NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:952.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Melihatku hanya diam membisu, ayah menatapku dengan tatapan menyelidik, bertahan hampir satu menit, pria tegas di hadapanku ini akhirnya melempar lirikan ke sang putra kemudian berkata.

"Laki-laki seperti dia, tidak pantas untuk wanita baik sepertimu. Biarkan di_"

"Ayah salah paham" Ucapku memenggal kalimat ayah. "Jangan hukum mas Ryu hanya dari satu kesalahan, yah. Ayah tahu sendiri, ada banyak kebaikan yang mas Ryu perbuat? Jadi please tenangkan diri ayah, dan beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya"

"Apa yang mau kamu jelaskan? Yakin ingin membelanya? Membenarkan perbuatannya?" Ayah berdecak sinis lengkap dengan senyuman miring kemudian kembali berucap. Bukan padaku, tapi pada mas Ryu.

"Jika kamu tidak mau meninggalkan wanita itu, maka angkat kaki dari sini dan jangan pernah kembali, tapi jika kamu bersedia meninggalkannya, kamu boleh tinggal bersama bundamu. Aku beri waktu sampai malam ini untuk berfikir" Kata ayah dengan panjang lebar. "Silakan pilih, hidup dengan wanita yang kamu nikahi secara siri itu atau memperbaiki rumah tanggamu dan tinggal bersama kami" Imbuhnya dengan nada menegaskan.

Usai mengatakan itu, ayah berbalik lalu melangkah hendak meninggalkan area kolam renang.

Ketika ayah baru mengambil tiga langkah menjauh, ku dengar suara mas Ryu dari balik punggungku.

"Bukankah ayah selalu mengajarkanku untuk bertanggung jawab, lantas kenapa ayah menyuruhku meninggalkannya?"

Ayah berhenti, namun hanya sesaat, tak menoleh ke belakang beliau kembali melangkahkan kaki tanpa mengatakan apapun.

Menarik napas panjang, ku alihkan sepasang netraku pada mas Ryu. Tampak pria itu tengah di bantu berdiri oleh bundanya dengan penuh hati-hati.

Aku tahu, semarah-marahnya seorang ibu, mereka tidak akan bisa melihat anaknya di hajar habis-habisan oleh bapaknya sendiri apalagi sampai terusir dari rumahnya. Tidak akan tega!

Seperti halnya bunda, walaupun beliau diam tapi hatinya pasti hancur.

"Biar aku bantu, bun"

Bunda tak merespon, tapi dari bahasa tubuhnya jelas sekali kalau beliau mengijinkanku membantu mas Ryu untuk bangkit.

Pelan kami berjalan, memapah mas Ryu dan membawanya ke kamar.

Setibanya di kamar, ku baringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba bunda bersuara.

"Kamu bantu Ryu mengobati lukanya, bunda akan bicara dengan ayah"

"Iya, bun!"

Salah satu tangan bunda terulur untuk mengelus sisi wajahku.

"Maafin anak bunda" Suaranya bergetar menahan isak.

Aku mengangguk meresponnya.

"Bunda ke ayah dulu"

"Iya"

Seperginya bunda dari kamarku, ku tengok mas Ryu yang kini sedang mengelap noda di sudut bibirnya menggunakan tisu.

Mengerutkan bibir, kakiku melangkah ke arah meja rias. Ku tarik kursi rias ke samping tempat tidur untuk ku duduki.

"Aku bantu" Ucapku seraya duduk.

"Nggak usah" Jawabnya datar.

Mengabaikannya, aku tetap dengan pendirianku, menuangkan sedikit alkohol ke kapas, lalu akan ku oleskan di luka mas Ryu.

Ketika kapas di tanganku nyaris menyentuh sudut bibirnya yang membiru, tangan mas Ryu dengan tangkas mencekal pergelangan tanganku.

"Aku bilang nggak usah"

"Aku nggak peduli" Aku berusaha melepas cekalan tangannya.

"Aku nggak suka mengulang kalimatku"

"Mas pikir aku suka di bantah?"

"Siapa kamu?"

