Apa jadinya jika dua orang sahabat memiliki perasaan yang sama, tapi sama-sama memilih untuk memendam perasaan itu daripada harus mengorbankan persahabatan mereka? Itulah yang saat ini dirasakan oleh dua orang sahabat, Bulan dan Bintang.
Bulan, sahabat sejak kecil seorang Bintang, menyukai pemuda itu sejak lama tapi perasaan itu tak pernah terungkap. Sementara Bintang, baru menyadari perasaannya terhadap gadis cantik itu setelah dirinya mengalami kecelakaan.
Keduanya terjebak dalam perasaan yang tak terungkap. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Keduanya hanya tahu bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tapi, akankah persahabatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih?
---------------------------------------------------------------------------
"Lo keras kepala banget! Lo gak tau apa gue khawatir, gue sayang sama lo." gumam gadis itu lirih, bahkan hampir tak terdengar.
"Lo ngomong apa tadi?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Dibalik alasan Zai
Bintang tidak tahu harus mengatakan apa kepada Bulan. Pesan itu berasal dari Zai, ia ragu-ragu ingin mengatakannya. Meskipun ia merasa apa yang akan dikatakan Zai sangatlah penting.
Sementara Bulan, gadis itu hanya menatap Bintang dengan tatapan penasaran. Pasalnya setelah mendapatkan pesan itu, ekspresi wajah Bintang langsung berubah seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Guys ayo kita buat lagi dekornya, ntar keburu sore," panggil salah satu teman sekelas mereka.
Para teman-teman sekelasnya langsung kembali ke posisi awal. Bintang pun menoleh ke arah Bulan sejenak, seakan ingin mengatakan hal ini kepada Bulan tapi tidak sekarang.
"Hmm, gue ceritain nanti ya. Sekarang kita harus buat dekorasi lagi." Ujar Bintang pada akhirnya.
Bulan pun menganggukkan kepalanya, tidak ingin memaksa Bintang untuk bercerita saat ini. Mereka pun kembali bergabung dengan teman-temannya dan menyibukkan diri dalam tugasnya masing-masing.
Beberapa jam berlalu, akhirnya mereka pun menyiapkan dekorasi itu. Mereka semua yang awalnya berencana untuk membuat setengahnya, kini mereka justru menyelesaikannya hampir seratus persen.
"Kayaknya hari ini udahan dulu, terlebih waktunya udah mulai sore. Besok kita diskusi lagi tentang apa saja yang akan di jual dalam acara bazar," ujar salah satu teman mereka yang merupakan ketua kelas.
Mereka semua mengangguk setuju dengan usulan itu, terlebih waktu pun sudah menjelang sore. Setelahnya, mereka pun bubar menuju tujuannya masing-masing, kecuali beberapa orang yang merupakan perangkat kelas.
Bulan dan Bintang pun langsung melangkah ke depan gerbang, tapi Bulan menghentikan sejenak langkahnya karena penasaran dengan pertanyaan yang belum di jawab Bintang tadi. Gadis itu pun langsung menoleh ke arah Bintang, dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi.
"Bintang, soal tadi?" Tanya Bulan hati-hati, seakan menagih janji yang dikatakan oleh Bintang sebelumnya.
Mendengar perkataan Bulan yang penuh kehati-hatian, justru membuat Bintang terkekeh kecil menanggapinya. Ternyata Bulan memang masih seperti seorang anak kecil yang tidak bisa diberi janji. Dan itu juga yang membuat Bintang merasa gemas dengan tingkah sahabatnya itu.
"Kok malah ketawa?" Ujar Bulan dengan tatapan tajamnya.
"Enggak kok, gapapa." Ujar Bintang sembari menggelengkan kepalanya. "Btw kalo soal tadi itu... Ini soal Zai." Ujar Bintang pada akhirnya.
Bulan langsung mengernyitkan dahinya, merasa bingung dan tidak mengerti. Ia memang tidak menyukai Zai karena pengaruhnya dulu untuk Bintang, tapi ketika mendengar perkataan Bintang yang begitu serius justru membuat Bulan merasa penasaran.
"Zai? Emangnya ada apa?" Tanya Bulan pada akhirnya.
"Ya gak tau sih, chat nya aja belum gue bales. Tapi tadi dia bilang pengen ngomong sama gue, kayaknya penting." Ujar Bintang yang terdengar serius.
