Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Cukup semalaman saja, Nikita dirawat inap dirumah sakit. Setelah memastikan Nikita yang hanya lecet sedikit, Dokter mengizinkan Randa membawa Nikita untuk dirawat dirumah saja.
Setelah menyelesaikan segala urusan administrasi dan biaya pengobatan dirumah sakit, Randa dan Nikita langsung pulang kembali kerumah mereka berdua.
Tak memakan waktu yang lama, Randa dan Nikita pun sampai dirumah mereka.
"Kamu mau kemana lagi mas...,?" tanya Nikita bingung melihat Randa yang seakan bersiap-siap untuk pergi lagi.
Padahal, mereka baru saja sampai dirumah mereka. Nikita pikir, Randa pasti ingin menemui Asyifa kerumahnya.
"Aku mau kekantor sebentar, ada yang harus aku urus." Jawab Randa ketus.
Pertanyaan Nikita selalu saja seperti mencurigainya. Randa muak dengan sikap Nikita yang makin posesif padanya.
Nikita terdiam tak mampu berkata lagi. Dia hanya memandang Randa dengan sorot mata sendu. Walau Randa mengatakan seribu alasan apapun, Nikita sudah tak percaya lagi. Dia yakin, Randa ingin menemui Asyifa kerumahnya.
Nikita pun mengantar kepergian Randa dengan menyimpan kelukaan yang mendalam. Bayangan Randa yang keluar melewati pintu keluar dan menjauh serta menghilang dari pandangannya membuat sakit hatinya kian terasa.
"Aku tak sanggup lagi mas, aku ingin berpisah darimu. Tapi aku tak bisa mas..., kenapa?" jerit Nikita dalam hati.
Titik demi titik air matanya jatuh mengalir pelan. Nikita menangis sendirian ditengah rumah megahnya yang terasa hampa dan kosong.
***
"Asyifa, Asyifa...,!" jerit Randa memanggil Asyifa.
Dia baru saja sampai dirumah tempat dirinya tinggal dengan Asyifa. Namun, perempuan itu tak terlihat dirumah itu.
Berulangkali dia memutar handle pintu rumah. Rumah itu seolah terkunci.
"Kemana lagi perempuan itu? Dasar perempuan jal*Ng, suami keluar, dia ikut keluar." Maki Randa dengan kesal.
Tubuhnya gemetar menahan emosi, Ingin sekali dia mendobrak pintu rumahnya sendiri. Randa jadi panik tak menentu. Dia takut, Asyifa kembali menghilang bersama Safina anaknya.
"Asyifa..., buka pintu!" teriak Randa keras.
Suaranya yang keras dan lantang mengundang tetangganya untuk melihat kearah rumah miliknya. Namun, mereka kembali acuh tak acuh karena sedikit banyaknya, mereka sudah tahu, konflik rumah tangga mereka. Berita tentang Randa yang punya istri dua, sudah menjadi viral diantara mereka.
"Maaf buk, ibuk ada lihat istri saya 'gak?" Randa melihat bayangan salah seorang tetangganya yang menyelinap hendak masuk pagar rumahnya.
Wanita setengah baya yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Randa itupun terlihat kaget karena Randa sudah berada dibelakangnya.
"Enggak pak, emang buk Asyifa 'gak ada dirumah ya?" wanita itu balik bertanya pada Randa.
Randa mendesah berat.
"Enggak buk, dari tadi saya panggil tidak menyahut. Pintunya juga dikunci." Ujar Randa bingung bercampur panik.
"Kemana ya pak? Saya kurang tau. Tadi kayaknya ada yang jemput buk Asyifa pakai motor gede. Motornya parkir lama, depan pagar." Tutur wanita itu menjelaskan.
Tadi pagi dia sempat melihat ada seorang pemuda yang duduk diatas sepeda motor gedenya dan parkir lama didepan pagar pembatas rumah Randa dan Asyifa. Dia langsung berasumsi, kalau Asyifa pergi bersama pemuda itu.
Randa terkejut. Darahnya langsung mendidih saat mendengar perkataan wanita tetangganya itu. Bayangan Kenzie, mantan kekasihnya Asyifa berkelebat cepat dalam benaknya.
"Sialan, perempuan jal*ng tak tahu malu!" umpat Randa seketika mengejutkan wanita yang menjadi tetangganya itu.
"Maaf pak..., saya mau masuk dulu, saya banyak kerjaan. Permisi...," ucap wanita itu terlihat ketakutan dan segera berlalu pergi setelah melihat perubahan wajah Randa yang jadi sangar menakutkan.
Tanpa mempedulikan reaksi wanita itu, Randa berbalik masuk kedalam pekarangan rumahnya dengan darah tinggi yang kembali kumat.
