⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 8
Acara ulang tahun sekolah berlangsung meriah sepanjang siang. Stand makanan, permainan, dan pertunjukan klub-klub lain mengisi panggung utama secara bergantian.
Tapi semua orang tahu bahwa puncak acaranya adalah pertunjukan dari klub musik.
Dan tahun ini, ada sesuatu yang berbeda.
Di balik panggung, Lucy berdiri di depan cermin kecil yang disediakan oleh panitia. Tapi cermin ini bukan cermin apartemennya yang retak. Ini cermin biasa, dan yang terpantul di dalamnya bukan lagi Lucy si kutu buku yang kusam.
Tangannya yang terampil karena telah terlatih selama ribuan tahun, mengaplikasikan sentuhan akhir pada riasannya. Bedak tipis yang membuat kulitnya bercahaya, lip balm pink yang memberi kesan segar, dan yang paling penting adalah tidak ada lagi kacamata tebal yang menghalangi wajahnya.
Softlens hitam masih menutupi mata birunya, tetapi tanpa kacamata tebal itu, bentuk wajahnya yang sebenarnya mulai terlihat jelas. Tulang pipi yang halus, rahang yang lembut, serta mata yang besar dan ekspresif.
"Kau terlihat seperti dirimu sendiri," komentar Lili yang duduk di atas meja rias sambil menggerak-gerakkan ekornya.
"Hampir," Lucy tersenyum tipis. "Tapi belum sepenuhnya."
Dia meraih gaun yang tergantung di sudut ruangan. Bukan gaun biru muda yang dia pakai tadi karena pakaian itu sudah diganti. Ini adalah gaun biru panjang yang berkilau dengan manik-manik kristal buatan tangan. Gaun ini bukan dari toko manusia, melainkan diambil langsung dari lemarinya di kastil.
Gaun itu meluncur ke tubuhnya dengan sangat pas seperti air mengalir. Potongannya sederhana, memiliki leher bulat, lengan pendek, serta rok yang jatuh anggun hingga mata kaki. Tapi cara manik-manik kristal itu menangkap cahaya sangat luar biasa, di mana setiap gerakan kecil menciptakan kilauan indah seperti bintang di malam hari.
Dia melangkah menuju cermin, lalu mengambil pita biru dan mengikatkannya di rambut sebahu.
Sebagai sentuhan akhir, dia menyelipkan jepitan kecil berbentuk ekor rubah yang terbuat dari perak dengan mata safir biru di samping kepalanya.
"Jepitan ekor rubah," gumam Lili. "Pilihan yang samar namun cerdas."
"Aku tetap harus memberi penghormatan pada diriku yang sebenarnya."
Dari luar, suara pembawa acara mulai terdengar bergaung. Pertunjukan grup baru saja selesai, di mana Nao, Rina, dan Mika tampil dengan meriah menyanyikan lagu ceria yang membuat penonton bertepuk tangan heboh. Sekarang, giliran penampilan solo dimulai.
"Penampilan solo pertama: Lucy, dari klub musik sesi B!"
Lucy mengambil gitarnya, sebuah gitar kayu mahoni yang dipernis halus, lalu melangkah mantap ke arah panggung.
"Saatnya," bisiknya pelan.
Panggung utama SMA Seiran dihiasi lampu-lampu kuning yang hangat. Di atasnya, sebuah kursi kayu sederhana dan satu mikrofon telah berdiri tegak. Latar belakangnya berupa layar hitam polos tanpa hiasan berlebihan, karena pertunjukan solo memang dimaksudkan untuk menonjolkan kemampuan sang penampil.
Tirai pun terbuka. Dan pada momen itu, dunia seakan berhenti berputar.
Sesosok gadis melangkah keluar dengan anggun. Gaun biru panjangnya berkilau indah diterpa lampu panggung, membuat setiap langkahnya menciptakan percikan cahaya dari manik-manik kristal. Rambut hitam sebahunya dihiasi pita biru dan jepitan ekor rubah. Wajahnya tampil tanpa kacamata, memperlihatkan kulit putih bersih yang nyaris bercahaya. Dia berjalan dengan keanggunan alami yang tidak bisa dipelajari di kelas mana pun.
Seluruh aula seketika terdiam.
Di barisan depan, Ren Arisugawa duduk dengan tangan terlipat. Awalnya, dia hanya datang karena tugasnya sebagai ketua OSIS yang wajib hadir di semua acara sekolah. Tapi begitu gadis itu melangkah keluar panggung, tangannya perlahan-lahan terlepas dari lipatan dadanya.
Itu... Lucy?
