Penyihir
Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.
Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.
Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.
Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.
Kini saatnya untuk memburu penyihir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 –[ Bintang Aries ]–
Januari, 1879.
"Akhirnya kalian tiba. Aku sudah menunggu lama sekali. Ceritakan keadaan di benua merah." Pria bermata bintang terang dengan rambut biru panjang tergerai ke belakang sepinggul. Rapih pakaiannya mengenakan hangfu berwarna senada. Duduk di atas meja bundar. Hunter bintang atas yang selamat, tenyata di teleportasi ke markas pusat Hunter internasional.
Lang Zen maju sebagai pembicara. Menjelaskan semua yang terjadi di benua merah.
Pria bermata bintang itu mengangguk, memahami situasi.
"Aku baru saja mengirimkan dua orang untuk mengatasi keadaan di sana. Sepertinya itu belum cukup. Aku harus pergi ke sana. Kalian, beristirahatlah. Aku akan mengakhiri ini semua."
Pria itu menjentikkan jarinya, memanggil seekor naga raksasa. Bersurai biru tua mengkilat, serasi dengan kulit sisik tebal biru mudanya. Besar sekali naga panjang itu. Mungkin sebesar gunung dengan tinggi dua kilometer jika naga itu tidur memutar seperti ular. Arima melompat menunggangi naga biru besar itu.
"Seiryuu, antar aku ke benua merah."
Naga itu mengangguk kecil, dalam sekejap melesat terbang ke langit. Menghilang dari pandangan sebelas kepala Hunter bintang khusus.
"Tak kusangka makhluk sihir kategori lima itu benar ada. Kukira itu hanya mitos legenda." Hunter Tamer dari Afrika melongo melihat naga raksasa itu. Semua hewan peliharaan yang dia kendalikan saja hanya sebatas kategori empat.
"Begitulah ketua kita. Ketua Hunter di seluruh benua. Sang bintang Aries." Ratu Inggris menimpali.
***
"Enlai! Kau habisi semua makhluk yang datang dari gerbang Gehenna kanan. Aku akan membelah satu persatu portal dari kiri." Chao dan Enlai sedang melesat cepat ke arah gerbang Gehenna. Portal raksasa hitam itu beranak pinak di samping kanan kiri. Menciptakan gerbang-gerbang hitam kecil yang lainnya.
Enlai Richu mengangguk. Mereka berpisah. Menuju tempat pos perang masing-masing.
BLAR!
Semburan api tongkat membakar radius lima ratus meter. Membuat hangus makhluk-makhluk neraka yang berjibun keluar dari gerbang Gehenna kanan. Apinya bergerak membakar sana-sini. Buas melahap.
"Haha, ini akan mudah karena Grand Witch sudah menghilang." Enlai tertawa menikmati pembantaian massal makhluk-makhluk neraka. Ternyata keadaan bisa lebih buruk dari yang dia duga.
ROAAARRR!
Seekor setan datang dari portal berukuran tiga ratus meter. Berukuran raksasa, mengepak sayap hitam kegelapannya, dengan memegang erat trisula berapi hitam. Bermuka mengerikan.
Matanya berkilat rasa haus darah. Melirik ke sekitar. Melihat Enlai–manusia kecil itu menari membakar kaumnya. Segera meluncurkan serangan dari trisula. Api hitam menembak lurus seperti laser. Mengarah pada Enlai.
ZZZZT!
DUAR!
Jamur ledakan merekah setinggi gunung. Hitam pekat. Enlai terbatuk menghirupnya. Nyaris sekali. Dia nyaris sekali hangus seketika menjadi abu karena laser hitam itu. Dia tidak mengira makhluk neraka kategori empat telah muncul. Setidaknya ini sedikit tidak mudah.
Enlai berlari ke arah setan raksasa itu. Hendak membalas serangan kurang ajarnya tadi.
ZZZZT! ZZZZT! ZZZZT!
Bertubi-tubi, laser hitam menghujani Enlai. Membuat puluhan ledakan jamur setinggi gunung. Enlai gesit menghindar dan terus berlari. Seratus meter, jarak serangan Enlai sudah masuk.
Dia bersiap menghentakkan kaki. Menghunus tongkat berapinya.
