NovelToon NovelToon
Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Detak Jantung Yang Merahasiakanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

"Kita tidak bisa membatalkan kontrak ini begitu saja, Dira! Kamu tahu sendiri dendanya bisa membuat studio kecil kita gulung tikar!"

Suara Alana bergetar menahan kepanikan di dalam taksi yang tengah membelah kemacetan jalanan Jakarta. Tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dari seberang saluran telepon, Dira menghela napas panjang, terdengar sangat serba salah.

"Aku tahu, Alana. Aku benar-benar minta maaf. Tapi siapa yang mengira kalau tender proyek restorasi interior gedung cagar budaya yang kita menangkan di Swiss kemarin itu ternyata didanai oleh konsorsium rahasia milik raksasa korporasi Indonesia? Dan hari ini adalah jadwal wawancara final serta presentasi blueprint di kantor pusat mereka."

"Lalu kenapa baru sekarang kamu tahu kalau konsorsium itu bagian dari Adhitama Group, Dira?!" Alana memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri.

Bayangan tatapan elang Devran di bandara semalam kembali menghantuinya, membuat dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen.

"Mereka memakai firma hukum bayangan berlapis di Eropa, Al. Aku baru mendapatkan dokumen struktur pemegang saham aslinya subuh tadi.

Tapi dengar dulu, Alana... yang akan mewawancaraimu hari ini hanyalah jajaran Direksi Pengembangan Aset dan tim kurator sejarah. Pimpinan tertingginya, Tuan Besar Devran Adhitama, tidak akan turun tangan untuk proyek estetik seperti ini. Dia terlalu sibuk dengan urusan akuisisi maritim global. Jadi kamu aman.

Masuklah, presentasikan karyamu, tanda tangani kontraknya, dan kita bisa bekerja secara profesional tanpa perlu bertemu dengannya."

Alana terdiam cukup lama, menatap keluar jendela taksi di mana gedung pencakar langit berlogo huruf A emas yang kokoh kini sudah berdiri megah di depan matanya.

"Kuharap prediksimu kali ini tidak melesat, Dira. Aku tidak boleh mengambil risiko sedikit pun. Semalam dia hampir saja mengenali Leo," bisik Alana, suaranya sarat akan kecemasan seorang ibu yang sedang menyembunyikan rahasia terbesar hidupnya.

"Tenang, Alana. Ingat, kamu adalah arsitek interior terbaik lulusan Zurich. Tunjukkan profesionalismemu. Leo aman bersamaku di hotel sekarang, dia sedang asyik meretas, maksudku bermain game di laptopnya. Fokuslah pada presentasimu."

"Baiklah. Aku tutup teleponnya. Aku sudah sampai," ujar Alana seraya mematikan sambungan.

Setelah membayar taksi, Alana melangkah keluar dengan dagu tegak. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna krem dengan celana panjang senada, rambutnya disanggul rapi ke atas, memancarkan aura wanita karier yang mandiri dan berkelas.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilannya yang tenang, detak jantung Alana berdegup begitu kencang saat ia melangkah melewati pintu putar kaca lobi utama Adhitama Group.

"Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan senyuman ramah dan profesional.

"Selamat pagi. Saya Alana Kirana dari Kirana Studio, Zurich. Saya ada jadwal wawancara dan presentasi final untuk proyek restorasi interior cagar budaya pukul sepuluh ini," jawab Alana tenang.

Resepsionis itu segera memeriksa komputernya dan mengangguk hormat. "Ah, benar, Ibu Alana. Anda sudah ditunggu di Lantai 45, Ruang Pertemuan Utama Direksi. Silakan gunakan lift khusus di sebelah kanan, kartu akses Anda sudah diaktifkan."

"Terima kasih," ucap Alana.

Di dalam lift yang bergerak naik dengan kecepatan tinggi, Alana memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang mulai memburu.

"Tenang, Alana. Ini hanya urusan bisnis. Devran tidak akan ada di sana. Dia pria sibuk. Kamu hanya perlu menyelesaikan ini dan segera kembali ke Swiss."

TING!

Pintu lift terbuka di lantai 45. Seorang sekretaris wanita berwajah ramah sudah berdiri menyambutnya.

"Ibu Alana Kirana? Mari, silakan lewat sini. Tim penilai sudah berkumpul di dalam."

"Terima kasih, mari," sahut Alana sambil mempererat pegangan pada tas jinjingnya yang berisi laptop dan dokumen blueprint.

Saat melangkah masuk ke dalam Ruang Pertemuan Utama, Alana disambut oleh ruangan yang sangat luas dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian.

Di tengah ruangan, terdapat meja oval besar dari kayu jati premium yang dikelilingi oleh lima orang pria dan wanita paruh baya berpenampilan sangat formal, mereka adalah jajaran Direksi Pengembangan Aset dan kurator senior Adhitama Group.

