Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak Diundang
Beberapa hari telah berlalu sejak malam yang penuh tawa dan persaingan di Time Zone. Sejak saat itu, suasana di penthouse Rex Carson telah berubah menjadi lebih ringan.
Hubungan Rex dan Greenindia kembali menghangat, didasari oleh serangkaian momen kecil yang tak terduga. Rex kini lebih sering berada di rumah, dan interaksi mereka dipenuhi oleh lelucon yang tak terucapkan dan rasa nyaman yang mulai terbentuk.
Greenindia, di tengah semua itu, sepenuhnya mengabaikan peringatan yang pernah disampaikan oleh Lauren. Baginya, hidupnya adalah miliknya. Tidak ada seorang pun—termasuk wanita yang berusaha mengaturnya—yang berhak mendikte keputusannya. Ia memilih untuk fokus pada ketenangan baru yang ia temukan dalam keberadaan Rex.
Pagi itu, Greenindia sedang menikmati kopi panasnya di sofa ruang tamu sambil menatap pemandangan kota yang terbentang luas dari jendela setinggi langit-langit.
Tiba-tiba, indera penciumannya menangkap aroma tajam dan tidak menyenangkan. Bau itu bukan hanya bau masakan; itu adalah bau yang diasosiasikan dengan bencana.
Ia mengerutkan hidungnya, lalu bangkit dan berjalan menuju dapur marmer yang canggih itu. Kabut tipis yang mengepul dari area kompor membuktikan firasatnya.
“Rex Carson!” teriak Greenindia, memanggil suaminya yang terlihat membelakanginya, sibuk dengan sesuatu di wastafel. “Apakah kau sedang memasak atau membakar sampah di dapur kita? Kenapa banyak sekali asap di sini?”
Rex, yang mengenakan celemek hitam di atas kemeja yang sudah ia kenakan untuk bekerja, menggerutu kesal. Ia membanting sesuatu—mungkin sendok—ke wastafel.
“Aku sedang membuat sarapan,” balas Rex, nadanya berat dan penuh kekesalan. “Dan itu gosong karena aku harus menggiling biji kopi dengan benar dan melupakan pancake yang sedang kubuat!”
Greenindia tertawa mendengar nada kesal Rex yang tulus. Ia bersandar di pintu masuk dapur, tidak berniat membantu, tetapi menikmati penderitaan suaminya.
“Lihat, ini yang kumaksud,” kata Greenindia, tawanya masih tersisa. “Kau seharusnya tidak repot-repot memasak sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa kau lakukan. Kau bisa mengolah daging, kan? Kau bisa menyajikan hidangan daging yang bagus, mengapa pancake?”
Rex akhirnya menoleh. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit merah karena panas dan frustrasi. “Stok daging habis. Jadi aku membuat pancake. Itu hidangan sederhana. Seharusnya tidak butuh keahlian seorang koki Michelin untuk membuatnya.”
Greenindia hanya mengangkat bahu, senyum geli masih tersungging di bibirnya. “Tampaknya bagi sebagian orang, itu membutuhkan keahlian. Mungkin kau harus memanggil tim catering pribadi besok.”
Rex mematikan kompor dan menyeka tangannya yang kotor dengan handuk. Ia berjalan mendekat ke Greenindia, tatapannya tiba-tiba serius.
“Atau,” kata Rex, nadanya mengandung tantangan. “Kau seharusnya belajar memasak. Aku sibuk dengan perusahaan. Kau adalah istriku. Kita bisa menikmati sarapan buatan sendiri setiap pagi.”
Wajah Greenindia seketika berubah. Senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang biasa ia gunakan sebagai perisai.
“Rex,” kata Greenindia, suaranya pelan dan mengancam. “Jika kau masih menyuruhku untuk melakukan tugas-tugas rumah tangga seperti memasak, maka aku akan kembali ke apartemen lamaku besok pagi. Dan kau bisa mencari istri lain yang bersedia menjadi koki pribadimu.”
