Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAGEDI BENSIN HABIS
Udara pagi masih dingin. Kabut tipis belum sepenuhnya menghilang dari lereng bukit. Yukari terbangun bukan karena alarm atau silau matahari yang menembus gorden kamarnya. Hidungnya menangkap sesuatu yang lain—sebuah aroma gurih
Ia bergegas keluar kamar setelah mengikat rambut cokelatnya. Dia agak melongo melihat pemandangan di depannya. Di depan kompor, berdiri seorang pria berbadan tegap yang sedang sibuk memegang sodet kayu. Itu Takagi. Lucunya, pria sekaku dia sedang memakai celemek kain bermotif bunga-bunga kecil warna merah muda milik Yukari. Tali celemeknya tampak kekecilan saat melilit pinggang tegapnya.
"Kau sangat cocok dengan apron itu takagi-san! "
Takagi menoleh sedikit, tangan kirinya menahan wajan agar tidak bergeser saat dia mengaduk nasi. "Selamat pagi,"
"Selamat pagi, Takagi-san..." sapa Yukari, suaranya masih agak serak khas orang baru bangun tidur.
"Apa aku membangunkan mu? "
"Eh, Bukan kamu " Yukari berjalan mendekat, melongok ke dalam wajan dengan mata berbinar. "Tapi aroma lezat ini..apa sudah bisa kita makan?"
"Sudah," kata Takagi pendek, suaranya pelan tapi sopan.
Yukari langsung mengambil dua piring dari rak pengering. Begitu kompor dimatikan, Takagi langsung membagi nasi goreng berwarna kuning keemasan yang masih mengepul itu ke atas piring. Benar-benar rapi, tidak ada sebutir nasi pun yang tercecer ke pinggiran wajan.
Mereka membawa piring masing-masing ke meja makan kayu di sudut dapur. Setelah duduk berhadapan, Yukari merapatkan kedua tangannya. "Itadakimasu."
Suapan pertama masuk ke mulut Yukari. Dia sempat terdiam sedetik sebelum matanya melebar. Rasa gurih dari menteganya pas, asinnya tidak berlebihan, dan telurnya tercampur rata di setiap butir nasi.
"Enak banget!" Yukari menatap piringnya dengan takjub, lalu bergantian menatap pria di depannya. "apa namanya, Takagi-san?"
Takagi mengunyah makanannya dengan tenang, menelannya dulu baru menjawab, "Cuma nasi goreng mentega pakai telur. Bahan di dapurmu habis, cuma ada itu saja, Honami-san."
"Ini harus jadi menu sarapan ku setiap pagi, Lain waktu ajari aku cara masaknya ya " kata Yukari jujur dengan kepolosannya yang biasa.
Takagi agak tertegun dengar pujian yang begitu blak-blakan. Dia tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Tapi, sudut bibirnya tampak terangkat sedikit—tipis sekali, hampir tidak kentara. Dia kelihatan lega masakan daruratnya disukai.
tidak lama sarapan dan ber bersih Selesai, yukari memeriksa stok persediaan makanan dikulkas
"Ah, iya, kita benar-benar harus belanja bahan makanan," gumam Yukari. Dia menoleh ke arah Takagi yang sedang menurunkan gulungan lengan kemejanya. "Takagi-san, Bagaimana kalau kita ke pasar? kau bisa bawa motor?"
Takagi mengangguk pendek. "Bisa."
"Syukurlah. Di garasi ada sepeda motor milik mendiang ayahku, Ayo kita cek dulu, mudah-mudahan masih mau menyala."
Takagi menganggukkan kepala setuju, berjalan mengikuti langkah yukari didepan nya.
sebuah garasi kayu kecil yang pintunya sudah ditumbuhi tanaman rambat. Takagi menarik pintu garasi ke atas,
Di dalam ruangan yang agak remang itu, sebuah motor keluaran tahun dua ribuan berdiri di atas standar tengahnya.
Takagi mengecek ketegangan rantai yang agak kering, menekan ban, lalu melongok ke sela-sela mesin bawah.
"Bagaimana, Takagi-san? Masih bagus tidak?" tanya Yukari agak cemas.
Takagi berdiri, menepuk-nepuk tangan untuk mengibaskan debu tanah. "Masih bagus. aku akan memberi oli rantai, memompa ban."
