NovelToon NovelToon
KEPALSUAN

KEPALSUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Action / Persahabatan / Romansa
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: yersya

ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Adelia melirik ke arah sofa, tempat Kelvin dan Luna tertidur dengan posisi saling bersandar. Napas mereka teratur, wajah keduanya tampak jauh lebih damai dibanding beberapa jam sebelumnya. Tanpa sadar, aku mengikuti arah pandangnya.

“Mereka terlihat dekat,” ujarku pelan. “Apa mereka pacaran?”

Adelia terdiam sejenak.

“Mungkin,” jawabnya singkat.

“Mungkin?” ulangku sambil menoleh padanya.

Ia mengalihkan pandangan ke pintu, jelas menghindari tatapanku. Cahaya bulan menyorot separuh wajahnya, memperlihatkan ekspresi ragu yang sulit ia sembunyikan.

“Aku pernah menanyakan hubungan mereka,” katanya akhirnya. “Mereka bilang cuma sahabat sejak kecil. Tapi… entahlah. Mereka selalu bersama. Dan kadang aku berpikir mereka cocok.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan,

“Apalagi mereka sama-sama dari empat keluarga besar.”

Aku menatapnya beberapa detik—lalu Kelvin dan Luna—kemudian kembali ke Adelia.

…Cemburu?

“Hmm,” gumamku. “Jadi jangan-jangan kau memburu kutukan sendirian karena tidak ingin mengganggu mereka berdua? Dan karena kesal melihat mereka ‘dekat’, kau malah melampiaskan semuanya ke kutukan?”

Adelia membeku.

Itu sudah cukup sebagai jawaban.

Aku menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan tidak percaya.

Serius… hanya karena itu?

“Argh!”

Ia tiba-tiba berbaring kasar, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Aku mau tidur! Jangan ganggu aku!”

Aku hanya mendengus kecil, sudut bibirku terangkat tipis.

Kekanak-kanakan… tapi entah kenapa, tidak menyebalkan.

Aku kembali memandang keluar jendela. Bulan masih menggantung di langit, tenang, seolah tidak peduli dengan semua kekacauan malam ini.

Adelia rupanya tidak menghubungi ayahnya—mungkin agar tidak membuatnya khawatir. Selama dirawat, namanya tercatat atas nama Luna, sehingga pihak rumah sakit tidak menghubungi keluarga Adelia. Lagi pula, rumah sakit ini memang memiliki dokter spesialis untuk penyihir. Luka dalam akibat familiarnya yang hancur bisa ditangani dengan cepat.

Setelah cukup istirahat, siang harinya kami diizinkan pulang.

Adelia, Kelvin, dan Luna dimintai keterangan oleh seorang pria berambut hitam dengan kacamata gelap. Mereka menjelaskan kejadian sejak awal—pertemuan dengan Ari, kemunculan Julian, hingga Ari yang mengamuk dan melukai Julian dengan rantainya, lalu menggunakan pemisah ruang dan penciptaan wilayah. Saat itu, mereka mengambil kesempatan untuk kabur.

Tanpa perlu diminta, mereka tidak menyebut banyak tentangku.

Hanya seorang teman sekelas yang terseret keadaan.

Aku bersyukur untuk itu.

Sesampainya di rumah, aku langsung menjatuhkan diri di depan televisi. Duduk di lantai, stik game di tangan, aku tenggelam dalam permainan hingga malam.

Jam menunjukkan hampir pukul delapan ketika aku merasakan kehadiran di belakangku.

“Apa ada barangmu yang ketinggalan, Ari?” tanyaku tanpa menoleh, jemariku tetap menari di atas tombol stik.

Tak ada jawaban.

Sebaliknya, sepasang tangan melingkar di leherku dari belakang—tidak kasar, tidak pula tergesa, hanya cukup erat untuk membuatku sadar akan keberadaannya. Lengannya bertumpu ringan, seolah ia sedang menahan diri agar tidak terlalu jauh.

Punggungku bersentuhan dengan dadanya. Hangat.

Napasnya menyentuh sisi leherku, pelan dan teratur, membuat kulitku sedikit menegang tanpa sadar.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku datar, mataku tak lepas dari layar.

“Aku ingin minta maaf soal bahumu,” bisiknya di dekat telingaku. Suaranya lembut, nyaris jatuh.

“Dan berterima kasih… karena kau menyelamatkanku.”

Nada itu merendah, menyisakan jejak yang menggoda tanpa perlu ditegaskan.

“Aku ingin memberimu hadiah.”

“Tidak usah,” jawabku santai.

Aku meraih stik game satunya, mengangkatnya sedikit ke samping tanpa menoleh.

“Mau main?”

Pelukan itu terlepas.

Aku sempat melirik sekilas—Ari berdiri dengan pipi menggembung, jelas kesal, matanya menatapku seolah tak percaya dengan reaksiku. Beberapa detik berlalu, lalu ia menghela nafas pelan.

Dan entah kenapa, ia tersenyum kecil.

Ari mengambil stik itu, lalu duduk di sampingku. Jarak kami dekat, bahu hampir bersentuhan, tapi tak ada lagi kata-kata yang keluar.

Hanya suara game yang memenuhi ruangan.

Dan untuk sesaat, itu terasa… cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!