Sebuah karya novel bergenre horor yang sangat menyeramkan tentang perjalanan mahasisiwa teknik geologi yang terjebak didalam desa yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riski riko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Berdiamnya Penungguh Wilayah Terlarang
****#Sebelum membaca DYH pastikan kk semua sudah menekan tombol like, Terimakasih kk, karena sudah memberikan likenya, Selamat membaca😁🤗#********.
Oh ya, Author Ada chanel Youtube juga ya, Disana author akan menerbitkan sebuah karangan novel yang sudah di ubah seperti cerita bergambar, Yang pasti seru banget.
nama chanelnya "Chanel KREASI NOVEL", "Judulnya Novel Aku Bukan Wanita Suci."
https://youtu.be/519XasMCYi4
Mohon bantuanya teman teman, Subsribe dan like ya, Kalau udah banyak subsribe.
Insyaallah bulan depan akan di terbitkan.
_____________________________________________
Sekarang kami sudah siap melanjutkan perjalanan lagi, Semangat baru telah datang.
"Gimana siap semuanya?".
Tanya bapak Arif.
" Siaap pak, Siap selalu pak".
Ucap Danu.
"Ok lets Go".
Ucap bapak Arif.
Kamipun melanjutkan perjalanan, Perjalanan kami kali ini sudah didalam wilayah berbahaya, Mungkin bisa saja terjadi apa apa, Dan bisa juga kami bakalan hilang layaknya cerita orang orang disana.
Suasana setelah hujan yang lebat tadi membuat jalan didalam hutan itu tergenang air dan menjadi becek.
" Mana udah hujan, Gak ada ojek, becek".
Gumam Rio yang seperti jijik menginjakkan kakinya ke tanah yang tergenang sedikit air.
"Kayaknya pernah dengar"
Ucap Wisnu.
"Itukan kata katanya cewek Gua"
Ucap Rio yang masih menyingsingkan celananya.
"Emangnya siapa?"
Tanya Danu yang penasaran.
"Masak kalian kagak tau?, Itu kata katanya cewek Gua yang pertama, My Cinta Laura".
Ucap Rio.
" Ehh mimpii di siang bolong".
Ucap Ku.
"Kalau jodoh gak bakalan kemana, Cuma saingan Ada di mana mana "
Ucap Rio.
"Hahahah Dasar playboy cap kapak"
Ucap Wisnu.
"Ehhh enak aja bilang Gua playboy cap kapak"
Ucap Rio.
"Terusss?"
Tanya bapak Arif.
"Sekang bukan cap kapak pak, Tapi yang ada badapknya hahahah"
Dijawab oleh Rio dengan candaan.
"Pusingg pak ajii?, Minum oskadon sp"
Jawab bapak Arif dengan candaan juga.
Walapun perjalanan kamu sedikit aneh namun ketika diselingi dengan candaan suasana akan terasa menyenangkan, Mungkin karena ada Rio juga walapun Dia sedikit menyebalkan namun dengan adanya Dia, Kami semua bisa tertawa.
"Rio Rio"
Gumam didalam hatiku.
Kami sekarang hanya menyusuri danau dari jalur sebelah kanan, Aku dan bapak Arif didepan sementara Rio, Danu dan Wisnu dibelakang kami.
"Pak?, Kok bisa orang orang takut sama tempat sebagus ini"
Ucap Rio yang berada dibelakang.
"Kalian itu baru pertama kali kesini makanya belum tau sama daerah sini, Kalian hanya melihat keindahan alamnya padahal disini ada penunggu yang paling jahat"
Ucap bapak Arif.
"Buktinya kita aman aman aja tu pak"
Ucap Rio kembali.
"Lo kebanyakan nanya, Kalau Lo ketemu baru mewek mewek"
Ucap ku sambil menoleh kebelakang ke arah Rio.
"Gua orang paling berani mana bisa mewek"
Balas Rio.
"Lah tadi Elu udah nangis"
Ucap Danu yang berada disamping kirinya.
"Itu Gua cuman akting doang"
Gumam Rio dengan menyembunyikan rasa malunya.
"Pak ini apa nama danaunya?"
Tanya Rio untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ini nama Danaunya adalah Dewo aek"
Ucap bapak Arif.
"Dewo aek, Lumayan unik ya namanya"
Ucap Danu.
"Ini Dulu ada ceritanya kenapa di kasih nama Dewo aek"
Ucap Bapak Arif.
"Penasaran Saya pak, Boleh cerita gak?"
Ucapku yang berada disamping bapak Arif.
"Nanti ketika kita sudah di batu raksasa sambil istirahat disana, Baru bapak ceritain"
Ucap bapak Arif.
"Sekarang aja pak, Saya pengen tau"
Ucap Wisnu di belakang.
"Nanti aja, Kalau pas istirahat kan bisa sambil cerita, Kalau di jalan kan gak enak kalau bapak ceritain"
Jawab bapak Arif.
