak nyaut sepatah kata pun.

Dan Aruntala baru sadar, pria itu tuna wicara. 😭

Malu? Jelas.

Tapi sialnya, malah keterusan.

Aruntala balik lagi ke café itu, memohon ke si barista pendiam buat pura-pura jadi pacarnya biar Mama tirinya nggak bisa menjodohkannya lagi.

Cowok itu akhirnya setuju — karena nggak tahan sama ocehan Aruntala yang nggak ada titik koma.

Yang Aruntala nggak tahu, pria random itu bukan sekadar barista biasa...

Dia adalah Kevin Prasetyo, pemilik café sekaligus pemegang saham besar di perusahaan ayahnya sendiri!

Berawal dari kebohongan kecil, hubungan mereka pelan-pelan tumbuh jadi sesuatu yang lebih nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akting

Darah di pembuluh nadinya terasa mendingin, berubah menjadi serpihan es yang tajam. Foto itu, buram dan mengancam, membakar retina matanya. Aruntala. Keluar dari mobilnya. Tidak sadar sedang diamati. Diikuti. Kalimat di bawahnya adalah deklarasi perang yang dingin dan personal. Pilih, CEO. Gadismu, atau kerajaanmu?

Kevin tidak membuang waktu untuk merasakan amarah atau ketakutan. Emosi adalah kemewahan. Ia langsung beralih ke mode komando. Jemarinya yang dingin bergerak dengan kecepatan brutal di atas layar ponselnya, menekan panggilan cepat untuk Hail.

“Kev? Ada apa malam-malam begini?” suara Hail terdengar lelah di seberang.

“Aru dalam bahaya,” kata Kevin, suaranya datar dan mematikan, tanpa sedikit pun getar.

“Aku mau tim keamanan terbaik om di apartemennya. Sekarang. Dua orang di lobi, satu di koridor lantai apartemennya. Jangan sampai terlihat, tapi jangan biarkan ada lalat pun yang mendekatinya tanpa izin dariku. Mengerti?”

Hening sejenak di seberang, lalu suara Hail berubah serius.

“Mengerti. Apa yang terjadi?”

“Seseorang mengirimiku foto Aru dengan ancaman. Aku akan kirimkan pada om,” balas Kevin, matanya sudah memindai layar lain, membuka program pelacakan.

“Lacak nomor pengirimnya. Aku mau tahu lokasinya lima menit yang lalu.”

“Oke, Kev. Tenang. Kami urus. Kamu di mana?”

“Aku sedang menuju ke sana,, om” bohong Kevin. Ia tidak bisa ke sana. Muncul di apartemen Aru sekarang hanya akan mengonfirmasi pada si pengirim bahwa ancaman mereka berhasil. Ia harus berpikir, menyusun strategi. Perang ini baru saja naik ke level yang tidak bisa ia tolerir. Mereka telah melewati batas. Mereka menyentuh Aruntala. Dan untuk itu, mereka akan membayarnya.

***

Aroma biji kopi yang disangrai berpadu dengan wangi samar cairan pembersih kayu. Kafe ‘Sunyi Bicara’ adalah sebuah pulau ketenangan di tengah lautan kebisingan Jakarta pada sore hari. Namun, bagi Aruntala, tempat ini bukan lagi sekadar pulau. Ini adalah benteng. Dan hari ini, ia adalah salah satu prajurit yang menjaganya.

Mengenakan apron hitam yang sama dengan yang biasa Kevin pakai, Aru bergerak di antara meja-meja dengan ketangkasan yang mengejutkan. Gerakannya tidak lagi gegabah seperti dulu. Ada efisiensi yang lahir dari sebuah tujuan. Ia tersenyum pada pelanggan, mengangguk, dan menerima pesanan dengan buku catatan kecil, meniru kebiasaan yang pernah ia anggap aneh.

“Lo yakin mau lakuin ini, Ru?” bisik Danu dari meja sudut tempat ia berpura-pura menjadi pelanggan sambil mengawasi.

“Jadi pelayan? Buat apa?”

“Bukan jadi pelayan, Nu,” balas Aru lirih, sambil membersihkan meja di sebelahnya.

“Ini namanya kamuflase. Sion dan Nadira pasti punya mata-mata. Mereka harus lihat kalau aku masih ada di lingkaran Kevin. Mereka harus berpikir aku lemah dan patah hati, balik ke satu-satunya tempat yang aku kenal.”

“Supaya mereka meremehkan lo?”

“Tepat.” Aru tersenyum tipis.

“Seekor domba yang terluka tidak akan terlihat berbahaya, kan?”

Rina, salah satu barista tuna wicara, menepuk pundak Aru dan membuat isyarat tangan, sebuah cangkir, lalu menunjuk ke mesin espreso dengan alis terangkat. Aru mengangguk mengerti. Pesanan sudah siap. Ia balas dengan isyarat terima kasih yang baru ia pelajari. Rina tersenyum lebar, memberinya acungan jempol.