"Jurus tongkat pertama; 被火龍攻擊; Bèi huǒlóng gōngjí! (Terkaman Naga Api!)"
Satu tangan iblis raksasa itu terputus terkena terkaman api Enlai yang laksana mulut naga. Mencabiknya. Dilanjut dengan lompatan tinggi, Enlai mengibaskan tongkat berapinya.
"Jurus tongkat kedua; 尖銳的火焰
Jiānruì de huǒyàn! (Taring Api Tajam!)"
Mengayunkan tongkat berapi dari samping. Api bersiluet hijau membentuk kilah tebasan tajam. Memenggal kepala iblis raksasa. Sekejap kepala raksasanya menggelinding ke tanah. Darah hitam membanjir.
Enlai mendarat lembut. Lanjut menyemburkan api ke seluruh Gerbang Gehenna kanan.
BLAR!
Sementara itu, di lain sisi. Chao Ren sibuk menari dengan pedangnya. Angin tebasannya menebas kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Dia seperti terbang, dia bagai menari, dia ibarat terbang menari. Ratusan kepala monster raksasa berhamburan. Dalam iklim yang bercampur aduk ini, sebutir peluh pun tidak keluar. Namun Chao juga memiliki rasa lelah. Dia hanya manusia biasa yang mencapai gembok keenam. Karena itu dia lebih kuat dibanding Hunter bintang khusus lainnya.
Chao menghentakkan kaki. Melompat tinggi. Bersiap mengayun pedang Goujian.
"Teknik tebasan dimensi; 时间分割斜线
Shíjiān fēngē xié xiàn! (Tebasan Dimensi Waktu!)"
Satu portal kini terbelah dua. Satu Gerbang Gehenna hancur. Disusul yang lainnya. Karena tidak ada Enlai yang mengganggu, Chao berhasil lancar memotong portal-portal yang lain. Cepat tebasan Goujian membelah. Ekor emasnya indah mewarnai kanvas hitam raksasa itu. Dari kiri, perlahan habis Gerbang Gehenna terbelah satu persatu. Chao benar-benar bekerja keras kali ini.
"הו אנשים, אתם תאבדו הלילה!
(Wahai manusia, kalian akan binasa malam ini!)"
Dari gerbang terbesar, seorang iblis berukuran manusia dewasa biasa. Muncul membawa tombak bermata tiganya. Dengan api hitam yang sangat pekat. Menyatu tombak bermata tiga itu. Pekat merah darah berdaging tombak tersebut. Mata-mata belasan menempel. Entah apa itu, mengerikan sekali melihatnya. Tidak beda jauh dengan perawakan pemilik tombak.
Chao mendesis melihatnya, dia kenal sosok itu dari buku-buku teks kuno. Sang penguasa neraka, iblis terkuat. Hades.
Hades mengacungkan tombaknya ke arah Chao. Waktu seakan membeku. Chao tidak sempat melihat apa yang akan terjadi. Membelalak terkejut.
Dalam satu kata ...
"לְהֵהָרֵס
(Hancur.)"
ZZT! DUAR!
Dalam satu serangan ...
Api hitam pekat meledak, menyapu habis dua ratus kilometer dari belakang Chao. Hancur kedalaman satu kilometer. Terlihat lahar panas naik ke permukaan setelah serangan itu.
"Ohok! ..."
Chao terbatuk berdarah, badan kirinya habis sebagian setelah terkena serangan Raja iblis, Hades. Pedang Goujian masih tergenggam erat di tangan satunya. Kilat matanya tidak berubah. Dia tidak akan menyerah. Walau nyawanya akan habis.
Chao berusaha bangkit berdiri. Setidaknya, Gerbang Gehenna terbesar itu harus terbelah! Jika tidak, nasib umat manusia akan berakhir malam ini.
"CHAO!"
Enlai berseru memanggil nama rekannya, dari dua kilometer setelah mendengar ledakan masif itu, Enlai segera berlari menuju tempat Chao.
Saat sedang berlari secepat kilat, Hades menunggu manusia satu itu mengambil jasad temannya. Mengacungkan tombaknya.