"Selamat pagi, Ibu Kirana. Silakan duduk," sapa salah seorang pria tua yang tampaknya merupakan kepala kurator sejarah.

"Kami sudah meninjau portofolio Anda dari Swiss, dan kami sangat terkesan. Mari kita mulai presentasinya tanpa membuang waktu."

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih atas kesempatan berharga ini," ujar Alana, senyum profesionalnya langsung terkembang sempurna. Ia segera mengambil tempat di ujung meja, menyalakan laptopnya, dan menghubungkannya ke proyektor besar di dinding ruangan.

Waktu berjalan dengan cepat. Begitu Alana mulai berbicara tentang konsep restorasinya, seluruh ketakutan pribadinya mendadak menguap, digantikan oleh semangat dan kecerdasan murninya di bidang arsitektur.

"Jadi, konsep yang saya bawa bukan sekadar memperbarui material yang rusak," jelas Alana sambil menunjuk visualisasi 3D di layar.

"Saya mempertahankan esensi sejarah bangunan dengan menggunakan teknik pencahayaan tersembunyi yang modern, namun tetap menonjolkan guratan kayu oak asli abad ke-19. Dengan begitu, Adhitama Group tidak hanya memiliki gedung yang kokoh, tetapi juga sebuah mahakarya sejarah yang bernilai investasi tinggi."

Para direksi saling berbisik, mengangguk-angguk puas.

"Luar biasa, Ibu Alana," puji direktur wanita yang duduk di sisi kiri.

"Detail pencahayaan yang Anda tawarkan sangat efisien namun memberikan kesan mewah yang mendalam. Bagaimana dengan estimasi waktu pengerjaan untuk fase pertama?"

"Untuk fase pertama, kita membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, terutama untuk proses pengawetan kayu dinding utama agar tidak terpengaruh oleh kelembapan udara tropis Jakarta," jawab Alana dengan lugas dan penuh percaya diri.

"Lalu, bagaimana dengan sistem keamanan struktural internal yang Anda integrasikan dalam desain ini?" Sebuah pertanyaan baru meluncur dari kurator senior.

Alana tersenyum tipis, teringat akan beberapa diskusi teknisnya dengan Leo kecil yang sering memberikan masukan tak terduga tentang efisiensi ruang.

"Saya telah merancang jalur kabel dan utilitas siber yang tersembunyi di balik panel dinding ganda. Ini memberikan estetika kebersihan visual 100%, sekaligus memberikan perlindungan fisik berlapis untuk kabel data utama gedung dari risiko sabotase luar."

"Jawaban yang sangat impresif dan visioner," puji kepala kurator sambil bertepuk tangan pelan, diikuti oleh senyuman puas dari seluruh anggota tim penilai di ruangan tersebut.

"Secara teknis dan estetika, kami menyatakan bahwa rancangan dari Kirana Studio adalah yang terbaik dari semua kandidat yang masuk."

Alana mengembuskan napas lega yang teramat sangat di dalam hatinya. 'Akhirnya, ini selesai. Dira benar, semuanya berjalan lancar tanpa hambatan.'

"Terima kasih banyak atas penilaian positif Anda sekalian," ucap Alana sambil mulai merapikan dokumennya. "Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya akan mempersiapkan dokumen kontrak kerja sama untuk ditinjau oleh tim hukum kita."

"Tunggu sebentar, Ibu Alana," potong pria kepala kurator dengan senyum hormat.

"Kami memang sudah sepakat memberikan nilai sempurna untuk presentasi Anda. Namun, sesuai dengan aturan protokoler terbaru di Adhitama Group, keputusan akhir dan penandatanganan memorandum proyek di atas nilai seratus miliar harus mendapatkan persetujuan langsung serta diwawancarai oleh pimpinan tertinggi kami."

Langkah tangan Alana yang sedang memasukkan kabel laptop langsung membeku di udara. Jantungnya bagai berhenti berdetak seketika.

"M-maksud Anda... pendiri perusahaan?" tanya Alana, suaranya mendadak tercekat, ada nada kepanikan yang gagal ia sembunyikan dengan sempurna.

"Benar sekali," sahut direktur wanita itu sambil melirik jam tangannya. "Beliau kebetulan sedang berada di lantai ini untuk meninjau laporan keuangan bulanan, dan beliau meminta agar wawancara final proyek ini dilakukan langsung olehnya hari ini."

"Tapi... bukankah proyek estetika seperti ini biasanya cukup sampai di tingkat direksi?" Alana mencoba bernegosiasi, suaranya mulai bergetar halus.

"Saya rasa kompetensi teknis saya sudah cukup jelas dijabarkan tadi."

"Bagi beliau, tidak ada proyek yang kecil jika menyangkut aset Adhitama, Ibu Alana," jawab kepala kurator dengan nada bangga. "Ah, itu beliau sudah datang."

