Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus Menahan Rasa Ini
Di rumah bibi Luis, terlihat seisi rumah bertingkah sangat panik. Kami berlarian menuju kamar Clara untuk membawa Lucas yang sedang menahan rasa sakitnya. Clara yang saat itu menahan air matanya berlari memanggil dokter pribadi Lucas yang rumahnya tak jauh dari panti asuhan bibi Luis.
"Bagaimana ini bisa terjadi Kai, Ken ...?" tanya bibi Luis dengan cepat menggeser maju kursi rodanya.
"Bibi tak perlu khawatir, pasti Lucas akan baik-baik saja." Kai menenangkan wanita tua itu.
Kemudian Clara dan dokter pun tiba dan segera memeriksa kondisi Lucas. Dilain itu, Kai mulai memikirkanku dan Aurora, ia khawatir jika bibi Luis tahu akan kejadian yang menimpaku, maka akan membuat bibi merasa sedih.
Kai tak sabar untuk mencari keberadaanku dan Aurora. Ia menarik tangan saudaranya itu untuk membecirakan perihal menyelamatkan kami berdua.
"Ken, kita harus cepat menyelamatkan Yang Mulia dan Aurora," terang Kai yang menyeret tangan adiknya ke luar dari kamar Clara.
"Tapi Lucas ...?" Ken menunjuk arah kamar Clara.
"Dengarkan aku Ken, jangan sampai Bibi tahu soal yang Mulia Raja, kita harus menemukan mereka secepat mungkin," saut Kai sambil memegang erat kedua lengan Ken.
"Apa yang terjadi kepada Demian?" Suara Bibi terdengar dari belakang badan Ken.
"Ah ... anu, Bi." Ken menggaruk belakang kepalanya.
"Katakan ada apa dengan Demian?. Di mana dia sekarang?, kenapa tak ikut kembali ke sini bersama kalian?" Bibi Luis mulai bertanya banyak hal.
"Ini semua salahku, Bi." Clara yang menjawab tiba-tiba.
"Apa salahmu?" tanya Bibi lagi.
"Aku mendorong Aurora ke jurang air terjun, lalu Demian ikut meloncat untuk menyelamatkan Aurora." Clara sedikit menyesal.
"Apa?!!! Kalian bercanda, kan?!" Bibi Luis memegang kepalanya karena merasa pusing.
"Bibi, kami akan segera menemukan Yang Mulia Demian dan Putri Aurora. Jadi, lebih baik Bibi istirahat dulu di kamar, biarlah Clara yang mengurus Lucas," tegas Kai yang berjongkok di depan kursi roda milik bibi. Clara hanya menganggukkan kepala sambil sesekali menyapu air matanya yang terlanjur menetes.
"Kenapa semua ini bisa terjadi?, cepat kalian berdua cari Demian sampai ketemu," tutur bibi Luis dengan nada putus asa.
"Baik Bi, serahkan kepada kami," ucap Kai yang kemudian memulai pencarian mereka.
Sedangkan, di tepi jurang air terjun shin, Mia masih menangis terseduh - seduh memanggil nama Aurora terus menerus.
"Tuan Putri, hiks ... hiks ... hiks ... " tangis Mia.
"Tuan Putri, Anda di mana?" teriak Mia yang pipinya penuh dengan air mata.
"Jangan tinggalkan saya sendirian, Tuan Putri ..." Mia terus menangis tanpa henti. Sampai-sampai air hujan mengguyur seluruh tubuh Mia.
* * *
"Jantung Lucas harus segera diobati Yang Mulia," tutur Aurora yang kala itu masih bersembunyi di balik jubah merahku.
"Jadi, niatmu kala itu adalah untuk mengobati jantung Lucas?" tanyaku yang enggan menoleh ke arah Aurora.
"Hhmmm, tapi dia tiba-tiba merasa kesakitan. Padahal saya belum menyentuhnya," jelas Aurora dengan suara lembut.
"Kenapa tubuhku merasa terbakar? Panas sekali !" gumamku sedikit beralih menjahui api unggun.
"Sampai kapan gaun saya akan segera kering Yang Mulia?" tanya Aurora padaku.
"Entahlah," jawabku singkat.
Saat itu perasaanku kacau, aku merasa seperti menjadi seekor singa yang akan menerkam rusa betina. Nafasku pun mulai tak karuan, ubun-ubun kepalaku seakan ingin kusiram dengan air es. Aku terasa sesak. Sehingga aku berniatan untuk keluar sebentar mengecek keadaan hujan di luar.
