Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 13: Rumput Kecup Sial
Drap drap drap…!
“Huuup!” seru Purwasaga sambil menarik tali kendali kudanya guna mengerem saat tiba di persimpangan.
Di depan sana telah menunggu Pangeran Bebalon dan rombongan pasukan berburunya. Bersama Pangeran Bebalon ada Zonk dan juga Lintha yang cantik jelita, alias istrinya yang tidak tercinta.
Yang membuat Purwasaga terkejut adalah sudah adanya Azhmar di antara mereka. Gadis berambut keriting kuning itu telah duduk nyaman di punggung kudanya. Itu menunjukkan bahwa kecepatan gerak Azhmar lebih kencang dari lari kuda Purwasaga.
Drap drap drap…!
Dari arah belakang Purwasaga muncul Monek yang datang berkuda.
“Suamiku, ayo kita lanjutkan pergi berburu bersama!” sahut Lintha kepada suaminya.
Purwasaga tidak langsung menjawab. Ia menatap Azhmar yang menatapnya dingin seperti pembunuh berdarah es.
Pada akhirnya, Purwasaga menjalankan kudanya dan bergabung bersama rombongan di saat Monek pun telah tiba.
“Pasukaaan!” teriak Pangeran Bebalon.
“Yiiiaaarrr!” teriak pasukan berseragam hitam-jingga sambil mengangkat satu tangannya ke atas seperti harimau yang mengaumi bulan.
Kembali Pangeran Bebalon yang lebih dulu memacu kudanya untuk melanjutkan perjalanan menuju Bukit Seratus Lubang.
“Hae hae!”
Rombongan itu kembali bergerak. Formasinya kembali sama seperti sebelumnya. Pangeran Bebalon, Azhmar, Zonk dan Monek di depan. Lintha dan Purwasaga agak di belakang. Puluhan lelaki berseragam lebih belakang lagi.
Suasana yang tercipta antara suami istri Purwasaga dan Lintha adalah kecanggungan tanpa komunikasi. Keduanya masing-masing sibuk menggebah. Purwasaga sibuk “heah heah” dan Lintha sibuk “hae hae”.
Suasana itu berlangsung cukup lama dalam perjalanan. Hingga akhirnya perjalanan mereka mendapat rintangan ketika mereka melewati jalan yang kanan dan kirinya diapit oleh ilalang. Uniknya padang ilalang setinggi kepala Purwasaga jika berdiri tanpa kuda tersebut, warnanya merah gelap yang kian menghitam jika semakin ke pangkal.
Awalnya Purwasaga heran melihat orang-orang yang berkuda di depan bergerak tidak karuan dalam duduknya di pelana. Ada yang merunduk, ada yang mematahkan pinggangnya ke belakang, dan ada yang tiarap dengan menyembunyikan kepalanya rapat di sisi leher kuda.
“Awas, Suamiku!” pekik Lintha tiba-tiba sambil merunduk merapat ke leher kudanya.
Puk!
Belum juga Purwasaga mengerti dengan apa yang terjadi, satu benda kecil tahu-tahu sudah mendarat di leher si pemuda.
Purwasaga tidak menjerit karena memang tidak sakit, rasanya sedikit sejuk karena lembab.
Purwasaga cepat menyentuh sesuatu yang menempeli lehernya itu. Zat itu seperti lendir kental. Ketika Purwasaga melihat zat itu di jarinya, warnanya merah bening seperti jeli.
Puk!
Ada lagi yang datang melesat dari sisi kiri dan menempel di pipi kiri Purwasaga.
“Suamiku! Jangan sampai terkena tembakan Rumput Kecup Sial!” seru Lintha sambil bergerak mengelaki tembakan yang sulit dilihat oleh pandangan mata.
Terkejut Purwasaga mendengar peringatan istrinya yang menyebut satu nama aneh. Setelah itu, Purwasaga pun waspada. Kejap berikutnya dia melakukan gerakan gesit di atas kudanya untuk menghindari serangan halus yang dia rasakan.
“Siapa yang menyerang?!” tanya Purwasaga dengan berteriak kepada istrinya, membuat suasana kian tegang.
“Rumput-rumput ilalang itu!” sahut Lintha, tapi seraya tersenyum, seolah-olah serangan rumput-rumput merah itu tidak berbahaya.
“Apakah berbahaya?!” tanya Purwasaga lagi, seolah-olah dia sudah melupakan kemarahannya terhadap sang istri.
“Tidak! Tapi menjengkelkan!” jawab Lintha.
Purwasaga tidak mengerti maksud jawaban Lintha. Sambil mengelaki sebulir cairan kental yang dilontarkan oleh ujung-ujung rumput ilalang merah, Purwasaga menengok ke belakang. Para lelaki berseragam hitam-jingga juga bergerak-gerak di atas kudanya demi menghindari serangan tanaman yang bernama Rumput Kecup Sial.
“Hahahak!”
Malah terlihat ada di antara mereka yang tertawa menertawakan rekan-rekannya yang wajahnya terkena tembakan Rumput Kecup Sial.
Sekadar bocoran, tidak semua helai rumput melakukan tembakan kepada mereka yang lewat. Khusus rumput yang sudah mengumpulkan airnya menjadi satu bulir yang kental seperti jeli. Istilah lainnya adalah air yang sudah matang. Jika tidak ada orang yang lewat, air yang sudah matang akan menetes dengan sendirinya. Jadi, tidak semua batang rumput memiliki peluru.
Itulah salah satu tanaman khas Negeri Elindra yang tidak ada di negeri lain.
Padang Rumput Kecup Sial adalah wilayah yang menjadi tanda bahwa Bukit Seratus Lubang sudah dekat. Setelah melewati satu bukit besar, maka Bukit Seratus Lubang sudah bisa dilihat.
Akhirnya rombongan itu melewati apitan dua padang Rumput Kecup Sial. Tidak ada lagi dari mereka yang bergerak-gerak liar di atas punggung kudanya.
Rombongan terus memacu kudanya. Kini mereka melalui jalan berliku di sebuah bukit besar. Dan ketika mereka telah memutari separuh badan bukit, mereka melihat pemandangan yang menakjubkan.
Bagi orang-orang Negeri Elindra, pemandangan itu sudah tidak wow lagi karena mereka sudah sering atau beberapa kali melihatnya, bahkan berada di sana. Namun bagi Purwasaga yang pertama kali melihat, itu visual eksotis yang membuatnya terpesona dan terpana.
Pemandangan yang mereka lihat adalah puluhan bukit yang mungkin lebih kecil dari bukit yang sedang mereka putari. Bukit-bukit itu seperti barisan satu pasukan dengan warna kuning-kuning kemerahan yang terbentuk oleh alam. Semuanya bukit gundul yang tidak memiliki pohon ataupun rumput.
Tata letak bebukitan yang seperti telah diatur rapi dengan dominasi warna kuning, seperti lukisan alam nan indah. Pucuk-pucuknya seperti kepala prajurit di dalam barisan.
Melihat jumlah bukit yang sepertinya ada lebih dari seratus, Purwasaga segera menyimpulkan bahwa itulah yang disebut Bukit Seratus Lubang.
“Apakah itu Bukit Seratus Lubang?” tanya Purwasaga kepada istrinya.
“Iya. Hihihik!” jawab Lintha sambil tertawa saat menengok kepada suaminya.
Tawa istrinya membuat Purwasaga beralih heran.
“Kenapa kau tertawa, Lintha?” tanya Purwasaga.
“Apakah kau tidak merasakan sesuatu yang berbeda di wajahmu?” tanya Lintha.
Terdiam Purwasaga sambil terus memacu kudanya agar tetap berlari. Dia memang merasakan bahwa kulit wajahnya terasa mengencang. Ia pun segera meraba wajahnya dengan tangan kirinya.
Terkejut Purwasaga saat menyentuh wajahnya. Ada benjolan besar pada pipinya yang tadi terkena air tembakan Rumput Kecup Sial. Bukan hanya pipinya yang bengkak besar, tetapi juga lehernya memiliki benjolan besar seperti gondongan.
“Lintha! Apa yang terjadi dengan wajahku?” pekik Purwasaga setengah panik.
“Hihihik!” Lintha justru tertawa lebih kencang dari sebelumnya. “Sudah aku katakan, itu tidak berbahaya, tapi membuat kesal.”
“Kenapa kau tadi tidak memperingatkan aku tentang ilalang itu?” protes Purwasaga.
“Kau diam sejak keluar dari jalan daerah terlarang, jadi aku kira kau masih marah kepadaku,” kilah Lintha.
“Aduuuh, Istriku Berambut Biru,” ucap Purwasaga kecewa. “Pasti. Pasti ketampananku jadi hilang. Aku pasti terlihat sangat lucu dan menjengkelkan.”
“Hihihik!” Lintha hanya tertawa melihat penyesalan suaminya. Lalu katanya, “Tidak apa-apa. Nanti juga akan kempes sendiri.”
“Tapi berapa lama?” tanya Purwasaga.
“Sekitar tujuh hari,” jawab Lintha enteng.
“Hah!” pekik Purwasaga terkejut.
“Apa yang kau risaukan dengan wajah seperti itu? Bukankah kau sudah memiliki istri yang cantiknya sulit dicari duanya di manapun?” kata Lintha.
Saat itu, ketampanan Purwasaga memang telah hilang. Dia seperti makhluk yang lahir prematur dengan wajah yang bengkak sebelah, ditambah leher yang mirip gondongan. Di negeri itu pasti tidak ada yang jual blau, pewarna pakaian yang dianggap sebagai obat gondongan. (RH)
hahhhh