Ancaman itu nyata. Rex tahu Greenindia tidak main-main. Ia telah melihat betapa berharganya kemandirian bagi Greenindia. Ide untuk Greenindia pindah kembali ke apartemen lamanya—memberi Rex alasan kuat untuk mundur.
Rex menghela napas, frustrasi. Ia menyerah.
“Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Kau menang,” kata Rex, mengacak rambutnya yang sudah rapi.
Greenindia tersenyum kecil, merasa bangga karena dia berhasil memenangkan pertarungan kekuasaan kecil itu. Ia melangkah semakin mendekati kompor, penasaran ingin melihat sejauh mana “bencana” yang ditimbulkan suaminya itu.
Rex, masih menggerutu, menyilangkan tangannya di dada. “Jangan mendekat. Kau akan merusak selera humormu yang baru kudapatkan.”
Greenindia mengabaikannya. Ia melihat piring pertama, yang berisi tumpukan pancake yang hitam di pinggirannya dan di tengahnya tampak mencurigakan. Lalu, ia melihat piring kedua, yang tampaknya merupakan upaya kedua Rex, tetapi hasilnya sama saja, bahkan lebih gosong.
Tawa Greenindia kembali meledak, kali ini lebih keras dan penuh kegembiraan. Ia menepuk tangannya, menunjuk tumpukan pancake di kedua piring itu.
“Dua piring penuh, Rex! Itu dedikasi yang luar biasa untuk sebuah kegagalan!” seru Greenindia, tawanya terdengar seperti lonceng.
“Hentikan! Kau hanya akan membuatku memanggil Antonio untuk membersihkan semuanya!” Rex menggerutu, wajahnya cemberut. Ia berjalan ke kulkas untuk menghindari tatapan Greenindia.
Greenindia, masih tertawa, akhirnya mengambil inisiatif. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol jus jeruk segar, beberapa buah apel merah, dan kiwi.
“Kita nikmati yang ada saja,” kata Greenindia, meletakkan buah-buahan itu di meja bar. Ia menuangkan jus ke dalam dua gelas. “Aku akan memotong apel. Ambilkan pisau buah.”
Rex, meskipun masih kesal, merasa sedikit terhibur. Ia mengambil pisau buah dan menyerahkannya pada Greenindia. Mereka berdiri bersebelahan, berbagi kesunyian yang nyaman.
Greenindia menyajikan apel dan kiwi yang dipotong rapi, kontras dengan pancake gosong di belakangnya.
“Kau memang lebih baik membuat kesepakatan bisnis bernilai jutaan dolar daripada membuat pancake,” komentar Greenindia lagi, saat mereka mulai makan.
Rex menatapnya dengan tatapan tajam. “Terus saja meledekku, Greenindia. Terus saja.”
Greenindia tertawa semakin keras, tawa itu mengisi ruangan. Tawa itu tulus, tanpa beban, sebuah refleksi dari kebahagiaan kecil yang ia rasakan.
Tiba-tiba, di tengah tawa Greenindia yang memecah keheningan, bel pintu penthouse berbunyi lagi.
Keduanya langsung terdiam. Rex dan Greenindia saling pandang, terkejut oleh gangguan yang tak terduga.
“Pagi-pagi begini,” bisik Greenindia, ekspresinya kembali waspada. Ia segera bergerak ke monitor interkom, khawatir itu adalah Lauren, kembali dengan agenda baru.
Namun, yang muncul di layar bukanlah Lauren. Itu adalah sosok wanita tua yang elegan, berwibawa, mengenakan pakaian mahal, dengan ekspresi wajah yang datar dan menuntut.
Greenindia menoleh ke Rex, matanya menunjukkan kebingungan. “Rex, siapa…?”
Rex bergegas ke monitor. Begitu ia melihat wajah di layar itu, ekspresinya berubah drastis menjadi terkejut dan sedikit bersalah.
