Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk kerja setelah menjadi istri dadakan
Pukul 06.15 pagi, rumah keluarga Pradipta sudah seperti pasar.
Bu Ratna mondar-mandir sambil membawa termos teh, pembantu rumah sibuk mengatur meja sarapan, sementara Pak Surya duduk menonton berita.
Cantika turun dari tangga pelan-pelan, rambut dikuncir sederhana, mengenakan seragam kurir warna biru, sepatu yang sama ketika ia nyasar beberapa hari lalu.
Begitu melihat Cantika turun, Yoga langsung menghentikan gerakan mengaduk kopinya.
“Cantika…”
Nada suaranya seperti melihat anak kecil yang mau berangkat sekolah.
Cantika mengerutkan kening. “Apa?”
Yoga bangkit, berjalan mendekat sambil memperhatikan penampilan Cantika dari atas sampai bawah. “Kamu beneran mau pakai tas itu?”
Cantika menatap tas ransel lusuhnya. “Memang kenapa?”
“Itu kayak tas yang… sudah perang lima kali.”
“Ya iya, kan tasnya murah, mas. Aku belum gajian.”
Yoga mengusap pelipis. “Nanti aku beliin tas baru.”
“Nggak usah. Ini masih bisa dipake.”
“Kamu kalau kerja bawa paket, tasnya harus kuat.”
“Mas, yang penting hatinya kuat.”
Yoga menghela napas lelah. “Cantika…”
“Hm?”
“Kamu nggak bisa debat di pagi hari. Aku belum kuat.”
Cantika justru cekikikan.
Sarapan Penuh Drama Kecil
Bu Ratna mendekat sambil tersenyum lebar. “Nak Cantika cantik banget hari ini. Seragamnya cocok di kamu.”
Cantika tersipu malu. “Aduh, Ibu, biasa aja… ini cuma seragam.”
Pak Surya ikut mengangguk. “Kerja itu bagus, nak. Biar kehidupan rumah tangga kalian makin mantap.”
Yoga tersedak.
Cantika hampir menjatuhkan roti.
“P-Pak… rumah tangga kami baru dua hari…” Cantika protes lirih.
Pak Surya tertawa. “Justru itu. Harus semangat dari awal.”
Yoga menunduk sambil minum air, wajah memanas.
Cantika ikut tersipu, mencubit ujung baju seragamnya sendiri.
Sebelum suasana makin bikin salah tingkah, Yoga berdiri.
“Ayo berangkat.”
Cantika mengangkat tangan. “Aku naik angkot aja.”
Yoga memelotot. “Kamu pikir aku akan membiarkan istriku naik angkot?”
“Kenapa? Angkot bagus kok.”
“Kamu kemarin nyasar. Jadi jawabannya tetap: nggak.”
“Mas Yoga, aku udah hafal jalan!”
“Nama jalan?”
“…yang lurus itu, belok kiri, yang ada warungnya itu…”
“Cantika.”
Yoga menatapnya datar.
“Ya sudah, ya sudah, aku ikut kamu,” gumam Cantika akhirnya pasrah.
Bu Ratna langsung berseru bahagia, “Tuh kan! Pengantin baru harus berangkat bareng!”
Cantika menutup wajah dengan kedua tangan.
Yoga cuma geleng-geleng sambil nyengir.
Perjalanan Pagi – Guyon Tipis-tipis
Di mobil, suasana agak canggung. Cantika menatap ke luar jendela, sedangkan Yoga fokus menyetir. Musik pelan mengisi keheningan.
“Jadi,” kata Yoga tiba-tiba, “kamu bakal cerita ke teman-teman kerja soal kita?”
“Ya pasti lah, . Orang aku datang-datang pasti ditanyain,” sahut Cantika sambil memainkan resleting tasnya.
“Terus kamu jawab apa?”
Cantika berpikir sebentar. “Aku jawab jujur: aku menikah.”
