Vira, terkejut ketika kartu undangan pernikahan kekasihnya Alby (rekan kerja) tersebar di kantor. Setelah 4 tahun hubungan, Alby akan menikahi wanita lain—membuatnya tertekan, apalagi dengan tuntutan kerja ketat dari William, Art Director yang dijuluki "Duda Killer".
Vira membawa surat pengunduran diri ke ruangan William, tapi bosnya malah merobeknya dan tiba-tiba melamar, "Kita menikah."
Bos-nya yang mendesaknya untuk menerima lamarannya dan Alby yang meminta hubungan mereka kembali setelah di khianati istrinya. Membuat Vira terjebak dalam dua obsesi pria yang menginginkannya.
Lalu apakah Vira mau menerima lamaran William pada akhirnya? Ataukah ia akan kembali dengan Alby?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drezzlle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Kematian Miranda
Sebelum William berpisah dengan Ketiga rekannya, langkahnya berhenti sejenak.
“Kamu sudah mengurus soal Miranda, kan?” bisik William pada David. Kepalanya menunduk—percakapan itu hanya terdengar di antara keduanya.
“Tentu Pak, hanya ada spekulasi tentang overdosis tidak dengan lainnya,” jawab David lirih.
Sebelumnya…
(Flashback 12 jam yang lalu, sebelum berita tentang kematian Miranda)
Malam pertengkaran antara William dan Miranda di rumah lama mereka. Pria yang tanpa sadar telah melakukan kegilaan terhadap mantan istrinya itu kewalahan melihat Miranda terbujur lemah di lantai.
“Aaaa! Sialan!” desis William. Lingerie sebagai barang bukti menjerat leher mantan istrinya berada di tangannya.
Ia segera menghubungi satu-satunya orang yang bisa dipercaya.
Satu jam kemudian pria yang telah menjalin pertemanan selama 15 tahun itu akhirnya tiba.
“Apa yang terjadi?” tanya David, wajahnya tegang ketika melihat sahabat karibnya itu tampak frustrasi mondar-mandir di depan pintu utama.
“Baguslah, kamu datang. Aku… hah…” kalimat itu menggantung, mengusap wajahnya dengan kasar—bingung mulai menceritakan awal mulanya. Ia menaiki tangga menuju kamar Miranda dan David mengikuti langkahnya.
Mata David mencelos melihat Miranda terkapar di lantai. Tanpa pikir panjang, ia berlari mendekat, jemarinya segera mencari denyut nadi di pergelangan tangan Miranda. "Nadinya lemah... tapi dia masih hidup," bisiknya.
“Bagaimana bisa?” William terkejut. Ia yakin telah membunuh mantan istrinya dengan tangannya sendiri. Namun di balik itu, Ia bernapas lega menyadari keberuntungan berpihak padanya setelah amarahnya merenggut akal sehatnya.
“Bapak ingin membawanya ke rumah sakit? Atau…” David menggantungkan kalimatnya, membaca keraguan di mata William. “...mengakhirinya di sini?”
William menggigit bibir bawahnya, pikirannya berkecamuk. “Aku serahkan padamu,” ucapnya, “Aku hanya ingin dia tidak lagi mengusik hidupku dan anak-anakku.”
“Baik, Pak. Saya mengerti,” jawab David.
David selama ini telah membantu William dalam menyelesaikan masalah karena merasa terikat oleh hutang budi yang tak ternilai. Lima belas tahun lalu, keluarga William telah berjasa membebaskan ayahnya dari tuduhan pembunuhan kepala proyek. Kini, ia membalasnya dengan kesetiaan tanpa batas.
William berbalik, meninggalkan Miranda dan David tanpa menoleh. Ia melangkah pulang, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Ia yakin David akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan, tanpa perlu terlibat lebih jauh.
Sementara David melakukan tugasnya, ia menyuntikkan benzodiazepin obat penenang dosis tinggi ke nadi Miranda. Kemudian menyebarkan pil-pil di sekitar tubuh Miranda, beberapa butir bahkan dimasukkan paksa ke dalam mulutnya. Sebuah botol minuman keras kosong digulingkan di dekatnya, seolah Miranda telah berpesta sebelum mengakhiri hidupnya.
David membersihkan sidik jarinya dari botol dan jarum suntik, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Ia mengatur posisi tubuh Miranda agar terlihat seperti korban overdosis yang tragis.
(Flashback Off)
Setelah keluar dari area apartemen, William kembali ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Disana ia tidak melihat Alby yang menjadi bagian timnya. Ini semakin meyakinkan dirinya jika sosok pria di cctv itu benar Alby dan kini Alby telah menyadari jika aksinya ketahuan.
Usai pulang dari kantor, William segera menuju ke apartemen Abella. Detektif telah mengirimkan pesan lokasi Alby dan Abella, istrinya tinggal.
Ting Tong!
William menunggu seseorang membuka pintu.
Sementara orang yang berada di balik pintu—Abella merasa tersentak. “Apa yang dia lakukan disini?” monolognya.
Ting Tong!
Bel dibunyikan lagi dalam kurun waktu singkat, seolah tak sabar.
Abella membuka pintu apartemennya.
“Pa-pak… William,” ucap Abella gugup.
William dengan tangan bersilang di dada dan suara tenang menatap wanita yang tengah hamil besar itu. “Dimana suamimu?” tanyanya.
“Ma-maaf Pak Alby tidak ada…” jawab Abella dengan bibir bergetar. Ia takut suaminya melakukan hal buruk di kantor. Hingga membuat atasannya datang.
Mata William menyapu sekeliling, kemudian masuk dan mencari Alby dengan langkah lebar menyusuri setiap sudut unit apartemen pasutri itu.
“Pa-pak… sudah saya katakan Alby tidak ada.” Abella mengikuti langkah atasannya. Satu tangannya menyentuh perutnya karena nyeri.
Setelah memastikan Aby benar tidak ada. William lalu berbalik dan menatap Abella. Matanya memicing tajam, simbol peringatan keras. “Katakan pada suamimu, aku akan menemukannya. Jangan harap dia bisa lolos dari semua ini,” kata William.
Alis Abella bertautan, dahinya berkerut.
“Me-mang apa… apa yang dilakukan Alby?”
“Sebuah kesalahan yang fatal, karena berani menyentuh wanitaku.” William keluar dari unit apartemen Abella.
Setelah kepergian William, Abella pun segera menghubungi suaminya.
“Apalagi yang dia lakukan?” desisnya.
Tapi panggilan tak terjawab. Abella pun semakin frustrasi dengan tingkah suaminya. “Aaaaaa! Dasar sampah!” teriaknya histeris, merasa kesal dengan semua ini.
Bersambung…
Warning!!
Cerita ini banyak mengandung tindak kejahatan. Harap bijak dalam membaca, semua adegan kekerasan adalah karangan othor. Tidak untuk ditiru.
Maaf, othor bisa up baru bab singkat. Karena masih dalam kondisi yang belum sehat.
Ikuti terus perjalanan Bang William dalam mendapatkan Vira?