Gadis yang sama yang dia gendong beberapa hari lalu? Gadis yang memberinya kotak bekal berisi mochi? Gadis yang selalu menunduk malu setiap kali mereka tidak sengaja bertemu?
Ren berkedip sekali, lalu dua kali. Tapi pemandangan memukau di depannya tidak berubah sama sekali. Ternyata selama ini dia menyembunyikan kecantikan seperti itu.
Di sisi lain barisan depan, dipisahkan oleh beberapa kursi penonton, Kaito Fujiwara duduk menyandar dengan kaki disilangkan. Dia baru saja selesai bertanding dan masih mengenakan jaket tim basket di balik kemeja kasualnya. Dia bersedia datang ke aula hanya karena teman-temannya memaksa untuk menonton klub musik, dengan harapan bisa melihat siswi yang cantik.
Tapi penampilan kali ini bukan sekadar cantik. Ini adalah sesuatu yang berbeda dan memikat.
Kaito langsung menegakkan tubuhnya. Gadis di panggung itu sebenarnya dia kenal. Dia adalah gadis yang sama yang duduk sendirian di tribune saat latihan basket, gadis yang sama yang bersikap tidak peduli padanya, dan gadis yang baru saja dia lihat mengenakan gaun biru muda di ruang basket tadi.
Tapi sekarang, dia terlihat seperti seseorang yang sama sekali berbeda serta mustahil untuk diabaikan.
Lucy duduk tenang di kursi dengan gitar di pangkuannya. Dia mendekatkan mulutnya ke mikrofon, dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum. Itu bukan senyum pemalu atau senyum gugup, melainkan senyum tenang dan damai, seolah-olah dialah pemilik panggung dan malam ini.
"Selamat malam," suaranya terdengar lembut, mengalun indah seperti aliran air. "Aku akan membawakan sebuah lagu yang berjudul... 'Kesenanganku adalah Milikku Sendiri'."
Jemarinya mulai memetik senar gitar, dan musik pun mengalir indah.
> ♪ Di tepian senja yang sunyi... ♪
> ♪ Tempat ombak berbisik pada pasir... ♪
> ♪ Aku berdiri, sendiri, tanpa takut... ♪
> ♪ Karena langit ini milikku sepenuhnya... ♪
Suaranya bukan sekadar merdu. Ada sesuatu yang magis di dalamnya, sebuah getaran yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata biasa. Setiap nada yang keluar dari bibirnya membawa perasaan mendalam yang sulit digenggam, seperti rasa sedih, senang, rindu, dan damai yang bercampur menjadi satu, menciptakan gelombang emosi yang menyapu seluruh aula.
> ♪ Mereka bilang, jadilah seperti ini... ♪
> ♪ Mereka bilang, ikuti jalan itu... ♪
> ♪ Tapi siapa yang bisa menentukan... ♪
> ♪ Kebahagiaanku selain diriku sendiri? ♪
Ren tidak berkedip sama sekali. Matanya terpaku sepenuhnya pada sosok di panggung. Setiap kata yang Lucy nyanyikan terasa seperti sedang berbicara langsung padanya.
Jadilah seperti ini. Ikuti jalan itu.
Berapa kali dia harus mendengar kata-kata penuh tuntutan itu dari ayahnya? Berapa kali dia terpaksa mengikuti kemauan itu tanpa pernah bertanya pada diri sendiri apakah itu yang dia inginkan?
Kebahagiaanku adalah milikku sendiri.
Jari-jari Ren mencengkeram lututnya dengan erat. Sesuatu di dalam dadanya bergetar hebat, membangkitkan emosi yang sudah lama dia kubur dalam-dalam, seperti mimpi-mimpinya, musik, dan gitar kesayangannya yang dihancurkan oleh sang ayah. Semua hal yang dia sukai namun tidak pernah diizinkan untuk dia kejar kini mendadak bangkit kembali.
Dan di atas panggung, gadis yang dia kira hanya seorang kutu buku pemalu sedang menyanyikan sebuah lagu tentang kebebasan.
> ♪ Jangan takut pada bayanganmu sendiri...♪
> ♪ Jangan lari dari cermin di hadapanmu... ♪
> ♪ Kau adalah satu-satunya dirimu... ♪
> ♪ Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup... ♪
Kaito menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa kering.
Kau adalah satu-satunya dirimu.
