IG : Srt_tika92
Adrian Putra Haidar adalah Pria tampan berprofesi sebagai sutradara terkenal, dia pria yang memiliki banyak kekasih. Tidak sedikit wanita yang mengejarnya demi popularitas.
Dunianya berubah saat menikahi gadis cantik akan kesederhanaan nya yaitu Elsa yang baru di kenalnya. Pernikahannya terjadi karena suatu kesalahan.
Akankah pernikahan mereka berjalan semestinya?
Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka?
Ini karya ke 2 ku
Baca juga karya pertama ku yang berjudul Cinta Pertama Ceo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 Surga dunia
Sesampainya di cafe tempat bertemu janji dengan pemilik ruko, Umar mengitari pandangan sekitar mencari seorang pria yang telah menunggu kedatangannya, ternyata pemilik ruko itu sudah tiba terlebih dahulu. Sedangkan Karin mengekori Umar dengan tatapan yang fokus ke layar ponselnya.
" Pak Umar ya? " sapa seorang pria yang ternyata masih muda, mungkin seumuran dengan Umar.
" Iya saya, ini pak Sony? " tanya Umar untuk memastikan bahwa orang yang di carinya benar.
" Iya saya Sony. jangan panggil pak. panggil saya Sony aja, sepertinya kita seumuran. " ucap Sony, lalu mereka saling berjabat tangan.
" Panggil saya Umar saja. " ucap Umar, Sony tersenyum menanggapi Umar.
" Silahkan duduk. " Sony mempersilahkan Umar untuk duduk.
Sebelum duduk, Umar menoleh ke arah Karin yang masih asyik bermain dengan ponselnya. " Rin.. sini duduk. "
" Hah.. iya " Jawab Karin tanpa menatap ke arah Umar. " Udah ketemu orang nya? " tanya Karin.
" Udah nih, makanya jangan main hape terus. "
" Hehe.. seru lagi main candy crush " Karin segera meletakkan ponselnya ke dalam tasnya.
Sony menatap Karin dengan penuh kagum, gadis cantik yang telah duduk di depannya itu membuat dirinya terdiam tidak mendengar perkataan Umar yang sudah mulai bicara.
" Ehemm.. " Umar berdeham untuk memecahkan lamunan Sony, Umar sangat tau jika Sony menatap sang pujaan hati dengan penuh kagum.
" Aduh kenapa aku tadi ngajak Karin. sepertinya Sony tertarik sama Karin. "
Umar menoleh ke arah Karin. " Emang dia cantik banget sih, cowok mana coba yang gak tertarik ama dia. ahh beruntungnya aku. "
" Ayang beb, kok pada diem-dieman sih.. gak di mulai nih nego menegonya? " ucap Karin menyadarkan Umar dan Sony yang tengah memperhatikannya.
" Ehem. " Umar dan Sony berdeham bersamaan untuk menetralkan kecanggungan.
Umar dan Sony pun memulai membicarakan soal sewa menyewa ruko milik Sony. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka berdua mencapai kesepakatan.
Umar cepat-cepat ingin mengakhiri pertemuan mereka, karena Sony dengan terang-terangan menyampaikan ketertarikannya pada Karin meski tidak berbicara langsung, Umar bisa melihatnya dari tindakan Sony yang selalu memperhatikan Karin dan bertanya mengenai masalah pribadi Karin.
" Jadi sudah deal kan? " Umar berusaha memotong pembicaraan Sony yang sedang bertanya kepada Karin.
" Oh iya, besok saya anterin surat perjanjiannya. " ucap Sony, padahal dia sudah membawa surat mengenai surat perjanjian sewa menyewa rukonya. Tetapi dia memilih untuk menyerahkannya besok saja agar bisa bertemu lagi dengan Karin.
" Oke. besok saya datang ke tempat anda atau ke temuan lagi di cafe ini. "
" Oh gak usah, saya antarkan langsung ke restoran, "
Umar mengernyit heran. " Oh iya boleh. "
" Kalo gitu saya pamit dulu. " Umar berdiri lalu bersalaman dengan Sony, begitupun Karin.
Saat jalan menuju mobil, Umar terlihat masam diam seribu bahasa.
" Ayang beb, tungguin aku dong.. jalannya jangan cepet-cepet. " ucap Karin sembari menyamakan langkah Umar.