KLEK.

Suara engsel pintu besar berlapis kulit di ujung ruangan yang terbuka secara perlahan terdengar begitu nyaring di telinga Alana, bagai lonceng kematian yang menggema di dalam benaknya.

Langkah kaki yang berat, penuh ketegasan, dan sangat berwibawa terdengar melangkah masuk ke dalam ruangan. Seluruh jajaran direksi dan kurator yang tadinya duduk santai seketika langsung berdiri tegak, membungkuk penuh rasa hormat yang mendalam.

"Selamat pagi, Tuan Besar Devran," sapa mereka serempak.

Alana tidak sanggup berdiri. Tubuhnya mendadak lemas, terpaku di kursinya dengan pandangan mata yang menatap lurus ke arah lantai marmer di bawah meja.

Ia bisa merasakan aura dominan, dingin, dan mengintimidasi yang sangat familiar itu kini mengalir memenuhi setiap sudut ruangan, menekan dadanya hingga membuatnya sulit untuk sekadar menarik napas.

"Selamat pagi. Silakan duduk kembali," suara bariton yang berat, dingin, dan tanpa riak emosi itu bergaung.

Devran Adhitama melangkah masuk dengan santai, namun setiap gerakannya memancarkan kekuasaan mutlak. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja putih bersih di dalamnya, tanpa dasi, memberikan kesan kasual namun tetap sangat berbahaya.

Langkah kakinya bergerak memutari meja oval besar, menuju ke kursi kebesaran di ujung meja yang berhadapan langsung dengan posisi duduk Alana.

"Bagaimana hasil presentasinya?" tanya Devran dingin, matanya beralih ke arah dokumen di tangan kepala kurator, sama sekali belum melirik ke arah Alana yang masih menundukkan kepalanya.

"Sangat luar biasa, Tuan," jawab kepala kurator dengan antusias, menyerahkan berkas blueprint milik Alana.

"Rancangan dari Ibu Alana Kirana dari Kirana Studio ini tidak hanya mempertahankan nilai sejarah, tetapi juga mengintegrasikan sistem utilitas siber yang sangat visioner. Kami semua sudah menyetujuinya."

"Oh... Alana Kirana?" Devran mengulangi nama itu dengan nada rendah yang sangat lambat, seolah sedang mengecap setiap suku kata di lidah manusianya.

Perlahan, Devran menurunkan berkas dokumen di tangannya ke atas meja. Pandangan mata elangnya yang tajam dan menusuk kini terangkat, mengunci sepenuhnya pada sosok wanita yang duduk membeku di hadapannya.

Sebuah senyuman tipis,sangat tipis hingga hampir menyerupai seringai kemenangan yang dingin muncul di sudut bibir tegas pria itu.

"Tinggalkan kami berdua di ruangan ini," perintah Devran tiba-tiba, suaranya tidak keras namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.

Para direksi dan kurator saling berpandangan sejenak dengan bingung, namun mereka tidak berani mengeluarkan satu patah kata pun.

"Baik, Tuan Besar. Kami permisi," ucap kepala kurator seraya memberi isyarat kepada timnya untuk segera mengemasi barang mereka dan keluar.

"T..tunggu! Bapak dan Ibu sekalian, presentasi ini belum..." Alana mencoba menahan mereka dengan panik, suaranya meninggi, namun langkah kaki para direksi justru semakin cepat keluar dari ruangan seolah takut terkena imbas aura dingin pimpinan mereka.

BAM.

Pintu besar itu tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara dua orang yang terikat oleh rahasia malam lima tahun lalu di dalam ruangan seluas itu.

Alana mencengkeram tepi meja dengan erat, memaksakan dirinya untuk mendongak, menantang tatapan mata elang Devran yang sedang mengulitinya dari kejauhan.

"Apa maksud semua ini, Tuan Devran Adhitama? Ini adalah wawancara profesional untuk proyek restorasi. Tindakan Anda mengusir tim penilai sangat tidak profesional!"

Devran tidak langsung menjawab. Ia berdiri dari kursinya, berjalan perlahan mengitari meja panjang itu dengan langkah yang sengaja dibuat lambat, bagai seekor predator yang sedang mengunci mangsanya di sudut sempit. Setiap ketukan sepatu pantofelnya di atas lantai terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur keberanian Alana.

"Profesional, Alana?" Devran berhenti tepat di samping kursi Alana, bertumpu pada sandaran tangan kursi wanita itu, menundukkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.

Aroma parfum maskulinnya yang kuat langsung mengurung indra penciuman Alana.

"Kamu bicara tentang profesional kepadaku? Setelah kamu melarikan diri lima tahun lalu dari kamarku? Setelah kamu menyembunyikan putraku di belahan dunia lain dan kembali ke kota ini dengan menggunakan nama samaran studio asing?"

