Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Salah paham
Pagi itu, Jifan bangun dengan tubuh yang tidak sepenuhnya fit.
Kepalanya sedikit berat.
Tenggorokannya terasa tidak nyaman.
Namun seperti biasa, ia tetap berdiri dari ranjang tanpa banyak mengeluh.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca.
“Tidak boleh lemah.”
Kalimat itu ia ucapkan pelan pada dirinya sendiri.
Lalu ia berangkat kerja seperti biasa.
Di kantor Syahrezan Group, suasana tetap sibuk seperti biasanya.
Arkan sudah menyiapkan dokumen di ruang kerja utama.
“Pak, jadwal hari ini padat. Ada dua meeting investor dan satu kunjungan klien.”
Jifan mengangguk pelan.
“Jalankan saja.”
Namun langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.
Arkan langsung menyadari itu.
“Bapak tidak enak badan?”
“Tidak apa-apa.”
Jawaban singkat seperti biasa.
Tapi jelas tidak sepenuhnya benar.
🪻🪻🪻🪻
Di sisi lain kota, Diara juga sudah berada di kantornya.
Hari itu ia memimpin beberapa sesi konsultasi desain interior.
Klien datang bergantian.
Ada yang ingin desain rumah modern minimalis.
Ada juga yang ingin konsep café aesthetic.
Diara bekerja seperti biasa.
Tenang.
Profesional.
Fokus.
Namun di sela-sela itu…
pikirannya beberapa kali melayang ke Jifan.
Pagi tadi ia terlihat agak berbeda.
🪻🪻
Sementara itu di kantor Jifan…
Seorang tamu penting baru saja tiba.
CEO dari perusahaan interior design besar, rival tidak langsung Diara Interior Studio.
Namanya Aretha Prameswari.
Aretha masuk dengan langkah percaya diri.
Pakaian formal seksi namun elegan.
Make up tebal yang menonjolkan wajahnya.
Senyum yang sudah terbiasa mendapat perhatian.
Dan mata yang langsung tertuju pada satu orang.
Jifan Artha Syahrezan.
“Jifan,” sapanya dengan nada manis.
Jifan menatapnya sekilas.
“Aretha.”
Singkat.
Dingin.
Seperti biasa.
Aretha duduk tanpa ragu.
“Sudah lama tidak ketemu. Kamu tetap seperti biasa… dingin.”
Jifan tidak menanggapi.
Arkan berdiri di samping, mencatat.
Namun Aretha tidak berhenti di situ.
Matanya terus memperhatikan Jifan.
“Katanya kamu sekarang sudah menikah?”
Jifan menatapnya sekilas.
“Ya.”
Aretha tersenyum tipis.
“Beruntung sekali wanita itu.”
Jifan tidak bereaksi.
Tapi tatapannya sedikit mengeras.
Aretha kemudian sedikit condong ke depan.
“Kalau kamu butuh partner bisnis yang lebih… fleksibel, aku selalu ada.”
Nada suaranya berubah lebih rendah.
Lebih menggoda.
Arkan langsung merasa situasi tidak nyaman.
Namun Jifan hanya berkata datar.
“Saya tidak tertarik.”
Aretha tersenyum lagi.
“Tetap saja, aku ingin bekerja sama denganmu lebih dekat.”
Di saat yang sama…
Diara sedang berjalan menuju kantor Jifan.
Ia ingin mengajaknya makan siang.
Karena pagi tadi ia merasa Jifan terlihat tidak enak badan.
Namun saat ia sampai di depan ruang meeting kaca…
ia berhenti.
Dari luar, ia melihat Jifan.
Dan seorang wanita lain.
Aretha.
Yang duduk terlalu dekat.
Yang tersenyum terlalu percaya diri.
Yang berbicara terlalu santai.
Diara membeku.
Tangannya perlahan menurun
“Jifan…”
gumamnya pelan
Aretha tertawa kecil di dalam ruangan.
Jifan terlihat menatapnya.
Tidak tersenyum.
Tapi juga tidak menolak terlalu keras.
Bagi Diara…
itu sudah cukup
Dadanya terasa sesak.
Tanpa sadar, ia mundur satu langkah.
Lalu dua langkah.
Dan kemudian…
berlari.
“Diara!”
Suara Jifan terdengar dari dalam.
Namun Diara sudah pergi
Jifan langsung berdiri.
“Stop meeting.”
Tanpa penjelasan.
Ia langsung keluar ruangan.
“Diara!”
Ia melihat ke lorong.
Namun Diara sudah tidak terlihat.
Arkan mengejarnya.
“Pak, ada apa—”
“Cari Diara.”
Namun Diara sudah menghilang dari gedung itu.
Beberapa jam kemudian.
Diara berada di rumah Baila.
Sahabatnya itu langsung panik melihat wajah Diara yang berbeda.
“Lo kenapa?!”
Diara duduk di sofa rumah Baila. Matanya sedikit bengkak, wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia tidak tenang sejak kejadian siang tadi.
Baila datang membawa dua gelas teh hangat.
Baila: “Minum dulu. Biar lo tenang.”
Diara: “Aku nggak ngerti, Bel… aku lihat sendiri dia sama perempuan itu. Mereka dekat banget.”
Baila: “Siapa perempuan itu?”
Diara: “Aretha cewek gatel itu.”
Baila: “Terus kamu langsung pergi?”
Diara: “Iya… aku nggak tahan lihatnya.”