"Hmmmm Iya dah pak"
Ucap Wisnu sambil menundukkan kepalanya.
"Mungkin mancing disini enak kayaknya ya pak?"
Tanya Rio.
"Didanau ini dilarang mancing dek, Kan kata bapak sebelumnya, Dilarang mengambil apapun dari wilayah terlarang ini".
Ucap Bapak Arif.
" Kan cuma ikan pak, Masak gak boleh ngambil ikan, Gak masuk akal lah pak".
Ucap Rio yang masih ngotot ingin mancing.
"Kalau kamu mau kenapa nap! Yaa silahkan aja"
Jawab bapak Arif.
Rio tidak menjawab apapun.
"Sebentar lagi kita bakalan sampai di pusatnya tempat ini, Tempat dimana kalian melakukan penelitian"
Ucap bapak Arif.
"Pusat?? maksudnya gimana pak?"
Tanya Si Danu.
"Tempat berdiamnya pengunggu paling berbahaya disini".
Ucap Bapak Arif.
" Serius Pak?"
Ucap Ku.
"Iyaa Ko, Makanya sebelum masuk wilayah sini bapak sudah kasih tau kalian semua.
"Aamann, Santai aja, Gak usah di ambil pusing selowwwww".
Ucap Si Rio dengan santainya.
" Lo jangan Selow selow aja, Kalau Elu yang melanggar gimana?"
Tanya si Danu.
"Gua kan anak baik, Jadi gak bakalan melanggar"
Jawab Rio.
"Gaya Lo ya, Tadi siapa yang suruh nyebur ke danau?"
Ucap Wisnu yang mulai jengkel.
"Yang pentingkan Gua gak apa apa"
Jawab Rio kembali.
"Ok ok, Gua pegang omongan Lo, Ingat, Jangan pernah ambil apapun dari sana, Jaga omongan, Jangan pernah bersiul".
Ucap ku kepada Rio dengan tegas.
" Ok Siapa takut"
Ucap Rio lagi.
Kami masih tetap berjalan di pinggir danau itu, Tampaknya sebentar lagi kami akan mencapi tujuan kami yaitu tempat penelitian atau tempat yang paling menakutkan di Wilayah terlarang itu.
Dari kejauhan tampak sebuah batu besar berada diantara dua pohon raksasa.
"Itu ya pak?, Lokasi kami?"
Tanya Rio kepada bapak Arif sambil menunjuk kearah batu besar itu.
"Iya benar"
Jawab bapak Arif.
Batu itu memang sangat besar, Malah seperti sebuah bukit batu raksasa, Kalian tau dengan Mesjid Istiqlal jakarta?, Nah kurang lebih sebesar itu.
Berdasarkan berita dari bapak Arif itu adalah pusatnya tempat ini, Katanya disana adalah tempat berdiamnya penungguh wilayah ini.
Memang sedikit menyeramkan, Batu itu diantara pohon raksasa.
Mungkin jarak kami dengan batu itu sekitaran 200 meter lagi.
"Ingat sampai disana jangan banyak tingkah".
Ucap bapak Arif kepada Rio.
" Siap pak"
Ucap Rio.
Tidak lama kemudian Akhirnya kami sampai di sebuah lokasi penelitian kami, Sebuah batu raksasa yang sudah seperti bukit batu atau gunung batu, Disamping kiri dan kanannya terdapat sebuah pohon beringin raksasa, Yang mana akar akar pohon itu sudah layaknya sebuah bongkahan kayu besar.
"Waw besar sekali ni batu"
Ucap Rio.
"Nah inilah lokasi penelitian kalian, Nanti kalian akan mencari informasi sudah berapa tahunkah batu ini atau umurnya sudah berapa tahun".
Ucap Bapak Arif.
" Iya pak siap, Ini kayaknya sudah jutaan tahun"
Ucap Wisnu.
"Belum tentu, Kalian kan belum melakukan penelitian".
Ucap bapak Arif.
" Mantap ni kalau kita foto di sini"
Ucap Rio.
"Elu foto mulu"
Ucap Danu.
"Ya kapan lagi kita ada momoen gini, Gak bakalan kita datang kesini lagi"
Jawab Rio.
"Udah, Sini hp Lo biar Gua fotoin"
Ucapku.
Rio pun memberikan handponenya kemudian bersender di batu raksasa itu.
"Gimana siap?"
Tanya ku kepada Rio.
"Bentar Gua ambil gaya yang keren dikit"
Ucap Rio.
Rio pun melangkahkan kaki kanannya kedepan, satu tangan di pinggangya dan satu lagi menepel di batu raksasa itu.
"Udah, Gua udah siap"
Ucap Rio.
"Siap apa?"
Tanya Danu.
"Siap di tinggalkan?"
Ucap bapak Arif.
"Jangan pak, Saya gak mau jadi jombli kayak Riko".
Ucap Rio.
" Ni anak udah minta tolong terus ngatain lagi".