Bulan terlihat memikirkan sejenak, ia merasa ragu-ragu dengan alasan Zai yang tiba-tiba mengajak Bintang untuk bertemu. Bulan merasa curiga, terlebih yang ia tahu bahwa Zai juga telah mengkhianati sahabatnya itu.
Tapi meskipun demikian, pemikiran Bulan dan Bintang tentang Zai tetaplah berbeda. Bagi Bintang, Zai berbeda dari Bryan maupun Farhan. Terlebih satu kata 'rahasia' membuat Bintang merasa ada sesuatu yang pernah disembunyikan oleh temannya itu.
"Gue telpon Zai dulu," ujar Bintang sembari mengambil ponselnya.
"Lo yakin Bintang?" Tanya Bulan menghentikan sejenak tangan Bintang yang hendak menekan tombol telepon.
"Gue yakin. Kayaknya ini penting buat Zai. Lo percaya sama gue," ujar Bintang dengan seutas senyum tipis, berusaha meyakinkan sahabatnya itu.
Bulan pun akhirnya mengangguk perlahan, meskipun ia masih ragu-ragu dengan keputusan sahabatnya itu. Sebagai sahabat, jelas saja Bulan merasa khawatir. Ia takut bahwa ini merupakan akal-akalan licik teman-teman Bintang saja untuk menjebaknya. Tapi Bulan hanya berharap bahwa pemikirannya tentang hal ini tidaklah benar.
"Halo bro, lo tadi chat gue ada apa ya?" ujar Bintang setelah panggilan telepon tersambung.
"Halo bro, sorry banget kalo gue ganggu waktu lo. Gue pengen ngomong sama lo, ada sesuatu yang bener-bener pengen gue omongin ke lo. Penting," ujar Zai dari seberang telepon, yang bisa di dengar Bulan juga karena Bintang menghidupkan speaker panggilan nya.
"Oke-oke, lo dimana sekarang?" Tanya Bintang kemudian.
"Di cafe deket taman kota, lo sama Bulan?" Tanya Zai lagi.
Bintang menoleh sejenak ke arah Bulan yang sedari tadi diam tanpa kata sejak ia berbicara dengan Zai melalui panggilan telepon. Ia pun menganggukkan kepalanya, meskipun Zai tidak bisa melihatnya.
"Iya gue sama Bulan, kenapa?" Tanya Bintang.
"Rencananya gue cuma pengen ngomong sama lo aja. Tapi kalo Bulan udah tau ya gapapa, gue juga pengen ngomong sama dia." Balas Zai dari seberang telepon.
Bulan mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Zai. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Zai, Bulan pun tidak bisa memastikan apa itu. Tapi yang jelas, ia merasa harus hati-hati karena ia takut ini hanya sebuah jebakan saja.
Setelah selesai berbicara dengan Zai, Bintang pun mematikan ponselnya. Ia kemudian melirik ke arah Bulan yang terlihat seperti khawatir dan was-was, terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Lo yakin mau ketemu Zai, Bintang? Bukannya apa, gue cuma takut ini cuma akal-akalan teman-teman lo aja. Terlebih waktu itu mereka terus terang kalo cuma manfaatin lo," ujar Bulan penuh kekhawatiran.
Melihat keraguan Bulan, Bintang tiba-tiba saja meraih tangan Bulan dan menepuk punggung tangannya lembut, berusaha untuk menyakinkan sahabatnya itu.
Sementara Bulan yang mendapat sentuhan fisik dari Bintang, ia langsung terdiam tanpa kata. Ia merasa jantungnya kembali berdegup kencang, serta mendapatkan ketenangan yang datang secara tiba-tiba. Entah mengapa, setiap sentuhan singkat Bintang, justru memberikan sesuatu yang penuh arti bagi gadis itu.
"Bulan, gue tau lo gak suka sama Zai. Tapi bagi gue dia berbeda, cuma dia temen yang tau sisi lain gue setelah lo. Lo bisa percaya kata-kata gue, gue yakin ini bukan jebakan." Ujar Bintang dengan nada lembutnya.
Bulan tidak tahu harus mengatakan apa, terlebih ia yang tiba-tiba luluh hanya mendengar perkataan Bintang. Ia hanya mengangguk perlahan, mempercayakan semua yang dikatakan oleh pemuda itu.
