"Kaluna, putri mahkota yang terhukum penggal karena kesalahan dan dosa yang tidak pernah dia lakukan. Fitnah dan kebencian telah menghancurkan hidupnya, tetapi Kaluna tidak akan menyerah. Sebelum ajalnya tiba, dia berdoa kepada dewa untuk diberikan kesempatan kedua. Dia berjanji untuk tidak menjadi putri mahkota lagi, tetapi untuk membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Apakah Kaluna akan berhasil kembali ke masa lalu dan membalas dendamnya? Ataukah dia akan terjebak dalam lingkaran kebencian dan dendam yang tidak pernah berakhir? Ikuti perjalanan Kaluna dalam cerita ini, dan temukan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady_Xiyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Di Balik Obat
"Sebelum kita kembali ke kastil, bagaimana kalau kita berkunjung ke kediaman Pangeran Christian?" ajak Kaluna sambil menatap sang suami. "Soalnya, besok aku mau pulang ke rumah Blackwood, dan Ibu menyuruhku untuk berkunjung."
"Baiklah, ayo kita berkunjung kesana," ucap Damian menyetujui ajakan dari sang istri dan langsung melangkah ke kediaman Pangeran Christian.
Di kediaman Pangeran Christian, ada Putri Sophia yang menjaga sang kakak dan melamun dalam diam, sembari memandang sang kakak yang masih terbaring lemah tak berdaya.
Kaluna melihat Putri Sophia dan segera menyapa. "Putri Sophia, apakah Anda baik-baik saja?" tegur Kaluna pelan, membuat sang putri tersentak terkejut dan menoleh ke arah pintu.
"Salam, Grand Duke dan Duchess Muda Damian dan Kaluna, silakan," sapa Putri Sophia dan memberikan salam.
"Jangan terlalu formal, Putri," kata Damian tersenyum. "Karena kau sudah aku anggap sebagai adik yang tidak pernah aku dapatkan."
"Terima kasih, Kak Damian dan Kak Kaluna, bagaimana kabar kalian?" tanya Putri Sophia dengan senyum.
"Kami baik-baik saja, Putri," jawab Kaluna dengan senyum. "Tapi, kami sedikit khawatir tentang Pangeran Christian. Bagaimana keadaannya?"
Putri Sophia memandang Kaluna dengan mata yang sedih. "Beliau masih belum sadar, Kak Kaluna," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar. "Aku sangat khawatir tentangnya."
Damian memandang Putri Sophia dengan mata yang tajam. "Aku akan memastikan bahwa Pangeran Christian mendapatkan perawatan yang terbaik," kata Damian dengan suara yang tegas.
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam. "Aku juga akan membantu, Damian," kata Kaluna dengan suara yang lembut.
Putri Sophia memandang Kaluna dan Damian dengan mata yang berterima kasih. "Terima kasih, Kak Damian dan Kak Kaluna," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar. "Aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian."
Saat itu, Pangeran Christian tiba-tiba mengeluarkan suara. "Putri... Sophia..." kata Pangeran Christian dengan suara yang lemah.
Putri Sophia segera mendekati Pangeran Christian dan memegang tangannya. "Kak Christian, aku ada di sini," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar.
Kaluna dan Damian memandang Pangeran Christian dengan mata yang tajam, berharap bahwa Pangeran Christian akan segera sembuh.
Pangeran Christian memandang Putri Sophia dengan mata yang lemah. "Aku... aku kepalaku sangat sakit," kata Pangeran Christian dengan suara yang bergetar.
Putri Sophia memandang Pangeran Christian dengan mata yang sedih. "Jangan khawatir, Kak Christian," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar. "Aku akan selalu ada di sini untukmu."
Kaluna memandang Pangeran Christian dengan mata yang tajam. "Aku akan memanggil tabib untuk memeriksa kepala Kak Christian," kata Kaluna dengan suara yang lembut.
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam. "Aku akan memastikan bahwa tabib terbaik datang untuk memeriksa Kak Christian," kata Damian dengan suara yang tegas.
Putri Sophia memandang Kaluna dan Damian dengan mata yang berterima kasih. "Terima kasih, Kak Damian dan Kak Kaluna," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar.
Saat itu, tabib datang dan memeriksa keadaan Pangeran Christian. Setelah beberapa saat, tabib mengeluarkan diagnosis. "Pangeran Christian menderita amnesia tetapi saya tidak tahu ingatannya akan cepat kembali atau tidak," kata tabib dengan suara yang serius. "Tapi, aku yakin bahwa dengan perawatan yang tepat, Pangeran Christian dapat kembali sembuh."
Kaluna dan Damian memandang tabib dengan mata yang tajam, berharap bahwa Pangeran Christian akan segera sembuh.
Setelah kepergian tabib Kaluna menyuruh sang putri makan dan akhirnya mereka makan di kamar Pangeran Christian.
"Putri Sophia jangan terlalu di forsir anda juga memerlukan istirahat juga nantinya kamu malah ikut sakit." tegur Kaluna pelan sambil memandang pangeran Christian.
