Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?
Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.
Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?
Simak ceritanya disini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang
Malam mencekam, gelap menyelimuti, angin malam yang dingin menusuk kulitnya. Malam tak berbintang ini adalah malam terkelam dalam hidup Fika. Yang seharusnya ia bahagia, namun justru mendapatkan kebalikannya. Takdir begitu kejam terus-terusan menghantam dirinya yang lemah dan juga tak berdaya. Sampai kapan takdir akan terus menyakitinya?
Kapan dia mendapatkan kebahagiaan?
Jika dia memang tidak akan mendapatkan kebahagiaan, tapi setidaknya.. kapan penderitaan itu akan berakhir?
Fika sedari tadi tidak juga menghentikan tangisannya, ia masih juga terduduk lemah di bangku besi taman rumah Arga. Jujur ia saat ini tidak mampu lagi untuk bangkit, segala kejadian dan kenyataan yang menghantamnya kali ini telah menghancurkan pertahanan dirinya yang sudah lama ia bangun. Bahkan meskipun ia mengetahui kebenarannya sekarang, ia merasa itu adalah sia-sia. Karena ia tau, ia tidak akan bisa merubah pandangan siapapun. Termasuk Arga.
Orang yang dulu sering datang dalam mimpinya itu ternyata adalah orang yang selalu ada di sampingnya saat ini. Mungkin hak itu juga yang menjadi alasan mengapa Fika bisa jatuh cinta pada laki-laki kejam berdarah dingin itu. Fika tidak habis fikir, jika memang Arga adalah Alan.. lalu mengapa waktu itu Arga seolah-olah tidak tau tentang Alan? Apakah Arga memang sengaja menetupinya dari dia? Tapi kenapa? Kenapa Arga tidak mengatakkan yang sebenarnya?
Pertanyaan demi pertanyaan terus berdatangan dari pikiran Fika, ia sungguh tidak tahu mengapa Arga menutupi segalanya darinya? Setelah semua hal yang mereka lalui bersama dahulu, akankah begitu mudah bagi Arga untuk melupakan dan mengabaikannya begitu saja?
Sungguh, Fika rasanya ia ingin mengatakan segala hal pada Arga sekarang juga. Fika takut jika terus dibiarkan, kesalah fahaman ini akan berlanjut hingga nanti. Fika pun akhirnya kembali bangkit, ia menaruh kembali surat beserta foto kecil ditangannya itu di dalam kotak sebelum ia melangkah dan masuk ke dalam rumah Arga.
Saat Fika melewati pintu, Fika sudah bisa langsung menangkap sosok yang sedang ia cari tadi. Cowo berpostur tubuh atlit itu kebetulan sedang ada di ruang keluarga sambil menonton tv. Fika pun memutuskan untuk menghampirinya secara perlahan.
Namun tanpa diduga, belum sempat Fika mendekati Arga, cowo itu ternyata lebih dulu menoleh padanya sehingga sekarang keduanya saling bertatap bisu.
"Abis dari mana lo?" Ucap Arga setelah beberapa detik terdiam.
Fika berusaha menetralkan dirinya, jika boleh jujur ia sangat gugup saat ini. Terutama mengingat Arga adalah Alan orang yang ia cari selama ini membuatnya tidak tau harus berbuat apa.
"Lo tuli yah?" Ucap Arga lagi. Kini cowo itu mengambil posisi berdiri.
"Em.. Fika dari taman belakang. Tadi sama Iqbal."
Arga masih menatap Fika. Meskipun dalam jarak yang cukup jauh, namun Fika mampu merasakan aura menyeramkan cowo itu menusuk ke setiap pori-pori kulitnya. Sungguh menakutkan.
"Jadi lo masih jadian sama dia?" Ucap Arga tiba-tiba.
Sontak hal itupun membuat Fika mengerutkan keningnya. "Kenapa Arga ngomong gitu?" Entah mengapa perasaan Fika tidak enak, mungkinkah Arga sudah mendengar percakapannya dengan Iqbal tadi?
"Gue cuman nebak aja." Ujar Arga acuh tak acuh. Cowo itu hendak akan melangkah pergi. Namun dengan segera Fika langsung mencegahnya.