" Kok kamu diem aja sih... " kesal Karin.
*
Di dalam mobil Umar masih diam, Karin di buat bingung dengan diamnya Umar semenjak keluar dari cafe hingga saat ini sedang di perjalanan pulang pun Umar masih diam.
Karin menghela nafas dalam dan membuang muka ke arah jendela, di luar hujan sangat lebat langit pun terlihat menggelap karena mendung.
" Kamu gak akan ninggalin aku kan? " suara Umar terdengar memecahkan keheningan.
Karin menoleh tak percaya mendengar apa yang baru saja di katakan Umar. " Kok kamu tiba-tiba ngomong gitu sih? "
" Aku hanya takut kehilangan kamu. " jawabnya.
Karin membenarkan posisi duduknya agar menghadap ke arah Umar yang sedang mengemudi. " Jangan mikir yang aneh-aneh deh, mana mungkin aku ninggalin kamu. "
" Ya bisa saja. banyak di luar sana laki-laki yang mengharapkan kamu, yang lebih mapan dari aku, lebih segalanya dari aku. " ucap Umar, bayangan Sony terlintas begitu saja saat Umar mengatakan itu.
" Ayang.. kenapa jadi melo gini sih.. aku cinta kamu tulus apa adanya. gak peduli harta kekayaan kamu. " jelas Karin.
" Apa orang tua kamu bisa nerima aku apa adanya seperti kamu. " Umar.
Karin tertegun mendengar ucapan Umar, Karin teringat dengan pertanyaan mamanya yang menanyakan pekerjaan pacar barunya yang tidak lain adalah Umar.
Tidak adanya jawaban Karin membuat Umar menepikan mobilnya dan berhenti. Umar tau jelas jika kedua orang tuanya pasti keberatan mengenai status Umar.
Karin menoleh ke arah Umar, " Kenapa berhenti. "
" Rin. " kali ini Umar yang membenahi posisi duduknya menghadap ke Karin. " Kamu mau kan nunggu aku sampai sukses, aku janji gak bakal ngecewain kamu. " Umar memegang tangan Karin.
Karin tersenyum mendengar kata-kata Umar. " Iya aku akan nungguin kamu, ampe kamu bisa beli tas buat aku seperti apa yang kamu pernah bilang. " Karin terkekeh.
Umar tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Karin.
" Tapi jangan lama-lama ya! keburu kiamat, ntar aku gak sempet nikmatin surga dunia. " gerutu Karin.
" Surga dunia? bukannya dia udah pernah dengan mantan suaminya. " Umar menatap heran ke arah Karin.
" Kok malah bengong sih... "
" Eh.. iya.. iya.. tiga tahun ya, kasih aku waktu tiga tahun buat ngembangin usaha aku. " Umar.
" Yahhh... masih lama dong dapet kissnya.. " ucap Karin dengan pelan lalu melirik ke arah Umar. " Masa kiss dong nunggu ampe tiga taun. " lirihnya lagi.
Umar tersenyum kecil mendengar keluhannya Karin.
Perlahan Umar memajukan wajahnya, Karin yang melihat wajah Umar semkin mendekat segera mengerucutkan bibirnya dan menutup kedua matanya, dalam hati bersorak ria. " Asik dapet kiss dari ayang beb. "
Cup.
Umar mengecup kening Karin. tidak sesuai harapan Karin yang menginginkan ciuman di bibirnya.
Karin membuka matanya tanpa menetralkan bibirnya yang masih setia ia majukan.
Karin berdecak kesal, " Yahhhh... kirain! " cebik Karin.
Umar tergelak melihat Karin yang menggemaskan. Bukan Umar munafik tidak mau mencium Karin, apalagi Karin begitu cantik. Dia lelaki normal tentu sangat menginginkan hal itu, tapi Umar takut jika tidak bisa mengendalikan dirinya dan berbuat lebih.
" Rin, kita mampir dulu ya ke rumah. tadi Nisa titip pesen ambilin baju ganti dan ponselnya yang tertinggal. Gak papa kan? " ucap Umar.
" Hemm. " jawab Karin yang masih kesal.
Umar hanya menggelengkan kepalanya.
*
*
*
Bye.. bye..