Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 BATASAN PERSAHABATAN
Pagi itu, suasana di kafe langganan Keysa dan Dila agak sedikit ramai, tapi mereka berhasil mendapatkan sudut yang tenang. Aroma kopi pahit dan wangi kue yang baru dipanggang menjadi latar belakang curhatan hati Keysa yang terasa berat.
Keysa mengaduk kopinya tanpa semangat, matanya memandang jauh ke luar jendela, menghindari penglihatan Dila. Wajahnya semalam kurang tidur dipenuhi bayangan Dion yang tiba-tiba berubah menjadi sosok serius dan mendesak.
"jadi, begitulah Dila” tutup Keysa setelah menceritakan semua obrolan teleponnya dengan Dion.
“Dia bilang dia suka sama aku. Dan yang paling gila, dia menawarkan pekerjaan di perusahaan ayahnya, seolah-olah itu adalah imbalan karena aku mau jadi pacarnya”
Dila, yang tadinya sedang menyesap kopi dengan tenang, tiba-tiba tersedak. dia meletakkan cangkirnya dengan bunyi agak keras, lalu melihat Keysa.
Dila enggak langsung marah atau terkejut. Sebaliknya, dia tertawa. Bukan tawa pelan, melainkan tawa keras, meledak-ledak, yang menarik perhatian beberapa pengunjung kafe lain. Dila harus menutup mulutnya dengan telapak tangan, bahunya terguncang hebat.
Keysa melihat sahabatnya dengan tatapan gak percaya bercampur kesal.
“Dila! Kenapa kamu tertawa? Ini serius! Aku semalam enggak bisa tidur!”
Setelah berhasil meredakan tawanya, Dila menyeka sudut matanya yang sedikit berair. “Maaf, Key maaf! Tapi coba kamu dengerin diri kamu sendiri! Ekspresi kamu saat menceritakan Dion, itu loh.Kamu kedengarannya kaya baru aja nemuin bangkai di dalam lemari es!”
“Ya, tapi rasanya emang gitu! Aku rasa terperangkap!” protes Keysa suaranya sedikit meninggi.
“Dion itu kan Dion! Sahabat kita yang paling konyol, yang hobinya koleksi kaya band tahun 90-an.Tiba-tiba dia berubah jadi bos muda dengan tawaran kerja! Ini aneh, Dil. Ini manipulatif!”
Dila mengambil napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. dia tahu di balik tawa renyahnya, Keysa emang lagi panik.
“Oke, oke. Aku minta maaf. Aku tahu ini aneh, Keysa. Tapi coba jujur, dari angka satu sampai sepuluh, seberapa terkejutnya kamu?” tanya Dila, kini dengan nada serius mencondongkan tubuhnya ke meja.
Keysa berpikir sebentar
“Sepuluh. Jelas sepuluh!”
Dila menggelengkan kepala.
“Kalau aku sih, delapan. Saat Dion ganti gaya rambut tiga bulan lalu, aku udah mencium bau-bau perubahan aneh. Dia sering melirik kamu lebih lama dari biasanya, Keysa. Ingat saat dia tiba-tiba membelikan kamu buku langka yang kamu cari? Itu bukan tindakan sahabat biasa.”
Keysa terdiam. dia ingat kejadian itu. Dion bilang, dia kebetulan lihat buku itu di toko.Keysa, dengan kepolosannya percaya gitu aja.
“Tapi, dia kan udah kita anggap saudara, Dil. Sama kaya kamu. Aku gak punya perasaan romantis sedikitpun sama dia.gak pernah terpikirkan” ujar Keysa lirih.
“Itu wajar, Keysa. Kamu itu terlalu baik. Kebaikan kamu itu sering bikin orang lain salah artian.kedekatan kamu sebagai sinyal harapan” jelas Dila, suaranya kini penuh pengertian.
Dila kemudian menggenggam tangan Keysa di atas meja.
“Dengerin aku baik-baik. Pertama, jangan merasa bersalah karena kamu gak balas perasaannya. Perasaan itu gak bisa dipaksa. Kedua, Dion berhak menyukai kamu, itu urusannya. Tapi dia juga gak berhak gunain kekayaannya untuk maksa kamu menerima perasaannya. Itu namanya red flag.”
Keysa merasakan sedikit kelegaan dengar Dila menyebut Dion manipulatif. Keysa gak sendirian dalam perasaannya.
“Aku takut dia akan marah, Dila.Takut persahabatan kita hancur. Ayolah, kita bertiga kan udah sama-sama dari lama” Keysa menghela napas panjang.
“Persahabatan sejati gak akan hancur cuma karena pengakuan cinta yang ditolak, Keysa. Kalau dia adalah sahabat sejati, dia akan menghormati batasan kamu. Kalau dia terus mendesak, itu artinya dia enggak pernah benar-benar menghargai persahabatan kita, melainkan cuma nunggu waktu yang tepat buat menyerang.” Dila berucap tegas, mencerminkan sifatnya yang lebih realistis dibandingkan Keysa yang lembut.
“terus. apa yang harus aku lakuin sekarang?” tanya Keysa,mencari solusi
“Jelas. Kamu udah menolak dia, kan? Sekarang, jaga jarak. Perlahan-lahan. Jangan balas pesannya kecuali itu benar-benar penting. Jangan bertemu berdua. Dan, yang paling penting: tolak tawaran pekerjaannya”
Dila menyandarkan punggungnya, melihat Keysa lurus.
“Key, ini tentang harga dirimu. Kamu adalah Keysa inara. Kamu cerdas, pekerja keras, dan baik hati. Kamu gak butuh action figure Ayah Dion buat dapetin pekerjaan. Kamu bisa dapetinnya sendiri”
“Tapi aku butuh uang itu buat bantu ibu aku” Keysa menggigit bibirnya.
"Semua orang butuh uang, Keysa. Tapi bukan berarti kita harus menjual prinsip. Cari pekerjaan lain.Aku akan bantu. Aku punya kenalan di perpustakaan kampus yang mungkin butuh asisten. Gajinya emang gak sebesar yang ditawarkan Dion, tapi jujur Key. Itu bersih”
Mendengar dukungan tanpa syarat dari Dila bikin hati Keysa hangat. Ini adalah alasan mengapa Dila lebih dari sekedar dari sahabat. Dila selalu menjadi alasan jalan keluar buat Keysa.
“makasih, Dila. Aku gak tahu apa yang bakal aku lakukan kalau gak ada kamu"
bisik Keysa, matanya berkaca-kaca.
"udah, jangan cengeng! Kamu kan panutan nya Elzard!” Dila kembali mencoba mencairkan suasana sama candaan.
“Intinya: Jelas dan tegas. Kalau dia mendekat, kamu mundur. Dan kalau dia pakai kekayaannya untuk menekan, kita lawan!”
Keysa tersenyum tipis, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat
“Kita lawan? emangnya kita mau perang, Dil?”
Dila mengangkat cangkirnya tinggi-tinggi.
“Kita perang melawan zona nyaman, Keysa. Dan melawan pertemanan yang dipecah dengan cara aneh. Cheers untuk batasan yang jelas!”
Mereka berdua terkekeh pelan. Keputusan Keysa udah bulat: dia akan melindungi persahabatannya dan harga dirinya. dia mencintai kehidupan sederhananya, dan dia gak akan membiarkan kekayaan serta obsesi Dion merusak kedamaian itu.