Alya, gadis sederhana dan salehah yang dijodohkan dengan Arga, lelaki kaya raya, arogan, dan tak mengenal Tuhan.
Pernikahan mereka bukan karena cinta, tapi karena perjanjian bisnis dua keluarga besar.
Bagi Arga, wanita berhijab seperti Alya hanyalah simbol kaku yang menjemukan.
Namun bagi Alya, suaminya adalah ladang ujian, tempatnya belajar sabar, ikhlas, dan tawakal.
Hingga satu hari, ketika kesabaran Alya mulai retak, Arga justru merasakan kehilangan yang tak pernah ia pahami.
Dalam perjalanan panjang penuh luka dan doa, dua hati yang bertolak belakang itu akhirnya belajar satu hal:
bahwa cinta sejati lahir bukan dari kata manis… tapi dari iman yang bertahan di tengah ujian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor Terasa Berbeda
“Al...” panggilnya sambil melirik sekilas.
“Iya, Mas?”
“Gimana kalau kamu ikut aku ke kantor aja habis ini?” katanya pelan.
Alya menoleh, sedikit terkejut. “Ke kantor? Aku?”
Arga mengangguk pelan, pandangannya tetap ke jalan. “Iya. Toh kamu gak ada kegiatan apa-apa kan habis ini? Lagian aku juga masih ada meeting siang, nggak mau ninggalin kamu sendirian di rumah.”
Alya tersenyum kecil, tapi masih tampak ragu. “Aku nggak apa-apa kok sendirian. Mas kan kerja, nanti malah aku ganggu.”
Arga melirik, nada suaranya sedikit menurun, hangat tapi tegas. “Kamu nggak akan ganggu, Al. Aku malah pengen kamu nemenin.”
Alya sempat menatapnya lama sebelum mengangguk kecil. “Baiklah... asal Mas nggak risih aja aku di sana.”
“Mana mungkin aku risih,” Arga terkekeh, “kamu kan istri aku.”
Alya tertawa pelan, wajahnya memerah. Entah kenapa, setiap Arga menyebut “istri” dengan nada santai seperti itu, hatinya selalu berdebar.
---
Perjalanan menuju kantor Maheswara Grup memakan waktu sekitar setengah jam. Dari jendela mobil, gedung-gedung tinggi di pusat kota Jakarta mulai tampak menjulang, memantulkan sinar matahari ke kaca mobil mereka.
Begitu mobil berhenti di basement parkir, Alya menatap ke atas gedung tempat Arga bekerja — gedung kaca tinggi dengan logo besar “MAHESWARA GROUP” di puncaknya. Rasanya aneh. Ia pernah datang ke sini beberapa waktu lalu, tapi waktu itu hanya sebentar dan dalam situasi berbeda.
Ia datang sendirian, lalu tidak sengaja bertemu Bima dan diantar Bima dengan terburu-buru. Sekarang, dirinya datang bukan sebagai tamu biasa. Ia datang sebagai istri sang CEO.
Begitu lobi terbuka di lantai utama, beberapa karyawan yang lewat langsung menunduk memberi salam. Tapi kemudian, bisik-bisik mulai terdengar pelan di antara mereka.
“Eh, itu... istri Pak Arga kan ya?”
“Iya deh kayaknya. Cantik banget, sopan lagi.”
“Lihat deh, Pak Arga... gandeng tangannya?”
Ya, Arga menggandeng tangan Alya dengan tenang, seolah itu hal paling alami di dunia. Tatapan dingin khasnya justru membuat semua orang tak berani terlalu lama memperhatikan.
Alya sendiri agak kikuk, tapi genggaman tangan Arga membuatnya merasa aman. Ia tahu, apapun yang orang pikirkan, yang terpenting adalah bagaimana Arga memperlakukannya sekarang.
---
Setibanya di lantai atas, lantai khusus eksekutif, Clara, sekretaris Arga, segera berdiri dari mejanya. Wajahnya tampak lega sekaligus agak terkejut.
