Nicholas Alistair adalah definisi dari bahaya yang memikat. Seorang Boss Mafia kelas kakap dengan kerajaan yang dibangun di atas ketakutan dan baja. la dingin, kejam, dan memiliki segalanya-kecuali hati. Hidupnya sempurna di bawah kendali, hingga ia harus melakukan perjalanan ke pelosok desa terpencil untuk menyelesaikan urusan bisnis yang berdarah.
Di sanalah ia bertemu Rania
Rania, si gadis desa dengan pesona alami yang polos dan lugu, memiliki keindahan yang memabukkan. Postur tubuhnya yang ideal bak gitar spanyol adalah magnet yang tak terhindarkan, membuat mata Sang Don tertuju padanya. la adalah bunga liar yang tumbuh di tempat yang salah, dan Nico, Sang Penguasa Kota, memutuskan ia harus memilikinya.
Apa yang dimulai sebagai obsesi, perlahan berubah menjadi hasrat yang membara. Nico menarik Rania dari kehidupan sederhananya, memaksanya
masuk ke dalam sangkar emas yang penuh intrik, kekayaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aretha_Linsey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 Di Tepi Jurang
Udara Malta yang dingin dan lembap menerpa wajah Nicholas, tetapi amarahnya yang membara jauh lebih panas daripada cuaca dingin itu. la tidak lagi bergerak seperti seorang Don yang dikawal, melainkan sebagai
mesin pemburu yang sangat terampil. Rompi anti peluru terselip di balik kemejanya, dan dua pistol di tangannya terasa familiar dan mematikan.
Di dalam jet, Rania menyaksikan Nicholas menghilang ke dalam kegelapan. Ia ingin menarik Nicholas kembali, tetapi ia tahu perannya sekarang adalah mata suaminya.
"Gio fokus pada Marco, " perintah Rania, suaranya tegas.
"Di mana posisi Marco? Dia terluka parah?"
Gio, yang pucat pasi, segera melacak pergerakan Nicholas yang cepat di peta termal.
"Nicholas bergerak terlalu cepat, Nyonya! Dia seperti
bayangan! Marco dan dua agennya berlindung di sisi barat. Saya melihat darah di bahunya.."
"Kirim pesan ini ke earpiece Nicholas sekarang: Generator Timur. Matikan Lampu." perintah Rania.
Ini adalah strategi yang ia pelajari dari Nicholas; menggunakan kelemahan musuh untuk menciptakan
kekacauan.
Nicholas menerima pesan itu saat ia bergerak di balik tumpukan kontainer. Sebuah senyum tipis pertama sejak Vito muncul melewati bibirnya. Ratu tidak hanya menunggu di istana, ia juga memberikan strategi yang sempurna.
Ia menembak generator itu dua kali dengan cepat dan akurat
DUAR!
Lampu neon di seluruh gudang padam, digantikan oleh kegelapan pekat dan lampu darurat merah yang menyeramkan.
"Serangan balasan!" teriak Dimitri dari dalam gudang, panik.
"Gunakan kesempatan ini, Marco, " balas Nicholas melalui komunikator.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Prioritas: Amankan Armando dan keluar!"
Nicholas muncul dari balik bayangan, bergerak cepat dan mematikan. Ia menembak dua kali ke arah kelompok Dimitri, memicu kekacauan. Namun, cara ia menembak berbeda. la tidak menargetkan dada. la menargetkan lutut.
DOR! DOR
Dua pria Dimitri langsung ambruk, jeritan mereka terpotong oleh rasa sakit yang luar biasa. Nicholas kemudian menembak lengan pria ketiga. Ia menembak bukan untuk membunuh, melainkan untuk melumpuhkan
secara permanen, menjatuhkan musuh tanpa memberi mereka kematian yang cepat. Ini adalah pesan, pesan teror.
Rania menahan napas. Ia melihat kilatan tembakan Nicholas dilayar termal. Ia melihat tiga titik merah bergerak tak berdaya.
"Dia... dia tidak membunuh mereka, " bisik Rania, kaget.
"Dia melumpuhkan mereka."
"Dia menciptakan teror, Nyonya, " jelas Gio, matanya terpaku.
"Dia ingin mereka tahu bahwa mereka akan menderita, bukan mati. Ini cara Don bermain, dia seperti.. psikopat terorganisir."
Meskipun rasa ngeri menyelimuti Rania, ada pula gelombang kebanggaan yang mengalir deras. Kemampuan Nicholas dalam mengubah medan perang dan mental musuh dalam hitungan detik sungguh luar biasa. Inilah suamiku, pikir Rania, dia adalah monster, tapi
monsternya adalah milikku.
Sementara Nicholas sibuk menyebarkan teror di lantai dasar, Marco dan timnya berhasil mendobrak pintu kantor di lantai dua. Armando terikat di kursi.
Saat Marco menuntun Armando keluar dari kantor, tiba tiba cahaya senter yang kuat menyinari wajah mereka dari lorong. Vito berdiri di sana, di ambang pintu, membawa senapan otomatis.
"Aku tahu Nicholas tidak sebodoh itu untuk masuk ke kamar ini, " kata Vito, suaranya tenang dan penuh kemenangan.
"Tapi aku tidak perlu membunuhnya. Aku hanya perlu membunuh kesetiaannya."
DOR! DOR!
Dua peluru Nicholas menembus dinding di belakang Vito, nyaris mengenai kepala Vito.
Vito berbalik, matanya menyipit marah. Ia melihat Nicholas berdiri di tengah kegelapan, pistolnya masih berasap.
"Kau berani, " desis Vito.
Nicholas tidak menjawab. la hanya berjalan maju perlahan, meninggalkan bayangan di belakangnya. Ia menembak satu orang Dimitri lagi, kali ini di bahu, sambil terus bergerak.
"Luca mengirimmu, " kata Nicholas, suaranya terdengar datar namun mengandung janji siksaan yang mengerikan.
"Kau pikir kau bisa menguasai wilayahku dengan sampah yang bersembunyi di dalam rumahku?
Vito tertawa.
"Luca adalah kejeniusan, Nicholas. Dia melihat apa yang
tidak bisa kau lihat, betapa rapuhnya kerajaanmu karena kau terlalu terobsesi dengan gadis desa itu!"
Nicholas berhenti bergerak. Matanya yang gelap memancarkan kemarahan murni. Ia tidak menjawab penghinaan itu dengan kata kata.
Ia mengangkat pistolnya, mengarahkannya ke kaki Vito. Namun, alih alih menembak Vito, Nicholas menembak dinding di belakang Vito, tepat di katup pipa air utama.
Air bertekanan tinggi menyembur deras, membanjiri lorong. Vito terkejut, visinya terhalang oleh semburan air dan asap yang tercipta dari uap air yang mengenai pipa panas.
"Marco, sekarang!" teriak Nicholas, sambil menggunakan tembakan air itu sebagai penyamaran.
"Sialan kau, Nicholas!" teriak Vito, sambil menembak membabi buta ke arah semburan air.
Marco segera menyeret Armando dan dua agennya melarikan diri menuruni tangga besi ke lantai dasar. Nicholas, bergerak cepat, berhasil menghindari tembakan Vito, lalu menghilang ke dalam labirin peti kemas.
Ia telah berhasil menyelamatkan Armando, membebaskan Marco, dan membuat kekacauan total. Namun, Vito masih lolos, dan pengkhianat bernama Luca masih hidup.