Jika ada yang mengatakan cinta pada pandangan pertama itu mustahil, itu tidak benar, karena Flora memang mengalaminya, saat ia di jodohkan dengan seorang pria yang berada di kursi roda dan tidak dapat berbicara, Flora tidak perduli, senyuman manis dan tatapan mata yang lembut tetapi tajam dibalik kaca mata minusnya, membuat Flora langsung jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Siasat yang berhasil.
Kediaman Ginta sudah berlanjut selama tiga hari, Flora juga tidak berniat merayu atau mengajak suaminya bercerita atau sekedar berbicara.
Ginta tetap mengantar dan menjemput Flora ditempatnya bekerja seperti biasa, sarapan dan makan malam tanpa pembicaraan selain bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Ketika berada di tempat tidur juga saling memberikan punggung.
Ginta yang terbiasa diam tidak terlalu berpengaruh dengan heningnya hubungan mereka, tetapi menjadi berbeda dengan Flora yang terbiasa berkicau seperti burung.
Setelah sampai dirumah, Ginta lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, terkadang sampai tertidur setelah tengah malam ketika berjaga baru berpindah ke dalam kamar, tidur di tas ranjang disamping istrinya.
" Mau sampai kapan kalian diam diaman begitu ? " tanya Dewi di jam istirahat ketika Flora memberitahukan jika hubungan dirinya dengan suaminya semakin dingin, berbeda dengan rumah tangga Dewi yang sedang hangat hangatnya, masih tahap pacaran setelah menikah.
" Entahlah Wi, kami sama sama tidak ada yang mau memulai pembicaraan, kak Ginta lebih sering mengurung diri didalam ruang kerjanya " jawab Flora lesu.
" Inisiatif Flo, dekati dia ! bukankah kau dulu yang lebih agresif dari pada suamimu ? " Dewi mencoba mengingatkan Flora di awal mereka menikah.
" Berbeda Wi, saat itu kak Ginta menatapku dengan lembut dan bibirnya yang terus menyunggingkan senyuman tipisnya yang membuatku jatuh cinta, tetapi sekarang wajahnya terus datar sehingga aku tidak tahu apa dia marah atau tidak, membuatku enggan mendekatinya "
" Kalau begitu, sapa dia dengan mengirim pesan, bereskan ? "
Flora menghembuskan napasnya kuat. diamnya Ginta membuat kepalanya terasa berdenyut.
Flora bertekad akan menyapa suaminya ketika nanti menjemputnya saat pulang, menunggu waktu hingga jam lima sore, terasa lama bagi Flora.
Mendekati waktu pulang, Flora merapikan penampilannya, menambah sedikit lipstik yang sudah menipis warnanya, memoles bedak tabur pada wajahnya, beres, bisiknya dalam hati.
" Berdandan mau pulang, kau ingin menggoda suamimu ya ? " celetuk Dewi dari samping.
" Heemm " Flora hanya menggeram.
" Kalau suamimu tetap diam ? apa yang akan kau lakukan ? " tanya Dewi ingin tahu
Ada seringai licik di sudut bibir Flora.
" Aku akan menggigitnya "
" Apanya ? bibirnya ? " Dewi terkikik geli.
" No....aku akan menggigit jempolnya, biar bertambah gede sekalian " geram Flora.
" Jempol kaki atau jempol tangan, Flo ? " Dewi sudah tertawa tawa
" Seluruh jempol yang dia punya, jempolmu juga mau ku gigit ? " tanya Flora judes.
Dewi tergelak menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Dewi dan Flora sama sama keluar dari kantor saat netra mereka melihat mobil yang biasa Ginta dan Lukas pakai sudah terlihat di ujung gerbang pelataran kantor melalui dinding kaca tempat mereka duduk.
" Kak, aku minta maaf, jangan diam terus " ucap Flora langsung begitu dia sudah mendudukkan tubuhnya dikursi samping pengemudi.
Ginta sekedar menoleh lalu tersenyum tipis.
Emosi Flora sudah kembali naik sampai. keubun ubun, diraihnya secara paksa telapak tangan Ginta, lalu Flora benar benar menggigit jempol jemari tangan suaminya
" auw " Ginta memekik dan menarik tangannya keras
" Apa yang kau lakukan, Flo ? kenapa kau menggigitku ? " Ginta mengibas ngibaskan tangannya.
" Biar kakak bicara, apa bibir kakak tidak terasa kaku diam terus ? " tanya Flora ketus
" Tapi tidak perlu kamu menggigitnya kan ? kau kan bisa menggigit yang lain ? " Ginta meniup niup jempolnya yang terdapat tanda gigi Flora yang menancap dijarinya
Flora mendengkus.
" Oke aku bersedia segera mengandung dan melahirkan anak yang banyak buat kakak, kalau perlu dua belas anak, puas kakak sekarang " ucap Flora tanpa berpikir.
Sontak Ginta menoleh
" Benarkah, Flo ? dua belas anak ? nanti aku akan telepon Kakek dan Nenek jika kau sudah bersedia memberikan cicit yang banyak untuk mereka " Ginta menyeringai senang
" Hei ...bukan dua belas benaran, satu atau dua saja kak " Flora sudah mulai panik
" Tidak bisa kau tarik kembali ucapan yang sudah kau janjikan, aku sudah merekamnya " Ginta menggoyangkan ponselnya yang terletak di dasbor mobil.
Flora melotot tetapi Ginta tidak perduli.
Ginta segera menekan pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya.
" Kak, kenapa kencang sekali membawa mobilnya, pelankan sedikit ! memangnya ada apa buru buru ? "
" Menyicil untuk satu anak dulu Flo, kita harus bekerja keras biar kau bisa melahirkan dua belas anak untukku, semoga saja tiap lahir dua anak " saut Ginta konyol.
Ginta merasa bahagia karena siasatnya berhasil membuat Flora bersedia segera mempunyai anak.
▫️
▫️
▫️
💞💞💞💞💞