Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hampir satu jam penuh Umi berkeliling dari satu lorong ke lorong lain.
Keranjang belanjaan anyaman yang dibawa Bryan kini sudah terisi penuh dan tampak sangat berat.
Di dalamnya ada ikatan kacang panjang, labu siam, daun melinjo, jagung manis, dan bumbu-bumbu segar untuk memasak sayur asem nanti siang.
Tak ketinggalan, semua pesanan Fatma mulai dari pastel yang renyah hingga martabak telur yang gurih juga sudah terbeli dan dibungkus rapi.
Fatma pun berjalan menghampiri dengan wajah berseri-seri, kedua tangannya menjinjing plastik berisi lima porsi lupis hangat yang baru saja ia bungkus dari lapak si mbah.
Di belakang Umi, Bryan tampak mengembuskan napas panjang.
Kaos abu-abu yang dikenakannya mulai lembap oleh keringat di bagian punggung.
Membawa keranjang belanjaan seberat itu sembari membelah lautan manusia di pasar tradisional yang padat dan pengap rupanya jauh lebih menguras tenaga daripada sesi latihan fisik di pusat kebugaran mewah kota.
Otot lengan tegapnya bahkan terlihat menegang karena menahan beban sejak tadi.
Melihat asisten setianya—yang kini beralih peran menjadi santri pengabdi—tampak kelelahan, Umi merasa tidak tega.
Beliau menghentikan langkahnya tepat di dekat sebuah kedai pinggir jalan yang memajang tumpukan buah kelapa hijau segar.
Umi menoleh ke arah Bryan sambil tersenyum keibuan.
"Walah, Bryan sepertinya capek sekali ya bawa belanjaan Umi yang banyak ini."
Umi lalu beralih menatap Adrian dan Fatma yang baru saja bergabung.
"Ayo, duduk di sini dulu. Umi belikan es kelapa muda biar segar dan lelahnya hilang," ajak Umi ramah, menunjuk bangku panjang dari bambu yang disediakan penjual.
"Wah, mau, Umi! Kebetulan cuaca pasar sudah mulai panas," sahut Fatma riang, langsung mengambil tempat duduk di dekat Umi setelah meletakkan bungkusan lupisnya dengan hati-hati.
Bryan yang mendapat tawaran itu langsung meletakkan keranjang belanjaan beratnya ke lantai semen dengan napas lega.
Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu tersenyum takzim kepada Umi.
"Terima kasih banyak, Umi. Segar sepertinya minum es kelapa subuh-subuh begini."
Adrian ikut duduk di ujung bangku bambu dengan posisi canggung.
Tangan kanannya yang diperban membuatnya tidak bisa banyak membantu fisik Bryan sejak tadi.
Di bawah naungan terpal kedai es kelapa yang sederhana itu, aroma manis kelapa muda dan serutan es mulai disajikan, menjadi penawar lelah yang manis bagi mereka berempat sebelum kembali ke ketatnya ritme kehidupan pesantren.
Mobil yang dikemudikan Adrian melambat, lalu berhenti tepat di depan pelataran ndalem.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan di pasar, suasana hati mereka berempat sedikit lebih cair.
Namun, begitu pintu mobil terbuka dan mereka melangkah keluar, atmosfer langsung berubah drastis saat mendapati sosok Abah sudah berdiri di sana.
Abah mengenakan gamis putih bersih dengan sorban yang tersampir rapi di bahunya.
Wajahnya tenang, namun tatapan matanya tajam dan penuh wibawa, seolah sedang memindai setiap inci perubahan perilaku mereka.
"Sudah selesai belanjanya?" tanya Abah dengan suara berat.
"Sudah, Abah," jawab Umi sembari memberikan kantong belanjaan utama kepada seorang santri putra yang kebetulan lewat.
Abah kemudian mengalihkan pandangan kepada Adrian dan Bryan.
"Kalian berdua, cukup bersantai-santainya. Di pesantren ini, tidak ada waktu untuk diam tanpa ilmu."
Tanpa memberi celah bagi mereka untuk sekadar duduk melepas lelah atau meminum sisa es kelapa muda yang tertinggal, Abah langsung memberikan instruksi tegas.
"Adrian, Bryan. Segera menuju kelas belajar dasar santri di gedung belakang masjid sekarang juga.
Ustadz Damar sudah menunggu kalian di sana untuk memulai materi dasar bacaan salat dan pengenalan huruf hijaiyah," ucap Abah.
Adrian tersentak. Ia baru saja ingin sedikit memanjakan diri setelah membantu membawa belanjaan, namun realitas pesantren ternyata jauh lebih disiplin daripada bayangannya.
Ia melirik Bryan, yang meski tampak kelelahan, langsung mengangguk patuh dan berdiri tegak dengan posisi siap.
"Inggih, Abah," jawab keduanya serempak.