Sejak kecil, dia selalu merasa tidak pernah cukup. Tidak cukup pintar, tidak cukup penurut, dan tidak cukup sempurna untuk membuat ibunya bahagia. Pengalaman pahit itu membuatnya membangun dinding tinggi di sekeliling hati, menolak semua perempuan yang mendekat karena dia tidak percaya ada orang yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Tapi gadis di panggung itu bernyanyi seolah dia memahami segalanya. Dia bernyanyi seperti seseorang yang tahu rasanya dikurung dalam ekspektasi orang lain, namun berhasil menemukan jalannya sendiri dan kini menawarkan ketenangan pada siapa pun yang mau mendengarkan.
Dan Kaito mendengarkan lagu itu dengan sepenuh hati.
> ♪ Kesenanganku adalah milikku sendiri... ♪
> ♪ Tak perlu kau mengerti atau menyetujui... ♪
> ♪ Karena di ujung malam yang paling gelap... ♪
> ♪ Akulah cahaya untuk diriku sendiri... ♪
Lucy memetik senar terakhirnya. Nadanya menggantung indah di udara, melayang pelan sebelum akhirnya menghilang ke dalam keheningan malam.
Lalu, riuh tepuk tangan seketika pecah.
Itu bukan sekadar tepuk tangan biasa, melainkan gemuruh apresiasi yang meledak memenuhi seluruh aula. Beberapa penonton bahkan berdiri memberikan standing ovation, sementara beberapa lainnya tampak menyeka air mata mereka. Nao, Rina, dan Mika di sisi panggung berpelukan sambil menangis haru karena tidak percaya teman mereka yang pemalu bisa bernyanyi seindah itu.
Lucy berdiri dari kursinya. Dia membungkuk sopan ke arah penonton sebanyak dua kali, lalu berjalan keluar panggung dengan langkah kaki yang sama anggunnya seperti saat dia masuk.
Tapi sebelum dia benar-benar menghilang di balik tirai, matanya sempat melirik sekilas ke arah barisan depan, tepat ke arah Ren dan Kaito.
Dia melempar sebuah senyum kecil yang hanya berlangsung sepersekian detik, namun durasi singkat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dua pasang mata di barisan depan tidak bisa berpaling darinya.
Satu jam kemudian, aula sekolah sudah mulai sepi. Pengunjung berangsur pulang, stand-stand mulai dibongkar, dan lampu panggung dimatikan satu per satu.
Lucy berdiri di dekat gerbang sekolah bersama Nao, Rina, dan Mika. Dia sudah berganti kembali menggunakan gaun biru mudanya yang lebih sederhana, tetapi pita biru dan jepitan ekor rubah masih bertengger manis di rambutnya. Kacamatanya sengaja belum dipasang kembali untuk menikmati sisa malam ini.
"Kamu tadi LUAR BIASA!" Rina masih belum berhenti memuji penampilannya. "Aku nggak nyangka kamu bisa menyanyi sebagus itu!"
"Suara kamu tuh beneran kayak bidadari!" tambah Mika ikut kagum.
"Kenapa kamu nggak pernah tunjukkin bakat ini sebelumnya sih?" Nao mencubit pipi Lucy pelan dengan gemas. "Kita tadi sampai menangis di pinggir panggung, tahu!"
Lucy tertawa kecil mendengar kehebohan mereka. "Aku sebenarnya merasa gugup kalau harus tampil di depan banyak orang."
"Gugup dari mana?! Kamu di panggung tadi kelihatan kayak putri kerajaan yang anggun banget!"
Saat sedang asyik mengobrol, ketiga temannya tiba-tiba membeku di tempat. Mata mereka menatap lurus ke arah sesuatu yang berada di belakang tubuh Lucy.
"Eh... itu..." Mika menelan ludah dengan gugup.
Lucy pun membalikkan badannya.
Ren Arisugawa berdiri tegak di sana. Seragam OSIS-nya masih tampak rapi, tetapi ada perubahan mencolok dari sikapnya malam ini. Tangannya tidak lagi dimasukkan ke dalam saku, melainkan tergantung di samping tubuh dengan sedikit mengepal. Matanya yang biasanya menatap datar dan dingin kini memandang Lucy dengan intensitas yang tidak biasa.
"Ketua OSIS?!" Nao hampir melompat mundur karena terkejut.
"Ada keperluan apa, Ketua?" Rina ikut menyahut dengan nada gugup.
Ren tidak memedulikan pertanyaan mereka karena matanya tetap tertuju sepenuhnya pada Lucy. "Bisa kita bicara sebentar?"
Ketiga teman Lucy saling pandang dengan ekspresi panik yang kentara. Lalu, tanpa sepatah kata pun, mereka kompak melambaikan tangan untuk pamit.
"Kita duluan ya, Lucy!"
"Besok kita lanjut cerita-cerita lagi!"
"Hati-hati di jalan waktu pulang!"