"Diam!" Hilang kesabaran, aku meninggikan nada suaraku seraya bangkit dari dudukku. "Kenapa harus berdebat untuk hal sepele seperti ini? Jika mas tidak bisa menerimaku sebagai istri, bisakah menganggapku orang lain yang ingin membantumu?"

Ini pertama kali aku bicara dengan nada tinggi pada mas Ryu. Sebelumnya jangankan bersuara keras, bicara lirih saja aku sangat takut.

"Diamlah, aku hanya ingin membantu, tidak untuk mendapat simpati atau sejenisnya" Aku kembali duduk kemudian mulai menempelkan kapas di luka pria yang sangat keras kepala ini.

Mas Ryu merintih kesakitan ketika dinginnya alkohol menyentuh kulitnya.

Dengan posisi sedekat ini tetap saja dia masih belum mengenaliku, padahal aku sama sekali tak menutupi wajahku menggunakan masker ataupun cadar. Dia benar-benar enggan menatapku barang sebentar.

Perlahan aku terus mengoleskan kapas di lukanya satu persatu. Sebagian fikiranku fokus mengobatinya, sebagian lagi teringat kalau aku belum mengatakan apapun tentang Jani pada ayah atau bunda, termasuk mas Ryu.

Seperti apa dan bagaimana aku menjelaskan semuanya, yang jelas aku merasa belum siap dengan reaksi mereka nanti.

Lamunanku mendadak terjeda saat seseorang mengetuk daun pintu yang tak tertutup.

Dia bik Titik yang datang membawakan secangkir teh pesananku untuk mas Ryu.

"Tehnya saya taruh sini ya, mbak" Ucapnya sopan. Wanita itu meletakkannya di atas nakas samping ranjang.

Aku mengangguk. "Makasih ya bik"

"Iya mbak"

***

Selesai mengobati mas Ryu, dengan keberanian yang cukup aku pergi ke kamar ayah.

Pintunya tertutup rapat, bunda pasti masih ada di dalam.

Memasukkan udara sedikit lebih banyak, ku ketuk pintu kamar setelah sebelumnya ada sedikit keraguan.

Tak lama kemudian pintu terbuka. Ada bunda berdiri di hadapanku.

"Gimana, Na?" Tanya bunda. "Apa terjadi sesuatu ada Ryusang?"

"Nggak ada bun, aku sudah selesai mengobatinya, mas Ryu sedang istirahat sekarang" Ujarku.

"Dia nggak demam, kan?"

"Untuk sekarang belum, bun"

Bunda mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.

"Bun, ada yang ingin aku bicarakan"

"Ya, bunda tahu, bunda juga sedang membahas ini dengan ayah"

Entah apa yang mereka bahas, aku tidak terlalu memperdulikannya. Yang pasti sesuatu yang ingin aku bicarakan ini adalah mengenai poto di dalam ponsel mas Ryu yang ayah tunjukkan beberapa menit lalu.

"Masuk, Na!"

Aku mengangguk, sambil melangkah masuk.

Ku lihat ayah tengah duduk di sofa dengan kedua siku bertumpu pada lutut sementara punggung tangannya menyatu menopang dagunya.

Beliau pasti bimbang memikirkan mas Ryu.

"Yah, bisa kita bicara?"

Kepala ayah terangkat, lalu menatapku.

"Bisa, nak"

"Duduk sayang" Tahu-tahu bunda membawa kursi putar milik ayah.

Aku duduk, menahan perasaan yang entah. Takut, cemas, juga khawatir dengan respon ayah setelah aku memberitahukan semuanya.

"Maaf yah, soal foto itu ayah sudah salah paham" Kataku, memulai percakapan.

"Salah paham gimana, nak?" Pria itu mengerutkan kening, kemudian menoleh ke samping kanan untuk memindai wajah bunda yang duduk di sebelahnya.

"Sebenarnya wanita yang ada di foto itu_" Aku menggantung kalimatnya sejenak. "Aku"

Kerutan di dahi ayah ku lihat kian tajam. "Aku dan mas Ryu melakukan ijab ulang, yah"

"Apa maksudmu, Naina?"