"Arga!" panggil Fika. Ia melangkah mendekati cowo itu.
Arg tidak berbalik namun cowo itu menghentikan langkahnya dan bertanya. "Kenapa?"
Fika yang kini berada di belakang tubuh Arga hanya bisa menundukkan kepalanya seraya berfikir keras untuk merangkai setiap kata yang ia ingin ucapkan untuk cowo itu. Jika ingin tau, jantung Fika saat ini berdetam sangat cepat. Keringat dingin pun mulai membasahi keningnya. Ia belum pernah segugup ini sebelumnya. Namun inilah kesempatam yang tepat baginya untuk berbicara dengan Arga.
"Kalo gak ada hal penting, gue mau ke atas." Ujar Arga.
"Tu-tunggu dulu," Fika secara refleks meraih tangan kekar Arga. Hal itupun membuat Arga menatap ketangannya yang sedang di genggam oleh Fika.
"Lo ngapain?" Ketusnya.
Fika pun langsung menarik lengannya kembali. "Ma-maaf."
"Lo sebenernya mau apa?" Tanya Arga terdengar kesal plus greget.
"Itu.. em.. Fika mau ngomongin sesuatu sama Arga."
"Ngomong aja." Ujar Arga terdengar lebih ketus.
Fika terdiam sejenak, sebelum kemudian menghela nafas panjangnya.
"Mengenai kejadian bertahun-tahun lalu.. Fika mau tanya sama Arga, apa Arga yakin belum pernah ketemu sama Fika sebelumnya?"
Mendengar pertanyaan Fika yang terdengar ambigu bagi Arga itu membuatnya menyernyit. "Maksud lo apaan?"
"Itu, maksudnya Arga apa kita pernah ketemu sewaktu kita masih kecil dulu?"
"Gak." Jawab spontan Arga.
"Serius? Coba Arga inget-inget lagi, mungkin aja-"
"Gue bilang GAK ya nggak! Lo jangan maksa!" Sentak Arga entah mengapa ia terlihat begitu marah.
"Tapi-"
"Gue ketemu lo saat mamah bawa lo kesini! Sebelumnya gue gak pernah ketemu apalagi kenal sama lo!"
Arga baru saja hendak akan kembali melangkah dan menaikki tangga namun lagi-lagi hal itu membuat Fika merasa sakit hati. Ia pun mengejar Arga dari belakangnya. Entah mengapa rasa sakit dihatinya yang tadi sempat mengurang kini kembali menggebu di dadanya. Fika ingin mengeluarkan segalanya, ia ingin mengatakan semuanya dan mungkin inilah saatnya.
Arga sudah berada di pertengahan tangga dan Fika juga berada tidak jauh dari belakangnya. "Arga!"
Arga tidak menghiraukannya. Cowo itu terus melangkah.
"Arga tunggu! Fika belum selesai ngomong."
Lagi-lagi Arga tidak mendengarkannya, hingga baru saja kakinya menyentuh lantai dua Fika berteriak keras.
"ALAN!"
Sontak hal itu membuat Arga langsung terhenti dan terdiam di tempatnya. Sedangkan Fika di belakangnya sudah terisak dengan tangisannya sendiri. Di tengah keheningan keduanya Fika menatap punggung cowo itu dengan sesak.
"Setelah sekian lama di dalam penderitaan dan juga kesendirian, Fika gak pernah berhenti untuk percaya bahwa apa yang selalu datang dalam mimpi Fika itu adalah kenyataan. Meskipun Fika tidak bisa mengingat semuanya, namun kepingan-kepingan kenangan itu masih ada yang tersimpan. Walaupun kenyataannya sangat membuat Fika terkejut. Tapi Fika merasa bahagia karena sekarang Fika mengetahui bahwa mimpi indah itu adalah kenyataan."
"Dari dulu.. Fika memang selalu sendirian. Ngga ada satu pun orang yang mau menjadi teman Fika sebelumnya. Fika merasa bahwa Fika adalah anak yang tidak berguna sampai-sampai tidak ada satupun dari mereka yang mau mengenal Fika. Namun... seorang anak laki-laki yang tiba-tiba saja datang menghampiri Fika yang sedang menangis waktu itu telah membuat semuanya berubah."