"Aku akan keluar sebentar," kataku pada Aurora yang terdiam.
"Jangan tinggalkan saya sendiri di gua ini!" teriak Aurora sedikit takut.
"Aku tidak ke mana -mana, hanya ingin cari udara saja." Aku pun berdiri hendak melangkah keluar.
Namun, ketika aku hendak keluar, Aurora berteriak kencang seakan ada hal yang ia takutkan
"Aaaa...! Yang Mulia ...!!!" teriak Aurora yang sontak mengambil jubah merahku untuk menutupi tubuhnya. Aku pun berlari dan menghampirinya. Terlihat Aurora sangat ketakutan akan sesuatu yang ada di bawahnya. Rupanya ada hewan yang hidup di dalam gua ini yang membuat Aurora terkejut.
Aku pun mengambil hewan kecil itu dan membuangnya ke sisi yang lain. Namun ternyata jumlah hewan kecil itu tak hanya satu. Tiba-tiba seekor serangga kecil terbang ke arah tubuh Aurora yang membuat Aurora terkaget dan langsung memeluk tubuhku.
"Aaah... !!!" teriak Aurora yang menempelkan badannya padaku.
Ketakutan Aurora pada serangga membuat ia lupa akan kondisinya yang telanjang, hanya tertutup dengan balutan kain merah. Bahkan kain merah itu, tak mampu menutup semua lekuk tubuh indah Aurora yang membuatku menelan ludah. Aurora tak memperdulikan kondisi berbahaya ini. Dia terus menempel padaku sambil memasang wajah khawatir.
"Hewannya sudah tak ada, sampai kapan kau akan menempel padaku?" tuturku dengan santai, yang sekuat tenaga menahan hasrat birahiku.
"Apa itu tadi?!" tanya Aurora yang masih belum sadar akan perilakunya yang bisa membahayakan dirinya.
"Aku bilang, sudah tak ada apa-apa" jelasku sambil mengepalkan tanganku.
Aurora pun melepaskan cengkraman tangannya dari tubuhku dan melangkah mundur. Siapa sangka, jubahku terbelilit dan terinjak oleh kaki Aurora yang menyebabkan ia hampir jatuh. Aku pun mengetahui itu, dengan cepat kudekap badan Aurora dan kami pun terjatuh di atas tanah dengan kondisiku di atas tubuh Aurora.
Kami menatap dalam satu sama lain. setelah beberapa saat, Aurora tersadar jika jubah merah yang ia kenakan terlepas dari tubuhnya. Aku benar-benar berada pada kondisi yang sangat sensitif dan berbahaya. Bagaimana tidak, di bawah tubuhku terlentang sosok Aurora yang tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhnya.
"Jubah itu?" saut Aurora sembari dengan cepat menutup kedua mataku dengan telapak tangannya. Aurora tersadar ketika ia melihat jubah itu tergeletak agak jauh di samping tubuhnya.
"Jangan buka mata!" seru Aurora yang masih berposisi tetap di bawah badanku.
"Iihhh ..., kenapa sulit sekali dijangkau ..." ucap Aurora sambil berusaha mengambil pucuk kain merah itu untuk menutupi tubuhnya.
Mataku masih tertutup oleh telapak tangan Aurora. Aku pun mulai tak bisa mengontrol keinginanku kepada Aurora. Padahal sekian lama, semenjak terakhir kali aku tidur dengan Aurora pada bulan purnama itu, aku terus berusaha keras untuk menahan hasrat birahiku pada Aurora.
"Sial !, kenapa keadaan seperti ini harus muncul?" sautku dengan mata tertutup.
"Apa?" saut Aurora yang tak sadar dengan ucapanku.
Tanpa ragu, kugenggam tangan Aurora yang menglangi mataku. kutarik kebawah perlahan hingga aku melihat wajah cantiknya kembali. Aurora pun hanya terdiam akan hal itu.
"Maafkan aku," sautku lirih sambil menelan ludah.
"Kenapa minta maaf?" saut Aurora yang wajahnya mulai merah merona.
"Aku tak bisa menahannya lagi," kataku yang kemudian mencium bibir lembut Aurora.
Aurora pun tak menolak ciumanku. Dia seakan mengikuti alur apa yang kuminta.
BERSAMBUNG .......
Jangan lupa Like, komen and Rate 5 nya yah guysss......thank you...
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan