NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

God Lion

Kereta yang membawa Bara dan teman-temannya perlahan meninggalkan stasiun. Di dalam gerbong, tawa Arif kembali terdengar, disusul ocehan Bella yang masih mengolok-olok insiden "tes kualitas keramik" beberapa menit lalu. Namun, di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk itu, tiga sosok pria tengah melaju menggunakan sebuah SUV hitam menuju pusat Kota Surabaya.

Suasana di dalam mobil begitu sunyi.

Dani duduk di kursi penumpang depan sambil memainkan korek api di tangannya. Sementara Danu memejamkan mata di kursi belakang. Johan duduk di sisi jendela, memandang lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Tidak ada yang berbicara. Sampai akhirnya...

"Kau melakukan kesalahan." Suara Danu memecah keheningan.

Johan tetap menatap keluar. "Saya tahu."

"Kau membiarkan emosimu menguasai kepala."

"..."

"Kau juga masih mengingat anak itu."

Johan menutup matanya sejenak. "Mustahil saya melupakan seseorang yang pernah tumbuh bersama saya."

Danu membuka matanya perlahan. "Itulah kelemahanmu."

Johan tersenyum hambar. "Kalau boleh jujur..." Ia menarik napas panjang.

"...justru itu alasan saya masih bertahan menjadi manusia."

Mobil kembali hening. Dani melirik Johan melalui kaca spion. Sudah hampir empat tahun ia mengenal pemuda itu. Empat tahun pula ia belum pernah melihat Johan menangis. Namun, hari ini...

Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya.

---

Empat tahun yang lalu.

Hujan turun deras mengguyur sebuah gang sempit di kawasan pinggiran Surabaya.

Seorang remaja berusia lima belas tahun berlari menembus hujan sambil menggendong seorang perempuan paruh baya di punggungnya.

"Nak..."

"Sebentar lagi sampai, Bu."

"Ibu... berat..."

"Ibu diam saja."

Remaja itu adalah Johan. Sedangkan perempuan yang digendongnya adalah ibunya, Siti Rahma.

Wanita sederhana yang sejak kecil membesarkan Johan seorang diri setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan kerja.

Beberapa bulan terakhir, penglihatan sang ibu mulai memburuk. Awalnya hanya buram. Kemudian sulit mengenali wajah.

Lalu...

Hampir tidak bisa melihat sama sekali. Hari itu Johan membawanya ke rumah sakit pemerintah dengan sisa uang tabungan hasil menjadi pelatih tinju anak-anak dan bekerja serabutan.

Di ruang pemeriksaan. Dokter menghela napas panjang.

"Anak muda..."

Johan langsung berdiri. "Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?"

Dokter membuka hasil pemeriksaan. "Ibu Anda mengalami kerusakan serius pada retina."

Johan tidak terlalu memahami istilah medis itu.

"Masih bisa sembuh?"

"Bisa."

Wajah Johan sedikit berbinar.

"Tapi..." Harapan itu runtuh seketika.

"...harus segera dioperasi."

"Berapa biayanya?"

Dokter terdiam beberapa saat. "Kurang lebih seratus lima puluh juta."

Ruangan mendadak sunyi. Johan hanya bisa menatap meja dokter. Angka itu... Terlalu besar. Jangankan seratus lima puluh juta. Melihat uang lima juta saja sudah menjadi perjuangan besar baginya.

"Kalau tidak dioperasi?" Dokter menghela napas.

"Kemungkinan besar... ibu Anda akan kehilangan penglihatannya secara permanen."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Johan bahkan setelah ia keluar dari rumah sakit.

Hari itu hujan masih turun. Namun Johan tidak lagi peduli. Ia duduk sendirian di halte. Tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya melukai telapak tangan sendiri.

"Aku harus cari uang."

"Harga berapa pun."

---

Sejak hari itu Johan bekerja tanpa mengenal waktu. Pagi membantu bongkar muat di pasar. Siang melatih tinju. Malam menjadi kurir. Kadang menjadi buruh angkut di pelabuhan. Tidur hanya tiga atau empat jam sehari.

Namun setelah tiga bulan...

Tabungannya bahkan belum mencapai sepuluh juta rupiah.

Suatu malam. Saat Johan sedang berjalan pulang melewati kawasan pergudangan tua.

"Hei." Seseorang memanggilnya.

Dua pria berdiri di bawah cahaya lampu jalan. Dani dan Danu.

"Aku dengar kau sedang butuh uang."

Johan langsung memasang kuda-kuda. "Aku tidak kenal kalian."

Danu tersenyum. "Tapi kami mengenalmu."

"Kau Johan."

"Juara sparring sasana Garuda."

"Tangan kananmu cepat."

"Kaki kirimu lebih cepat."

"Tapi pukulan hook-mu masih buruk."

Johan terkejut. Orang itu mengetahui gaya bertarungnya.

"Siapa kalian?"

"Orang yang bisa menyelamatkan ibumu."

Kalimat itu membuat Johan membeku. "Apa maksudmu?"

Dani melempar sebuah map cokelat. Di dalamnya terdapat hasil pemeriksaan rumah sakit, lengkap termasuk biaya operasi. Johan menggertakkan giginya.

"Kalian mengikutiku?"

"Kami hanya melakukan pekerjaan."

Danu melangkah mendekat. "Kami bisa membayar operasi ibumu."

Johan menatap tajam. "Apa imbalannya?"

Danu tersenyum. "Jadilah tangan kami."

"Tangan?" tanya Johan

"Kau tidak perlu menjadi pembunuh."

"Kau hanya perlu membangun kelompok."

"Kelompok?"

"Sekumpulan anak muda yang mau bekerja."

Johan mulai mengerti. "Kalian ingin membentuk geng."

"Bukan geng." Danu menggeleng.

"Organisasi."

"Yang menjaga wilayah."

"Menagih utang."

"Mengamankan distribusi."

"Dan memastikan bisnis kami berjalan."

Johan langsung menolak. "Aku tidak tertarik."

"Baik." Danu berbalik.

"Tapi ingat."

Ia berhenti melangkah.

"Setiap hari kau menolak..."

"...penglihatan ibumu semakin dekat menuju gelap."

Kalimat itu menghantam Johan jauh lebih keras daripada pukulan apa pun.

---

Selama seminggu. Johan terus berusaha mencari jalan lain ia mengajukan pinjaman. Ditolak.

Meminta bantuan yayasan, masuk daftar tunggu. Menjual motor peninggalan ayahnya, masih belum cukup.

Hingga suatu malam ia pulang ke rumah.

"Ibu..."

Rumah itu gelap. Siti Rahma duduk sendirian.

"Nak..."

"Iya, Bu."

"Ibu tadi..."

Wanita itu tersenyum kecil.

"...tidak sengaja menyiram tanaman pakai minyak goreng."

Johan terdiam.

"Ibu sudah tidak bisa membedakan botolnya."

Air mata Johan hampir jatuh namun ia menahannya.

Malam itu juga ia menelepon nomor yang diberikan Danu.

"Aku terima."

---

Seminggu kemudian. Operasi mata Siti Rahma dilakukan semua biaya ditanggung tanpa kurang satu rupiah pun, saat ibunya sadar dari ruang operasi.

Dokter tersenyum. "Operasinya berhasil."

Johan menangis untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal namun tidak ada makan siang gratis.

Dua hari setelah operasi Danu datang.

"Waktunya menepati janji."

---

Markas tua di kawasan pergudangan menjadi tempat Johan memulai semuanya.

Di sana ia menerima tugas pertama.

"Merekrut anak-anak jalanan."

"Mantan atlet."

"Remaja putus sekolah."

"Siapa pun yang mau bekerja."

Bukan untuk tawuran, bukan pula untuk mencari nama. Melainkan menjadi roda kecil dari mesin besar bernama Four Men Crew.

Dalam waktu enam bulan terkumpul belasan orang. Sebagian datang karena uang, sebagian karena tidak punya rumah, sebagian lagi karena tidak punya tujuan hidup.

Mereka semua dipimpin oleh Johan namun Johan menetapkan satu aturan.

"Tidak boleh mengganggu warga yang tidak bersalah."

"Kalau ada yang merampok rakyat kecil..."

"...keluar."

Awalnya banyak yang menertawakan aturan itu namun siapa pun yang melanggar akan dipukul sendiri oleh Johan.

Lama-kelamaan kelompok itu memiliki identitas. Seekor singa melambangkan keberanian, berwarna emas melambangkan harga diri.

Salah seorang anggota kemudian berkata,

"Kalau begitu..."

"...kita pakai nama God Lion."

"Kenapa God?"

"Karena kita bukan singa liar."

"Kita punya aturan."

Johan sebenarnya tidak terlalu menyukai nama itu. Namun seluruh anggota sudah terlanjur meneriakkannya.

"God Lion!"

"God Lion!"

"God Lion!"

Akhirnya nama itu melekat. Di balik nama yang terdengar gagah...

Tidak banyak yang tahu bahwa kelompok tersebut lahir dari seorang anak yang hanya ingin ibunya bisa melihat kembali wajahnya.

---

Di masa sekarang.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan tua berlantai tiga yang tampak seperti gudang kosong.

Namun di balik pintu besi tebal itu puluhan pemuda sedang berlatih tinju. Beberapa menghitung uang.

Sebagian lain sibuk memeriksa tumpukan kardus tanpa label.

Markas God Lion.

Begitu Johan turun dari mobil seluruh anggota berdiri.

"Selamat datang, Bang Johan!"

Johan hanya mengangguk singkat. "Latihan lanjut."

"Siap!"

Semua kembali beraktivitas. Danu memperhatikan dari belakang.

"Anak-anakmu cukup disiplin."

"Mereka bukan anak buah." saut Johan

"Lalu?"

"Mereka keluarga."

Danu tersenyum kecil. "Itulah alasan mereka rela mati untukmu."

Johan tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada sebuah foto berbingkai sederhana yang tergantung di dinding ruang kerjanya.

Foto dirinya bersama sang ibu. Foto yang diambil beberapa minggu setelah operasi berhasil.

Dalam foto itu, ibunya tersenyum lebar sambil berkata,

"Nak... akhirnya ibu bisa melihat wajahmu lagi."

Johan memejamkan mata. Semua orang mengenalnya sebagai pemimpin God Lion yang dingin, kejam, dan sulit ditebak.

Tak seorang pun tahu...

Bahwa setiap keputusan yang ia ambil sejak hari bergabung dengan Four Men Crew bukanlah karena ambisi menjadi penguasa jalanan.

Melainkan karena ia pernah menjadi seorang anak yang putus asa, yang memilih mengorbankan kebebasannya sendiri demi satu hal sederhana—

Agar ibunya tetap bisa melihat cahaya dunia.

1
Ilham Rachmatullah
ahaha pika pikaa🤣
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!