Di tengah keheningan yang produktif ini, Aru menemukan jenis ketenangan yang berbeda. Ini bukan keheningan hampa karena kesepian, melainkan keheningan yang penuh dengan komunikasi dan pengertian. Ia belajar ‘mendengar’ dengan matanya, merasakan irama tempat itu. Dan di setiap sudutnya, ia merasakan kehadiran Kevin. Di cara cangkir-cangkir disusun, di pilihan musik instrumental yang lembut, di senyum tulus para stafnya.

Lalu, bel di atas pintu berdentang pelan.

Seluruh oksigen di kafe seolah terisap ke dalam sosoknya. Kevin berdiri di ambang pintu, kemeja putihnya sedikit kusut dan dasinya dilonggarkan. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, dan rahangnya mengeras karena kelelahan dan tekanan. Ia bukan lagi barista tenang yang Aru kenal. Ia adalah CEO yang sedang berperang.

Mata mereka bertemu selama sepersekian detik. Di matanya, Aru melihat keterkejutan, kelelahan, dan sesuatu yang lebih dalam kerinduan yang menyakitkan. Jantung Aru berdebar begitu kencang hingga ia takut Kevin bisa mendengarnya dari seberang ruangan. Ia memaksa dirinya untuk tetap tenang, untuk memainkan perannya.

Kevin berjalan masuk, tidak menyapa siapa pun, dan duduk di meja paling sudut yang tersembunyi dari jendela meja mereka. Keheningan yang canggung menyelimuti kafe. Para staf lain melirik antara Aru dan Kevin, mengerti bahwa ada badai sunyi yang sedang terjadi.

Aru menarik napas dalam-dalam.

Ini bagian dari pertunjukan,*batinnya. Ia mengambil buku catatannya dan berjalan menuju meja Kevin, setiap langkah terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.

“Selamat sore,” sapanya dengan suara yang ia usahakan terdengar profesional, meski sedikit bergetar.

“Mau pesan apa?”

Kevin tidak menatapnya. Matanya terpaku pada permukaan meja kayu yang gelap. Ia hanya mengangkat satu jari, menunjuk menu Americano tanpa gula, pesanan standarnya. Sikapnya yang dingin terasa seperti tamparan. Aru tahu pria ini sedang melindungi dirinya, melindungi mereka berdua dari pengawasan tak terlihat, tapi rasanya tetap sakit.

“Baik. Ditunggu sebentar,” ucap Aru, lalu berbalik dengan cepat sebelum Kevin bisa melihat air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Di balik bar, tangannya sedikit gemetar saat ia menyiapkan kopi. Ia bisa merasakan tatapan Kevin menusuk punggungnya. Ia menyelesaikan pesanan itu, meletakkannya di atas nampan dengan presisi yang dipaksakan, dan membawanya ke meja.

Klang.

Bunyi cangkir yang diletakkan di atas meja terdengar memekakkan di tengah keheningan mereka. Aru hendak berbalik pergi, mengakhiri siksaan ini. Namun, tangan Kevin bergerak, meraih buku notes dan pulpen yang selalu ada di sakunya.

Gerakan itu menghentikan langkah Aru. Ia berdiri mematung di samping meja, menunggunya selesai menulis. Goresan pulpen di atas kertas adalah satu-satunya suara di antara mereka.

Kemudian, Kevin mendorong buku notes itu ke arahnya. Pelan, tanpa menatapnya.

Dengan jantung yang berpacu liar, Aru menunduk. Matanya menyapu tulisan tangan yang familier itu, tulisan tangan yang telah mengisi hari-harinya selama berbulan-bulan. Tiga kata sederhana yang meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya.

Aku merindukan kebisinganmu.

Napas Aru tercekat. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh, setetes membasahi celemek hitamnya. Semua akting, semua strategi, semua rencana perang seolah lenyap. Yang tersisa hanyalah dia dan pria ini, dua jiwa yang terpisah oleh lautan kesalahpahaman dan kebohongan yang menyakitkan. Ia meraih pulpen dari saku celemeknya. Tangannya gemetar, tetapi tekadnya lebih kuat.

Ia membalas di bawah tulisan Kevin, kata-katanya mengalir dari tempat terdalam di hatinya.

Aku merindukan hening mu.

Ia berhenti sejenak, menarik napas, lalu menambahkan satu kalimat lagi. Sebuah permohonan. Sebuah gencatan senjata.

Bisakah kita berhenti akting sebentar?

Ia mendorong buku notes itu kembali ke seberang meja. Matanya yang basah terangkat, bertemu dengan tatapan Kevin yang kini sepenuhnya tertuju padanya. Di sana, di kedalaman mata gelap itu, ia melihat badai yang sama dengan yang bergejolak di dalam dirinya. Waktu seolah berhenti, menunggu jawaban atas pertanyaan yang akan menentukan segalanya.

1
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Realrf: terima kasih kak
total 1 replies
Vtree Bona
seru ka lanjut yah kak thor
Realrf: ma aciwww 😍
total 1 replies
Vtree Bona
lanjut kaka,,,,,, semangat 💪
Vtree Bona
songgong amat tuh manusia,,,,,di bikin dari apa sech
Vtree Bona
lanjut kaka
Realrf: Oke 😍
total 1 replies
Vtree Bona
lanjut kak,,,,,kek nya bakal seru banget nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!