Fatma yang berdiri di samping Umi hanya menatap punggung kedua pria itu yang kini berbalik arah menuju gedung kelas.
Di mata Fatma, melihat Adrian yang biasanya memerintah ribuan karyawan kini harus duduk bersimpuh di lantai kelas dasar untuk belajar mengeja huruf Alif-Ba-Ta bersama anak-anak usia belasan, adalah sebuah pemandangan yang memberikan secercah harapan.
Di bawah pengawasan Abah, Adrian melangkah dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu, dari pintu kelas sederhana itulah, ia akan benar-benar diuji: apakah ia mampu menanggalkan egonya, atau justru akan menyerah sebelum kelas pertama itu berakhir.
Langkah kaki Adrian terasa amat berat saat menyusuri selasar gedung Madrasah Diniyah di bagian belakang kompleks pesantren.
Di dalam dadanya, rasa gugup berkecamuk hebat.
Sebagai seorang pria matang yang terbiasa memimpin rapat direksi dengan puluhan bawahan, kembali duduk di bangku kelas bersama santri-santri remaja yang usianya jauh di bawahnya terasa seperti pukulan telak bagi harga dirinya.
Berbeda dengan Adrian, Bryan berjalan di sampingnya dengan sikap yang jauh lebih tenang.
Sebagai mantan pengawal yang terbiasa ditempa kedisiplinan militer, bagi Bryan kelas ini hanyalah bentuk "barak baru" yang harus ia patuhi tanpa banyak tanya.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang kelas, Adrian seketika tertegun.
Matanya menatap nanar deretan meja kayu tua yang sudah kusam dan penuh coretan, serta sebuah papan tulis hitam yang masih menggunakan kapur tulis.
Pemandangan sederhana ini sangat kontras dengan meja kerja direksinya yang terbuat dari kayu mahoni mahal berpencahayaan estetik, lengkap dengan papan tulis digital mutakhir.
Di ruangan yang pengap oleh udara pagi ini, ia mendadak merasa sangat asing.
"Silakan masuk dan mengambil tempat duduk," sebuah suara ramah menyambut mereka.
Di depan kelas, berdiri Ustaz Adi, seorang pengajar muda berwajah teduh dengan kacamata minus yang bertengger di hidungnya.
Di hadapan beliau, belasan santri remaja menoleh serempak, menatap Adrian dan Bryan dengan tatapan penasaran.
Adrian menelan ludah, menahan rasa gengsi yang membumbung tinggi saat ia terpaksa melipat kakinya yang panjang untuk duduk lesehan di balik meja kayu pendek yang sempit.
"Baik, karena hari ini kita kedatangan santri baru, kita akan mengulas kembali dasar-dasar ilmu tauhid dan akhlak," ucap Ustaz Adi sambil menuliskan beberapa patah kata dengan kapur tulis yang berdecit nyaring.
Ustaz Adi kemudian menatap Adrian. "Mas Adrian, dalam kitab Aqidatul Awam, apa sifat wajib pertama bagi Allah yang harus kita yakini sebagai fondasi keimanan?"
Adrian terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana, namun otaknya kosong melongpong.
Selama puluhan tahun hidupnya, ia hanya tahu cara mengejar target duniawi, menumpuk kekayaan, dan memuaskan ego. Soal sifat-sifat Tuhan, ia benar-benar buta.
"Saya, kurang tahu, Ustaz," jawab Adrian dengan suara lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Rasa malu membuat wajahnya terasa panas. Ia benar-benar menyadari betapa minimnya pengetahuan agamanya selama ini; ia sekaya raja di dunia luar, namun semiskin pengemis di dalam kelas ini.
Seorang santri remaja berusia sekitar empat belas tahun yang duduk di sebelah Adrian berbisik pelan pada temannya sambil tersenyum geli, "Wah, santri baru yang sudah tua ini ternyata belum tahu sifat Wujud ya..."
Bisikan itu terdengar jelas di telinga Adrian. Egonya berontak, tangannya yang tidak diperban mengepal kuat di bawah meja.
Ia harus sekuat tenaga menahan emosi agar tidak membentak anak kecil di sampingnya.
Sementara itu, di baris sebelah, Ustaz Adi beralih melempar pertanyaan seputar akhlak kepada Bryan.
Dengan tenang dan takzim, Bryan menjawab berdasarkan sisa-sisa ingatan masa kecilnya di madrasah kampung dulu.
Kemampuan adaptasi Bryan yang cepat dan sikapnya yang sangat menghormati guru langsung membuat Ustaz Adi mengangguk puas, bahkan santri-santri lain mulai menatap Bryan dengan rasa hormat.
Di sudut kelas yang bersahaja itu, Adrian sadar bahwa di tempat ini, setelan jas mahal dan jabatannya tidak berlaku lagi.
Ia harus merangkak dari dasar, menundukkan kepala di hadapan anak-anak kecil, demi memungut kembali iman yang telah lama ia hilangkan.