“Selamat siang, Pak Arga... Ibu Alya,” sapanya sopan sambil tersenyum.
“Siang, Clara,” jawab Arga. “Bima udah datang?”
“Sudah, Pak. Beliau di ruangannya.”
Arga mengangguk. “Oke. Tolong buatin dua gelas teh hangat ya, buat saya dan istri saya.”
Clara tampak sempat terkejut sejenak mendengar kata ‘istri saya’, tapi ia cepat menguasai diri dan mencatat. “Baik, Pak Arga.”
Kini, Clara percaya dengan ucapan Bima kemarin, kalau Pak Arga-nya sedang jatuh cinta. Kalau kata anak jaman sekarang, mungkin disebut "Bucin"?
Alya membalas senyum ramah padanya, dan Clara menunduk sopan sebelum bergegas ke pantry.
---
Begitu masuk ke ruangan pribadi Arga, Alya langsung merasa takjub. Ruangan itu luas, berkarpet abu-abu lembut dengan jendela besar setinggi langit-langit yang menampilkan pemandangan Jakarta dari ketinggian. Sebuah rak kayu walnut berisi buku-buku tebal dan piagam penghargaan memenuhi sisi kanan.
Di tengah ruangan berdiri meja kerja Arga — hitam mengilap, minimalis tapi elegan, dengan laptop, agenda kulit, dan vas kecil berisi bunga putih di ujungnya. Di sisi kiri, ada sofa panjang berwarna krem, sepasang kursi empuk, dan meja kopi marmer. Di dekat dinding belakang, terdapat pintu kecil menuju ruang istirahat pribadi, tempat Arga biasanya tidur saat lembur.
Alya duduk di sofa itu, merasakan kenyamanannya. “Wah... ruangannya nyaman banget. Pantes aja Mas betah kerja di sini,” katanya sambil tersenyum.
Arga menaruh jasnya di gantungan dan berjalan ke meja kerja. “Betahnya bukan karena ruangannya, Al. Tapi karena isi kepalanya yang gak mau berhenti mikir, tapi sekarang yang di rumah yang bikin tenang.”
Alya langsung menunduk, tersipu. “Mas suka banget ngomong hal-hal yang bikin aku malu,” bisiknya pelan.
Arga hanya tertawa kecil, membuka laptopnya. Setelah beberapa menit mengetik, ia menatap Alya yang tengah memandangi pemandangan luar jendela.
“Aku ada meeting habis ini. Kamu mau ikut, atau tunggu di sini aja?” tanyanya sambil memutar kursi kerjanya menghadap Alya.
Alya berpikir sejenak. “Aku tunggu di sini aja, Mas. Aku nggak ngerti hal-hal bisnis begitu.”
Arga mengangguk. “Oke. Tapi sebelum meeting, kita makan siang bareng dulu.”
Belum sempat Alya menjawab, Clara masuk membawa nampan berisi dua gelas teh hangat. “Ini tehnya, Pak.”
“Terima kasih, Clara. Oh iya, setelah ini tolong pesenkan makan siang ya, dua porsi. Sama... ambilin mukena di lantai bawah, tadi saya udah minta satpam untuk beli, taruh sini sekalian.”
Clara mengangguk sopan. “Baik, Pak.” Lalu keluar dengan tenang, meski sempat melirik Alya sekilas dengan rasa kagum.
---
Tak lama kemudian, makanan datang. Nasi hangat, ayam bakar madu, sambal, sayur asam, dan potongan buah segar. Arga menata makanan di meja kecil dekat sofa.
“Mas, sini biar aku aja yang siapin,” ujar Alya sambil berdiri, membantu menata piring.
Mereka duduk bersebelahan, menikmati makan siang dengan suasana santai. Di sela makan, Arga sempat melirik jam dinding. “Abis ini udah masuk waktu Dzuhur. Kamu nanti sholat di sini aja, Clara pasti kembali setelah ini.”
Alya mengangguk pelan. “Mas juga sholat di sini?”
