NovelToon NovelToon
Wali Kota Dunia Lain

Wali Kota Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Penyeberangan Dunia Lain / Barat
Popularitas:18.8k
Nilai: 5
Nama Author: medy

Rayyan, anak yang bercita-cita menjadi seorang Wali Kota. namun cita-citanya harus terhenti saat ia menderita sakit keras. selama hidupnya kemudian ia jalani di tempat tidur rumah sakit, sampai ia meninggal dunia.

namun setelah ia meninggal ia hidup kembali di sebuah dunia baru yang tak pernah ia pikirkan.

sihir, dunia yang dapat menggunakan sihir. di dunia yang ajaib itu, Rayyan di berkahi sihir terkuat Yaitu akses ke Toko Online antar dimensi.

dengan kekuatan nya ini ia berusaha mewujudkan mimpinya untuk menjadi wali kota.

ia juga mendapat kan teman baru, Seorang ELF CANTIK, DWARF, MANUSIA SETENGAH HEWAN BAHKAN SEKOR NAGA.

namun hidup di dunia baru yang penuh dengan konflik tidaklah mudah. Rayyan di hadapkan dengan kesulitan dan permasalahan pelik seperti penghianatan, perbudakkan dan tentu para penjahat sihir yang sangat kejam.

salah satu tantangan terberat Rayyan adalah saat ia harus bertarung dengan 6 Dark Magic.

bagaimana keseruan petualangan Rayyan yang penuh aksi dan F

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bangsawan Korup

Rapat bersama Kerajaan Helion meninggalkan perasaan campur aduk di hati Rayyan. Meski permintaan mereka menggugah sisi kemanusiaannya, Rayyan tahu keputusan ini bukan hanya soal membantu Helion, tetapi juga bagaimana menjaga keseimbangan dan kestabilan Kota Cahaya. Apa yang tampaknya murni, sering kali diselimuti oleh kabut niat tersembunyi.

Beberapa minggu berlalu, dan proyek pembaruan Kota Cahaya mulai menunjukkan hasil nyata. Namun di tengah aktivitas pembangunan, Rayyan menerima kabar dari seorang pengintai yang ia kirim ke Benua Timur, wilayah tempat Holly Stone berdiri.

“Kapten, ini laporan dari tim pengintai,” ujar salah satu petugas saat menyerahkan gulungan laporan. Rayyan membuka gulungan itu dengan alis mengerut. Tulisan tangan di dalamnya menggambarkan pemandangan yang kelam.

Holly Stone adalah tempat penuh kemegahan di permukaan, namun di baliknya tersimpan penderitaan yang tak terkatakan. Bangsawan hidup dalam kemewahan sementara rakyat jelata direndahkan dan dipaksa bekerja keras untuk membayar pajak yang tinggi. Kekaisaran Suci memiliki cengkeraman kuat atas wilayah ini, menggunakan para bangsawan sebagai boneka untuk mempertahankan kekuasaan mereka.

Rayyan menghela napas dalam, lalu menyerahkan gulungan itu kepada Yeppo dan Cebol, yang duduk di seberangnya.

“Kita harus pergi ke sana,” kata Rayyan tegas.

Cebol menatapnya dengan mata lebar. “Ke Holly Stone? Kapten, itu tempat yang nggak main-main. Bangsawan di sana nggak cuma korup, tapi mereka juga terkenal licik. Kalau mereka tahu kita berniat mengusik sistem mereka, habislah kita.”

Yeppo mengangguk setuju. “Dan jangan lupa, Holly Stone berada di bawah pengaruh Kekaisaran Suci. Kalau kita bertindak sembarangan, bisa-bisa Kota Cahaya jadi target serangan besar-besaran.”

“Tapi kita nggak bisa membiarkan rakyat di sana terus menderita,” jawab Rayyan dengan nada penuh tekad. “Apalagi jika bangsawan di sana terlibat dengan eksploitasi batu sihir. Aku yakin Holly Stone memegang sesuatu yang penting bagi kekaisaran, sesuatu yang mungkin bisa menjadi kunci untuk melawan mereka.”

