Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Keesokan harinya tiba. Azalea keluar dari ruang ganti dengan tampilan rapi, kaos putih polos dilapisi cardigan rajut merah marun bermotif krem, celana jeans hitam lurus, sepatu kets putih, dan tas selempang putih simpel. Ia mengambil ponselnya, lalu berjalan keluar kamar—dan berpapasan langsung dengan Rosa.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Rosa dengan nada tajam dan sinis.
Azalea terkejut, tapi tetap menjawab sopan. "Mau ke kuliah, Bu. Tinggal beberapa bulan lagi aku wisuda." jawab Azalea.
"Mulai hari ini, kau tidak perlu masuk kuliah lagi!" gertak Rosa tegas.
Azalea mengerutkan dahi bingung: "Kenapa, Bu? Aku sudah belajar bertahun-tahun, sebentar lagi selesai." Ucap Azalea.
"Jangan banyak bicara! Pergi ke dapur dan masak makanan enak untuk putriku!" bentak Rosa.
"Itu kan tugas Bi Inah, Bu. Kenapa aku yang harus melakukannya?" tanya Azalea semakin bingung.
"Kalau kau tidak mau diusir dari rumah ini, ya harus bekerja sebagai pembantu!" jawab Rosa sinis.
"Ini rumah Ayah, Bu. Kenapa aku di usir jika aku tidak menjadi pembantu di rumah?" mata Azalea mulai berkaca-kaca.
"Dulu memang rumah ayahmu, tapi sekarang ini milikku! Begitu juga perusahaan ayahmu, semuanya sudah ada di tanganku. Paham?!" bentak Rosa dengan pandangan penuh kebencian.
Air mata Azalea menetes membasahi pipi. "Jadi... selama ini Ibu hanya berpura-pura baik pada Ayah dan aku?" suaranya bergetar menahan tangis.
Rosa tersenyum licik, lalu mencengkeram rahang Azalea dengan kuat: "Kalau iya, kenapa? Mau berbuat apa? Hah?!" Bentak Rosa.
Tiba-tiba Bi Inah datang dan menahan tangan Rosa. "Nyonya, tolong lepaskan Non Azalea..." pinta wanita itu dengan wajah prihatin.
Rosa melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Azalea terjatuh. Bi Inah segera membantu gadis itu berdiri.
"Mulai hari ini, kau tidur di kamar pembantu! Paham?!" bentak Rosa lagi, membuat Bi Inah terkejut.
"Aku—"
"Non Azalea..." Bi Inah menggeleng pelan, memberi isyarat agar Azalea tidak berkata apa-apa lagi.
Azalea menunduk, menahan tangis yang ingin meledak. Ia berjalan perlahan menuju kamar pembantu bersama Bi Inah, hatinya hancur. Ia baru sadar, semua kebaikan yang ia percayai selama ini hanyalah topeng, dan hidupnya kini benar-benar berubah menjadi neraka.
Sesampainya di kamar pembantu, Azalea duduk di atas kasur yang terbilang sederhana. Ia menghela napas panjang, namun air matanya tetap mengalir membasahi pipi mulusnya. Melihat keadaan gadis itu, Bi Inah segera mendekat dan menenangkannya.
"Non Azalea masih punya Bibi. Jangan bersedih begini, nanti Bibi ikut sedih dan menangis juga," ucap Bi Inah lembut.
"Bi... Apakah aku memang ditakdirkan tidak bisa bahagia?" tanya Azalea dengan pandangan kosong.
Bi Inah memandang gadis itu dengan penuh kasihan. "Semua orang berhak bahagia, termasuk Non Azalea. Bibi yakin, suatu hari nanti Non pasti akan menemukan kebahagiaan itu," jawabnya sambil tersenyum tulus.
Azalea langsung memeluk wanita itu erat. "Terima kasih, Bi. Terima kasih sudah tetap baik padaku." ucap Azalea.
"Sudah, ya. Bibi mau ke dapur untuk menyiapkan sarapan dulu," ucap Bi Inah melepaskan pelukan perlahan.
Tiba-tiba Azalea memegang tangannya. "Aku ikut membantu, Bi." Ucap Azalea.
Bi Inah menggeleng. "Tidak usah, Non. Istirahatlah saja di sini. Biarlah Bibi yang mengerjakannya." ucap Bi Inah.
