NovelToon NovelToon
Mahkota Berlumur Anggur Merah

Mahkota Berlumur Anggur Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:783
Nilai: 5
Nama Author: Iseeyou911

Pangeran Gautier de Valois.

Ia mengenakan seragam Duke-nya, seragam berwarna biru tua dengan hiasan perak yang berkilauan. Postur tubuhnya tegak sempurna, memancarkan aura bahaya dan otoritas yang membuat ruangan terasa kecil. Matanya—abu-abu sekeras baja—menatap Amélie tanpa ekspresi, seolah-olah sedang menilai kuda pacu yang tak berguna.

"Pernikahan. Kau, Amélie LeBlanc, akan menikah dengan Pangeran Gautier de Valois dalam waktu satu bulan."

"Apa? Ini gila! Saya tidak akan—"

"Ini bukan permintaan, Countess,"

"Ini adalah dekrit dari Tahta. Aku butuh pewaris dan Raja membutuhkan stabilitas politik yang diberikan oleh aliansi dengan Countess yang memiliki koneksi luas. Keluargamu, melalui Éloi, menawarkan penyelesaian utang kuno ini. Pernikahan, dengan segera. Aku tidak tertarik padamu, atau pada intrik keluargamu. Anggap ini transaksi dan aku tidak menerima penolakan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iseeyou911, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 (Jembatan yang Rapuh di Tengah Badai)

Amélie berdiri tegak. "Buku catatan apa yang Anda bicarakan, Pangeran Gautier? Saya baru saja dari kamar saya."

"Jangan berbohong!" Gautier melangkah maju, cengkeramannya pada gagang pedangnya kuat. "Kapal pasokan militernya dibakar di pelabuhan pagi ini! Seluruh peta dan jadwal logistik hilang! Hanya kau dan Dubois yang memiliki akses ke jadwal itu! Dan aku tahu kau ingin menghancurkanku!"

Amélie terkejut. Kapal pasokan militernya dibakar? Ini bukan perbuatan Amélie. Ini adalah bagian dari rencana Éloi. Kehilangan kapal itu akan memaksa Gautier melakukan perjalanan pribadi yang berbahaya untuk menyelesaikan krisis logistik. Ini adalah cara Éloi untuk memastikan Gautier melakukan perjalanan yang sudah direncanakan untuk sabotase.

"Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan," kata Amélie, suaranya setenang mungkin, meskipun tangannya memegang surat racun itu dengan erat. "Tapi Anda harus mendengarkan saya. Ini bukan tentang kapal pasokan Anda. Ini tentang hidup Anda."

"Jangan ubah topik! Kau membenciku, kau ingin kebebasan dan kau tahu menghancurkan pasokan militer adalah cara tercepat untuk membuatku gagal dan kehilangan Tahta!" seru Gautier, suaranya bergetar karena pengkhianatan yang dirasakannya.

"Saya ingin kebebasan, ya! Tapi saya tidak ingin Anda mati!" balas Amélie, ia maju selangkah. "Jika Anda mati, saya tetap terikat pada Valois dan Éloi yang kejam akan mengambil alih segalanya! Itu tidak menguntungkan saya sama sekali!"

Keberanian Amélie yang tidak gentar sejenak menghentikan amarah Gautier. Logika itu—bahwa kematiannya menguntungkan Éloi, bukan Amélie—memiliki kebenaran yang kejam.

"Saya punya bukti di sini," kata Amélie, mengeluarkan tiga surat yang dilipat itu. "Éloi tidak hanya meracuni Raja Tua secara perlahan dengan racun bernama 'Aegrotus' melalui minuman dengan warna yang pekat selama setahun terakhir, tetapi sekarang ia merencanakan pembunuhan Anda!"

Gautier mencibir. "Omong kosong! Éloi adalah pamanmu! Dia membantuku mengamankan pernikahan ini!"

"Dia membantu dirinya sendiri!" Amélie melempar surat-surat itu ke dada Gautier. "Baca! Tanggal yang terakhir! Itu dikirim dua minggu yang lalu, yang isinya merencanakan 'kecelakaan' kereta Anda dalam perjalanan pulang dari perbatasan! Itu pasti perjalanan yang Anda rencanakan sekarang karena kapal pasokan Anda hancur!"

Gautier meraih surat-surat itu. Jemarinya gemetar saat ia membuka dan membaca tulisan tangan Éloi dan Marius. Wajahnya yang tegar seketika pucat pasi, amarahnya digantikan oleh realisasi yang mengerikan.

Ia membaca surat ketiga—tentang 'kecelakaan' kereta. Ia memandang Amélie, matanya yang abu-abu mencari kebohongan, tetapi hanya menemukan kepanikan yang jujur.

"Ini... tidak mungkin," bisik Gautier, suaranya parau. "Éloi. Saudaraku ipar..."

"Dia adalah pengkhianat dan pembunuh! Dia membunuh ayah saya, Pangeran!" seru Amélie. "Dia mengambil dana Tahta untuk membeli tambang besi Lorraine dari ayah saya dan ketika ayah saya menolak, Éloi membunuhnya dan memalsukan utang keluarga! Dia meracuni Raja Tua dan sekarang dia membidik Anda! Kapal pasokan yang dibakar itu bukan perbuatan saya. Itu adalah cara dia memaksa Anda melakukan perjalanan yang sudah dia siapkan untuk sabotase!"

Gautier terhuyung mundur, menjatuhkan surat-surat itu. Ia mencengkeram kepalanya, realitas pengkhianatan itu menghantamnya seperti palu. Dia telah begitu fokus pada cintanya dengan Seraphine dan intrik politiknya sendiri sehingga dia gagal melihat bahaya nyata di depan matanya.

"Éloi. Selama ini..." Gautier memandang Amélie, matanya kini dipenuhi rasa sakit dan rasa malu yang mendalam. "Aku menuduhmu. Aku mengancammu. Aku mengira kaulah musuhnya. Padahal, kaulah yang menyelamatkanku."

Amélie mendekat perlahan. "Saya tidak menyelamatkan Anda, Pangeran. Saya menyelamatkan diri saya sendiri dari cengkeraman Éloi yang akan mengambil segalanya. Tapi sekarang, kita adalah target yang sama. Dia ingin Valois dan dia akan menghancurkan kita berdua untuk mendapatkannya."

Gautier menghela napas panjang dan berat. Ia berjalan ke perapian dan membakar ketiga surat itu. Mereka terbakar dengan cepat, meninggalkan jejak hitam.

"Tidak ada yang boleh tahu," perintah Gautier, suaranya kembali menjadi komandan militer, tetapi kini ada kerentanan di baliknya. "Jika Éloi tahu kita mengetahui rencananya, dia akan menyerang dengan cepat. Dan kita tidak punya bukti fisik yang tersisa."

"Saya menyalinnya di buku catatan saya," kata Amélie. "Tapi seseorang sudah mengambilnya."

"Dia sudah tahu kau sedang mencari bukti," kata Gautier. "Dia tidak akan meninggalkan jejak. Dia sudah memprediksi ini."

Gautier memandang Amélie, tatapannya kini berubah. Pria itu melihatnya bukan lagi sebagai alat politik, tetapi seorang wanita yang berani menyelinap di malam hari, mempertaruhkan nyawanya untuk mencari kebenaran, dan kemudian, menyelamatkan nyawanya.

"Aku minta maaf, Amélie," kata Gautier, kata-kata itu keluar dengan susah payah dari mulutnya. Itu adalah permintaan maaf pertama yang tulus yang pernah Amélie dengar. "Aku menuduhmu melakukan kejahatan yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang kubawa ke Tahta. Aku berutang padamu. Nyawaku."

Amélie merasa Jembatan Rapuh telah dibangun.

...*****...

1
Iseeyou911
Jangan lupa Like dan Komennya yaa 🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!