Sepersekian detik sebelum Enlai sampai, Chao sempat melihat ujung tombak itu akan mengarah padanya. Berteriak.
"ENLAI! MENJAUH DARI SINI!"
Enlai dua puluh meter lebih dekat. Tidak menggubris satu kata teriakan rekannya. Api hitam pekat dari tombak Hades sudah bersiap meluncur. Menunggu perintah pemiliknya.
Mulut hades mengucap.
"ENLAI!"
^^^"שבור את זה— (—shavor et ze)"^^^
"זַמְהֲרִיר אֱלֹהִים, נְשִׁימַת קֶרַח הַגּוֹלֵשׁ עַל הַיְקוּם! בְּרָצוֹן הַשָּׁמַיִם וּבִקְלַלַת קֶרַח נִצְחִית, הִקָּפֵא וְהִתְרַסֵּק לִפְנֵי הַכּוֹחַ הַזֶּה! שַׁלְהֶבֶת כָּחוֹל מִתְמוֹדֵד עִם הָאֵלֶּה, וַאֲנִי מוֹחֵל אֶת הַגְּזֵרָה!
"KELERENG REALITAS! זמהריר! (ZAMHARIR!)"
***
Fang membuat lingkaran sihir dari darahnya dan darah putranya, mengelilingi mereka berdua. Mengucap mantra ritual Rerevaka na Kalou ka Doka na Tui ...
"Mai vua na Kalou, au solia na noqu bula me vakacaucautaki kina na Tui Vakatui. Ena vuku ni vakatakekere tawamudu, mo vakarokorokotaka na tui. Ena vuku ni Kalou, au sa solia kina vei kemudou na yaloqu. Cakava na bula tawamudu vua na luvequ,"
Fang membuat lingkaran darah kecil di dahi putranya yang nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Anak itu mengerjap. Tanda masih bertahan hidup.
"Veiwaki!"
Wus!
Roh Fang dan Roh putranya masuk ke dalam alam arwah. Ganjil sekali. Seluruh tempat ini putih benderang, mengambang. Bagai di luar angkasa. Ada dua Roh di hadapan Fang. Satu putranya, Lao Tzu, dan seorang lagi ...
Roh Grand Witch.
Dia memeluk Roh Lao Tzu. Roh Fang mengatupkan rahang. Hendak bergerak maju, mengambang ke depan dua roh itu. Namun, tidak bisa. Seakan ada yang menahan kakinya untuk tidak bergerak. Roh Fang tidak bisa mengambang mendekat. Roh Grand Witch terkekeh melihatnya.
"Anak ini akan mati. Dia sudah tidak berguna lagi." Roh Grand Witch mencekik Roh Lao Tzu. Mengangkatnya. Roh Lao Tzu menggeliat kesakitan.
"Hentikan! Jangan sakiti dia! Aku akan berikan jiwaku." Roh Fang berseru lantang. Membuat Roh Grand Witch mengendorkan cekikan pada Roh putra Fang.
"Jiwamu, heh? Apa yang membuatmu berpikir jika jiwamu lebih berharga dari anak ini, huh?" Roh Grand Witch masih mencekik Roh Lao Tzu tinggi-tinggi.
Roh Fang mengepalkan tangannya keras. Dia membutuhkan alasan yang kuat untuk menukar Roh putranya dengan jiwanya.
"Kau tahu sendiri, aku memiliki Heavenly Divine Body yang membuatku tidak bisa terluka karena serangan fisik. Aku akan menukar jiwaku dengan putraku. Pertama lepaskan dahulu putraku!" Roh Fang berteriak tegas. Sementara Roh Grand Witch menyeringai lebar, terkekeh lalu tertawa lebar menertawakan Roh Fang beberapa langkah di depannya.
"Ayah ... Jangan! Biarkan aku mati ayah! Itu tidak setimpal! Jika begitu penyihir biadab ini akan menjadi makhluk abadi!" Roh Lao Tzu yang sedang tercekik oleh Roh Grand Witch menggeliat sembari mencoba berseru pada ayahnya agar jangan melakukan pertukaran itu.
"Diam! Kau ... sangat menyayangi putramu yang sudah sekarat ini ya? Dasar bodoh." Roh Grand Witch mengeraskan cengkeramannya pada leher Roh Lao Tzu agar tidak berani menjerit lagi.