"Terima kasih nasehatnya Kaluna tetapi kalau bukan aku yang menjaga kak Christian lalu siapa karena ibu ratu jatuh sakit." isak Putri Sophia terisak sedih.
"Iya paham tetapi kamu jangan terlalu begadang di sini banyak dayang dan pengawal yang membantu menjaga pangeran Christian."
Putri Sophia hanya tersenyum kecut. Beberapa jam seorang dayang masuk ke dalam kamar untuk memberikan makanan kepada sang pangeran dan dengan sigap sang putri mengambil alih.
Dayang tersebut pergi tetapi tidak sadar kalau sebuah botol terjatuh dan di temukan oleh Kaluna dan segera dia ambil. Damian dan Putri Sophia tidak sadar kalau ada barang terjatuh.
Kaluna memandang botol yang dia temukan dengan mata yang tajam. "Apa ini?" tanya Kaluna dalam hati.
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam. "Apa yang kamu temukan, Kaluna?" tanya Damian dengan suara yang lembut.
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam. "Botol ini," jawab Kaluna dengan suara yang lembut. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya."
Putri Sophia memandang Kaluna dengan mata yang sedih. "Aku tidak tahu apa itu, Kak Kaluna," kata Putri Sophia dengan suara yang bergetar.
Damian memandang botol dengan mata yang tajam. "Aku akan memeriksa apa yang ada di dalamnya," kata Damian dengan suara yang tegas.
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam. "Hati-hati, Damian," kata Kaluna dengan suara yang lembut. "Kita tidak tahu apa yang ada di dalam botol itu."
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam. "Aku akan berhati-hati," kata Damian dengan suara yang tegas.
Damian kemudian membuka botol dan memeriksa apa yang ada di dalamnya. Setelah beberapa saat, Damian mengeluarkan suara yang terkejut. "Apa ini?" tanya Damian dalam hati.
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam. "Apa yang kamu temukan, Damian?" tanya Kaluna dengan suara yang lembut.
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam. "Obat ini," jawab Damian dengan suara yang serius. "Aku tidak tahu apa yang ada di dalamnya, tapi aku yakin bahwa ini bukan obat biasa."
Putri Sophia memandang Damian dengan mata yang sedih. "Apa maksudmu, Kak Damian?" tanya Putri Sophia dengan suara yang bergetar.
Damian memandang Putri Sophia dengan mata yang tajam. "Aku tidak tahu pasti," jawab Damian dengan suara yang serius. "Tapi, aku akan memastikan bahwa aku menemukan kebenaran tentang obat ini."
"Karena hari sudah hampir larut kami pamit akan kembali ke kastil, Sophia." pamit Damian dan segera mengajak sang istri pulang meninggalkan kamar atau kediaman Pangeran Christian.
...****************...
Kereta kuda terjadi kesunyian antara Damian dan Kaluna yang sama - sama penasaran dalam obat yang tadi dia temukan.
"Suamiku, apakah kamu sudah menyuruh assasin untuk mengawasi dayang tadi dan juga menyelidiki semua dayang, pelayan dan penjaga kediaman pangeran Christian?" tanya Kaluna memutus kediaman di dalam kereta sembari memandang Damian serius.
"Kamu tenang saja aku sudah menyuruh assasin untuk mengawasi mereka." sahut Damian dengan tenang.
"Lalu kamu sudah tahu obat apakah itu." kata Kaluna penasaran dengan obat tersebut dan Damian hanya menggelengkan kepala.
"Nanti aku akan mencari tahu kegunaan obat tersebut."
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam, masih penasaran dengan obat tersebut. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Pangeran Christian," kata Kaluna dengan suara yang serius.
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam, memahami kekhawatiran istrinya. "Aku juga ingin tahu, Kaluna," kata Damian dengan suara yang tenang. "Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk menemukan kebenaran."
Kaluna memandang Damian dengan mata yang tajam, merasa lega bahwa suaminya juga berkomitmen untuk menemukan kebenaran. "Aku percaya padamu, suamiku," kata Kaluna dengan suara yang lembut.
Damian memandang Kaluna dengan mata yang tajam, merasa bahagia bahwa istrinya percaya padanya. "Aku akan selalu melindungimu, Kaluna," kata Damian dengan suara yang tegas.
Kereta kuda terus berjalan, membawa Damian dan Kaluna kembali ke kastil. Mereka berdua masih penasaran dengan obat tersebut dan apa yang sebenarnya terjadi di kediaman Pangeran Christian. Tapi, mereka berdua yakin bahwa mereka akan menemukan kebenaran dan memastikan bahwa keadilan dilakukan.
...To Be Continued...
Note:
Terimakasih telah membaca cerita jangan lupa komen, kritik dan saran ya 😊 jangan lupa tinggalkan jejak😊 sayang kalian semua semoga kalian suka🥰🥰Biar saya tambah semangat membuat kelanjutan ceritanya Terimakasih love you all sayang
kalau saya cepetin nantinya malah gak ada pembahasan sih😊 nanti saya akan mencoba saran kamu/Smile//Smile/