Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jayden Tak Berdaya
Berdiri di depan pintu kamar, Mayang, nenek Jayden menggeleng pelan. Di umur yang tak lagi muda, pakaiannya masih terlihat modis.
Rambutnya pendek dan sedikit mengembang, memakai kacamata bening kotak dan lipstik merah menyala, aura-aura old money, terpancar dari wajahnya.
Sementara Casey dan Jayden serempak bangkit berdiri dengan raut wajah panik luar biasa.
"Ini nggak seperti yang Nenek bayangkan," ucap Jayden menatap lurus ke arah Mayang. Sinar matanya yang biasanya memancarkan dingin berubah jadi lebih hangat sekarang.
Sedangkan Casey secepat kilat berlari kecil mendekati kasur Jayden hendak mengambil selimut, sambil menunduk malu.
"Jayden, kenapa kau nggak mengambilkan istrimu selimut!" Mayang justru mengabaikan perkataan Jayden. Wanita yang rambutnya sudah memutih itu malah memarahi Jayden.
"Nggak apa-apa Nek, sudah aman kok." Jayden hendak membuka mulut, tapi Casey seketika angkat bicara. Tubuhnya sudah ditutupi dengan selimut putih milik Jayden dan kini berdiri di dekat ranjang.
Mayang enggan menanggapi, malah melangkah cepat, menghampiri Jayden dengan mata melotot keluar.
Melihat tingkah Mayang, Casey mengerjap singkat lalu membatin sendiri.
'Lah mau diapain Jayden?'
"Dasar cucu kurang ajar kau ya! Nggak ada romantis-romantisnya kau sama istrimu hah!" Begitu di dekat Jayden, Mayang langsung berseru sambil menjewer telinga kanan Jayden seketika, kemudian menyeret cucunya itu ke arah Casey.
"Awh, sakit Nek!" Jayden mati kutu, tanpa melakukan perlawanan dia juga ikut bergerak.
"Sakit apanya?! Ini belum seberapa! Minta maaf kau sama istrimu sekarang!" Mayang menurunkan tangan, masih dengan mata melotot tajam.
"Atas dasar apa aku harus minta maaf sama dia Nek? Memangnya aku salah apa?" protes Jayden, melirik dingin Casey sekilas.
"Kau masih bertanya!" Mayang menjawil lagi telinga kanan Jayden hingga Jayden kembali menjerit kesakitan.
"Nek, lepaskan telingaku!" teriak Jayden.
"Nggak! Sebelum kau menyadari kesalahanmu dan meminta maaf sama istrimu!" balas Mayang, matanya makin melotot, tampak amat marah dan kali ini tangan sebelahnya pun bergerak, memukul-mukul lengan Jayden.
Bugh! Bugh! Bugh!
Jayden kembali berteriak kesakitan. Dan Casey malah menahan senyum. Sebab untuk pertama kalinya, melihat Jayden tak berdaya di hadapan seseorang. Jayden pun seperti anak kecil yang dimarahi mamanya.
'Syukurin, mampus kau! Ayo Nek pukul Nek bila perlu sampai babak belur!' Casey hanya dapat menyoraki Mayang di dalam hatinya sambil menikmati pemandangan langka di depan.
Kurang lebih lima menit, Mayang telah puas memukul Jayden. Dan sekarang, Jayden dan Casey duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk. Sementara Mayang berjarak satu meter dari kasur, berdiri di depan mereka sambil memandang tajam Jayden sejak tadi.
Sudah dua menit, ruangan sunyi dan senyap, seolah-olah tak ada makhluk hidup di kamar. Padahal ada tiga manusia dengan isi pikiran berbeda-beda.
Casey dan Jayden diam-diam melirik sinis satu sama lain sesekali.
'Ini semua gara-gara kau! Kau pasti yang merencanakan semua ini!' kata Jayden dalam hati sambil melirik Casey.
'Hah? Memangnya apa yang aku rencanakan!' Casey pun membalas dalam hatinya juga, seraya melirik sinis Jayden.
Meskipun keduanya berkata di dalam hati, tapi hanya dengan memandang saja, mereka mengerti apa yang disampaikan.
'Kau!' Jayden semakin menatap tajam ke samping.
"Sudah tahu belum apa kesalahanmu, Jayden?" tanya Mayang seketika. Membuat Jayden dan Casey tersentak. Secepat kilat menoleh ke depan.
Jayden enggan membalas, memilih diam dan menundukkan kepala.
Mayang berdecak kesal. "Ck, astaga anak ini, kau mau tahu apa kesalahanmu? Kenapa kau nggak satu kamar dengan istrimu, itulah kesalahanmu, walaupun kalian menikah karena wasiat aku dan sahabatku, kalian itu tetap harus tidur di ranjang yang sama, Jayden!" serunya dengan penuh penekanan.
Jayden tak langsung membuka suara, memilih diam sejenak. Jika Mayang sudah marah padanya. Dia tak berani melawan. Namun, sekarang benaknya dipenuhi tanya besar. Siapakah yang membeberkan persoalan kamar terhubung ini?
"Siapa yang memberitahu Nenek tentang kamar ini?" Alih-alih menenangkan Mayang, Jayden malah membuat neneknya menarik napas dalam-dalam.