Dan dalam hitungan detik, mereka sudah berlari menjauh, meninggalkan Lucy sendirian bersama ketua OSIS yang paling disegani di sekolah tersebut.
Lucy menatap Ren dengan ekspresi bingung yang sengaja dibuat-buat, di mana kepalanya sedikit dimiringkan dan alisnya terangkat. Tanpa kacamata, ekspresi wajah itu terlihat jauh lebih menggemaskan. "Ada apa, Ketua OSIS?"
"Ren."
"Eh?"
"Ren," katanya menegaskan sekali lagi, namun kali ini dengan nada suara yang sedikit lebih pelan. "Panggil saja Ren."
"Oh... Ren..." Lucy memainkan ujung pita rambutnya dengan jari, berpura-pura malu di depan pemuda itu. "Ada apa?"
Ren membuka mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, namun menutupnya kembali. Di dalam hatinya, sebuah pergolakan batin sedang terjadi. Dia meyakinkan dirinya untuk bertanya apakah gadis itu mau pulang bersamanya, karena itu adalah hal yang normal dilakukan oleh seorang teman.
Tapi masalahnya, dia tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Dia tidak pernah menawarkan tumpangan atau mengajak pulang bersama kepada siapa pun sepanjang hidupnya.
"Pertunjukanmu tadi," katanya mengalihkan pembicaraan awal. "Sangat bagus."
"Ah... terima kasih banyak..."
Keheningan melanda di antara mereka, menciptakan suasana yang terasa cukup canggung.
"Aku..." Ren mengepalkan tangannya di dalam saku celana. "Aku berniat untuk pulang sekarang. Apa kau mau pulang bersama?"
Mata Lucy membulat, memperlihatkan akting terkejut yang hampir sempurna, meskipun di dalam lubuk hatinya dia sedang tersenyum puas. "Pulang... pulang bersama?"
"Arah rumahmu satu jalur dengan rumahku."
"Iya... tapi..."
"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa," kata Ren yang sudah setengah berbalik untuk pergi.
"Tunggu!" Lucy melangkah setengah berlari, tangannya nyaris menyentuh lengan Ren sebelum akhirnya ditarik kembali dengan canggung. "Aku... aku mau pulang bersama."
Ren menatap gadis di depannya. Di bawah temaram cahaya lampu gerbang sekolah, dengan pita biru di rambutnya serta pipi yang sedikit memerah, Lucy terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Ada apa sebenarnya dengan diriku malam ini? batin Ren bingung.
"Baiklah," katanya berusaha menjaga suaranya tetap datar, meskipun jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya. "Ayo jalan."
Jalanan malam itu terasa sangat sepi. Acara ulang tahun sekolah sudah usai, membuat sebagian besar murid telah sampai di rumah masing-masing. Hanya ada suara jangkrik dan langkah kaki mereka berdua yang terdengar di atas trotoar. Suasananya mirip seperti malam-malam sebelumnya, namun entah kenapa terasa berbeda bagi mereka berdua.
Perbedaan terbesarnya adalah kali ini Lucy tidak sedang digendong oleh Ren. Mereka berjalan berdampingan dengan jarak yang cukup dekat.
"Lagu yang tadi," kata Ren memecah keheningan secara tiba-tiba. "Siapa yang menulis liriknya?"
Lucy terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat. Dia tidak bisa mengatakan bahwa dia menulisnya sendiri karena hal itu akan terlihat terlalu mencurigakan bagi siswi seusianya. Tapi dia juga tidak bisa berbohong bahwa itu adalah lagu terkenal, karena Lili sudah memastikan lirik lagu itu belum pernah ada di dunia ini.
"Aku menemukannya di sebuah buku lama waktu membaca di perpustakaan," jawab Lucy beralasan. "Liriknya terasa sangat berbicara pada diriku."
"Begitu," Ren mengangguk paham. "Liriknya memang sangat bagus."
Lagu itu juga berbicara pada jiwaku, tambahnya dalam hati yang tidak terucapkan.
Mereka kembali berjalan dalam keheningan. Tapi kali ini, keheningan yang tercipta tidak lagi terasa canggung, melainkan berubah menjadi sebuah kenyamanan.
Sementara itu, di dekat gerbang sekolah yang mulai gelap, Kaito Fujiwara berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Dia baru saja keluar dari aula dengan niat mencari udara segar, terutama setelah menyaksikan penampilan panggung Lucy yang terus mengganggu pikirannya.
Lalu, pandangannya menangkap sosok mereka berdua.