Yoga melirik. “Sama siapa?”
“Ya sama kamu.”
Yoga tersenyum kecil. “Kedengerannya aneh ya? Kamu istri aku.”
Cantika langsung menegang. “…Aku masih nggak biasa dengernya.”
“Tapi kamu istri aku,” ulang Yoga, suara lembut tapi tegas.
Cantika menoleh dan menemukan mata Yoga menatapnya.
Ada sesuatu yang berubah.
Yoga tidak lagi terlihat seperti laki-laki yang cuma pasrah dijodohkan darurat.
Ia… terlihat seperti suami beneran.
Wajah Cantika memanas. “Jangan bilang gitu sambil nyetir… aku jadi deg-degan.”
Yoga tertawa. “Kalau kamu deg-degan, berarti hati kamu aktif.”
“Mas Yoga! Apa sih itu??”
“Doktrin suami.”
“Mas!”
Yoga tertawa lebih keras, Cantika merajuk sambil memukul pelan dashboard.
Tiba di Tempat Kerja
Mobil berhenti di depan gedung usaha katering tempat Cantika dulu sering membantu Rani. Rekan-rekan kerjanya sudah ramai di luar, beberapa sedang mengangkut boks makanan.
Begitu Cantika turun dari mobil,
SEMUA ORANG MEMBALIKKAN BADAN.
“Eh—Cantika??”
“Itu… Cowok ganteng di mobil siapa??”
“Pacar baru?!”
Yoga ikut turun, dan mereka makin heboh.
“ANJIR SUAMINYA KAYAK AKTOR!”
“CANTIKA KOK KAMU DIAM-DIAM BERKEMBANG?!”
“INI COWOKNYA RAPIH BANGET, BOS NIH?”
Cantika pengin hilang dari bumi. “Astaga kalian jangan gitu, ih!”
Reva, temannya, keluar dengan mata membelalak.Reva adalah teman kerjanya yang dekat dengannya selain Rani ,dan terkenal paling heboh .
“CANTIKA. KAMU. MENIKAH???”
Cantika tersipu. “Ehehe… iya…”
Yoga menunduk sopan. “Perkenalkan, Yoga Pradipta. Suaminya Cantika.”
teriak.
“SUAMI?!?!?!”
Teman-teman lain ikut heboh.
“CANTIKA DARI KURIR JADI NYONYA!”
“REZEKI NGGAK ADA YANG TAHU!”
“GILA GANTENG BANGET SUAMINYA!”
Cantika menutupi wajah.
Yoga cuma tersenyum tipis, tapi matanya jelas menikmati kerepotan Cantika.
Reva mendekat dan memelototkan mata ke Cantika. “GUE MAU CERITA LENGKAP MALAM INI,!"
“Eh jangan jauh-jauh dulu,” kata Yoga sambil memasukkan tangan ke saku, “Cantika masih rawan diculik orang.”
“WOI SUAMI SUKA GEMES BANGET!” teriak salah satu karyawan.
Cantika ingin menyeret Yoga kembali ke mobil dan menguncinya di sana.
Yoga akhirnya pamit. “Aku jemput nanti sore. Jangan kabur ke provinsi sebelah.”
“Tidak akan!” sahut Cantika kesal.
Setelah Yoga pergi, Reva langsung menarik lengan Cantika.
“CERITAIN SEMUAAA-NYAAAAA!”
Hari Kerja Dimulai
Cantika bekerja seperti biasa,mengemas kotak makanan, mengirim pesanan, mencatat data. Tapi semua orang masih bisik-bisik soal pernikahannya.
Setiap ia lewat, ada saja komentar:
“Gila suaminya keren banget.”
“Cantika menang banyak.”
“Yang mau ngirim paket aja bisa dapet suami sultan.”
“Aku besok mau kerja jadi kurir juga!”
Cantika cuma bisa garuk-garuk kepala sambil nyengir malu.
