Carmila harus menghadapi kenyataan pahit: suaminya membawa selingkuhan ke rumah, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Pengkhianatan dari dua orang terdekatnya ini menghancurkan hati Carmila yang selama ini telah berjuang menjadi istri dan nyonya istana yang sempurna.
Dalam keterpurukannya, Carmila bertemu dengan Pangeran Kedua Kekaisaran, dan tanpa ragu mengajukan sebuah hubungan kontrak dengannya.
Apakah Pangeran Kedua itu akan menerima tawarannya, atau menolak secara dingin? Keputusannya akan menentukan arah permainan balas dendam Carmila, sekaligus membuka pintu pada skandal dan intrik yang tak terduga.
Revisi berjalan yaa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Silas
'Kalau dipikir sekarang… betapa bodohnya aku waktu itu.'
Benar-benar konyol.
Hanya karena alasan keamanan keluarga, mereka melarang membawa pelayan pribadinya.
“Mulai hari ini saya yang akan mendampingi Nona."
Setelah tiga tahun, suara Emely terdengar jauh lebih dewasa.
"Mohon bimbingannya ke depan, dan selamat datang kembali Nona."
"Ya! Aku juga mengandalkan mu, Emely." Carmilla mengangguk dengan antusias.
Carmilla memang memiliki banyak hal baru yang harus ia lakukan di sini, dan kehadiran Emely menjadi kekuatan besar baginya.
Mereka saling menatap dan tersenyum untuk beberapa saat.
......................
Beberapa hari kemudian.
Carmilla duduk tenang di ruang tamu keluarga sambil menyeruput teh hangat yang baru saja disajikan.
Di hadapannya terletak satu set teh porselen, kue-kue kecil sebagai formalitas, dan selembar kontrak kerja.
Di kursi seberang, investor yang datang hari ini fokus memeriksa setiap detail kontrak dengan penuh konsentrasi.
“Sesuai syarat dalam kontrak ini, kami akan menerima kembali kerja sama dengan Lady Carmilla,” ucap investor itu tegas.
Senyum samar terbit di bibir Carmilla saat memperhatikan pria itu membalik halaman per halaman.
Hal pertama yang harus ia lakukan setelah kembali ke keluarganya adalah membereskan bisnisnya.
Awalnya, para investor yang menarik diri dari proyek di Kediaman Duke Hamilton menghubunginya, dan bertanya apakah semuanya akan berakhir begitu saja karena perceraiannya.
-
Kini, ketika Carmilla memulai kembali segalanya di bawah nama keluarganya sendiri, para investor itu datang satu per satu, seolah sudah lama menanti pintu ini terbuka kembali.
"Baiklah." Investor itu menurunkan kontrak yang sudah selesai dibacanya lalu menjawab, "Dari dulu, saya selalu percaya pada kemampuan bisnis Lady Carmila.”
“Terima kasih, Count.”
“Kontrak ini bisa segera kita jalankan. Hanya saja, semoga kali ini tidak ada kejadian buruk seperti sebelumnya.”
“Tentu. Kali ini, saya tidak akan mengecewakan Anda. Segalanya akan saya lakukan dengan sebaik mungkin.”
Setelah investor menandatangani kontrak tersebut, ia meninggalkan ruang tamu bersama sekretarisnya.
Carmilla memandangi tumpukan kontrak dengan ekspresi puas.
'Dengan ini, para investor sudah terurus dengan baik,' pikirnya.
Mulai sekarang, ia hanya perlu melanjutkan rencananya dengan tenang.
"Emely," panggilnya.
"Ya, Nona?"
"Aku ingin menulis surat. Tolong siapkan kertas dan pena."
Sekarang, giliran Carmilla untuk menepati janji pada Alistair.
......................
[Salam. Saya Silas.
Saya menyampaikan pesan ini atas rekomendasi dari Lady Carmilla.
Saya rasa akan lebih baik jika kita membicarakan ini secara langsung.
Jika Anda bersedia, temui lah saya besok malam di pintu masuk Hutan Silvanus, di dekat wilayah Keluarga Count Belmonte. Di sana kita akan berbicara lebih jauh.]
–
Alistair sedang dalam perjalanan menuju area dekat kediaman Keluarga Count Belmonte.
Surat itu datang begitu tiba-tiba.
Dan Carmilla mengabarkan bahwa ia sudah sampai ke kediaman dengan selamat, dan sesuai janji, ia akan memperkenalkan Silas.
Selain itu, ia juga menyarankan Alistair untuk mengecek surat-surat yang tiba di istana pangeran, karena mungkin akan ada kabar dari Silas.
Setiap harinya, Istana Pangeran memang menerima banyak sekali surat anonim. Kebanyakan adalah surat dari penggemar Alistair, tetapi untuk alasan keamanan, tidak semua surat di buka.
Dan benar saja, surat dari Silas memang sudah tiba.
Di dalam kereta yang melaju, Alistair berulang kali menatap surat itu.
Dan ia penasaran. Seperti apa sebenarnya pria itu?
Meskipun pertemuan ini bertujuan untuk memanfaatkannya, rasa penasaran Alistair sebagai seorang manusia juga sangat besar.
Tak lama kemudian, kereta berhenti di tengah kegelapan. Lalu suara kestaria terdengar dari luar.
"Kita sudah sampai, Yang Mulia."
Saat menjelang tengah malam, bulan tampak bersinar terang di langit yang sunyi.
Saat ia turun dari kereta, Hutan Silvanus terhampar di bawah cahaya bulan yang terang.
Hutan itu di selimuti kabut tebal yang memancarkan suasana aneh.
Di tengah suasana itu, seseorang berdiri diam sambil menatap bulan.
Karena gelap dan kabutnya tebal, sosoknya tidak terlihat jelas. Alistair sedikit mengernyit sambil perlahan mendekatinya.
Mungkinkah itu Silas?
Orang asing yang tadinya menatap bulan itu, merasakan kehadirannya dan menoleh ke belakang. Pada saat yang sama, kabut yang menyelimutinya perlahan-lahan tersingkir.
"Alistair. Kau datang."
"Carmilla?"
Alistair mengerutkan keningnya, dan kebingungan tampak jelas di matanya.
Ia mengira Silas adalah pria asing yang belum pernah ia temui. Namun yang berdiri di depannya justru malah Carmilla.
“Cermilla… kenapa kau ada di—”
Kalimat itu terputus di tengah. Alistair baru saja hendak bertanya, tapi kemudian menyadari sesuatu.
Mungkin karena ini pertemuan pertama, ia berpikir Carmilla datang untuk mengantar Silas secara langsung.
Tak terlintas sedikit pun dalam pikirannya bahwa Silas adalah seorang wanita—atau bahkan seseorang yang sudah ia kenal selama ini.
Meski begitu, ada sesuatu yang terasa berbeda dari dirinya malam itu.
"Senang bertemu dengan Anda."
Alistair menatap uluran tangan Carmilla di depannya. Tangan itu terulur ke arahnya, seolah ingin berjabat tangan layaknya pertemuan pertama.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Carmilla sudah lebih dulu menunggunya di tempat pertemuan yang seharusnya hanya Silas yang tahu. Dan tempat itu berada tepat di dekat wilayah Keluarga Count Belmonte.
Waktu yang dijanjikan pun sudah lewat, namun tak ada siapa pun selain mereka berdua di tempat itu.
Ia masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan-jangan kamu..."
"Tepat sekali."
Carmilla tersenyum manis. "Sebenarnya, aku lah Silas."
☠️⃝🖌️M⃤
d tggu update nya