"Iya, yah. Mas Ryu kembali menikahiku. Jadi wanita yang ada di foto itu aku"

"Why?" Ayah menatapku lekat-lekat. "Kenapa harus menikah lagi kalau pernikahan kalian sudah sah?"

"Karena saat mengucap ijab pertama di rumah ini, mas Ryu belum sepenuhnya ikhlas dengan pernikahan kami, jadi setelah ikhlas, dan supaya lebih mantap, mas Ryu mengulangnya"

"Ada mas Tera juga yang menyaksikan pernikahan kami, yah" Tambahku meski agak sedikit ragu.

Sejujurnya aku merutuki diriku sendiri kenapa harus mengulang kebohonganku, Tapi aku memang belum siap mengatakan segalanya sendiri tanpa dampingan mas Ryu. Di samping itu, aku ingin membicarakan tentang Jani dengan mas Ryu terlebih dulu. Aku ingin mengakui padanya kalau akulah Jani. Setelah itu aku dan mas Ryu baru bisa mengambil keputusan.

"Tapi kenapa Ryu tidak bilang saat ayah meminta penjelasan darinya, dan saat ayah tanya kebenaran pernikahan siri itu, kenapa dia mengakuinya?"

"Ya karena memang mas Ryu menikah lagi, bukan? Mungkin dia malu, atau nggak bisa gimana menjelaskan tentang tingkah kami ke ayah" Suaraku merendah. Ada rasa gugup sebenarnya, tapu aku berusaha mengusirnya supaya ayah dan bunda tak menyadari kegugupanku.

Ke dengar des...ahan panjang keluar dari mulut ayah.

"Kalian ini ada-ada saja" Cicit Ayah menggelengkan kepala.

"Ayah juga main pukul"Sela bunda. "Coba sabar sebentar, bicara baik-baik, pasti Ryu nggak akan babak belur begitu, kan"

"Ya bunda juga kan yang bikin ayah emosi, berprasangka kalau Ryu diam-diam menikah"

"Ya bunda kan shock pas tahu poto itu di ponsel Ryu"

"Sudah bun, ayah. Ini salah paham kok. Sungguh kalau perempuan di foto itu, aku, bukan wanita lain"

"Syukurlah kalau begitu" Balas ayah merasa lega.

"Jadi ayah harus minta maaf ke Ryu" Sambung bunda menatap ayah dengan sinis.

Ayah pun membalas tatapan bunda dengan melirikkan manik pekatnya.

***

Tiba waktunya makan malam, aku, mas Ryu, ayah dan bunda sudah duduk di kursi yang biasa kami duduki saat makan. Tadinya mas Ryu menolak ketika ku ajak makan di tempat makan, tapi setelah ku paksa, dan mengatakan kalau ini suruhan ayah, dia langsung menyetujuinya. Karena ayah memang tak terbantahkan.

Di meja makan, suasana begitu canggung. Tak ada suara apapun keluar dari mulut kami berempat. Jika saja tak ada suara dentingan sendok, sudah pasti suasana bagaikan di TPU saat tengah malam.

Hening dan sunyi, terkesan menyeramkan juga pasti menakutkan.

"Ayah minta maaf sudah salah paham, Ryu"

Mendengar kalimat ayahnya, mas Ryu terbengong. Pria itu menatap ayah dengan sorot heran. "Ayah paham apa yang kamu lakukan"

Dari jakunnya yang bergerak naik-turun, ku rasa mas Ryu tak percaya dengan apa yang ayah katakan.

Lagi-lagi jantungku berdetak tak tahu aturan.

Kebohongan benar-benar membuat hidup tidak tenang.

Selalu di liputi perasaan resah dan gelisah.

Setelah makan, aku berharap ada keberanian untukku mengungkapkan jati diri Jani.

Bersambung.

Nanti malam up lagi ya, udah mupeng banget ini pengin bikin pov Ryusang.

Typonya di maklum dulu ya, nggak cek ulang sebelum di tayangkan soalnya.

Nanti kalau senggang pasti di betulin.

Regard,

Anne

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!