Yuki, gadis belia yang terjebak dalam masalah hutang piutang keluarga, yang membuat dirinya di paksa harus menikah dengan saudagar kaya di Kampung halamannya. Saudagar yang sudah berumur, dan sudah mempunyai banyak istri.
Tak mau masa depannya berakhir menjadi istri seseorang yang tak dicintainya, terlebih dia punya impian untuk melanjutkan pendidikan, Yuki memutuskan untuk kabur dari rumah. Di sini masalah baru muncul!
Alih-alih ingin bekerja supaya bisa membatu orang tuanya melunasi hutang, tapi dia malah dihadapkan masalah baru, yaitu harus berhadapan dengan seorang BOS BESAR di tempat dia bekerja. Bos yang cuek, dingin, dan benar-benar menyebalkan, menurut Yuki.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Yuki akan berhasil lolos dari Sang Saudagar? Atau malah terjebak di dalam lingkaran pesona Bos Besar?
Silahkan dibaca ya temen-temen, semoga kalian suka ^_^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35 HILANG
Yuki meninggalkan Tuan Elzel yang sedang tertidur lelap, menuju kamar mandi yang ada di dapur, nampak wajahnya seperti bingung dan cemas. Dia masuk ke dalam, mengangkat bajunya yang basah yang tergeletak di lantai kamar mandi. Dia tampak sedang mencari-cari sesuatu.
"Astaga, dimana?" Yuki semakin cemas wajahnya.
Ternyata dia baru ingat, nomor HP yang dikasih Kanza pada saat di Butik, ada di dalam kantong celananya, yang kini hilang entah di mana. Tentu saja Yuki cemas akan kehilangan nomor itu, karena Kanza harapan satu-satunya Yuki untuk mengetahui kabar Emak dan Bapaknya di Desa.
Yuki hampir putus asa, dia menangis tersedu-sedu menyesali keteledorannya. Tapi kemudian dia menemukan kertas itu, yang ternyata sudah hancur karena basah. Sama sekali tidak terlihat lagi nomor yang sudah Kanza berikan.
"Bodoh! Harusnya aku segera menyimpannya! hiks hiks!"
"Gimana aku mau tau kabar Emak sama Bapak?!"
Yuki masih saja menangis, sangat-sangat menyesali. Dia berjalan lunglai keluar dari kamar mandi, dengan air mata yang masih saja berlinang.
"Kau kenapa?" Tuan Elzel mengagetkan, yang tiba-tiba sudah berada di depan Yuki.
Yuki menyeka air matanya, "Tuan sudah bangun?"
Tuan Elzel hanya mengernyitkan dahinya.
"Kau menangis lagi?"
"Ti-tidak, Tuan." Yuki berusaha menyembunyikan wajah sedihnya, tapi Tuan Elzel malah mengangkat wajah itu, menatap Yuki yang tidak bisa menyembunyikan air matanya.
"Bicaralah, apa kau tidak betah di sini?"
"Bu-bukan begitu, Tuan."
"Lantas?"
"Aku merindukan orang tuaku, Tuan."
Hening
Tuan Elzel melepaskan wajah Yuki, Yuki kembali tertunduk.
"Kalau kau mau pulang, aku bisa mengantar mu."
"Tapi aku tidak bisa pulang, Tuan..."
Tuan Elzel menjadi bingung. Berusaha mencerna ucapan Yuki. Rindu tapi tidak mau pulang? Akh! Wanita memang selalu membingungkan.
"Tuan jangan mikir yang aneh-aneh! Ya gitu, pokoknya aku tidak bisa pulang!" Yuki menjadi gugup, dia tetap berusaha menyembunyikan rahasianya.
"Aneh sekali kau ini, kau kabur dari rumah?" Tuan Elzel menerka.
"Bu-bukan, Tuan! Tuan tidak akan paham!"
"Kalau begitu, beri tahu!" Tuan Elzel kembali mengangkat wajah Yuki, tapi kali ini wajah mereka hanya berjarak 1 cm.
"Tuan..." Yuki berusaha tidak menatap wajah Majikannya itu.
Drrrt....
Suara HP Tuan Elzel kembali terdengar, Tuan Elzel melepaskan Yuki, mengangkat telpon, yang ternyata dari Dandi.
Yuki berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam, meninggalkan Tuan Elzel yang sedang bercakap-cakap di telpon.
"Gimana Proyeknya?" Tanya Dandi
"Baik, perkembangannya semuanya lancar. Tapi kendala saat hujan turun. Mengganggu pembangunan."
"Ya gak apa-apa hujan, kan? Kau bisa enak-enak dengan Asisten yang kau bawa itu, dingin-dingin mantap!" Goda Dandi sambil terbahak-bahak.
"Bisa saja kau, Dan!" Tuan Elzel ikut terbahak-bahak, sambil memperhatikan tiap lekuk tubuh Yuki yang sedang asik mengiris-iris sayuran.
Pikiran nakal mulai muncul, Tuan Elzel membayangkan memadu kasih dengan Yuki yang sambil memasak itu.
"Woi! Kok diam?" Dandi membuyarkan lamunan Tuan Elzel, yang asik berkhayal.
Tut! Telepon dimatikan, membuat Dandi yang ada di sebrang sana, heran. "Kok mati, sih?"
__________
Tuan Elzel mendekati Yuki, memeluk lembut pinggang gadis itu,
"Tuan... Aku sedang masak, Tuan tunggu saja, sebentar lagi selesai." Yuki yang risih atas perbuatan Tuan Elzel, tapi Majikanya itu tidak menghiraukan. Malah menempelkan bibirnya ke leher Yuki, membuat Yuki deg-deg seeerrrr...
"Tuan..." Yuki hanya bisa memejamkan matanya, saat Tuan Elzel menciumi lehernya. membuat Yuki seperti terhipnotis.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu, membuat Tuan Elzel menghentikan aksinya. Membukakan pintu untuk tamu yang datang, ternyata itu adalah Pak Burhan, pengurus Kebun teh-nya.
Akh! Mengganggu saja!
"Selamat sore, Tuan Elzel!" Ucap Pak Burhan sambil tersenyum sumringah.
Tuan Elzel mempersilahkan Pak Burhan masuk, kemudian mereka ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Yuki yang mengetahui ada tamu segera membawakan kopi untuk Tuan Elzel dan Tamunya.
Saat Yuki meletakan kopi, matanya dan Tuan Elzel saling bertemu. Yuki sesegera mungkin mengalihkan pandangan, dan permisi meninggalkan ruangan itu.
"Apa dia tidak tau, hampir membuat jantungku serasa mau copot!!!" Batin Yuki.
ternyata Khanza sahabatmu itu
nyatanya menusukmu dari belakang Yuki🙁
baik diluar tapii ruwet didalam hatinya 🙁
walau tidak dipungkiri semua butuh uang""hehe apa si bahasanya ini😁😁✌️""