NovelToon NovelToon
This Is Your Baby [Tamat]

This Is Your Baby [Tamat]

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Renny Ariesya

❝Vina, bila kau ingin tahu siapa ayah kandung Baby El, datanglah ke rumah keluarga Archielo.❞

Malam ketika saudarinya meninggal kecelakaan. Davina Oswalden mengetahui kenyataan siapa ayah kandung Baby El (Eleanore Oswalden). Berbekal surat wasiat saudarinya, Davina nekad datang ke kota Vancouver, Canada - bersama Baby El; bayi laki-laki berusia lima bulan.

Davina mengetahui fakta yang tidak diketahuinya selama ini, ketika dia mengetuk pintu rumah keluarga Archielo ... pria itu---ayah kandung Baby El---mencium dan memeluknya, membisikkan kata ....
❝Ini bayi kita, Sayangku!❞

Di sisi lain...
Ketika penyesalan masa lalu menghantui seorang Mario Archielo ... tiba-tiba, suatu hari pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita manis nan mungil, lalu menyodorkan bayi laki-laki lucu padanya.
❝Ini bayi kandungmu...❞
Apakah ini saatnya membayar sebuah kesalahannya di masa lalu?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertindak Hati-hati

"Sedari awal sudah kubilang, Vina. Kurangi kecerobohanmu. Lihat, belum sembuh bengkakmu, kau malah menambah bengkak di dahimu ini,” gerutu Mario sembari menekan dahi Davina dengan kapas yang berisi cairan antiseptic. Pulang-pulang dari kantor, dirinya langsung disuguhi pemandangan wajah sang istri yang tidak dalam keadaan biasa.

Davina mencebik mendengar gerutuan suaminya. “Aih. Pelan-pelan. Sakit tahu.”

"Baiklah, aku akan berhati-hati."

“Arrrgh! Kubilang pelan-pelan.” Davina melotot.

Mario menghela napas pendek. Meletakkan kapas ke atas meja. Ditatapnya wajah sang istri yang memerah. Sepertinya ada yang salah dengan istrinya. Menurutnya tadi, dirinya tidak terlalu kuat menekan kapas ke dahinya. Tetapi mengapa setiap dia menyentuh bagian yang terluka itu, selalu saja sang istri berteriak berlebihan. Seolah dirinya baru saja menamparnya.

"Kau kenapa, Vin. Kau seperti lagi PMS saja. Apa yang kulakukan selalu saja kau memekik kaget. Ini-itu salah,” keluh Mario.

Davina tidak menjawab. Wajahnya semakin mencebik.

Mario menghela napas sesaat. "Vin ..."

"Kyaaa. A-apa yang kau lakukan! Rio!" Davina memekik kaget ketika merasakan tubuhnya disentak. Dalam sekejap saja. Tubuh rampingnya telah didekap Mario.

"Aku tahu hatimu lagi kesal, Vin. Entah karena apa, aku pun tak tahu. Dan obat mujarab menenangkan hati yang kesal adalah ..." Mario mengecup bibir Davina sekilas. Lalu menyenderkan kepala Davina ke dadanya. Menepuk punggung ramping sosok manisnya. Menenangkannya.

Davina mengerjap. Menggigit bibir sekuat-kuatnya, menekan amarah di dalam hatinya.

 

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

 

Selama dirinya bernapas dalam dunia ini, ada tiga hal yang paling Davina benci. Pertama dibohongi. Kedua menunggu. Serta terakhir tatapan tajam untuknya. Lebih buruknya lagi. Saat ini---bagai jalinan benang yang terikat satu sama lainnya---ketiga hal tersebut Davina alami secara bersamaan.

Terlebih untuk tatapan tajam. Davina ingat betul. Takkan pernah dilupakannya. Pertama kalinya menginjak mansion ini, dirinya telah dilimpahi tatapan tajam tak suka dari Roxanne dan Lily.

Seperti saat ini. Davina pikir dengan mengulur waktu makan siangnya hingga jam dua siang, maka mansion akan sepi, takkan ada penghuninya lagi. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Membuatnya terkejut. Baru saja menginjak ruang makan. Dirinya telah dihujani sindiran dan tatapan tajam dari dua beranak itu, duduk tepat di depannya.

Seperti biasa pula. Davina tak menggubris ocehan dua wanita itu. Lebih baik dirinya fokus memakan taco dan kembali secepatnya ke kamar, dimana dia meninggalkan bayinya yang tertidur lelap.

Setelah selesai memakan taco---masih menyisakan banyak di piringnya---Davina beranjak sembari melemparkan tatapan tajam tak kalah sinisnya. Seketika mampu membungkam ocehan dua perempuan itu di ruangan ini.