Dia melihat Ren Arisugawa dan gadis bernama Lucy itu sedang berjalan berdampingan di ujung jalan. Siluet tubuh mereka diterangi oleh cahaya lampu jalan, menciptakan bayangan panjang yang kontras di atas trotoar. Mereka memang tidak berpegangan tangan atau melakukan tindakan romantis lainnya, tetapi cara mereka berjalan bersama sudah cukup untuk membuat rahang Kaito mengeras seketika.
Ren Arisugawa. Dan gadis itu.
Kaito tidak mengerti mengapa pemandangan sederhana itu bisa sangat mengganggu perasaannya. Dia bahkan tidak mengenal gadis itu secara mendalam; dia hanya tahu namanya, tahu fakta bahwa mereka sekelas, serta tahu bahwa gadis itu bisa bernyanyi seindah malaikat malam ini. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya, menciptakan rasa tidak nyaman yang asing.
Kaito akhirnya berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan. Namun di dalam kepalanya, potongan lirik lagu tadi masih terngiang dengan sangat jelas.
Kesenanganku adalah milikku sendiri...
Siapa sebenarnya gadis itu?
Di apartemen Lucy, waktu menunjukkan malam yang semakin larut. Lucy baru saja selesai melepas gaun biru mudanya dan kini sedang berbaring santai di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan senyum kecil yang misterius di bibirnya. Lili tampak meringkuk nyaman di atas bantal seperti biasa.
"Aku punya kabar baru untukmu," kata Lili membuka percakapan.
"Bagaimana dengan persentasenya?"
"Untuk Ren Arisugawa: ♡♡♡ | berada di angka 30%."
"Hanya 30%?" Lucy mengerucutkan bibirnya tanda tidak puas. "Aku sudah bernyanyi seindah itu di depan umum, tapi nilainya hanya naik 10%? Pria itu benar-benar pelit dengan perasaan yang dimilikinya."
"Nilai itu sudah lebih dari cukup untuk ukuran seseorang yang terkenal tidak pernah tertarik pada siapa pun sepanjang hidupnya."
"Ya, kau benar juga," Lucy melambaikan tangannya dengan santai. "Lalu, ada kabar lain?"
Lili terdiam sejenak sebelum melanjutkan laporannya. "Untuk Kaito Fujiwara: ♡ | berada di angka 10%."
Gerakan tangan Lucy mendadak terhenti di udara. "Kaito?"
"Dia melihatmu dan Ren pulang bersama malam ini. Dan entah bagaimana prosesnya, persentase ketertarikannya langsung muncul begitu saja."
Lucy terkekeh geli mendengar kabar tersebut. "Jadi, sang antagonis pria kita sudah mulai menunjukkan ketertarikannya?" Dia berguling ke samping, menopang kepalanya dengan satu tangan. "Padahal aku bahkan belum memulai rencana apa pun yang ditujukan khusus untuk dirinya."
"Kau sebenarnya sudah memulai segalanya tanpa sadar. Perhatiannya tersita saat kau duduk sendirian di tribune lapangan, saat kau bernyanyi memukau di atas panggung, dan saat kau pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun padanya."
"Manusia memang makhluk yang aneh. Semakin kau mengabaikan keberadaan mereka, maka mereka akan menjadi semakin penasaran dengan dirimu."
"Itu bukan sebuah filosofi dewi yang mendalam, Lucy. Itu hanyalah psikologi dasar manusia."
Lucy tertawa kecil mendengar koreksi dari kucingnya, lalu kembali merebahkan dirinya di kasur. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang tampak retak.
"30% dari Ren dan 10% dari Kaito," dia menyeringai penuh arti. "Rencana ini berjalan dengan sangat lancar."
"Apakah tidak terasa terlalu lancar?"
"Tidak ada istilah terlalu lancar dalam kamusku, Lili. Semua ini baru merupakan permulaan dari permainan yang sesungguhnya."
Dia pun memejamkan matanya perlahan. Di dalam benaknya, draf rencana untuk minggu-minggu berikutnya sudah mulai tersusun dengan rapi. Tokoh Hana Himura akan segera masuk ke sekolah ini, dan Akane juga akan kembali dari luar negeri dalam waktu dekat.
Di tengah semua potensi kekacauan yang akan segera terjadi, dia selaku Dewi Rubah akan berdiri kokoh di pusat kendali, menarik semua benang takdir, serta menari dengan bebas di antara dua pria yang tidak pernah sadar bahwa mereka sedang dimainkan.
"Ini akan menjadi permainan yang sangat menyenangkan," bisiknya lirih pada keheningan malam.
Dan Lili yang sudah berada dalam kondisi setengah tertidur, hanya bisa mendengkur pelan sebagai tanda setuju.