Bulan tersenyum sejenak, tanpa kata lagi Bulan pun langsung mendorong kursi roda Bintang melewati jalanan yang terbilang sibuk. Dengan hati-hati ia mengarahkan kursi roda itu menuju ke kafe yang dikatakan oleh Zai.
Beberapa menit berlalu, kini tibalah mereka di sebuah kafe yang terletak di dekat taman kota. Untung saja jarak dari sekolah ke taman itu tidaklah jauh, terlebih suasana jalanan pun sangat padat sore itu.
Saat itu, seseorang di taman kafe melambaikan tangannya ke arah mereka. Bulan dan Bintang pun langsung menuju ke arahnya, dan benar saja orang yang melambaikan tangannya itu adalah Zai.
"Ini bukan akal-akalan lo kan, Zai?" Tanya Bulan penuh kecurigaan setelah berada tepat di hadapan Zai.
"Gue tau lo benci gue Bulan. Tapi gue gak ada niatan apapun, apalagi buat ngejebak kalian. Gue cuma pengen ngomong aja kok, gak lebih." Ujar Zai dengan nada yang terdengar jujur.
Bulan hanya menaikkan sebelah alisnya, ia belum yakin sepenuhnya dengan teman Bintang itu. Tapi Bintang, pemuda itu langsung mengarahkan kursi rodanya mendekat ke arah Zai seakan ia yakin sekaligus penasaran dengan temannya itu.
"Lo mau ngomong apa?" Tanya Bintang penuh rasa ingin tahu.
Bulan yang melihat itu pun langsung duduk di salah satu kursi kafe yang kosong. Ia menunggu Zai untuk berbicara, meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang ingin disampaikan oleh teman Bintang itu.
"Sebelumnya, gue mau minta maaf sama lo berdua karena mungkin kalian udah mikir kalo gue juga manfaatin Bintang." Ujar Zai yang memulai bercerita. "Tapi bukan itu yang mau gue sampein, gue cuma mau bilang kalo sebenarnya gue itu cuma terpaksa ngelakuin ini."
Bintang mengernyitkan dahinya, merasa sedikit bingung dengan perkataan Zai. Ia menatap Zai dengan tatapan serius, seolah siap untuk mendengar kejujuran dari mulut temannya itu. Sementara Bulan, ia hanya terdiam tanpa kata tapi benar-benar mendengarkan pembicaraan Zai.
"Terpaksa? Maksud lo gimana?" Tanya Bintang yang merasa semakin penasaran.
"Gue gak pernah manfaatin lo, bro. Tapi gue terpaksa jauh dari lo di depan Farhan dan Bryan karena gue punya dendam sama mereka," ujar Zai yang berterus terang.
Mendengar penuturan Zai yang terdengar begitu serius dan jujur, membuat Bulan dan Bintang langsung membelalakkan matanya. Mereka tidak percaya apa yang mereka dengar, terlebih Zai yang terlihat begitu santai ternyata justru menyimpan dendam yang entah karena apa.
Bulan dan Bintang saling bertukar pandang untuk sejenak, seakan sama-sama terkejut dan menanyakan sesuatu tanpa kata. Mereka pun kembali menoleh ke arah Zai dengan ekspresi kebingungan yang terlihat jelas dari wajah keduanya.
"Dendam? Maksud lo?" Ujar Bulan yang sedari tadi diam.
"Sorry, kalo soal itu gue belum bisa bilang sama kalian. Ini masalah pribadi soalnya, biar gue yang urus." Ujar Zai yang tidak menjelaskan alasan dibalik dendamnya. "Gue minta tolong banget sama kalian buat rahasiain ini dari mereka. Gue percaya lo berdua," lanjutnya.
"Aman," jawab Bintang singkat yang mempercayai Zai sepenuhnya.
Apa yang diduga Bintang kini terbukti. Zai tidak sama seperti Farhan dan Bryan, terlebih Bintang pun lebih dekat dengan Zai daripada keduanya. Sementara Bulan, ia terlihat ragu-ragu, ia merasa bingung harus mempercayai Zai atau tidak. Terlebih Bulan tidak pernah menyukai Zai sejak ia berteman dengan Bintang.
