Seorang gadis yatim piatu, yang ditinggal oleh kedua orang tuanya untuk selamanya, dalam sebuah insiden kecelakaan mobil. Namanya Ayrani, gadis cantik, baik, tulus, yang harus rela melepas kebahagiaan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicaldo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
"Nenek senang kan?" Rara membuka obrolan saat di dalam mobil.
"Iya, Sayang. Hari ini Nenek senang sekali, Nenek teringat masa kecil Papa mu. Seolah Shamir kecil ada di tengah tengah mereka," jawab Sonia penuh haru.
"Kalau begitu Minggu depan Kita bikin pesta yang meriah untuk mereka, Nek. Rara yakin selama ini mereka pasti belum pernah merasakan bagaimana berada di tempat pesta," imbuh Rara sangat antusias.
"Kalau begitu mintalah bantuan Akash, dia pasti dengan senang hati akan membantu Kamu."
"Iya, Nek."
Sore itu mereka kembali dengan perasaan sangat bahagia. Karena kedua wanita itu mulai merasa keroncongan perutnya, maka Rara mengajak sang nenek berhenti di sebuah restoran ternama, yang menjadi favorit nya.
"Bagaimana Kamu bisa tahu Nenek lapar?" ucap nenek Sonia saat mobil Rara berhenti di area parkir restoran.
"Tahu dong, kan Rara dengar suara cacing cacing dalam perut Rara dan Nenek dari tadi ribut sudah pada berontak. Hahahaha."
Sonia kembali menggeleng melihat kelucuan sang cucu.
Karena pengunjung restoran terlihat sangat ramai, lantai atas pun sudah terisi penuh. Begitu juga dengan lantai bawah tampak sangat padat pengunjung. Rara kebingungan harus memilih tempat duduk dimana, sementara semua tempat sudah sesak. Tiba-tiba salah seorang karyawan yang kebetulan sedang makan di tempat itu sendirian melihat kehadiran Rara beserta nenek Sonia. Karyawan yang bernama Amelia itu bergegas menghampiri mereka.
"Selamat sore, Presdir," sapa Amelia sembari mengulurkan tangan pada Rara, disambut hangat oleh Rara dan nenek Sonia.
"Selamat Sore, kembali," sahut Rara sedikit bingung, masalahnya ia tidak tahu siapa sosok perempuan yang berdiri menyapa nya.
"Maaf, Presdir atas kelancangan Saya. Perkenalkan Saya Amelia, salah satu staff Anda. Mungkin Presdir tidak mengenal siapa Saya. Tapi Saya memberanikan diri kemari, sebab daritadi sepertinya Presdir sedang kebingungan mencari tempat duduk. Karena kebetulan Saya hanya sendirian, maka memberanikan diri untuk mempersilahkan duduk bergabung di meja Saya," ucap Amelia yang tampak gugup berbicara di depan Rara.
"Oh, iya maaf sekali. Bukannya Saya sombong, mengenai nama-nama staff di kantor ,Saya memang tidak hapal, hanya beberapa saja yang tahu. Yang lebih tahu satu persatu tentang karyawan ya Pak Akash. Jadi sekali lagi Saya minta maaf. Dan sangat berterima kasih atas kebaikannya sudah menawarkan kursi kepada Kami."
Rara, Sonia dan Amelia kembali pada meja nomor sepuluh. Meja milik Amelia yang sudah terisi oleh beberapa menu.
"Silahkan!" Amelia membuka kursi untuk kedua wanita penting di depannya.
"Terima kasih!" balas Rara dan nenek Sonia bergantian.
Amelia juga kembali duduk di kursinya, sembari melambai memanggil pelayan, dan pelayan pun mendekat, "Silahkan Presdir mau pesan apa?" tanya Rara.
Sejenak Rara melihat buku menu di depannya dan menunjukkan kepada pelayan restoran menu yang dia pesan. Nenek Sonia pun ngikut apa menu pilihan sang cucu.
Obrolan pun dimulai, terlihat Amelia merasa senang sekali bisa bertemu langsung dengan owner tempat ia bekerja. Seorang wanita muda cantik jelita, yang selalu menjadi sorotan dalam dunia bisnis atas karirnya yang menakjubkan.
Gadis itu pun meminta kepada Rara dan nenek Sonia sekiranya sudi foto bersama dirinya. Beberapa gambar pun berhasil Amel jepret melalui ponselnya, "Terima kasih Presdir, senang bisa bertemu langsung dengan Anda beserta Nyonya besar."