Sampai akhirnya, Reva mendekat sambil memegang clipboard.
“Gue sumpah ya… lo kayak main sinetron,” katanya sambil menatap Cantika dari atas sampai bawah. “Lo kemarin kabur dari pernikahan paksa, terus salah alamat, terus jadi istri orang kaya… CANTIKA, ini hidup apa spin-off drama Korea?”
Cantika menghela napas. “Gue juga bingung. Semua terjadi cepat banget.”
Reva menyenggol lengannya. “Tapi lo kelihatan bahagia.”
Cantika terdiam.
Bahagia?
Ia belum memikirkannya.
Tapi kalau diingat-ingat…
Yoga selalu perhatian, sabar, melindungi, dan… menyenangkan. Bahkan candaan recehnya pun bikin Cantika ketawa.
“Heh!” Reva menggoyang tubuhnya. “Jangan senyum-senyum sendiri!”
“A-aku nggak senyum!”
“Kamu SENYUM!”
Cantika memukul bahu Reva pelan. “Ih jangan keras-keras!”
Sore Hari — Jemputan Resmi
Pukul 16.45, seluruh karyawan bersiap pulang. Tiba-tiba mobil hitam Yoga datang perlahan di depan pintu masuk.
Semua orang langsung heboh lagi.
“SUAMINYA DATENG!”
“CANTIKA DI-ENTAR JEMPUT SUAMINYA!!”
“MATI GUE IRI BANGET!”
Cantika keluar sambil menutup wajah. “Ya ampun… kalian heboh banget!”
Yoga turun dari mobil, berdiri bersandar santai di pintu. “Kerjanya capek?”
Cantika mengangguk. “Lumayan. Banyak pesanan.”
Yoga mengambil tas Cantika, memakainya di bahunya. “Ayo pulang.”
“Mas , aku bisa—”
“Aku suami kamu.”
“Tapi—”
“Titipan ibu kamu.”
“Ibuku udah meninggal!”
“Nah itu dia, titipan mertua.”
CANTIKA MEMUKUL LENGANNYA.
Karyawan-karyawan di belakang mereka sudah nggak jelas lagi.
“Mampus ini suami paling gemes sedunia.”
“Gue harus nambah amal biar kayak Cantika.”
Reva mendekat, menyenggol Cantika. “Sumpah ya, kalian estetik banget dilihat. Cepet pulang deh sebelum aku pingsan iri.”
Cantika memeluk Reva sebentar. “Besok lanjut kerja.”
“Besok lo cerita detilnya!”
Yoga mengangkat satu alis. “Detail apa?”
Reva menatap Yoga dengan senyum nakal. “Detail romantis semalam.”
Cantika langsung merah padam.
“REVA!!!”
Yoga tersenyum licik. “Memang semalam ada detail?”
“NGGAK ADA!” seru Cantika panik.
Yoga tertawa sambil membuka pintu mobil untuk Cantika.
Cantika naik sambil menutupi wajah.
Yoga lalu masuk dan menyalakan mesin.
Begitu mobil jalan, Yoga melirik tulus ke arahnya.
“Gimana hari pertama kerja sebagai istri aku?”
Cantika mengembus napas. “He… rame banget. Tapi seru.”
Yoga tersenyum kecil.
“Aku senang kamu tetap mau kerja. Dan… aku makin senang karena kamu makin terbiasa sama aku.”
Cantika mencicit. “Aku nggak mau terbiasa terlalu cepat.”
“Kenapa?”
“Takut.”
“Takut apa?”
Cantika memandang ke luar jendela.
“Takut suka.”
Yoga terdiam sejenak.
Kemudian suaranya rendah, hangat, dan perlahan.
“Kalau kamu suka aku… aku nggak akan lari, Cantika.”
Jantung Cantika hampir copot.
Dan perjalanan pulang terasa… terlalu singkat.
Karena keduanya… sedang diam-diam jatuh hati.