Seorang gadis yang terjebak cinta satu malam bersama seorang pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berarti.......
Braylee tiba-tiba memijat pelipisnya, ia teringat dengan serangan orang-orang tadi. Ia semangkin khawatir memikirkan anak dan istrinya. Apa keputusanku membawa anak dan istriku untuk tinggal di sini, adalah keputusan yang tepat? Aku harus mencari cara untuk melindungi mereka berdua, aku tidak ingin anak dan istriku terluka, cukup Daddy yang terkorban akibat keserakahan mereka, aku tidak ingin ada lagi yang terkorban, apa lagi sampai itu adalah anak atau istriku, jika sampai itu terjadi, aku akan mencari mereka sampai ke lobang cacing sekalipun. Batin Braylee menatap istri dan putranya secara bergantian.
,,,
BUK! BUK! BUK!
Seorang pria memukuli anak buahnya kerana gagal membunuh Riana. "Bodoh! pekerjaan semudah itu saja kalian begitu tak bisa di andalkan," marah Monica, ternyata orang-orang tadi yang ingin membunuh Riana, adalah ulahnya.
"Maafkan kami Nona,"
"Bodoh! Kata Maafmu itu tidak berguna sama sekali" Monica mendengus kesal. "Kau hukum saja mereka semua ini" perintah Monica pada tangan kanan Papinya yang memukul beberapa anak buahnya tadi.
"Siap Nona"
Monica pulang ke rumah Papinya. Saat tiba di rumah Papinya, ia langsung berteriak memanggil ibu sambungnya dengan sangat kencang.
"DIANA!!!!"Teriak Monica memanggilnya.
Diana berlari kecil menghampiri Monica. "Iya Non?" Tanya Diana.
"BODOH!! Mana Papiku!!" Tanya Monica menarik rambut ibu sambungnya.
"S-sakit Nona ... Tuan Markus ada di kamar," jawab Diana menahan sakit pada kulit kepalanya.
"Cuih!" Monica meludahi wajah Diana. "Sampah" melepas kasar rambut wanita paruh baya itu, kemudian melangkah masuk naik ke lantai dua untuk mencari keberadaan Papinya.
"PAPI!!" Teriak Monica memanggil Papinya.
"Ada apa Monica, kenapa kau berteriak-teriak" Tanya Markus.
"Pi, kenapa anak buah Papi semuanya itu sangat bodoh! Satu wanita saja tidak bisa mereka bereskan!" Monica malah melepaskan kekesalannya pada Papinya.
"Apa maksudmu Monica? Wanita siapa yang kau maksud?" Markus memang belum mengetahui jika Braylee sudah menikah dengan seorang janda.
"Istri Braylee Pi, siapa lagi"
"Istri? Braylee sudah menikah?"
"Ck, apa saja yang Papi tahu, hal sebesar itu saja Papi tidak mengetahuinya."
"Papi memang tidak tahu Monica, jadi benar?Braylee sudah menikah? Bagaimana dia bisa menikah? Bukankah kau adalah tunangannya? Kenapa dia menikah dengan wanita lain,'' Markus juga ikut emosi saat mendengar kabar dari putrinya jika Braylee sudah menikah, tapi dia juga mustahil untuk mendatangi pria berdarah dingin itu, karena ia juga tak punya keberanian jika ingin menyerang Braylee secara terang-terangan.
"Papi tanyakan saja sama kekasih Papi itu, wanita bodoh! Bagaimana bisa dia malah menyuruh anaknya untuk menikah dengan wanita lain" ketus Monica.
"Cellin? Apa hubungannya dengan Cellin?"
"Lebih baik Papi tanyakan saja langsung padanya"
"Baiklah, nanti Papi akan menghubunginya, dan berbicara langsung padanya"
"Serah Papi." Melangkah keluar dari kamar Papinya.
,,,
Meja makan.
Braylle Riana dan putranya, serta monica dan mommynya. Sedang sarapan pagi. Tiba-tiba saja, monica merasa perutnya seperti di aduk-aduk.
Ia berlari cepat ke wastafel, dan memuntahkan semua makanannya.
"Uwekk Uwekk Uwekk" Monica muntah-muntah. Cellin menyusul pada Monica yang sedang muntah-muntah, sedangkan Braylee sama sekali tak peduli dengan wanita itu.
Riana menghentikan suapannya saat melihat Monica muntah-muntah di pagi hari. Apa dia sedang hamil? Jika benar dia hamil, berarti ...... Batin Riana menggantung ucapannya dalam hati, melihat ke arah suaminya yang berwajah santai.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Braylee menyadari pikiran kotor istrinya.