"Sama sama, Saya dan Nenek justru yang harusnya berterima kasih, sudah mau berbagi meja," balas Rara seraya mengulas senyum.
Beberapa menit pelayan telah kembali dengan nampan di tangannya. Menyajikan menu pesanan Rara.
"Silahkan!" ucap sang pelayan restoran.
"Terima kasih," ucap ketiga wanita yang duduk bersamaan.
Rara sudah tidak sabar untuk segera menyantap makanan di hadapannya. Perutnya sore itu benar-benar sangat lapar. Ia pun tidak menyadari bahwa di bawah atap yang sama, duduklah dua orang wanita yang juga sedang menikmati makanan di restoran tersebut.
"Tempatnya bagus kan Sayang?" tanya Akasma kepada putri tercinta nya, yang sedang duduk di hadapannya.
"Iya, bagus, Ma. Tapi ramai sekali," balas Pritha sedikit riskan, sebab gadis itu tidak menyukai keramaian.
"Makanannya juga enak, Pritha suka," tandas Prithaya.
Kedua wanita ini juga sama-sama tampak saling menikmati menu dari restoran tersebut.
***
Karena meja tempat Akasma dan Prithaya makan terletak di belakang, dan keduanya datang lebih dulu. Kini kedua wanita ibu dan anak tersebut berdiri meninggalkan meja. Berjalan ke arah pintu keluar. Namun begitu langkah keduanya sampai di tengah restoran, betapa kaget Akasma sore itu, saat ia melihat sosok dua wanita yang begitu ia benci juga ada di sana.
"Ibu!" batin Akasma.
"Anak sialan itu," imbuh Akasma dalam hatinya.
Saat itu kedua bola mata Akasma menunjukkan ekspresi tatapan jahat yang amat sangat dipenuhi kebencian terhadap Rara dan Sonia. Bahkan setelah sekilas ia melihat ibu mertua nya duduk di hadapannya, Akasma segera menarik tangan Prithaya sedikit kasar, dan mempercepat langkah meninggalkan restoran.
"Ayo Sayang cepat sedikit!" seru Akasma.
Prithaya yang kebetulan tidak melihat kehadiran sang adik cantik yang amat sangat dirindukannya di restoran itu, akhirnya hanya mengikuti langkah Akasma tanpa bertanya.
Sebenarnya Sonia sempat melihat Akasma yang berdiri menatapnya dengan tatapan kebencian. Namun wanita tua itu memilih berpura-pura tidak melihat nya, supaya Rara tidak melihat kehadiran mereka berdua. Yang kebetulan posisi duduk Rara ternyata membelakangi.
"Untung saja Rara tidak melihat wanita jahat itu," batin nenek Sonia. Menahan kekesalannya sore itu. Selera makan nenek Sonia mendadak berubah hilang tidak lagi berselera melanjutkan makannya.
"Kenapa, Nek? Nenek tidak suka menunya?" tanya Rara memperhatikan sikap sang nenek.
"Tidak Sayang, Nenek sangat menyukainya. Tapi entah kenapa perut Nenek seketika mendadak merasa kenyang."
"Kamu lanjutkan saja makan mu!" seru nenek Sonia.
"Dasar wanita kurang ajar, tidak tahu terima kasih, sudah untung aku membiarkan dia mengambil alih perusahaan putra ku. Menyapa ku saja dia tidak sudi. Ternyata salah besar Aku dulu sudah mengijinkan putraku untuk menikahinya," batin nenek Sonia penuh kemarahan.
Karena melihat perubahan yang mendadak pada diri sang nenek. Rara segera menyudahi makanannya. Gadis itu segera memanggil pelayan meminta bill.
"Iya, Nona, ini bill nya," ucap pelayan restoran yang menghampiri meja no 10.
Amelia hendak melakukan pembayaran lain, namun dicegah oleh Rara.
"Semua pesanan meja no 10 tolong masukkan bill Saya!" perintah Rara pada pelayan. Beberapa menit kemudian pelayan kembali membawa bill baru yang berisi dari tagihan menu Amelia juga.
"Terima kasih Presdir," ucap Amelia merasa malu sudah dibayari oleh Rara.
"Tidak usah sungkan, anggap saja Saya mentraktir Kamu," balas Rara tersenyum.
Setelah melakukan pembayaran, Rara dan nenek Sonia berpamit kepada Amelia, sekaligus kembali mengucapkan terima kasih. Dan Rara segera menuju area parkir bersama nenek Sonia meninggalkan tempat itu.
***
BERSAMBUNG...
Doooorr itu bunyi letusan senjata api
Duaarrrr lebih tepat utk bunyi ledakan