"Dia tersenyum dan dengan tulusnya ia memeberikan tangannya untuk Fika bangkit kembali. Pada saat itu Fika mulai tau bahwa melihat kedua matanya Fika merasa tenang, melihat senyumnya yang tulus membuat Fika bahagia. Dan setiap perlakuannya membuat Fika merasa aman berada di sampingnya. Terutama saat ia memeluk hangat Fika dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Rasanya mimpi seindah itu tidak ingin pernah Fika lepaskan. Jika memang itu sebuah mimpi, Fika rela tertidur selamanya asalkan bisa terus berada di sampingnya."
"Selama ini Fika selalu percaya, bahwa semua itu bukan hanya sekedar mimpi biasa. Tapi ... semua itu memang nyata."
"Sosok yang dulu selalu membuat Fika bahagia ternyata adalah sosok yang sekarang selalu membuat Fika takut, marah, kesal, menangis dan tertawa bersamaan. Sosok yang Fika nanti selama ini adalah sosok yang kini Fika lindungi."
Dibalik tubuh Arga yang tegap itu tanpa ia sadari Arga sudah mengepalkan lengannya erat. Entah mengapa mendengar hal itu membuat hati Arga terasa sangat sakit.
"Alan ... orang yang telah membuat Fika merasa di sayangi menjadi sosok yang Fika cintai di masa depan. Fika-"
"Semua itu hanya masa lalu." Potong Arga. Membuat Fika terdiam.
"Mungkin itu hanya masa lalu, tapi.. kita bisa mengulangnya kembali Ga-"
"Apa yang sudah beralalu gak akan terulang kembali."
Lagi-lagi perkataan Arga membuat Fika bungkam. Kali ini ia harus berkata apa? Untuk meyakinkan Arga?
"Tapi kita bisa memulainya dari awal lagi Ga. Fika yakin kita pasti bisa." Kekeuh Fika. Ia mencoba semakin mendekati Arga, namun sayangnya Arga justru semakin menghindarinya.
"Masa lalu akan selalu menjadi masa lalu."
"Tapi Ga.."
"Anggap aja kita belum pernah ketemu sebelumnya. Kita jalani seperti biasa. Gue dan lo bukan siapa-siapa, dan gak pernah ada masa lalu diantara kita."
Arga hendak akan pergi yang langsung Fika hadang.
"Arga.. Fika tau Fika salah, tapi Fika nggak bermaksud ngelupain Arga. Entah kenapa saat itu Fika gak bisa mengingat Arga. Arga please percaya sama Fika.."
Arga menghempaskan genggaman erat Fika di tangannya. "Meskipun lo ingat tentang gue pun lo gak akan bisa merubah takdir!"
"Takdir yang membuat gue benci sama lo!"
Fika tidak bisa menahan tangisannya lagi, ia menatap nanar Arga dengan penuh sesak didadanya. "Kenapa?" Suara Fika terdengar parau. "Kenapa Arga benci Fika?"
Arga menatap Fika penuh arti. Seandainya Fika tau apa yang ada di fikiran cowo itu. Mungkin segalanya akan terungkap sekarang.
"Arga jawab!" Teriak Fika sarkastik.
"Meskipun gue jawab, lo gak akan bisa mengubah apapun."
"Asal lo tau, mungkin dulu gue adalah sosok malaikat di hidup lo, tapi sekarang?.. Gue hanyalah mimpi buruk buat lo."
"Nggak Arga!" Arga berjalan melewati Fika begitu saja namun Fika tidak juga menyerah ia justru menarik lengan kaus cowo itu dengan sangat kuat. "Arga!"
Arga tidak menghiraukan Fika, bahkan dengan teganya ia menepas lengan Fika sehingga membuatnya terjatuh.
"Arga! Fika sayang sama Arga!"
Tanpa mempedulikan Fika lagi, Arga cowo itu semakin menjauh darinya. Dan masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu dengan kasar.
"Gue juga sayang sama lo Fik."
"Tapi maaf, gue gak bisa jadi Alan yang dulu lagi."