"A-apa li-lihat. K-kau berani pada k-kami." Roxanne tiba-tiba saja berkata terbata-bata. Terkejut ketika mendengar suara deritan kursi yang digeser Davina. Rasanya begitu ngilu. Cukup membuat nyali Roxanne dan Lily menciut seketika.

"I-iya, Mommy benar. Co-coba saja kalau kau berani melawan akan ku---"

"Mau menekanku dengan mengadu pada Rio?! Bukankah itu sia-sia saja," sindir Davina berlalu dari hadapan Lily dan Roxanne yang mematung mendengarnya.

"Mommy dengar yang barusan dikatakan Davina? Kok dia tahu apa yang akan kukatakan selanjutnya." Lily memandang lekat ibunya. Matanya tak mengerjap sama sekali. Ucapan Davina sukses membuat keduanya berpikir sesuatu. Mengenang kembali perbuatan mereka di masa lalu. Sering kali keduanya menggunakan nama Mario untuk membully Davina.

 

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

 

Davina buru-buru menutup pintu kamar. Setelah memastikan telinganya mendengar suara klik dua kali. Dan pintu terkunci rapat. Barulah melangkah ke arah ranjang, menjauhi pintu dengan perasaan was-was dan jantung berdebar-debar. Berkali-kali menarik napas dan diembuskannya perlahan-lahan ketika duduk di sisi ranjang. Setelah dirasa tenang. Ia membuka majalah yang nyaris remuk di tangannya.

Sebelumnya, saat Davina melewati ruang keluarga. Tanpa sengaja matanya melihat majalah bisnis, tergeletak di bawah meja sofa. Kebetulan posisinya di bagian paling atas majalah lainnya, hingga ia bisa melihat jelas covernya. Tanpa berpikir lagi, Davina segera mengambil majalah itu dan membawanya ke kamar. Selain covernya yang membuatnya jadi tertarik. Majalah ini berisi informasi penting untuk dirinya dalam mengambil tindakan selanjutnya.

[Rahasia Sukses Alexander Dalam Mendirikan Firma Hukum Brave & Associates di Usia Muda]

Begitulah kira-kira judul majalahnya. Dengan memajang foto---full body---sahabat masa kecilnya, Fabian. Davina tahu, Brave itu nama keluarga Fabian. Sedangkan Alexander itu nama tengah Fabian. Lebih lengkapnya Fabian Alaxander Brave. Bisa dipastikan Firma Hukum itu adalah milik Fabian.

Davina menutup majalah bisnis itu setelah mencatat hal-hal penting di dalamnya. Segaris senyuman lebar menghiasi belah bibirnya. Seakan ia menemukan titik cerah dalam hidupnya, memandang lekat notes kecil di tangannya.

 

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

 

Sekali lagi Davina memastikan tempat di sekitarnya. Bila saja ada yang diam-diam mengikutinya. Cukup kejadian tiga hari yang lalu---dimana dia diculik---menjadikan pengalaman berharga untuknya. Setelah dirasa aman, Davina pun memasuki box telepon umum bersama Baby El dalam gendongan model kangguru. Memudahkannya meletakkan bayinya dalam berbagai posisi yang nyaman. Bahkan bila berlari takkan membuatnya terpisah dari Baby El.

Jari-jarinya dengan lincah memencet nomor tujuan berdasarkan catatan kecil di tangannya. Ia dapatkan nomornya dari majalah yang ditemukannya tadi. Tak berapa lama sambungan teleponnya diangkat, terdengar suara wanita yang menyapa pendengaran Davina pertama kalinya.

"Hallo, dengan Firma Hukum 'Brave & Associates'. Ada yang bisa kami bantu?"

Davina menarik napas sejenak, sebelum bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. “Bisakah saya berbicara pada pengacara Alexander Brave?"

"Maaf sebelumnya, dengan siapa saya berbicara saat ini? Apakah sudah ada janji dengan beliau?"

Davina menggigit bibir, selalu seperti ini. Bila menelepon jalur kantor. Akan ada prosedur yang harus dilalui.

"Saya Davina Oswalden. Sebelumnya memang belum ada janji. Tapi, bisakah anda menghubungkannya dengan beliau? Kumohon ini penting. Ada masalah yang ingin kubicarakan padanya."

Ada jeda panjang sesaat sebelum Davina mendengar jawaban di seberang telepon.

"Maaf, tidak bisa. Apakah anda hanya ingin berkonsultasi? Kami bisa menyalurkan anda dengan pengacara lainnya selain beliau."

"Tidak! Saya hanya ingin berkonsultasi langsung dengan beliau. Kumohon katakan saja Davina Oswalden yang ingin berbicara, dia pasti mengerti. Please. Kali ini saja. Saya janji takkan mengganggu lagi,” mohon Davina, berharap resepsionist itu mengerti.

"Baiklah, tunggu sebentar."

"Terima kasih banyak." Davina bernapas lega. Beruntung perusahaan yang ditujunya memang berurusan dengan berbagai permasalahan hukum. Mungkin karena itulah sang resepsionist mengerti.

Sesekali Davina mencubit gemas pipi gembul Baby El sembari menunggu sambungannya terhubung langsung dengan Fabian. Beberapa saat kemudian terdengar suara grasak-grusuk di seberang telepon.

"Hallo? Benarkah kau Davina?"

"Fabian? Benar ini aku Davina." Nyaris Davina berteriak gembira mendengar suara Fabian.

"Astaga, Vina. Kenapa baru sekarang menghubungiku? Ke mana saja selama ini? Apa kau berada di Vancouver?"

Davina bisa mendengar deru napas Fabian yang memburu ketika mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.

"Ya, aku sekarang ini di Van---"

"Tunggu dulu, mengapa kau menggunakan telepon umum?" Fabian memotong ucapan Davina.

Davina mendesah pendek. Ditatapnya mata bulat bayinya. Bayi itu terkikik kecil ketika tangan mungilnya mengelus dadanya. Meraba saku sweaternya. Memastikan ponselnya aman di sana dalam keadaan mati.

Davina tidak bodoh. Ia tahu Mario menyadap ponselnya. Setiap yang berhubungan dengan ponselnya, maka Mario juga mengetahuinya. Karena itulah ia sengaja menelepon melalui telepon umum. Sebab tak mau mengambil risiko. Ketahuan oleh Mario bila dirinya sedang menghubungi kantor Firma Hukum. Dan tentunya akan menimbulkan kecurigaan Mario padanya.

"Ponselku yang lama hilang bersama data-data yang ada di dalamnya juga ikut hilang," jelas Davina.

"Oh, sayang sekali." Terdengar nada kecewa Fabian di seberang telepon.

"Bi, bisakah aku meminta nomor ponselmu yang baru? Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu."

"Baiklah." Seakan mengerti, Fabian langsung menyanggupinya. "Lagipula tak nyaman berbicara di telepon. Bagaimana kalau kita ketemuan saja?"

"Setuju."

Setelah saling memberikan nomor ponsel masing-masing, dan menentukan tempat untuk bertemu kembali, Davina mengakhiri percakapannya. Ia tidak bisa terlalu lama berbicara pada Fabian. Apalagi kondisinya sekarang berada di luar, terlalu banyak masalah yang akan ditimbulkan nantinya.

 

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

 

"Davina, apa kau benar-benar percaya akan ucapan Rio?"

Pertanyaan tiba-tiba Roxanne terlontar begitu saja pada Davina ketika sedang makan malam. Lagi-lagi yang berada di ruangan ini hanya mereka bertiga saja. Sementara yang lainnya belum kembali dari kantor masing-masing, termasuk Mario.

Sekilas Davina berhenti menggigit cheeseburger yang berada di mulutnya. Kemudian dengan santai kembali melanjutkan menggigit cheeseburgernya. Menikmatinya hingga habis di dalam mulutnya, barulah menjawab pertanyaan Roxanne. Ia tahu sedari tadi Roxanne dan Lily terus memperhatikannya.

"Tentu saja aku percaya ucapan Rio," jawab Davina santai. Berbalik menatap tajam dua wanita itu secara bergantian.

Roxanne memicing tajam. "Kau percaya kalau di masa lalu kalian berdua saling mencintai?"

Davina mengangguk cepat. "Aku percaya--- Apa pembuktianku waktu itu belum jelas nyonya Roxanne? Apa ciuman kami tidak nyata di depan kalian?"

Roxanne dan Lily saling berpandangan, lalu menyeringai. "Tentu saja. Kami butuh sekali lagi pembuktian darimu, barulah kami bisa yakin."

Davina memutar bola mata. Sengaja mendengkus keras di depan dua wanita menyebalkan ini. "Aku tak mengerti maksud nyonya Roxanne. Pembuktian apalagi yang kalian inginkan dariku?"

"Hm ..." Roxanne menggumam sekilas, memperhatikan jari-jari lentiknya, sebelum melanjutkan ucapannya, "aku ingin kau hamil kembali."

Seketika atmosfir di dalam ruangan ini menjadi tegang dan panas. Ujung mata Roxanne terus memperhatikan gerak-gerik Davina. Bila saja ada yang mencurigakan. Sengaja dirinya mengajukan tantangan itu untuk membuktikan hal lainnya. Ya. Dia ingin mengukur sejauh mana ingatan Davina. Apakah dia sudah sembuh apa belum. Semuanya akan terjawab saat Davina menanggapi tantangannya.

Davina meremat kuat ujung t-shirtnya di bawah meja. Menekan emosinya dalam-dalam. Tak boleh ada yang tahu pikirannya saat ini. Berdeham sejenak, mengembalikan tampilan ekspresinya yang selama ini ia tampakkan pada ke dua wanita ini.

"Bagaimana, Davina? Kau bersedia memberikan adik untuk Eleanore?" ulang Roxanne mendesak Davina. Baginya Davina terlalu lama berpikir.

"Baiklah, tak masalah. Aku akan memberikan kalian anggota baru keluarga Archielo."

"Kalau begitu, dimulai hari ini. Dua minggu ke depannya, aku ingin mendengar kabar kau hamil."

Davina mengangkat kedua belah bahu, meraih gelas di sampingnya. Meminumnya hingga tandas, membuat dua wanita itu tersenyum menyeringai ketika Davina meletakkan gelas tersebut dalam keadaan kosong. Lalu tanpa bicara, Davina pergi dari ruang makan ini.

"Mom, lihat! Davina menghabiskan minumannya." Lily terkekeh senang menatap lekat gelas kosong di depannya.

"Ternyata Davina benar-benar terprovokasi akan ucapan kita. Hn, baguslah." Roxanne menyeringai tipis.

"Menurut Mommy, apa Davina akan benar-benar hamil?" tanya Lily penasaran - masih terus menatap gelas kosong itu.

"Dari nilai 100. Mommy beri nilai 25."

Lily mengangguk setuju. Lagi-lagi sudut bibir merah Roxanne menyeringai aneh, bahkan Lily pun mengerutkan kening ketika melihatnya. Ada maksud lain tersembunyi dari Roxanne.

Setidaknya aku telah membuktikan satu hal. Mengingat Davina menyanggupi tantangannya, itu artinya dia masih hilang ingatan. Aku bisa bernapas lega untuk saat ini.

Sementara di balik dinding lainnya. Wanita muda itu menatap lekat satu bungkus pil kapsul di tangannya. Kemudian bibirnya menyeringai - tak kalah dari seringaian Roxanne.

Pil inilah yang akan mengantarkanmu ke penjara Roxanne. Kau tak bisa mengelak lagi dengan bukti ini.

 

 

 

*This Is Your Baby*

 

 

 

"Vina? Kau sudah tidur?" Mario membuka pintu kamar. Didapatinya kamarnya dalam keadaan gelap. Namun kembali hidup secara otomatis ketika kakinya mulai melangkah lebih jauh lagi ke dalam.

"Vin---"

"Riooo."

Mario membelalak. Siap tak siap dirinya ketika mendapati Davina melompat memeluknya ala Koala. Melingkarkan kedua tangan ramping itu di lehernya, sementara kedua kaki ramping itu melilit erat di pinggang kokohnya.

"Astaga! Kau mengejutkanku, Vina." Dengan sigap Mario melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Menopang tubuh Davina sepenuhnya - agar tak jatuh.

Deru napas Davina begitu terdengar jelas di telinga Mario ketika Davina mendekatkan bibirnya di indera pendengarannya.

"Rio! Aku ingin hamil!"

Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.

Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

 

 

 

 

1
TongTji Tea
tinggal baca aja pada protes .Heran gw sama reader NT ini .Mau yang sat set langsung jebrat jebret jangan baca novel tsaay .cerpen aja .paling cuma 2 halaman kelar .
Ani Jaja
ga ada bosennya, biar di ulang terus jg, bacanya
💟노르 아스마💟
Luar biasa
Netti Irawati
ngak suka ...terlalu kasar , boleh menghukum tp ngak kasar juga
Netti Irawati
kebanyakan teka teki nya ...
Airin Moo
😂😂😂😂
hersita maharani
Luar biasa
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Rose//Rose//Heart/
Anita noer
bikinx kurang panas thor
Anita noer
very cool....proof it
Anita noer
read again for fourth time...and still enjoy it
Anita noer
always cool....tpi kok skr ga pernah nulis lg d noveltoon sih thor
Dafila Nurul
bagus ceritanya
bunda DF 💞
bagus ceritaanya
Rose_Ni
udah ingat ini
Rose_Ni
ravi sadboy
Rose_Ni
the making of Baby El diskip otor
Rose_Ni
gak capek emang bohong terus
Rose_Ni
Yes!!!
Rose_Ni
wow😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!