“Iya,” jawab Arga singkat. “Ada sajadah di ruang sebelah.”
Beberapa menit berlalu dalam keheningan nyaman, hanya terdengar suara sendok dan garpu. Alya lalu mengambil sedikit nasi dan potongan ayam, menyuapkannya ke Arga dengan senyum kecil.
“Mas, makan yang banyak. Tadi pagi sarapan cuma sedikit banget, kan?”
Arga menatapnya, separuh terkejut separuh tersenyum. “Kamu selalu inget hal kecil kayak gitu, ya?”
“Kalau bukan aku yang inget, siapa lagi?” balas Alya lembut.
Arga mendekat sedikit, menerima suapan itu. Rasanya... hangat. Sesederhana itu, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa penuh.
Mereka sempat tertawa kecil karena sambal terlalu pedas. Alya menepuk bahu Arga sambil berucap, “Makanya, dibilang jangan kebanyakan sambal!”
“Enak kok,” jawab Arga, tapi matanya menatap Alya lama, cara dia menatap yang membuat Alya menunduk cepat-cepat.
---
Suasana manis itu tiba-tiba terhenti ketika pintu ruangannya terbuka.
“Bro, gue—” suara Bima terputus di tengah kalimat.
Alya yang sedang menyuapkan sendok ke arah Arga langsung membeku. Arga pun berhenti, memutar kepala ke arah pintu.
Di sana, berdiri Bima dengan ekspresi kaget setengah sadar , rambut masih agak berantakan, wajah lelah, dan mata yang membulat begitu melihat pemandangan di depannya.
Alya segera menarik tangannya, meletakkan sendok di piring, wajahnya merah padam. Arga hanya mendesah pelan, lalu menegakkan tubuhnya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Masuk aja, Bim,” ucap Arga datar. “Kenapa ngeliat gue kayak liat hantu?”
Bima mengedip pelan, berusaha menormalkan ekspresinya. “Nggak... nggak apa-apa. Gue cuma... kaget aja. Nggak tau kalau... lo bawa, eh, istri ke sini.”
Alya menunduk sopan. “Pagi, Mas Bima.”
Bima mengangguk gugup. “Pagi juga, Alya—eh, maksud gue, Bu Alya.”
Arga menatapnya tajam, lalu berdiri dari kursinya. “Lo ada perlu apa?”
Bima menggaruk tengkuknya. “Cuma mau ngasih laporan meeting vendor kemarin.” Ia melangkah mendekat, tapi matanya masih sempat melirik Alya dengan canggung.
Arga mengambil map itu dari tangan Bima tanpa berkata banyak. “Oke, nanti gue baca.”
Bima menatap sekilas ke arah meja, melihat sisa makanan dan dua gelas teh hangat.
“Kalau gitu, gue keluar dulu, bro,” katanya pelan.
Arga hanya mengangguk. Setelah pintu tertutup, ruangan itu kembali sunyi.
Alya menatap Arga dengan raut khawatir. “Mas... dia tadi keliatan aneh, ya?”
Arga menatap layar laptopnya sekilas sebelum menutupnya. “Biarin aja. Dia cuma kaget ngeliat aku disuapin istri sendiri.”
Alya tersenyum malu, sementara Arga hanya terkekeh kecil, menatapnya lembut. “Mulai sekarang,” katanya lirih, “aku nggak mau sembunyi-sembunyi soal kamu lagi. Dunia harus tahu, kalau kamu bagian dari hidup aku.”
Alya menatapnya lama, hatinya seolah mencair seluruhnya. “Mas...”
Arga menatapnya balik, lalu berdiri dan merapikan meja. “Sekarang waktunya Dzuhur, Al. Yuk, wudhu dulu.”
Mereka berjalan bersama menuju ruang kecil di sisi ruangan itu.
Dan di balik pintu kaca ruangan CEO itu, dua insan yang dulu dipertemukan oleh keadaan kini belajar berjalan berdampingan.
aku aja klo ngomong diceramahi emosi apalagi modelan arga 🤣🤣