Dia mengambil kunci dari tangan Yukari, memasukkannya ke lubang kontak, lalu menghentakkan kaki kanannya ke pedal penstarter. Setelah dua kali coba, mesin motor itu langsung menyala. Suara knalpotnya terdengar ngebas, berat, dan stabil. Asap putih tipis keluar sedikit, menandakan motor tua itu sebenarnya siap dipakai jalan kapan saja.
"Bersiaplah honami-san, aku akan memanaskan motornya"
yukari memberi anggukan kecil "Baiklah " segera berlari kecil masuk ke dalam rumah
Yukari selesai berdandan dan mengunci pintu rumah, Takagi menuntun motor tua itu keluar ke halaman. Dia naik duluan ke jok pengemudi, sementara Yukari menyusul di belakang sambil menenteng tas belanja dari kain.
Saat Yukari baru mau duduk di ujung paling belakang jok, Takagi menoleh sedikit.
"Mendekat saja," kata Takagi tenang. "Jok motor ini pendek. Kalau kau duduk terlalu di belakang, motornya jadi berat ke belakang."
"Maksudnya aku gendut, Takagi-san?!" Yukari mengendus pelan, pura-pura kesal sambil memicingkan matanya.
Takagi langsung menoleh penuh ke belakang, alisnya bertaut rapat dengan ekspresi agak panik yang jarang dia perlihatkan.
"Aku tidak bilang begitu," bantah Takagi cepat, nadanya sedikit lebih tinggi dari biasanya karena salah tingkah. Dia buru-buru membuang muka kembali ke depan. "Sudah, cepat maju saja."
Yukari mengerjap polos, lalu menahan tawa kecil melihat reaksi pria itu. Dia pun menggeser posisi duduknya maju beberapa senti.
Karena ukuran jok yang memang sempit, mau tidak mau tubuh mereka jadi agak menempel. Yukari bisa merasakan punggung tegap Takagi yang kokoh di depannya, sementara Takagi juga bisa merasakan pergerakan Yukari yang duduk di belakangnya.
"Sudah?" tanya Takagi memastikan.
"Sudah, Takagi-san," jawab Yukari, suaranya agak pelan.
Motor melaju santai membelah jalanan aspal desa Oku-Nikko yang masih sepi pagi itu. Angin musim semi yang sejuk langsung menerpa wajah mereka, terasa menyegarkan membuat perjalanan awal ini terasa sangat nyaman dalam keheningan.
Yukari tiba-tiba menepuk pundak Takagi dengan bersemangat saat melewati sebuah jembatan kecil yang menghadap langsung ke arah lembah hijau
"Berhenti sebentar!" seru Yukari.
Takagi menarik tuas rem dan menepikan motor di ujung jembatan. "Kenapa?" tanyanya singkat.
Yukari sudah turun duluan sebelum Takagi sempat menegakkan standar motor. Matanya berbinar melihat pemandangan lembah di bawah mereka yang tersorot matahari fajar dengan pas. "Cahayanya bagus sekali."
Dia membalikkan badan menghadap Takagi sambil tersenyum lebar. "kita ambil gambar sebentar yah"
Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Yukari langsung menyodorkan ponselnya ke tangan Takagi. "Bisa tolong fotokan aku di dekat pagar itu?"
Takagi menatap ponsel di tangannya sebentar, lalu menerimanya tanpa banyak protes. Dia turun dari motor, mengambil posisi beberapa langkah, lalu mengangkat kamera ponsel itu sejajar dada.
Di layar kamera, dia melihat Yukari berdiri bersandar di pagar pembatas jembatan. Angin meniup pelan rambut cokelatnya yang halus, senyum gadis itu merekah dengan sangat hangat dan tulus.
Entah mengapa, pandangan Takagi tertuju sepenuhnya pada sosok gadis itu. Bukan pada pemandangan lembah hijau yang menjadi latar belakangnya. Pikiran Takagi mendadak agak kosong, membuat jemarinya sempat tertahan sedetik di atas tombol kamera ponsel. Ada letupan rasa hangat yang sudah lama tidak pernah dia rasakan kembali menyelinap di dadanya.
Klik. Klik.
Takagi menekan tombol foto dua kali, lalu segera menyerahkan kembali ponsel itu kepada Yukari tanpa berkata apa-apa lagi.
"Terimakasih takagi-san, gambar yang kau ambil bagus"
"Sebaiknya kita berangkat sebelum terlalu siang honami-san"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju pasar. Tapi, baru berjalan sekitar sepuluh menit melewati jalur menanjak yang sepi, mesin motor tiba-tiba batuk-batuk. Suara derunya melemah, tersendat-sendat, sampai akhirnya mati total.
