Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Surat perceraian
“Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini denganmu lagi, Adinata.” Map merah dilemparkan dengan keras ke meja milik Adinata.
Adinata yang duduk dengan bangga di kursi kerjanya mengeluarkan tawa kecil. “Akan aku beri tanda tangan, jika kamu sudah bersiap untuk angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa harta sepeserpun, Nadine.”
“Dari lama aku sudah bersiap, Adinata.”
“Ulangi.”
Nadine tertawa sambil mencoba tetap berani membalas tatapan tajam dari mata Adinata. “Aku siap angkat kaki dari rumah kita tanpa membawa apapun dari dalam sana. Sudah dari lama aku menahan semua perasaan sedihku di depanmu, Adinata.”
Adinata berdecih. “Apa kurang semua fasilitas yang aku beri ke kamu, Nadine?”
“Tidak. Kamu memberi banyak sekali fasilitas yang aku tidak yakin untuk menikmatinya sendiri.” Nadine memberi tawa kecil di akhir kalimatnya.
“Apa yang kamu inginkan, Nadine?”
“Beri tanda tanganmu disini di kertas ini, Adinata.”
Adinata tertawa kecil. “Kita bicarakan nanti ketika aku sudah pulang ke rumah kita.”
“Tidak. Aku ingin sekarang.” Nadine masih berdiri walau hatinya berdegup kencang karena takut jika emosi Adinata meluap.
“Jangan keras kepala.” Adinata berdiri dari duduknya. “Pulanglah dulu. Kita selesaikan di dalam rumah dengan kepala yang sama-sama dingin, Nadine.”
“Aku hanya ingin kamu bubuhkan tanda tanganmu saja, Adinata. Aku tidak menginginkan hal lain.”
“Apa yang salah dari aku, Nadine?”
“Tidak ada yang salah denganmu karena kesalahan itu ada di aku.” Suaranya serak karena emosi yang tertahan di hatinya.
“Lalu, kenapa harus berpisah? Kenapa tidak kita perbaiki bersama-sama, sayang?” Adinata melangkahkan kakinya untuk menyusul Nadine.
Nadine memundurkan langkahnya. “Tidak bisa. Tidak ada yang perlu diperbaiki. Biarkan saja semuanya.”
Adinata menghentikan langkah kakinya ketika melihat istrinya mundur beberapa langkah ke belakang. “Aku tidak mengerti. Jelaskan saja apa yang membuat kamu keukeuh untuk berpisah?”
Nadine menggelengkan kepalanya. “Apa kedua matamu tidak bisa melihat orang tuamu, adikmu, nenekmu dan seluruh keluarga besarmu, BAGAIMANA MEREKA MEMPERLAKUKAN AKU KETIKA AKU DIDEKAT MEREKA, ADINATA?!”
Adinata menatap istrinya yang berdiri di depannya dengan wajah yang sudah terkontaminasi dengan air mata. “Sayang…”
“Aku hanya ingin berpisah denganmu, Adinata. Tolong, jangan persulit aku lagi.” Nadine tidak bisa menahan air matanya yang mengalir semakin deras. “Perlu aku bersujud di depanmu? Akan aku lakukan jika setelahnya kamu menandatangani surat perceraian kita, Adinata. Aku mohon.”
Adinata menggelengkan kepalanya berulang kali. Melihat emosi Nadine yang kacau saat ini, Adinata rasa ia tidak dapat berbuat banyak. “Tenangkan dirimu dulu. Kita akan berbicara lagi tentang surat ini ketika aku sudah selesai bekerja.”
Nadine menggelengkan kepalanya sebagai penolakan. “Sekarang. Tidak ada kata nanti atau besok.”
“Tidak bisa.” Adinata menatap Nadine dengan tatapan tajam, tapi setelahnya ia melunak. “Ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda atau pun dibatalkan hari ini. Aku harap kamu mengerti kesibukanku sebentar saja. Aku akan bicara lagi tentang surat ini nanti malam.”
Nadine tertawa kecil dengan air mata yang masih mengalir dari matanya. “Berhenti membual! Aku hanya ingin kamu memberi tanda tangan. Aku tidak ingin lagi membicarakan sumber dari sakit hatiku, Adinata.”
“Selain menandatangani surat itu, apa yang bisa aku lakukan untukmu, Nadine?” Suara Adinata merendah, seolah ego-nya ikut ia rendahkan di depan istrinya, miliknya, dunianya—Nadine.
“Tidak ada. Aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin kita berpisah.”
“Aku menolak.”
“Aku tidak membutuhkan keputusanmu. Aku tidak peduli dengan penolakanmu, Adinata.”
“Turunkan sedikit egomu, Nadine.”
“Begitu juga denganmu.” Nadine memajukan satu langkahnya. “Aku rasa sudah cukup untuk aku mendapatkan cacian kotor dari mulut keluargamu, Adinata.”
“Kita bisa memperbaikinya.” Adinata masih tetap dengan penolakannya.
Nadine terkekeh. “Bagaimana caramu? Diam dan membiarkan mereka berteriak dengan kencang untuk menyalahkanku?”
Adinata diam, tapi matanya memandang tepat di mata Nadine.
“Aku tidak mau memundurkan rencanaku, Adinata.” Telunjuk Nadine terarah ke wajah Adinata. “Kamu hanya perlu tanda tangan dan selesai. Tidak perlu untuk bertele-tele.”
“Aku memintamu menunggu dan sedikit bersabar.”
“Setelahnya, kamu akan memberi ‘iya’ pada permintaanku?”
“Tidak.” Adinata membalikkan tubuhnya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang ia pakai. “Istirahat dan tenangkan pikiranmu. Aku harap ketika kita berbicara nanti, kepalamu sudah dingin dan bisa untuk bekerja sama.”
“Aku tetap ingin berpisah denganmu.”
Rahang Adinata mengeras mendengar jawaban keras kepala dari istrinya. “Kita sambung pembicaraan ini di rumah, Nadine.”
“Aku tidak mau.”
Adinata membalikkan tubuhnya. Ia maju beberapa langkah dan berhadapan dengan Nadine. Disela mereka saling bertatapan ada jarak 2 langkah kaki Nadine atau 1 langkah kaki Adinata.
“Kamu ini kenapa?”
“Aku ingin berpisah denganmu. Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengan dirimu dan apapun lagi yang berkaitan dengan dirimu, Adinata. Tidakkah kamu mengerti maksudku.”
“Aku mengerti.” Nada suara Adinata melunak. “Tapi bukankah perceraian kita bukan menjadi jalan keluarnya, Nadine? Kita sudah saling mengenal satu sama lain, tidakkah kamu ingin mempertahankan pernikahan kita?.”
“Aku tidak ingin mempertahankan. Aku sudah tidak ingin mengenal dirimu lagi, Adinata!” Tangan Nadine mengepal di samping tubuhnya. “Harus seberapa lama lagi aku untuk bersabar dan menyalahkan diriku sendiri, Adinata?”
“Baik. Tunggu aku di rumah kita. Aku akan mengabulkan keinginanmu, Nadine.”
“Aku tunggu dan ‘ku harap kamu tidak berbohong.”