Baru saja Randa hendak duduk di kursi teras rumahnya, sebuah sepeda motor terlihat berhenti didepan rumahnya. Dia melihat Asyifa turun dari sepeda motor itu bersama Safina dalam gendongannya.
Mata Randa menyipit, memperhatikan si pengendara sepeda motor yang seperti lelaki tua separuh baya. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti Kenzie, mantan kekasihnya Asyifa.
Dia juga melihat, Asyifa merogoh dompetnya dan menyerahkan selembar uang pada si pengendara motor. Lelaki itu cuma tukang ojek, dia bukan Kenzie. Randa menggeram marah mengepalkan jemari tangannya. Untung saja, itu bukan pemuda yang bernama Kenzie. Jika iya, entah apa yang akan terjadi.
"Darimana saja kau, heh!?" bentak Randa menahan geram, saat Asyifa baru sampai didekatnya.
Matanya menatap Asyifa dengan nyalang. Dia memperhatikan penampilan Asyifa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilannya terlihat biasa saja, tanpa pakaian bagus dan dandanan sama sekali.
"Aku habis dari puskemas mas..., tadi Safina muntah-muntah dan mencret. Kayaknya Safina masuk angin." Jawab Asyifa tanpa menyadari sikap Randa yang menyimpan amarah padanya.
Randa menarik nafas panjang, mencoba menahan emosinya kembali. Dia melirik kearah kantong obat yang ditenteng Asyifa. Kemudian matanya beralih memandang Safina yang tengah tertidur lelap. Bayi mungil Safina terlihat cantik dan lucu dengan rambut di kuncir dua.
"Hmm..., sama siapa kau ke puskesmas?" tanya Randa dengan pandangan mata penuh selidik.
"Ya berdua sama Safina lah mas..., emang mau sama siapa lagi?" gurau Asyifa, merasa lucu dengan pertanyaan Randa.
Asyifa mengeluarkan kunci rumah dari dalam dompet dan menyodorkannya ke tangan Randa tanpa melihat ekspresi wajah suaminya yang menatapnya penuh selidik.
"Bantu aku bukain pintu mas..., Safina berat." Lanjut Asyifa kembali bicara, saat Randa menerima kunci yang disodorkan Asyifa padanya.
Randa membukakan pintu rumah yang terkunci untuk Asyifa dengan dongkol. Dalam hatinya masih tersimpan rasa amarah bercampur penasaran tentang perkataan wanita tetangganya tadi, bahwa ada seorang pemuda yang datang dengan sepeda motor gedenya.
Asyifa segera masuk kedalam rumah, tanpa mengetahui ada masalah yang menantinya. Dia menaruh Safina yang tertidur didalam kamar dan kembali menemui Randa yang sedang duduk diruang tengah dengan wajah terlihat kurang menyenangkan.
"Bagaimana dengan keadaan mbak Niki mas..., apa dia baik-baik saja?" tanya Asyifa ikut perhatian dan duduk di atas sofa menghadap Randa.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir suaminya itu. Randa terlihat tenang dengan raut wajah sangar menatap Asyifa nyalang.
"Apa yang terjadi mas...,? Apa mbak Niki baik-baik saja,?" Asyifa jadi bingung melihat sikap suaminya dan mengulangi pertanyaan yang nyaris serupa.
Raut wajah tanpa dosa dan tak bersalah yang dihadirkan Asyifa, membuat Randa merasa muak. Dia berpikir Asyifa sedang berpura-pura baik dan berlagak polos dihadapannya.
Suasana hening, sejenak menerpa mereka berdua, memberi aura aneh pada diri Asyifa.
"Mas mau aku bikinkan teh...,?" tanya Asyifa lagi mengganti pertanyaannya.
Asyifa pikir, Randa punya masalah besar dengan keadaan Niki yang baru saja mendapat kecelakaan. Pikiran buruk tentang keadaan Niki, melintas dibenak Asyifa.
"Mungkin mas Randa lelah dan panik memikirkan mbak Niki." Pikir Asyifa dalam hati.
Dia beranjak pergi hendak membuatkan Randa teh, meskipun suaminya itu hanya diam tak menjawab sedari tadi. Dia tak ingin mengusik ketenangan Randa. Asyifa pikir, Randa butuh istirahat.
"Mau kemana kau heh?!" suara Randa terdengar berat dan penuh tekanan membuat langkah Asyifa terhenti.
Tubuh Asyifa berbalik pelan dan alangkah terkejut dirinya saat melihat Randa telah berdiri tepat dibelakangnya dengan sebelah tangan yang terangkat tinggi di udara.
Plak!
Dalam sekejap mata, telapak tangan Randa telah mendarat tepat dipipinya.
.
.
.
BERSAMBUNG