"Jika Bos mengajak kamu berhubungan apa kamu bersedia?" "Berhubungan?""Berhubungan intim. Itu adalah salah satu syarat diterima kerja di sini.""Hah?" Lily Gabriella tak pernah menyangka tempat ia melamar pekerjaan karyawan kecil dan bergaji besar tak ada bedanya dengan orang-orang yang dibayar menyenangkan pelanggannya.
Meski tau persyaratan itu, mau tak mau ia harus menerima demi biaya pengobatan ibunya. Namun dalam sekejap ia langsung menyesal saat tau mantan kekasihnya Axton Fernando adalah bos Hyper itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Aku tidak mau. Katakan saja aku tidak mau," ucap Lily saat Ciara datang menemuinya.
"Tapi, Pak Axton tidak baik-baik saja."
"Aku tidak peduli," jawab Lily cepat membuat Ciara menghela nafas panjang.
"Lily, Pak Axton di sini sudah tiga tahun, membuat peraturan seperti itu di Perusahaan ini. Kabar angin yang kita dengar, Axton memiliki gangguan bipolar, tapi selama tiga tahun ini kita tidak pernah lihat, marah pun hanya sekedarnya. Tapi, kali ini dia sangat marah," jelas Ciara membuat Lily terdiam.
Ciara melanjutkan. "Jika ternyata kabar angin itu benar, bukan hanya Chloe yang jadi imbasnya. Jadi, tolong terima panggilannya ya," tuturnya lembut, membujuk.
Lily menghela nafas sesaat, dan berpikir. Ia lalu menyahut, "Lalu bagaimana jika aku yang jadi sasarannya, aku yang disakiti?"
Ciara spontan memiringkan kepalanya. Sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil. Ia lalu menyahut, "Apa menurutmu dia akan menyakitimu?"
Lily mengerutkan kening, matanya memicing menatap curiga pada Ciara. Mulutnya perlahan terbuka, diam beberapa saat, untuk mengumpulkan keberanian bicara.
"Kamu tau sesuatu?" tanya Lily.
Ciara menggeleng. "Hanya menduga. Tatapan kalian sangat berbeda, khususnya tatapan pak Axton padamu."
Lily mengerutkan keningnya, tanpa mengucapkan apapun.
Sementara Ciara melanjutkan ucapannya. "Ada cinta di mata Pak Axton, dan di matamu ada sebuah luka."
Lily sontak memalingkan wajah. Pundaknya naik turun, seiring hembusan nafasnya yang kasar. Bola matanya terasa hangat, dan mulai berkaca-kaca.
Kepala Lily semakin bergerak membelakangi Ciara. Saat air matanya jatuh, ia dengan cepat menghapus air matanya.
Ciara tersenyum tipis di belakangnya. Ia menyahut, "Aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian. Tapi, jika kalian kembali bersama, mungkin Pak Axton akan menghapus peraturan kerja ini. Jujur aku sedikit tidak nyaman. Aku melakukan ini, selain kegadisanku sudah hilang jauh sebelumnya, juga demi gaji yang ditawarkan. Mungkin kamu bisa menghentikannya."
"Tidak, aku tidak bisa," jawab Lily cepat dengan suara serak.
"Kamu selalu dianggap kesayangan Pak Axton. Kenapa tidak mencoba membuatnya menjadi milikmu," ucap Lily lagi.
"Sangat sulit. Aku tidak sanggup, dan aku tidak memiliki potensi hingga ke tahap cinta itu," jawab Ciara.
Lily menghela nafas kasar. Ia menatap ke arah Ciara lalu menyahut. "Aku akan ke sana, permisi," ucapnya tanpa menunggu jawaban Ciara, ia pergi dari sana.
Dalam langkahnya, benaknya bicara. "Dia sangat peka. Semakin lama di sana, hanya akan membuatku semakin menangis."
***
Sementara itu di kantor Axton. Pria itu sedang gelisah berulang kali mengusap kasar wajahnya.
"Tenang Axton, tenang," ucap Axton mencengram kulit dadanya, dengan hembusan nafasnya kasar.
"Kalau begini, kamu akan kalah. Lily mungkin akan menertawakan mu," ucap Axton memperingati diri sendiri.
Axton mulai memukul kepalanya sendiri. Melawan rasa panik dari bayangan luka di tangan Lily.
Axton menutup matanya dengan telapak tangan, berulang kali mengambil dan membuang nafas kasar.
Kondisi yang masih menenangkan diri. Suara langkah terdengar mendekat, membuat Axton melirik melalui sela-sela jarinya, dan melihat Lily telah datang.
"Ada apa lagi?" tanya Lily berhenti di ujung meja.
Axton tak langsung menjawab. Ia memejamkan mata dalam benaknya berucap. "Tenang Axton, tenang ...."
Ia menghela nafas pelan, lalu membuka matanya dan menurunkan tangannya. Pria itu menyandarkan tubuhnya, matanya melirik sekilas punggung tangan kanan Lily yang tak terluka.
"Berarti yang kiri," batinnya mengalihkan lirikannya ke tangan Lily yang lain, namun ia tidak bisa melihatnya.
"Bagaimana tanganmu?" tanya Axton dengan suara berat, sembari mengangkat pandangannya menatap Lily.
"Tidak ada apa-apa," jawab Lily cepat.
"Begitu caramu bicara dengan bosmu?" tanggap Axton terlihat santai, namun nada suaranya masih bergetar.
Lily memejamkan mata, menghela nafas pelan, tak ada rasa semangat di wajahnya, dengan malas ia menjawab. "Maaf Pak, semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah," ucapnya memperbaiki ucapan yang telah di protes Axton tadi.
"Coba tunjukkan tanganmu," pinta Axton.
Lily berdecak pelan. Namun tetap menurut menyerahkan tangannya hingga terlihatlah luka dengan darah di punggung tangan itu.
Kening Axton berkerut, tangannya mengepal, dan tangan lainnya mencubit pahanya sendiri, untuk memperingatinya menahan diri.
"Kamu belum mengobatinya?"
Lily kembali menarik tangannya. "Ini hanya luka kecil Pak. Tidak ada masalah," jawabnya cepat.
Axton menghela nafas panjang, ia menarik laci mejanya dan mengeluarkan kotak putih bertuliskan P3K di atasnya.
"Berikan tanganmu," pintanya.
"Tidak perlu Pak."
"Jangan membuatku memaksamu Lily," lanjut Axton dengan tegas, membuat Lily menatapnya jengkel.
"Bagaimana jika PAK AXTON ! Memberiku kompensasi saja, karena wanitamu sudah melukaimu. Itu lebih berguna, daripada mengobati ku secara pribadi!" sahut Lily cepat, dan menekan nama Axton saat disebutkan.
Axton menyinggung senyumnya, ia mendongak menatap Lily kembali. "Kompensasi? Uang?" tanyanya ingin lebih jelas.
"Ya, itu lebih bagus," jawab Lily lagi.
"Sepertinya kamu masih begitu menyukai uang."
Dengan santai Lily menanggapi. "Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang tidak suka uang."
Axton menyandarkan tubuhnya. Perasaannya kini jauh lebih tenang, membuatnya juga lebih leluasa bergerak. Pria itu mengangkat satu kakinya di atas lutut, lalu berucap. "Aku punya uang. Aku bisa memberimu lebih banyak dari apa yang kuberikan dulu."
Lily tersenyum santai, ia menyampirkan anak rambutnya ke belakang, dan berucap. "Aku suka uang, tapi tidak denganmu Pak Axton. Dan sebaiknya, lupakan aku. Masa kita sudah selesai! Dan tidak akan terulang," ucapnya dengan tegas.
Axton mengerjapkan matanya beberapa kali, sembari tersenyum tipis, dalam benaknya, ia kembali merasakan sedih dan rasa sakit yang ditusuk ribuan pisau tajam.
"Aku yang dikhianati, aku ingin membalas, tapi setiap saat hatiku sakit sendiri merasa aku keterlaluan. Kenapa aku masih saja bodoh, berharap padanya," batinnya.
Axton menghela nafas panjang, "Baik aku berikan kompensasi. Aku akan kirim ke rekeningmu nanti, tapi dengan satu syarat ...," ucap Axton menatap Lily.
"Kalau begitu tidak perlu. Aku tidak tertarik lagi," potong Lily cepat yang menegaskan tidak menerima syarat apapun.
Wajah Axton langsung berubah merah karena kesal. Suaranya meninggi dan menyentak, "Lily, aku bosmu! Apa aku terlalu baik, sampai kamu bertindak seenaknya!"
"Kenapa? Tidak suka? Jika tidak tahan, silahkan pecat saya, Pak Axton yang terhormat!" Balas Lily tanpa rasa takut.
Jelas satu hal yang diinginkannya adalah, lepas dari jeratan Axton.
Axton menggeram mendengar balasan yang menantang itu. Ia menatap tajam Lily, dan berucap. "Kenalanku luas Lily, aku bisa mem-blacklist kamu dari mana pun. Kamu tidak bekerja artinya kamu tidak punya uang. Sedangkan hidup butuh uang. Pengobatan ibumu dan kebutuhan ANAKMU akan terhambat!" balas Axton menekan kata anak, berharap Lily luluh dan patuh.
"Aku tinggal menikah dengan ayah Luna. Kebetulan, dia punya beberapa properti dan usaha saat ini," jawab Lily dengan santai, namun berhasil membuat darah Axton mendidih.