"Saya tidak menyembunyikan siapa pun!" desis Alana, memundurkan wajahnya dengan tatapan penuh permusuhan, meski dadanya bergemuruh hebat karena ketakutan.

"Leo adalah anak saya! Saya sudah mengatakannya semalam di bandara, dan saya tidak akan mengulanginya lagi di sini!"

"Lalu kenapa tanganmu gemetar hebat seperti ini, Alana Kirana?" Devran meraih tangan Alana yang sedang mencengkeram tepi meja, menggenggam jemari lembut wanita itu dengan cengkeraman yang posesif namun tidak menyakiti.

"Jika anak itu memang bukan darah dagingku, kenapa kamu tampak begitu ketakutan saat melihatku masuk ke ruangan ini? Kenapa kamu tidak menatap mataku dengan berani?"

"Lepaskan tangan saya, Devran!" Alana mencoba menyentak tangannya, namun kekuatan Devran jauh di atasnya. Air mata kemarahan dan frustrasi mulai menggenang di sudut mata indahnya.

"Anda egois! Anda pikir Anda bisa mengatur dan memiliki semua hal di dunia ini dengan uang dan kekuasaan Anda?!"

"Aku tidak peduli dengan hal lain di dunia ini, Alana," bisik Devran, suaranya melembut namun terdengar jauh lebih intens dan berbahaya di dekat telinga Alana.

"Tapi jika itu menyangkut wanita yang merampas ketenanganku selama lima tahun terakhir, dan seorang bocah genius yang memiliki wajah masa kecilku... maka ya, aku akan menggunakan seluruh kekuasaan dan uangku untuk memastikan kalian tidak akan bisa melangkah keluar dari kota ini lagi."

"Anda gila!" Alana memekik tertahan. "Saya akan membatalkan kontrak proyek ini sekarang juga! Saya akan membayar berapa pun dendanya, dan saya akan membawa Leo kembali ke Swiss hari ini!"

Alana menggunakan seluruh tenaganya untuk berdiri, membuat kursinya terdorong ke belakang dengan bunyi berderit nyaring.

Devran ikut menegakkan tubuhnya, menatap Alana yang sedang terengah-engah di depannya dengan pandangan dingin yang penuh kendali.

"Silakan coba saja, Alana," ujar Devran santai, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan teleponnya, lalu meletakkannya di atas meja di depan Alana.

Telepon itu menyala, menampilkan sebuah dokumen digital resmi dengan logo otoritas imigrasi Indonesia.

Alana mengerutkan keningnya, matanya melirik ke arah layar tersebut. Kepalanya mendadak pusing saat membaca baris demi baris teks di sana.

"Apa... apa maksud dari dokumen penundaan izin keberangkatan ini?!" Alana menatap Devran dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan kengerian yang mendalam.

"Mulai subuh tadi, atas perintah langsung dariku, paspor atas nama Alana Kirana dan Leo Kirana telah masuk ke dalam daftar pengawasan khusus imigrasi untuk kepentingan penyelidikan aset korporat," jawab Devran dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca hari ini.

"Kamu tidak akan bisa melewati gerbang bandara mana pun di negara ini, Alana. Kamu tidak akan bisa naik ke atas pesawat mana pun untuk kembali ke Swiss."

"Anda keterlaluan, Devran Adhitama! Ini penyalahgunaan kekuasaan! Saya bisa melaporkan Anda ke kedutaan besar Swiss!" teriak Alana, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang pucat.

Tubuhnya bergetar hebat karena menyadari betapa besarnya sangkar emas yang baru saja dijatuhkan pria ini untuk mengurung dirinya dan Leo.

Devran melangkah maju satu kali lagi, memotong jarak di antara mereka hingga tubuh Alana terdesak ke belakang, bersandar pada dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang luas di bawah mereka.

Devran mengulurkan tangannya dengan lembut menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Alana, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan tindakan kejamnya barusan.

"Laporkan saja, Sayang. Aku memiliki seluruh waktu dan pengacara terbaik di dunia untuk melayaninya," bisik Devran, matanya menggelap oleh kilat kepemilikan yang mutlak.

"Dandani dirimu dengan baik, selesaikan proyek restorasi ini dengan sempurna di bawah pengawasanku setiap hari. Dan malam ini, aku sendiri yang akan datang ke hotelmu untuk menjemput putra kita."

Alana menatap wajah tampan di depannya dengan perasaan campur aduk yang mengerikan.

Di luar dinding kaca, langit Jakarta tampak begitu cerah, namun di dalam ruangan ini, Alana tahu bahwa badai terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai, dan ia tidak memiliki tempat lagi untuk berlari.

1
Rosa Santika
makasih kk
Icha Kolin
sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!