Ucap Ku.
Kreeeeekk
Suara kamera handpone yang sudah aku tekan tanpa menunggu aba aba dari Rio.
"Ni handpone Lo"
Ucap ku sambil menyerahkan handpone Rio.
"Hahahah Dia marah dibilang jomblo"
Ucap Rio sambil tertawa.
"Terserah Lo"
Jawabku kepada Rio.
"Gimana? Kita mulai ni penelitiannya?"
Tanya Danu.
"Besok aja dah, Hari ini kan baru hari pertama kita ke lapangan, Jadi nyantai aja dulu, Kita kan dikasih waktu 1 bulan, Hitung hitung liburan".
Ucap Rio.
" Nah benar Juga tu kata Rio, Hari inikan hari pertama ke lapangan, Nyantai aja dulu"
Gumam Si Wisnu.
"Hmm Ok dah, Berarti kita mulai besok ya"
Ucap Ku kepada teman teman ku.
"Ok siap Bos".
Jawab mereka serentak.
Kamipun membentangkan Tikar kami tepat didepan batu itu, Kami beristirahat sejenak, Sambil mendengarkan cerita dari bapak Arif tentang Danau Dewo aek.
Sambil duduk diatas tikar, Kami semua merebahkan tubuh ke Batu raksasa itu.
Aku, Rio, Danu,Wisnu Dan Bapak Arif.
" Gimana pak?, Jadi ni ceritanya?
Tanya Wisnu yang masih penasaran.
"Jadi dong"
Ucap Bapak Arif.
"Keras juga ni batu ya, Punggung Gua rasanya sakit, Kayak bersandar dengan wanita yang memberikan harapan yang tak pasti"
Ucap Rio.
"Aseeekk masok Pak Eko"
Ucap Danu.
"Lo bisa aja Rio"
Ucap Ku.
"Iya memang benaran apa yang Gua bilang itu, Karena kebenaran selalu memberikan rasa sakit yang begitu dalam"
Jawab Rio bersyair kembali.
"Hahahaha tarek masss"
Ucap pak Arif.
"Menarik sebuah masa lalu itu memang mustahil, Namun menarik kamu untuk menjadi masa depan ku adalah Cita cita ku"
Dilanjut Oleh Rio.
"Tancap mangg"
Ucap Danu.
"Menancapkan perasaan mu kepada hatiku lebih menyakitkan dari menancapkan sebuah pisau ketubuh ku".
Ucap Rio lagi.
" Terbang cewek kalau dengar Rio berpuisi"
Ucap pak Arif yang berada disamping Wisnu.
Rio pun melanjutkan.
"Terbang bersamamu keatas pelaminan , Itu jauh lebih indah dari pada terbang ke langit melihat indahnya dunia diatas awan".
" Hahahaahahah Udah udah Rio, Kapan ni bapak Arif mau mulai ceritanya?"
Ucap Ku.
Namun Rio tetap saja melanjutkan puisinya.
"Hahaha hihihi huhuhu itu adalah tertawa terindah ketika berada disampingmu"
Di tengah tengah Rio yang asik berpuisi tiba.
Poooook
Suara pukulan dengan botol air mineral.
Ternyata kepala Rio sudah dipukul sama Danu memakai botol air mineral.
"Lo ni harus dipukul baru bisa diam, Biar Elu bangun dari mimpi puisi Lo"
Ucap Danu yang masih memegang botol air mineral.
Rio yang masih memegang kepalanya karena habis dipukul pun berkata.
"Dasaar anak jin, Gua enak enak puisi malah di tampol"
"Biar Lo sadar"
Jawab Danu.
"Hahahah untung Danu yang mukul, Kalau enggak Gua yang mukul tadi, Ayo pak di mulai ceritanya"
Ucapku sambil menyuruh bapak Arif memulai ceritanya.
"Hahahah Rasain tu, Dari mana ni bapak ceritain ni?"
Tanya bapak Arif.
"Dari awal ceritalah pak, Masak dari awal perasaan"
Ucap Rio.
"Ok ok, Ni bapak ceritain, Awal mula Danau Dewo Aek"
Ucap Bapak Arif.
"Lo kok udah ceria ko, Bukannya elo kemarin lesuh?"
Tanya Rio.
"Hehehehe karna Teman teman Pembaca DYH (Desa yang Hilang) sudah ada yang Subscribe chanel Gua".
Ucap Rio.
" Heheheh Makasih untuk teman teman yang sudah subscribe Chanel Kreasi Novel, Semoga yang mensubscribe selalu sehat badan, Panjang Umur, Murah Rezeky, Yang belum di tungguh ya"
Ucap Rio kembali.
Wkwkwkwkwkwk.
Terimakasih semuanya.
#Bersambung#
Jangan lupa like ya man teman
Dan sekarang setelah 3 tahun hilang²an, akhirnya lanjut baca lagi 'Desa Yang Hilang' 😅 Makasiiih ya author