"Pak Tarno?" Jayden kembali menambahkan.
"Jangan salahkan Tarno atau pun asistenmu yang lain, kau tak perlu tahu dari mana Nenek tahu, Nenek hanya ingin mengatakan kalau Nenek sangat kecewa denganmu, Jayden! Kenapa kau sekarang jadi pria yang jahat?"
Andai saja Jayden tahu. Tadi pagi, melalui telepon Mayang telah memaksa Tarno dan Lala untuk memberitahu tentang bagaimana hubungan Jayden dan Casey. Semula keduanya serempak mengatakan jika pengantin baru itu tampak sangat mesra.
Namun, ketika diancam, Tarno dan Lala akhirnya menyerah. Setelah mendengar bahwa Jayden membuat kamar khusus untuk mereka. Mayang seketika murka. Lalu menyuruh Tarno membuat air di kamar mandi Casey tidak mengalir dan memberi perintah agar Casey mandi di sebelah.
Saat Casey sedang mandi, Lala mengendap-endap masuk ke kamar dan mengambil handuk Casey. Sebelumnya, Mayang sudah mengalihkan pasien-pasien yang mau berobat dengan Jayden malam ini agar berobat ke dokter lain. Mayang pikir rencananya berjalan dengan mulus. Namun, Mayang keheranan saat mendengar suara perdebatan dari kamar Jayden tadi dan tanpa pikir panjang membuka kamar.
"Jahat apanya Nek? Lalu siapa yang harus aku salahkan, hanya Pak Tarno dan bibi Lala yang tahu." Jayden merasa tak bersalah sedikit pun. Dia malah marah karena orang yang dipercayai telah mengkhianatinya.
"Benar Nek, Jayden jahat banget sama aku, hiks, hiks hiks, masa dia bilang aku jelek Nek, terus dia bilang kalau lihat muka aku dia mual, padahal kan aku cantik Nek, lalu dia juga bilang nggak mau tidur sama aku, bukankah sudah seharusnya kami satu ranjang dan buat anak kan Nek." Casey tiba-tiba berakting menangis.
Kehadiran Mayang memberi angin segar bagi Casey.
Jika dipikir-pikir Jayden terlihat tidak berdaya di depan Mayang. Jayden seperti anak kecil yang ketahuan berbohong. Maka dari itu Casey tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ini momen langka! Apalagi sikap Jayden membuat Casey kesal setengah mati tadi.
"Astaga Jayden, aduh kepalaku pusing sekali ...." Mendengar penuturan Casey, Mayang terperangah. Apalagi Jayden. Mayang mulai memejamkan mata sambil memijit pangkal hidungnya sekarang.
"Hei, kau!" Jayden mencondongkan tubuhnya ke samping seketika. Melihat Casey mulai menangis tersedu-sedu seperti habis dipukuli.
'Rasakan kau!' Casey diam-diam menjulurkan lidah di kala mata Mayang masih tertutup sempurna.
"Nek, lihat dia Nek ...." Mata Jayden makin melotot keluar. Detik itu pula makin pecah tangis Casey, hingga ingus pun keluar dari hidungnya.
"Cukup!" Mayang tiba-tiba membuka mata sambil menghampiri Jayden lalu menarik telinga cucu paling bungsunya itu dengan sangat kuat.
"Argh! Nek, apa salahku!?" jerit Jayden kali ini teriakannya menembus dinding sampai sampai asisten rumah di bawah ikutan kaget.
Melihat pemandangan itu, Casey tetap meneruskan aktingnya sambil menahan diri agar tak tertawa.
Tak lama situasi sudah aman dan terkendali. Tak terdengar lagi tangis Casey atau pun teriakan Jayden. Pengantin baru itu masih duduk di tepi ranjang. Sedangkan Mayang berdiri di dekat mereka sambil bersedekap di dada.
"Kau ini benar-benar keterlaluan, Casey kita ambil dari orang tuanya, kau malah memperlakukan seperti nggak berharga, kau nggak pantas disebut sebagai seorang pria, sekarang kalian harus tidur satu ranjang, dan kamar Casey akan dihancurkan sekarang juga," kata Mayang seketika.
"Tarno!" panggilnya sambil memandang ke arah pintu masuk kamar Jayden. "Hancurkan kamar yang di sebelah sekarang!"
Tarno, Lala dan beberapa asisten rumah yang diam-diam menguping di luar, terperanjat.
"Eh ayam ayam buk!" Lala tiba-tiba latah.
"Nggak ada ayam di sini La, aku masuk dulu, pergi kalian nanti kena marah sama bu Mayang," sahut Tarno.
Para asisten langsung lari kocar-kacir. Tarno memilih masuk ke kamar Casey hendak menjalankan perintah.
Kembali ke dalam. Mayang tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah Jayden dan Casey bergantian.
"Mulai malam ini kalian harus tidur satu ranjang!" kata Mayang.
"Baiklah, jika itu permintaan Nenek, malam ini kami akan tidur bersama-sama ya istriku, kau mau tidur sekamar denganku kan, aku akan mengabulkan permintaanmu itu," balas Jayden, anehnya kali ini lelaki itu tak menolak, malah melempar senyum penuh arti ke arah Casey.
Dan Casey mendadak panik.