Roh Fang masih mengepalkan tangannya sembari memasang wajah serius. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan dia akan berani menipu Roh Grand Witch.
"Baiklah. Ambil saja anak ini!" Roh Grand Witch melempar Roh Lao Tzu ke arah Roh Fang. Sigap Roh Fang langsung menangkapnya. Roh Lao Tzu sangat lemas. Cahaya jiwanya semakin pudar. Redup. Dia akan mati sebentar lagi.
"Sekarang katakan! Berikan jiwamu padaku, Fang Tzu! Sehingga aku akan hidup kekal untuk selama-lamanya, muahahahahaha!" Roh Grand Witch tertawa lebar. Menengadahkan kedua lengan.
Roh Fang mengucap suatu mantra. Lirih. Roh Grand Witch menyaksikannya tajam. Menyeringai lebar.
"Maaf, aku tidak bilang akan memberi jasadku. Ambil jiwaku dan pergilah dari sini! Makhluk terlaknat!"
Sebuah bola cahaya mengambang dari Roh Fang, perlahan menuju Roh Grand Witch.
Penyihir terlaknat itu menjerit keras, mengamuk. "TERKUTUK KAU! AKAN KUBURU KETURUNAN DAN SEMUA ORANG YANG ADA DI DEKATMU!" Setelah bola cahaya itu masuk ke dalam Roh Grand Witch, sekejap menciut, menghilang dari alam angkasa putih itu.
Roh Fang memeluk roh putranya. Menangis, memeluknya erat. Mencium kening putranya.
"Maafkan ayah nak. Aku akan memberi jasad ini padamu. Semua ingatan yang kulalui akan menjadi milikmu. Berjanjilah satu hal anakku. Berjanjilah kau akan membunuh Grand Witch. Balas dendam kan keluarga kita. Selesaikan peperangan tak bertepi ini. Suatu hari, aku yakin janji ini tidak akan sirna hingga penyihir itu benar-benar mati. Berjanjilah."
Roh Lao Tzu mengangguk perlahan. Terakhir, roh Fang tersenyum menatap wajah putranya untuk terakhir kali. Setelah ini, roh putranya akan masuk ke jasad Fang. Dan roh Fang akan mati.
"Sereki ..."
Wus!
Alam arwah angkasa putih itu lenyap. Lao Tzu –yang ada dalam jasad ayahnya, Fang–menatap jasadnya yang telah mati membeku. Anak berumur sepuluh tahun berambut putih salju itu telah meninggal. Dan kini Lao Tzu menjadi pria yang dulunya adalah ayahnya. Semua ingatan milik ayahnya mengalir pada roh Lao Tzu. Menyatu dengan ingatan masa kecil miliknya.
Air mata mulai kembali berlinangan. Menjatuhi tanah bersalju tebal.
"Ayah ... Terima kasih ... Lao berjanji akan berusaha sekuat mungkin ... Lao akan mewariskan janji ini jika ajal lebih dulu menjemput ... Ayah, aku cinta ayah ..."
Lao Tzu menangis terisak. Haru. Berteriak ke langit. Meluapkan perasaan marah dan sedih yang bercampur. Seperti inikah tuhan jawabanmu?
***
"KELERENG REALITAS! זמהריר! (ZAMHARIR!)"
Pria bermata bintang, berambut biru panjang. Tiba tepat sebelum Raja Hades menyelesaikan ucapannya. Alam realitas berubah, menjadi domain ciptaan pria bermata bintang. Domain itu hanya satu kata untuk menggambarkannya. Beku.
Namun, detik kemudian, Raja Hades berhasil lepas dari efek pasti kena domain tersebut. Dia tinggal membakar dirinya dengan api hitam pekat. Maka domain yang membuat beku lawan itu, akan hilang efeknya.
Ratusan tombak es biru pekat raksasa menghujam ke arah Hades. Memberi waktu pengalihan agar pria bermata bintang itu menyelamatkan Chao dan Enlai ke tempat lebih aman. Keluar dari kelereng realitas sendiri. Membiarkan serangan dalam domain berlangsung.