Tanpa menunggu Rex membuka pintu, Greenindia melihat Rex sudah terlebih dahulu menyapa wanita tua itu melalui interkom.
“Nenek, kenapa kau ada di sini?” tanya Rex, suaranya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan.
Sesaat kemudian, pintu dibuka. Nenek Carson masuk dengan langkah anggun, tongkatnya sesekali berdentum di lantai marmer.
Nenek Carson menatap Greenindia, lalu Rex, dan kembali ke Greenindia. Ia mengabaikan Rex sejenak, menatap Greenindia dengan tatapan yang sangat menghakimi.
“Kenapa aku ada di sini?” Nenek Carson akhirnya menjawab, suaranya sinis dan menusuk. “Aku datang untuk melihat cucuku yang sudah tidak menganggapku lagi. Cucu yang berani menikah di belakang punggungku.”
Rex merasa bersalah. Ia melangkah maju, berusaha meredakan amarah Neneknya.
“Nenek, aku minta maaf. Bukan tidak mau memberitahu, tapi belum waktunya. Aku berencana untuk—”
“Belum waktunya?!” Nenek Carson memotong dengan keras. Matanya menyala karena amarah. Lauren telah berhasil memprovokasinya. Nenek Carson sudah datang dengan kemarahan yang dipicu oleh kebohongan dan gosip, dan ia tidak berniat mencari tahu kebenarannya.
Beberapa waktu lalu Rex mengatakan sudah menikah. Awalnya, dia berpikir itu hanya lelucon yang tidak ada artinya. Siapa sangka, semua adalah kebenaran.
Nenek Carson mengabaikan Rex sepenuhnya dan melangkah mendekati Greenindia, yang berdiri kaku di samping piring pancake gosong dan buah segar.
“Kau!” hardik Nenek Carson. Ia menatap Greenindia dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan jijik. “Kau pasti wanita itu. Aku tidak peduli siapa namamu. Aku tidak peduli di mana Rex menemukanmu. Kau pasti salah satu wanita kelas rendah yang hanya mengincar uang cucuku!”
Rex segera menyela. “Nenek, jangan bicara seperti itu!”
“Diam, Rex!” Nenek Carson tidak teralihkan. “Kau adalah aib bagi keluarga ini. Kau pikir dengan mendekati Carson, kau bisa melarikan diri dari latar belakang kotormu? Kau pikir cincin Rex Carson bisa menutupi kemiskinan dan ketidaklayakan dirimu?”
Nenek Carson menunjuk tongkatnya ke arah Greenindia. “Keluarga Carson tidak membutuhkan wanita yang berasal dari sampah masyarakat! Kau hanya akan membawa kehancuran dan gosip! Kau hanyalah sebuah aib sosial yang seharusnya dibersihkan dari kehidupan Rex!”
Kalimat itu—aib sosial, sampah masyarakat—menusuk Greenindia hingga ke tulang.
Semua kepuasan dan tawa yang ia rasakan beberapa menit yang lalu lenyap, digantikan oleh rasa sakit yang menusuk dan rasa malu yang membakar. Ia telah melarikan diri dari masa lalunya, tetapi kata-kata Nenek Carson telah menyeretnya kembali ke lumpur yang ia coba tinggalkan.
Greenindia merasakan air mata menggenang di matanya. Ia tidak bisa menghadapinya. Ia tidak bisa melawan otoritas ini. Penghinaan itu terlalu besar.
Tanpa melihat Rex, tanpa menoleh pada Nenek Carson, tanpa menanggapi penghinaan itu. Greenindia berbalik dan lari. Ia berlari, masuk ke dalam lift, meninggalkan penthouse. Air mata Greenindia kini mulai mengalir deras, membasahi wajahnya yang pucat.
Rex melihat istrinya melarikan diri. Matanya memerah karena amarah yang tak tertahankan.
“Nenek!” raung Rex, suaranya penuh kemarahan yang membara. “Apa yang Nenek lakukan?! Nenek baru saja menghina istriku!”
semangat up