Motor itu kehilangan tenaga dan berhenti tepat di tepi jalan yang dikelilingi pohon-pohon rimbun.
Takagi mengernyitkan dahi. Dia membuka tutup tangki bensin, mengintip ke dalam, lalu menggoyang-goyangkan bodi motor. Kosong. Bensin tua yang tersisa di dalam tangki ternyata sudah habis tak bersisa.
Takagi menghela napas pendek, lalu menoleh ke arah Yukari yang menatapnya bingung. "Bensinnya habis."
"Eh? Habis?" Yukari langsung menutup mulutnya, mukanya berubah panik dan merasa bersalah. "Aku lupa mengecek bensinnya sebelum kita berangkat tadi." kata Takagi tenang,
Dia melihat ke arah jalan setapak yang sepi di depan mereka. "Berapa jauh lagi jarak ke pasar atau pom bensin terdekat?"
Yukari mencoba mengingat-ingat jalan. "sekitar 25 menit perjalanan dari sini."
Takagi diam sebentar, menimbang situasi. Jalur di depan agak menanjak dan matahari mulai terasa menyengat kulit. Dia kembali memegang kedua setang motor dengan mantap.
"Bedalah, naik ke motor," ucap Takagi datar tapi tegas.
Yukari terkejut. "Ah, tidak, Takagi-san. Sebaiknya aku berjalan saja di sampingmu ikut mendorong. Motor ini pasti berat sekali."
"Jangan. Duduk saja," potong Takagi. Nada suaranya tidak keras, tapi entah kenapa ucapan itu seperti perintah yang membuat Yukari tidak berani membantah.
Yukari akhirnya menurut dengan ragu. Dia kembali naik ke atas jok belakang, sementara Takagi mulai mengambil posisi di sisi kanan motor, mencondongkan tubuhnya ke depan, dan mulai mendorong motor yang berbobot lumayan berat itu secara manual.
"Takagi-san... Biarkan aku turun saja, ya?" tanya Yukari lagi, merasa tidak enak hati melihat pria itu harus bersusah payah.
Takagi tidak menjawab ia tetap bergerak konstan menapaki jalanan yang menanjak.
Yukari tidak berani mendesak lagi. Dia hanya bisa menatap punggung tegap Takagi yang dilapisi kemeja flanel. Perlahan-lahan, kain flanel di bagian punggung pria itu mulai berubah warna menjadi lebih gelap, basah oleh curahan keringat.
Yukari mencengkeram erat tas kain di pangkuannya. Ada perasaan campur aduk di dalam dadanya—antara rasa bersalah yang besar, kagum, dan rasa aman yang aneh karena dilindungi dengan cara seperti ini.
Di ujung jalan, sebuah bangunan pom bensin kecil dengan dua mesin pengisian terlihat berdiri tepat di samping area pasar tradisional yang mulai ramai oleh aktivitas warga.
"Takagi-san! Pom bensinnya sudah kelihatan!" seru Yukari lega.
Takagi tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil dan memanfaatkan jalur turunan itu untuk mempermudah dorongannya hingga mereka akhirnya sampai di area pengisian bahan bakar.
Setelah petugas pom bensin mengisi tangki motor tua itu hingga penuh dan Yukari menyelesaikan pembayarannya, motor tersebut akhirnya siap untuk dijalankan kembali. Yukari berbalik dengan senyum cerah, hendak mengajak Takagi melanjutkan perjalanan masuk ke dalam pasar.
Namun, senyum Yukari langsung lenyap saat melihat kondisi pria di depannya.
Takagi sedang berdiri menyandarkan tubuhnya pada tiang beton pom bensin. wajah pria itu tampak sangat pucat, dengan bulir-bulir keringat dingin yang menetes dari pelipisnya. Napasnya terdengar pendek-pendek dan berat.
Tampaknya, luka akibat hantaman batu di sungai beberapa hari lalu yang belum pulih total, dipadukan dengan kelelahan ekstrem akibat mendorong motor bermuatan, membuat kondisi fisiknya mendadak drop.
"Takagi-san!" Yukari melangkah maju dengan panik, tangannya terulur ragu namun dipenuhi rasa cemas yang mendalam. "Kau... wajahmu pucat sekali. Apa lukamu kambuh lagi?"