Baila duduk di samping Diara.
Baila: “Diara, kamu yakin kamu lihat semuanya dengan benar?”
Diara: “Aku lihat mereka di ruang meeting. Dia duduk dekat Mas Jifan, perempuan itu… sikapnya terlalu bebas.”
Baila: “Tapi kamu sudah tanya Jifan?”
Diara: “Belum… aku belum mau bicara sama dia.”
Baila menghela napas pelan.
Baila: “Kamu tahu nggak masalahnya di mana?”
Diara: “Di mana?”
Baila: “Kamu langsung percaya apa yang kamu lihat, tapi belum dengar versi dia.”
Diara terdiam.
Diara: “Tapi Bai… rasanya sakit.”
Baila: “Wajar. Kamu mulai peduli sama dia.”
Diara: “Aku nggak tahu… aku cuma nggak suka lihat dia sama perempuan lain.”
Baila tersenyum kecil.
Baila: “Nah itu jawabannya.”
Diara: “Jawaban apa?”
Baila: “Kamu cemburu, Diara.”
Diara langsung menoleh cepat.
Diara: “Aku nggak cemburu!”
Baila: “Kalau nggak cemburu, kamu nggak akan ke sini sambil nangis kayak tadi.”
Diara langsung diam.
Baila menepuk pelan tangannya.
Baila: “Denger ya… kalau kamu beneran nggak nyaman, kamu harus tanya dia langsung.”
Diara: “Tapi aku takut… kalau ternyata memang benar.”
Baila: “Atau kamu takut jawabannya justru kamu salah paham?.
Diara menunduk.
Baila melanjutkan dengan suara lebih lembut.
Baila: “Diara, Jifan itu dingin, iya. Tapi dari cerita kamu… dia mulai berubah.”
Diara: “Berubah?”
Baila: “Iya. lihat aja sikapnya sama kamu, seperti dia udah ada rasa sama lo.”
Diara terdiam.
Diara: “Tapi aku lihat sendiri, Bai…”
Baila: “Kamu lihat dari sudut yang belum lengkap.”
Diara menggigit bibirnya.
Diara: “Kalau aku salah gimana?”
Baila: “Ya kamu tanya. Jangan kabur.”
Hening sejenak.
Baila tersenyum kecil.
Baila: “Lagipula, jujur ya… suami kamu itu tipe yang nggak bakal mau disentuh orang lain selain kamu.”
Diara langsung menatap Baila.
Diara: “Maksud kamu?”
Baila: “Maksud aku… kamu itu istrinya. Dan dari cerita kamu, dia nggak pernah memperlakukan kamu sebagai orang asing lagi.”
Diara terdiam lama.
Diara: “Aku harus gimana?”
Baila: “Pulang. Bicara. Jangan tebak-tebakan sendiri.”
Diara menarik napas pelan.
Diara: “Kalau dia marah?”
Baila: “Lebih baik dia marah karena kamu jujur, daripada kamu sakit karena diam.”
Diara mengangguk pelan, masih ragu.
Baila: “Diara…”
Diara: “Hm?”
Baila: “Kalau kamu nggak peduli, kamu nggak akan sesakit ini.”
Diara : " aku pulang nanti aja Bai, mau nenangin diri dulu."
Dan tanpa sadar…
Diara tertidur di sofa.
Kelelahan emosional.
Sore berubah menjadi malam.
Di tempat lain, Jifan di kantor tidak tenang.
Wajahnya pucat karena sakit yang semakin terasa.
Tapi yang lebih mengganggu…
Diara belum pulang.
Arkan masuk.
“Pak, Bu Diara belum bisa dihubungi.”
Jifan mengerutkan alis.
“Masih di mana dia?”
“Tidak diketahui.”
Jifan berdiri.
Namun tubuhnya sedikit goyah.
Arkan langsung mendekat.
“Pak, Anda harus istirahat.”
“Tidak.”
Malam semakin larut.
Jifan di rumah, sendirian.
Tidak ada Diara.
Tidak ada suara langkah kecil yang biasanya terdengar.
Rumah itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Ia mengambil ponselnya.
Menatap layar beberapa detik.
Lalu menelepon.
Diara tidak mengangkat.
Sekali lagi.
Tidak diangkat.
Jifan menghela napas berat.
Lalu mengetik pesan.
Jifan: Diara, pulang.
Tidak ada balasan.
Ia mencoba lagi.
Jifan: Aku sakit.
Masih tidak dibalas.
Beberapa detik kemudian…
Jifan akhirnya menelepon lagi.
Kali ini Diara mengangkat.
“Diara…”
Suara Jifan terdengar lebih pelan dari biasanya.
Lebih lemah.
Di seberang, suara Diara dingin.
“Ada apa?”
Jifan terdiam sejenak.
Lalu berkata pelan…
“…tolong pulang.”
Hening.
“Kenapa?”
Jifan menarik napas pelan.
“Aku sedang sakit.”
Suaranya berubah.
Lebih rendah.
Lebih… manja tanpa ia sadari.
“Pulanglah, Diara.”
Di seberang, Diara terdiam.
Dan untuk pertama kalinya…
suara Jifan terdengar bukan sebagai CEO dingin.
Tapi sebagai suami yang benar-benar membutuhkan istrinya.
Dan malam itu…
jarak yang sebelumnya terbentuk karena salah paham…
mulai menunggu untuk diperbaiki.