"Kalian baik-baik saja? Chao? Enlai?"
Chao mendengus kesal, "Kau bisa melihatnya dengan kedua mata anehmu itu, Arima."
Pria bermata bintang bernama Arima itu tertawa.
"Kau jahat sekali Chao. Padahal kau tahu aku buta."
"Chao kehilangan lengan kirinya hingga bahu. Kalau aku, beruntung baik-baik saja." Enlai yang menjawab pertanyaan Arima barusan. Dibalas oleh anggukan.
"Keadaan di sini semakin darurat bukan? Aku harus cepat menyelesaikannya. Ini akan sangat menyenangkan. Chao, beristirahatlah. Enlai, kau bantu aku membersihkan keroco-keroco makhluk neraka."
Arima bersiap dengan sarung tangan besarnya. Itu adalah tangan naga. Dia menggunakan jimat spesial untuk mendapatkan tangan itu. Cakarnya panjang. Berwarna biru tua, dari bahu hingga cakaran berwarna putih, mengilat diterpa cahaya, Sekali kibas, gunung terbelah karena cakaran.
Enlai mengangguk, segera bergerak menghabisi keroco-keroco makhluk neraka yang berhambur dari portal.
"Seiryuu! Bawa Chao ke tempat aman. Benua ini sudah tidak ada harapan. Aku akan menghancurkan semuanya bersama musuh."
Naga biru raksasa yang semenjak tadi mengambang di langit. Menyemburkan ratusan petir biru menggelegar menghantam makhluk-makhluk neraka yang mendekat. Mendarat di samping tuannya.
"Terimakasih, Arima." Chao berucap sebelum lompat menunggangi punggung naga biru raksasa itu.
Arima tersenyum tipis, mengangguk. "Pergilah!"
Seiryuu, naga biru itu segera melesat terbang ke atas langit. Menembus lapisan awan kelabu. Melayang menjauh di bawah sinar rembulan darah.
DUAR!
Kelereng realitas buatan Arima hancur berkeping. Penjara es itu ternyata tidak mampu melukai segores pun Raja Hades. Arima bersiap tersenyum antusias.
"הו, זו הפעם הראשונה שפגשתי אדם כה יהיר. מהמראה שלך, נראה כאילו השגת טכניקה אלוהית.
(Wahai, baru kali ini aku menemui manusia
se-angkuh itu. Dari perawakanmu, sepertinya kau telah mendapatkan teknik surgawi.)"
"זה נכון, הו מלך הגיהנום. למען הכלל שלנו, מה יקרה אם המלך וחייליו יחזרו למקומם המקורי? כדי שלא יהיו יותר שפיכות דמים.
(Benar, wahai raja neraka. Demi kebaikan kita bersama, bagaimana jika tuan raja dan pasukannya kembali ke tempat asal? Agar tidak ada pertumpahan darah lebih lagi.)"
Arima menjawab ucapan iblis itu. Tersenyum tipis. Tidak gentar dia menghadap sang Raja neraka. Mungkin karena dia buta?
"זה מפתיע, מסתבר שיש בני אדם שיכולים להבין את השפה שלנו. אני מכבד אותך. אבל למרבה הצער, אתה תמות.
(Ini mengejutkan, ternyata ada manusia yang bisa memahami bahasa kami. Aku menghormatimu. Namun sayang, kau akan mati.)"
Arima tertawa mendengar ucapan itu. Seakan terkesan meremehkan sang Raja neraka.
"אני לא צריך את הכבוד שלך, אדוני השטן. אחרי הכל, זה לא כל כך קל להרוג אותי. אה כן, אנחנו לא כאן כדי לנהל שיחה חמה, נכון?
(Aku tak butuh hormatmu paduka iblis. Lagipula, tidak mudah untuk membunuhku. Oh ya, kita disini tidak untuk berbincang hangat, bukan?)"
SING! SLASH!
Belasan portal Gehenna terbelah dua dalam sekejap. Hanya satu kibasan tangan. Belasan portal terbelah, meledak. Tangan cakar naga itu tak bisa diremehkan.
Hades menggeram marah. Bersiap mengacungkan tombaknya.
"Kelereng Realitas ..."
***
/Facepalm/