Purple, yang sejak tadi diam di pojok ruangan, akhirnya angkat bicara. “Rayyan benar. Kita harus bertindak, tapi dengan rencana yang matang. Jika tidak, kita akan kehilangan lebih banyak daripada yang kita dapatkan.”

Perjalanan ke Holly Stone dimulai dengan keheningan yang penuh ketegangan. Di sepanjang perjalanan, Rayyan, Cebol, Yeppo, dan Purple melewati desa-desa kecil yang terlihat terlantar. Rumah-rumah reyot dengan atap berlubang menjadi tempat tinggal bagi para keluarga yang terlihat kurus dan tak terawat. Anak-anak berlarian tanpa alas kaki, sementara para orang dewasa memandang rombongan mereka dengan tatapan kosong.

“Kita baru melewati tepiannya saja, dan ini sudah terlihat parah,” gumam Yeppo, menggenggam buku catatannya erat-erat.

Rayyan berhenti sejenak, memandangi seorang pria tua yang duduk di tepi jalan dengan tubuh kurus kering. “Pak, apa Anda tahu apa yang terjadi di sini?” tanya Rayyan, mendekatinya.

Pria itu mengangkat wajahnya perlahan. Suaranya serak, hampir seperti bisikan. “Holly Stone... mereka mengambil segalanya. Ladang kami, tenaga kami... bahkan anak-anak kami. Pajak yang harus kami bayar terlalu tinggi. Kami... tidak bisa berbuat apa-apa.”

Rayyan mengepalkan tangan, lalu mengeluarkan sekeping koin emas dari sakunya dan memberikannya pada pria itu. “Pegang ini, Pak. Untuk makanan.”

Pria itu menatap koin emas tersebut dengan mata melebar. “Tuan... ini terlalu berharga. Aku tidak bisa menerimanya.”

“Tolong gunakan itu. Anda lebih membutuhkannya,” kata Rayyan tegas.

Cebol mendekat, menepuk bahu Rayyan. “Kapten, kalau kita terus begini di setiap desa, kita bakal bangkrut sebelum sampai di Holly Stone.”

Rayyan tersenyum kecil. “Biar saja. Kalau aku harus bangkrut demi membantu mereka, itu harga yang pantas.”

Saat mereka mendekati Holly Stone, suasana berubah drastis. Kota itu memang megah, dengan menara-menara tinggi yang berkilauan di bawah cahaya matahari. Jalan-jalan utama penuh dengan pedagang yang menjajakan barang-barang mewah, mulai dari permata hingga kain sutra. Tapi di balik jalan utama yang sibuk, lorong-lorong gelap penuh dengan gubuk-gubuk kumuh, tempat rakyat jelata berdesakan.

“Kita benar-benar di neraka yang tersembunyi di balik surga,” komentar Purple dengan nada dingin.

Mereka berhenti di sebuah penginapan sederhana di pinggiran kota untuk mengatur rencana. Rayyan memandang peta Holly Stone yang terhampar di atas meja kayu.

“Fokus utama kita adalah menemukan apa yang membuat kekaisaran begitu tertarik pada Holly Stone. Apakah itu sumber batu sihir, atau sesuatu yang lebih besar,” ujar Rayyan sambil menunjuk titik-titik penting di peta.

“Tapi kita harus berhati-hati,” tambah Yeppo. “Para bangsawan di sini tidak akan segan-segan membungkam siapa saja yang mereka anggap ancaman.”

Tiba-tiba, pintu penginapan terbuka, dan seorang wanita muda dengan pakaian lusuh masuk terburu-buru. Wajahnya penuh dengan kepanikan.

“Tolong... kalian harus membantu kami,” ujarnya dengan suara gemetar.

Rayyan menatapnya tajam. “Apa yang terjadi?”

“Anak-anak kami... mereka dibawa oleh penjaga bangsawan. Mereka bilang itu untuk ‘pembayaran tambahan’ karena kami tidak bisa membayar pajak bulan ini. Tolong, kalian harus menyelamatkan mereka!”