"Bi, aku mohon..." pinta Azalea dengan tatapan memohon.
Tidak tega menolak, Bi Inah akhirnya mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju dapur. Bi Inah sibuk menyiapkan makanan, sedangkan Azalea membuat minuman panas untuk Rosa dan Selvina.
Setelah selesai membuat minuman panas, Azalea segera mengangkat nampan berisi dua gelas—satu susu panas dan satu teh panas—lalu membawanya ke ruang makan. Di belakangnya, Bi Inah mengikuti sambil membawa nampan berisi dua mangkuk bubur ayam.
Sesampainya di sana, hati Azalea mencelos. Selvina duduk di kursi yang biasa dipakainya, sedangkan Rosa menempati kursi besar milik ayahnya. Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang, lalu menyajikan minuman dan makanan dengan tangan gemetar.
"Apa kau tidak mencampur racun di dalam minuman ini?" tanya Rosa dengan tatapan tajam dan nada sinis.
Azalea menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Aku—"
"STOP!" potong Selvina keras. "Jangan panggil Ibuku dengan sebutan itu! Kau harus memanggilnya Nyonya, dan aku Nona. Paham?!" Bentak Selvina.
"I-iya, Nona..." jawab Azalea gugup sambil menunduk.
"Kamu lanjut pekerjaanmu," perintah Rosa pada Bi Inah, lalu menoleh ke Azalea. "Dan kau, kemari." ucap Rosa.
Bi Inah tetap berdiri cemas, tapi Azalea tersenyum tipis memberi isyarat tidak apa-apa. Setelah pembantu itu pergi, Azalea mendekat dengan hati berdebar.
"Ada apa, Nyonya?" tanyanya pelan.
Rosa tersenyum licik. Tiba-tiba ia mengambil gelas teh panas, lalu melemparkan isinya tepat ke arah Azalea. Beruntung gadis itu sempat menoleh sedikit, sehingga cairan panas itu hanya mengenai punggungnya.
"AKKKH—PANAS!!"
Azalea meringis kesakitan. Punggungnya terasa perih dan terbakar. Bi Inah yang melihat dari kejauhan meneteskan air mata, hatinya terasa perih.
"Seandainya Tuan masih ada, Non Azalea tidak akan menderita seperti ini... " batinnya pilu.
Rosa dan Selvina tertawa terbahak-bahak melihat Azalea menahan rasa panas dan perih yang menjalar di punggungnya. Namun Azalea hanya meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia berjalan pelan menuju kamar pembantu, diikuti oleh Bi Inah yang merasa sangat prihatin.
Sesampainya di kamar, Azalea langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas punggungnya dengan air dingin guna meredakan rasa panas. Sementara itu, Bi Inah sibuk mencari salep luka bakar. Beberapa menit kemudian ia menemukannya, tepat saat Azalea keluar dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Non, ayo duduk di kasur. Biar Bibi bantu oleskan salepnya," ucap Bi Inah sambil menuntun Azalea duduk.
Dengan sangat hati-hati dan pelan, Bi Inah mengoleskan salep itu sambil sesekali meniup punggung Azalea agar tidak terasa perih. Azalea memejamkan matanya rapat-rapat, berusaha menahan rasa sakit yang masih terasa di kulitnya.
Setelah selesai, Azalea menoleh dan tersenyum tipis melihat wajah khawatir Bi Inah.
"Non... kenapa tidak pergi saja dari sini? Non bisa tinggal di luar, Bibi punya tabungan sedikit, nanti Bibi berikan untuk Non," usul Bi Inah dengan suara bergetar.
"Simpan saja tabungan Bibi. Aku tidak mau pergi dari rumah ini selamanya," jawab Azalea tegas sambil tetap tersenyum.
"Tapi Non, kalau tetap di sini, Nyonya dan Nona Selvina pasti akan terus menyiksa Non Azalea. Dulu Bibi sudah berjanji sama Tuan saat beliau sakit, Bibi harus menjaga Non Azalea, tidak boleh membiarkan Non terluka," isak Bi Inah tidak sanggup melihat penderitaan gadis itu.
"Bi, ini rumah Ayah dan Ibu kandungku, bukan milik mereka berdua. Aku tidak akan pergi. Percayalah, aku pasti bisa bertahan," ucap Azalea menenangkan hati pembantu yang sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