⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 20
Aiko menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan dadanya yang terasa sesak. "Bukan hanya mengganggu... itu mencekik untukku " Aiko mencengkeram lengan kemeja Ren yang berada di dekatnya. "Pamanmu... Saat kau melempar cincin Harada ke atas meja, aku tidak hanya melihat wajahnya yang memucat secara fisik, Ren."
Ren terdiam, menanti kelanjutan kalimat Aiko dengan saksama.
"Aura yang keluar dari tubuh Kaito Tachibana... warnanya hitam pekat dan menguarkan bau busuk. Sama persis dengan sisa energi yang menempel di gagang belati yang kulihat di ruang kerjamu," bisik Aiko, suaranya agak bergetar. "Harada tidak berbohong."
Rahang Ren mengeras dengan urat-urat lehernya yang menegang. Perlahan, ia melepaskan tangannya di dagu Aiko, lalu berdiri tegak membelakangi istrinya.
"Aku sudah menduganya belasan tahun," desis Ren, seraya mengepalkan kedua tangannya di balik saku celana. "Tapi gertakanku tadi akan membuat Kaito bergerak lebih cepat. Dia tahu Harada hidup, dan dia tahu ruang bawah tanah kediaman ini adalah tempat di mana rahasia paling rapat pun bisa dikupas paksa."
Aiko menatap punggung Ren. "Apa yang akan kau lakukan? Pamanmu memegang kendali atas lima tetua kolot itu. Jika kau menyentuhnya tanpa bukti hitam di atas putih yang bisa ditunjukkan pada seluruh anggota klan, dewan akan menganggapmu sebagai diktator yang haus darah. Klanmu akan pecah dari dalam."
Ren membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Aiko dengan seringai tipis.
"Itulah gunanya memiliki tikus seperti Harada di bawah kendaliku," Ren melangkah menuju pintu, mengabaikan fakta bahwa jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah malam. "Kaito pasti akan mencoba mengirim orang ke ruang interogasi untuk membungkam Harada sebelum fajar. Dan aku... akan menyambut mereka di sana."
Ren berhenti di ambang pintu, melirik kembali ke arah Aiko. "Tetap di kamar ini. Kunci pintu dari dalam. pengawal akan berjaga di luar selasar. Jangan sentuh benda apa pun malam ini jika kau tidak ingin kepalamu sakit lagi."
Aiko hanya bisa mengangguk saat Ren menghilang di balik kegelapan koridor.
Suara langkah kaki Ren perlahan hilang, Aiko bergerak dengan sisa tenaga yang ia miliki, menyeret langkahnya mendekati pintu geser. Dengan jemari yang masih bergetar samar, ia memutar selot kunci dari dalam.
Gerimis di luar berubah menjadi hujan deras. Suara air yang menerpa atap kediaman Tachibana terdengar riuh dan saling bersahutan.
Aiko kembali ke tepi tempat tidur, memeluk lututnya erat. Sisa hawa dari ruang pertemuan tadi masih terasa mengganjal di dadanya. seperti ada yang salah dengan suasana ruang kamarnya malam ini. Alih-alih mereda setelah kepergian Ren, hawa dingin di sekitar Aiko justru merambat naik dengan intensitas yang tidak wajar.
Bulu kuduk di tengkuknya berdiri tegak.
Bau anyir yang samar dan tanah basah yang terbakar menyeruak. Tubuh Aiko yang sedang tidak stabil, membuatnya menjadi magnet bagi sisa energi yang tertinggal di rumah ini.
Sreeet... Sreeet...
Aiko menahan napas. Matanya melebar, menatap lurus ke arah pintu geser kamar yang baru saja ia kunci.
Di balik kertas washi yang melapisi pintu, sebuah bayangan hitam bergerak lambat. Bayangan itu terlihat tinggi, tidak berbentuk jelas, namun mengalirkan cairan yang merembes masuk dari celah bawah pintu. kini cairan itu memadat dan merangsek masuk ke dalam ruang kamar.
"Jangan... jangan mendekat," bisik Aiko, suaranya tercekat di tenggorokan.
Ia memejamkan mata dengan jari tangan kanan meraih tusuk konde yang berada di nakas. seraya mencoba menutup pandangan batinnya. Namun, gelombang energi itu lebih cepat dari jari tangan Aiko, hingga akhirnya menghantam kesadarannya. Dan detik berikutnya, suara hujan di luar mendadak senyap. Seluruh ruangan berputar hebat, melontarkan kesadaran spiritual Aiko menembus sekat waktu, kembali ke belasan tahun lalu di tempat yang sama.