"Dan lo Bulan, gue cuma mau bilang kalo gue gak pernah pengaruhi Bintang buat bolos dan balapan sebelumnya. Bintang jadi ikut-ikutan, tapi bukan karena pengaruh gue," ujar Zai mencoba meluruskan kesalahpahaman Bulan selama ini.
"Apa yang dibilang Zai bener. Itu semua keinginan gue sendiri, karena gue pikir dengan cara itu gue bisa tenang dan bebas dari Papa," ujar Bintang sebelum Bulan sempat mengatakan apa-apa.
"Jadi, Zai gak pengaruhi lo?" Tanya Bulan yang merasa sedikit bersalah karena ia hanya menilai Zai dari penampilan luarnya saja selama ini.
"Gak sama sekali. Justru Zai yang nguatin gue di saat gue bener-bener rapuh. Zai sama kayak lo, menjadi penguat gue di saat gue lemah." Ujar Bintang menegaskan.
Bulan terdiam tanpa kata, ia benar-benar salah menilai Zai selama ini. Ia mengira bahwa Zai termasuk salah satu penyebab pengaruh perubahan Bintang, tapi ternyata Zai justru kebalikannya.
"Sorry, gue udah salah nilai lo. Gue ngira lo pengaruhi sahabat gue, ternyata gue salah." Ujar Bulan pada akhirnya.
"It's okay, no problem. Gue ngerti," jawab Zai dengan nada santainya.
Bintang menepuk pundak Zai, seakan menguatkan kembali persahabatan mereka. Sementara Bulan, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia kini merasa bahwa Zai tidaklah seburuk yang ia pikirkan.
"Okelah, gue duluan ya. Ada sedikit masalah yang perlu gue selesaikan," ujar Zai sembari berdiri tadi tempat duduknya.
"Oke, kita juga mau balik. Udah sore juga," ujar Bintang menimpali.
Zai pun langsung mengulurkan tinju sebagai bentuk salam persahabatan dan langsung dibalas oleh Bintang dengan membenturkan kepalan tangannya juga. Zai sempat menoleh ke arah Bulan dengan seutas senyum, lalu tanpa kata lagi ia pun melangkah pergi meninggalkan Bulan dan Bintang di sana.
"Gue salah nilai Zai ternyata," ujar Bulan setelah Zai menghilang dari pandangan.
"Makanya jangan nilai buku dari covernya," ujar Bintang dengan tawa yang terdengar meledek.
"Ya lo tau kan, gue orangnya gimana?" Ujar Bulan kemudian.
"Iya-iya, yaudah yuk balik." Ajak Bintang pada sahabatnya itu.
Bulan pun mengangguk dengan seutas senyum, mereka pun langsung beranjak pergi meninggalkan kafe itu di belakang. Mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah Bulan, karena mereka berdua sudah merasa cukup lelah untuk hari ini.
^^^Bersambung...^^^
Hai bang/kak, aku lumayan suka sama Cerita Abang/kakak, karena penggunakan Kalimat Deskriptif yang baik serta Rasa Cinta yang Mulai Tumbuh Antara Bulan Dan Bintang
SARAN/PERBAIKAN:
novelnya Lumayan Bagus, Saya Suka, Tapi Alangkah Baiknya kakak/Abang tambahkan konflik eksternal pada karakter Bulan/bentang
REKOMENDASI :
Aku Punya Rekomendasi buat Kakak/Abang buat ngembangin Cerita ini, mungkin Kamu bisa bikin Konflik eksternal yang dihadapi Bulan/bintang, kayak misal-kan ada orang yg suka sama bulan/bintang dan dia gak suka kalau mereka berdua-duaan dan membuat Rencana untuk melakukan tindakan eksterem terhadap bulan/bintang atau mungkin orang itu terus bikin rencana supaya Bulan Dan Bintang Saling Benci untuk Eps selanjutnya...
PESAN :
Ingat ya! Jangan pernah menyerah Dalam Berkarya! aku tau karya ada yang rame dan ada yang tidak, tapi tetap pertahankan karyamu! jangan karena Ceritanya tidak populer, kamu berpikir bahwa kamu harus menyerah! TETAP SEMANGAT, DAN JANGAN MENYERAH, WALAU BADAI MENYERANG!