Ruangan itu menjadi sunyi sejenak. Lalu, Rayyan berdiri dan memasang ekspresi penuh tekad. “Kita tidak akan membiarkan ini terjadi. Kita akan membantu.”

Cebol mengangkat alis. “Kapten, ini jelas perang terbuka. Kita bisa jadi target besar kalau mulai campur tangan.”

Rayyan menoleh dengan tatapan serius. “Kalau kita tidak bertindak sekarang, apa gunanya kita ada di sini? Ayo siapkan rencana. Kita akan mengembalikan anak-anak itu kepada keluarga mereka, dan kita akan mulai membongkar kebusukan Holly Stone.”

Dengan rencana di tangan dan nyala api keberanian di hati, Rayyan dan timnya bersiap untuk menghadapi sisi gelap Holly Stone. Konflik baru telah dimulai, dan langkah pertama mereka menuju Holly Stone adalah awal dari perjalanan panjang untuk menghadapi kekaisaran suci yang berdiri di puncak korupsi.

***

Langit senja menyelimuti Holly Stone, menambah keindahan yang menipu. Menara-menara menjulang dengan dinding-dinding putih berkilauan, sementara lampu-lampu mulai menyala, memantulkan cahaya ke jalan berbatu yang licin. Namun, bagi Rayyan dan timnya, keindahan ini hanyalah topeng bagi kejahatan yang tersembunyi.

Wanita muda yang meminta pertolongan, memperkenalkan dirinya sebagai Mariya, membawa mereka ke lorong belakang penginapan. Dengan suara pelan dan penuh waspada, ia mulai menjelaskan.

“Anak-anak itu dibawa ke sebuah gudang di ujung utara kota. Katanya, tempat itu adalah bagian dari pajak tambahan. Tapi saya tahu mereka tidak akan kembali. Bangsawan di sini sering menjual mereka ke Kekaisaran Suci sebagai buruh paksa, bahkan beberapa dijadikan eksperimen untuk batu sihir.”

Rayyan mengepalkan tangannya. Kata-kata Mariya membakar amarah di dalam dirinya. “Berapa banyak anak yang mereka bawa?”

Mariya menunduk, suaranya hampir seperti bisikan. “Enam... termasuk adikku.”

“Enam anak... hanya karena mereka tidak bisa membayar pajak?” gumam Yeppo dengan nada tidak percaya. Ia memandang Rayyan, yang tampak terdiam, berpikir dalam-dalam.

“Apa penjaga mereka bersenjata berat?” tanya Purple dingin, matanya memancarkan ketajaman seorang taktis.

Mariya mengangguk. “Ya, ada beberapa penjaga di sana. Mereka membawa pedang, tombak, dan beberapa senjata api. Saya tidak tahu pasti jumlahnya.”

Cebol mendengus, mencoba menyembunyikan rasa takut di balik candaan khasnya. “Wah, ini bukan main-main lagi, Kapten. Kita nggak bisa menyerang mereka dengan tangan kosong.”

Rayyan mengangkat tangan, menghentikan omongan Cebol. “Kita tidak akan menyerang secara terang-terangan. Kita perlu rencana, sesuatu yang cepat dan efisien. Ini bukan hanya soal menyelamatkan anak-anak itu, tapi juga mengirim pesan kepada bangsawan di sini bahwa mereka tidak bisa terus bertindak seenaknya.”

Purple mengangguk. “Setuju. Tapi kita perlu tahu lebih banyak tentang gudang itu sebelum bergerak. Mariya, apa kamu bisa membawa kami ke sana tanpa menarik perhatian?”

Wanita itu tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. “Saya tahu jalan pintas yang tidak diawasi. Tapi kalian harus berhati-hati. Penjaga sering berpatroli, bahkan di sekitar lorong-lorong sempit.”

Rayyan menghela napas. “Baik. Mariya, tunjukkan jalan. Yeppo, kamu bawa peta ini dan buat catatan soal posisi penjaga. Purple, Cebol, kita akan menyelinap masuk dan mencari celah untuk menyelamatkan anak-anak itu.”

Perjalanan menuju gudang dipenuhi ketegangan. Lorong-lorong sempit di belakang gedung-gedung megah Holly Stone menjadi jalur utama mereka. Bau sampah dan kotoran menyengat hidung, berbeda jauh dari aroma wangi bunga dan rempah yang menghiasi jalan utama.

“Kota ini seperti dua dunia yang berbeda,” gumam Yeppo sambil mencatat sesuatu di buku kecilnya. “Di satu sisi, ada kemewahan yang mencolok, tapi di sisi lain, kemiskinan begitu nyata.”

Cebol, yang berjalan di belakang, berbisik pelan. “Aku nggak ngerti, kenapa orang-orang di sini nggak memberontak aja? Kalau semua bersatu, pasti bisa menghancurkan bangsawan itu.”

Mariya menjawab dengan suara rendah. “Karena mereka takut. Kekaisaran Suci punya tentara yang bisa menghancurkan desa-desa dalam sekejap. Bangsawan di sini hanya boneka, tapi mereka punya kekuasaan untuk menindas siapa saja yang melawan.”

Rayyan mendengar penjelasan Mariya sambil terus berjalan. Ia merasa muak. Ia pernah melihat ketidakadilan sebelumnya, tapi apa yang terjadi di Holly Stone terasa seperti luka yang terus terbuka.

Setelah berjalan hampir satu jam, mereka tiba di sebuah gang gelap yang berujung pada gudang besar dengan pintu besi yang dijaga dua pria bersenjata. Lampu minyak yang redup menerangi area itu, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding.

Rayyan berjongkok, memeriksa situasi bersama Purple dan Yeppo. Sementara itu, Cebol menjaga Mariya di belakang, memastikan mereka tidak terlihat.

“Dua penjaga di pintu utama,” bisik Purple, matanya tajam mengamati setiap gerakan. “Tapi aku yakin ada lebih banyak di dalam. Tempat ini terlalu besar untuk dijaga hanya dua orang.”

Yeppo membuka peta yang ia gambar sambil berbisik pelan. “Ada jendela kecil di sisi timur. Mungkin kita bisa masuk lewat sana tanpa ketahuan.”

Rayyan mengangguk. “Bagus. Purple, kamu dan Yeppo akan masuk lewat jendela itu. Cari tahu apa yang ada di dalam. Cebol, kamu tetap di sini dengan Mariya. Kalau sesuatu terjadi, buat suara untuk mengalihkan perhatian.”

Cebol tampak ingin protes, tapi ia tahu ini bukan waktunya untuk bercanda. “Baik, Kapten. Tapi kalau aku ketahuan, kamu yang tanggung jawab ya.”

Rayyan tersenyum tipis. “Selalu.”

Purple dan Yeppo menyelinap menuju jendela kecil di sisi timur gudang. Dengan gerakan lincah, Purple memanjat dinding dan membantu Yeppo naik. Dari jendela kecil itu, mereka bisa melihat isi gudang.

Ada enam anak yang duduk di lantai, diikat dengan tali di tangan dan kaki mereka. Mereka tampak ketakutan, mata mereka basah oleh air mata. Di dekat mereka, ada tiga penjaga lain yang sedang berbicara sambil tertawa. Salah satu dari mereka memegang sebuah buku catatan, mencatat sesuatu yang tampaknya daftar barang atau nama-nama.

“Ini lebih buruk dari yang kita kira,” bisik Yeppo.

Purple mengangguk. “Kita harus segera bertindak. Tapi kalau kita gegabah, anak-anak itu bisa dalam bahaya.”

Yeppo menarik napas dalam. “Kita harus melaporkan ini ke Kapten.”

Rayyan mendengar laporan mereka dengan penuh perhatian. Matanya menyipit, memikirkan langkah berikutnya. “Baik. Ini rencananya. Purple, kamu dan aku akan masuk dari jendela itu dan melumpuhkan penjaga di dalam. Yeppo, kamu akan menunggu di luar untuk membawa anak-anak itu keluar setelah aman. Cebol, kamu akan mengalihkan perhatian penjaga di pintu utama. Buat mereka meninggalkan pos mereka.”

Cebol mengangguk, meski wajahnya menunjukkan rasa cemas. “Baik, Kapten. Kalau aku gagal, tolong jangan lupa untuk mencatat namaku di buku sejarah.”

Rayyan menepuk bahunya. “Kamu akan baik-baik saja, Cebol. Ingat, ini untuk mereka.”

Rencana pun dimulai. Cebol, dengan kepiawaiannya dalam menciptakan kekacauan, mulai membuat suara ribut di dekat pintu utama, membuat penjaga di sana keluar untuk memeriksa. Begitu mereka pergi, Purple dan Rayyan menyelinap masuk lewat jendela.

Di dalam, mereka bergerak cepat namun senyap. Purple melumpuhkan salah satu penjaga dengan pukulan di tengkuk, sementara Rayyan menghadapi dua penjaga lainnya. Pertarungan berlangsung singkat namun intens, hingga akhirnya mereka berhasil mengalahkan ketiga penjaga tanpa menarik perhatian tambahan.

“Cepat, bebaskan anak-anak itu,” perintah Rayyan.

Purple segera memotong tali yang mengikat anak-anak itu, sementara Yeppo masuk untuk membawa mereka keluar satu per satu. Anak-anak itu terlihat bingung, tapi Mariya yang menunggu di luar mencoba menenangkan mereka.

Saat mereka semua berhasil keluar, Rayyan menatap gudang itu untuk terakhir kalinya. “Ini belum selesai. Bangsawan di sini akan membayar atas apa yang mereka lakukan.”

Purple mengangguk. “Tapi untuk saat ini, kita sudah menang satu langkah.”

Dengan langkah-langkah hati-hati, mereka meninggalkan tempat itu, membawa anak-anak kembali ke keluarganya. Tapi di hati Rayyan, ia tahu ini hanyalah awal dari konflik besar yang menanti mereka di Holly Stone. Sesuatu yang lebih gelap dan berbahaya sedang menunggu, dan mereka harus siap menghadapi apa pun yang datang.

1
Medy Deka Pratama
makasih saranya ayano
Ayano
Konsepnya unik. Cukup Bagus untuk isekai karena mirip nonbiri nouka 🤣🤣
Semangka ya
Ayano
Dark Magic kayaknya wak. Coba ganti megic pakai magic biar bagus
Ayano
Aku tungguin balasannya 🤣🤣🤣
Ayano
Kapan lagi ada sihir kayak gitu di sana coba😏😏
Ayano
😅 kambing
Ayano
Jiiir, isekai ampe ada indomie🤣🤣🤣
Ayano
Butuh latihan khusus buat bisa mengendalikannya
Ayano
Fix beracun
Kang Kuli
itu bisa buat beli indomie berapa dus itu
Ayano
Ngakak banget 🤣🤣🤣
Malah ngeluarin suara kambing
Tanda kekecewaan tingkat tinggi
Ayano
Menang banyak!!!
Rayyan menang banyak 🤣🤣🤣
Ayano
Jiiir
Yang diliat gituan malah 😅
Gawat ini
Ayano
kok tiap kali aku baca cebol jadi ngakak 🤣🤣🤣
Ayano
Boleh minta gak 😳😳
Kaya dah akoh langsung
Ayano
Ya allah wak
Kan emang pendek dwarf itu 🤣🤣🤣
Aku nelangsa denger dia dikasih nama cebol terus
Ayano
Ngakak jiir
Lagian manggilnya cebol 🤗🤣
Ayano
Yah... itulah hidup. Kalo di perkotaan pasti mahal semua
Ayano
E ya jan gitu juga
Ayano
Berasa jleb yak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!