Wusss!
Angin malam yang terasa dingin menerpa wajah Aiko. Bau darah seketika menusuk hidungnya begitu tajam hingga membuatnya ingin muntah.
Aiko mendapati dirinya berdiri di sudut sebuah koridor yang terbakar. Ini adalah paviliun barat kediaman Tachibana beberapa saat setelah pembantaian terjadi. Di atas lantai yang bersimbah darah, dua sosok jasad manusia tergelatak dengan luka tusuk di dada. Yang Aiko yakini itu adalah ayah dan ibu dari Ren Tachibana.
Di hadapan kedua jasad itu, berdiri seorang pria muda dengan yukata yang robek di bagian bahu. Wajahnya dipenuhi kepanikan dengan sepasang matanya menyiratkan keserakahan yang tidak terbendung. Di tangan pria itu menggenggam belati yang berlumuran darah segar.
"Aku... aku telah melakukannya. Sekarang berikan apa yang kau janjikan padaku!" Ucap pria itu setengah berteriak, suaranya bergetar menatap kegelapan di ujung lorong paviliun.
Aiko memutar tubuhnya, ikut menatap ke arah kegelapan tersebut. Jantungnya berdegup begitu kencang.
Dari balik bayang-bayang pilar kayu, melangkah keluar sesosok pria berpostur tegap mengunakan jubah tradisional dengan potongan tegas yang teramat familiar di mata Aiko.
Wajah pria itu tidak terlihat jelas, namun di pergelangan tangan kanannya, melingkar sebuah gelang giok dengan ukiran benang merah. Yang Aiko tahu itu milik Klan Kurogawa.
Pria itu melemparkan sebuah kantong kain berisi batangan emas dan dokumen kontrak wilayah ke depan kaki pria itu yang gemetar.
"Bersihkan kekacauanmu," sebuah suara berat, dan berwibawa menggema dari balik bayangan itu. "Mulai malam ini, Tachibana-gumi berada di bawah kendalimu. Dan pastikan anak laki-laki itu tidak pernah tumbuh dewasa untuk menuntut balas."
"A-Ayah...?" Aiko memekik histeris, suaranya pecah di tengah penglihatan gaib tersebut.
Tiba-tiba sepasang mata merah menyala menatap Aiko lurus-lurus dari arah kegelapan dengan aura membunuh yang mengerikan.
"Aaakh!"
Aiko tersentak bangun, tubuhnya terlempar ke belakang dan saat tersadar ia masih di atas tempat tidur.
Ia terengah-engah, meremas dadanya yang naik-turun tidak beraturan. Keringat dingin mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya. Suara hujan deras di luar kembali terdengar, mengembalikan kesadarannya ke realitas masa kini. Kamar itu kembali kosong, dan bayangan di balik pintu itu telah hilang.
Aiko menatap kedua tangannya yang gemetar. Dengan Air mata yang mulai menetes di pipi.
"Pernikahan politik ini... aliansi ini... apa yang sudah ayah lakukan?"
Klek.
Suara selot kunci pintu yang terbuka dari luar seketika mengejutkan Aiko.
Pintu geser terbuka lambat. Di ambang pintu, berdiri Ren Tachibana. Kemeja hitamnya basah oleh air hujan, dan ada sisa cipratan darah baru yang mengering di rahangnya. Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju ke arah Aiko yang duduk meringkuk di atas kasur.
Ren melangkah masuk, menyadari perubahan pada raut wajah istrinya yang tampak jauh lebih terguncang daripada saat ia tinggalkan tadi.
"Kau melihat sesuatu lagi?" tanya Ren, seraya berjalan mendekat.
Aiko memandang Ren dengan rasa takut yang kini berganti menjadi rasa bersalah yang teramat. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan pada pria di hadapannya ini, bahwa musuh terbesar yang dicarinya selama belasan tahun adalah ayah dari wanita yang kini ada di dalam kamarnya?
Aiko mencengkeram kain selimutnya, menyembunyikan getaran jarinya saat Ren berhenti tepat di hadapannya. "Tidak... aku hanya bermimpi buruk karena suara hujan."
Ren menyipitkan mata, menilai kebohongan yang terucap dari bibir pucat Aiko.
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren