NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orang ketiga

Faisal merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak saat melihat punggung Devina menjauh. Sentuhan tangan Aruna di lengannya terasa seperti sengatan listrik yang salah. Tanpa berpikir panjang, Faisal menyentakkan tangannya, melepaskan cengkraman Aruna dengan kasar.

" Ngga, Na! Aku gabisa cuman diem disini! " suara Faisal tegas.

Aruna terpaku, senyum kemenangannya luntur ketika melihat sorot mata Faisal yang penuh kepanikan karena takut kehilangan Devina, bukan takut karena tertangkap basah.

Faisal berlari melintasi tembok sekolah, mengabaikan teriakan teman temannya dan bel masuk yang mulai berdering. Di depan gerbang sekolah, ia melihat Devina sedang berusaha memberhentikan taksi dengan tangan gemetar.

" Devina! Tunggu! " teriak Faisal sekuat tenaga.

Devina tidak menoleh. Ia segera masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti. Namun, sebelum pintu tertutup rapat, Faisal menahan dengan tangannya.

" dengerin aku dulu, plisss......." nafas Faisal tersengal sengal. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

Devina menatapnya dengan mata yang sembab dan merah.

" Mau jelasin apa lagi, Sal? Aku liat sendiri. Kamu ga nolak waktu dia nyentuh kamu, kamu ketawa sama dia, disaat aku disini berjuang sendirian buat hubungan kita! "

" Itu salah paham, Na. Aku ngaku aku emang bodoh karena terlalu santai sama dia, tapi aku udah ga ada perasaan apapun. Aku cuma ngerasa dia temen lama yang...... ada disaat aku ngerasa sepi waktu kita lagi jauh." Faisal berusaha jujur, meski kejujuran itu terasa pahit.

Devina tertawa getir.

" Sepi? jadi kalo kamu sepi, solusinya adalah balik kepelukan Aruna? Terus gunanya aku apa, Sal? "

Devina menarik nafas panjang, mencoba menahan Isak tangisnya agar tidak pecah didepan supir taksi.

" Aku butuh waktu, jangan cari aku dulu. Aku mau mikir, apa hubungan ini bener bener layak buat diperjuangin kalo cuma aku yang berusaha ngejaga batasan."

Devina menarik paksa pintu taksi dan menutupnya. kendaraan itu melaju, meninggalkan Faisal yang berdiri mematung di pinggir jalan raya.

Dikejauhan, dari balik pagar sekolah, Aruna memperhatikan semuanya. Ia melihat Faisal yang tertunduk lesu, tampak begitu hancur. Meskipun Faisal mengejar Devina, Aruna tahu satu hal, benih keraguan mulai muncul di hubungannya.

Aruna berjalan menuju tembok pembatas tempat kotak makan Devina tertinggal. Ia membuka kotak itu, melihat makanan yang ditata rapi dengan bentuk hati. perlahan, Aruna menutupnya kembali dan membuangnya ketempat sampah.

" Kamu boleh kejar dia hari ini, Sal." gumam Aruna dengan tatapan dingin. " tapi luka Devina ga akan sembuh secepat itu. Dan saat kamu ngerasa cape untuk minta maaf, aku masih dan akan tetap disini, nunggu kamu nyerah. "

- Aku mengejarmu karena aku takut kehilanganmu, tapi aku sadar bahwa yang paling sulit bukanlah mengejar langkahmu, melainkan mengejar kembali kepercayaan mu yang sudah jatuh berserakan. gumam Faisal.

Strategi Aruna berubah secepat bunglon. Begitu melihat Faisal kembali ke sekolah dengan wajah hancur setelah gagal mengejar Devina, Aruna tahu bahwa bersikap agresif sekarang adalah kesalahan besar. Ia harus kembali menjadi malaikat yang penuh empati.

Faisal duduk dikursi depan kelas 2, menyembunyikan wajah dibalik kedua tangannya. Dunianya terasa runtuh, ia terus membayangkan sorot mata Devina yang penuh kekecewaan.

Tiba tiba, ia merasakan sentuhan lembut dibahunya. Aruna berdiri disampingnya, namun kali ini tidak ada tawa manja. Wajahnya terlihat pucat, matanya berkaca kaca.

" Sal,...... Maafin aku," bisik Aruna dengan suara yang terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan.

Faisal mendongak, menatap Aruna dengan tatapan kosong.

" Kenapa kamu minta maaf, Na? "

Aruna menunduk, membiarkan sebutir air mata jatuh melewati pipinya.

" ini semua salah aku. Aku terlalu egois karena ngerasa kita temen lama, jadi aku ga sadar kalo tindakan aku berlebihan. aku gatau kalo Devina bakal datang. Kalo aku tau, aku ga akan sedekat itu sama kamu tadi. "

Aruna menutup wajahnya seolah sedang menahan Isak tangis yang hebat.

" Aku ngerasa jahat banget, Sal. Aku udah ngerusak hubungan kalian. Harusnya aku tau diri kalo aku ini cuman masalalu. "

Faisal yang dasarnya tidak tega melihat perempuan menangis, perlahan luluh. Rasa marahnya yang tadi sempat muncul kini terkikis oleh rasa kasihan.

" Udah, Na. Bukan salah kamu sepenuhnya, aku juga yang lalai. "

Aruna menyeka air matanya, lalu menatap Faisal dengan tatapan yang sangat dalam.

" Tapi, Sal. Apa kamu ga ngerasa kalo Devina terlalu..........cepet ngambil keputusan? Dia bahkan gamau dengerin penjelasan kamu. Aku cuma takut, kalo hubungan kalian se sensitif ini, kedepannya kamu bakal terus ngerasa tertekan. "

Faisal terdiam, kata kata Aruna mulai merayap masuk ke celah keraguannya.

Benar juga pikirnya. Kenapa Devina tidak memberinya kesempatan bicara?

" Aku bakal coba jelasin ke Devina, Sal. Aku bakal jelasin ke dia kalo aku yang salah, biar dia ga marah lagi ke kamu. " lanjut Aruna.

" Jangan, Na. Itu malah bikin suasana makin panas. " cegah Faisal.

" Yaudah, kalo itu mau kamu. Tapi tolong, jangan benci aku ya, Sal? Aku ga punya siapa siapa lagi disini semenjak Arya pergi. Kamu satu satunya orang yang bikin aku ngerasa..... Aman." ucap Aruna sambil memegang ujung jaket Faisal dengan ragu.

Faisal hanya bisa mengangguk pelan. Dimatanya, Aruna adalah korban dari situasi ini, sama seperti dirinya. ia tidak sadar bahwa dengan memaafkan Aruna dan merasa kasihan padanya, Faisal justru semakin masuk kedalam jerat yang sudah dipersiapkan Aruna.

Dibalik wajahnya yang tertunduk dan terlihat sedih, Aruna sebenarnya sedang tersenyum puas. Ia berhasil memposisikan dirinya sebagai orang yang paling mengerti Faisal, sekaligus membuat Devina terlihat sebagai pihak yang terlalu emosional.

Aruna tahu bahwa untuk menghancurkan sebuah benteng, ia tidak bisa menyerang dari luar, melainkan dari dalam. Dengan dalih ingin memperbaiki keadaan, ia mendapatkan nomor telepon Devina dari ponsel Faisal saat pria itu sedang pergi ke toilet.

Sore harinya, Devina sedang duduk di meja belajarnya, menatap tumpukan buku yang tak satupun mampu ia baca. Pikirannya masih terpaku pada adegan di belakang sekolah tadi. Tiba tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomer tidak dikenal memanggil.

" Halo ? " suara Devina terdengar parau.

" Halo, Devina...... Ini Aruna."

Keheningan menyelimuti sambungan telepon itu. Jantung Devina berdegup kencang.

" Mau apa lagi kamu? "

" Dev, tolong dengerin aku dulu. Aku telepon kamu karena aku ga kuat liat Faisal seharian ini hancur di sekolah. Dia gak berhenti nyalahin diri sendiri."

Aruna memulai dengan nada yang bergetar, seolah ia baru saja berhenti menangis.

" Aku mau minta maaf, Dev. Kejadian tadi itu...... Sepenuhnya salah aku. Aku yang terlalu manja sama Faisal. Aku lupa kalo dia sekarang milik kamu. Aku terlalu terbiasa sama cara Faisal memperlakukan aku dulu, yang selalu perhatian sama hal hal kecil. "

Kalimat ' cara Faisal memperlakukan aku dulu ' berhasil menyayat hati Devina. Aruna secara halus sedang mengingatkan Devina bahwa ia memiliki sejarah yang jauh lebih dalam dengan Faisal.

" Faisal itu orangnya ga tegaan, Dev. Tadi dia cuma mau temenin aku karena aku lagi sedih banget keinget sama Arya. Dia bilang ke aku kalau dia ngerasa ..... Tertekan karena kalian beda sekolah, kamu terlalu serius dan jarang ada waktu buat dia. " lanjut Aruna.

Devina menggenggam erat ponselnya.

" Faisal bilang kaya gitu? "

" Iya, tapi dia ngomong gitu bukan karena dia ga sayang kamu, Dev! Dia cuma ngerasa lebih santai kalo lagi sama aku. Ya gimana ya, mungkin karena kita punya kenangan masalalu yang bikin dia ga perlu jadi orang lain. Tapi tolong, jangan marahin dia ya, dia sayang banget sama kamu. Meskipun dia ngerasa lebih bebas pas lagi sama aku. "

Setiap kata yang diucapkan Aruna adalah racun yang dibungkus madu. Ia seolah mendukung hubungannya, namun sebenarnya ia sedang menanamkan racun di pikiran Devina bahwa Faisal tak bahagia, bahwa Faisal merasa tertekan.

" Udah ya, Dev. Aku cuma mau kamu tau kalo Faisal itu baik banget. Jangan putusin dia, ya. Meskipun tadi dia sempet bilang kalo dia bingung harus gimana sama hubungan kalian. " pungkas Aruna sebelum menutup telponnya.

Dikamarnya, Aruna melemparkan ponselnya ke kasur dan tersenyum lebar. Ia tahu, setelah telepon ini, Devina tidak akan bisa menatap Faisal dengan cara yang sama lagi.

Sementara itu, disekolah unggulnya, Devina menangis sesenggukan. Ia merasa dikasihani oleh orang yang justru menghancurkan hubungannya. Kata kata Aruna tentang Faisal yang merasa tertekan dan merasa lebih bebas ketika bersamanya menjadi pukulan keras yang menghancurkan sisa sisa kepercayaannya.

- Kalo emang bersamaku adalah beban dan bersamanya adalah sebuah kebebasan, untuk apa aku terus bertahan ditengah badai ini sendirian?! Gumam Devina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!