"Kalau bukan karena papa ku tidak menyukai Nisa, aku tidak akan mau menikah dengan mu!"Ucap Haikal kepada Yuri yang saat itu tubuh nya masih di baluti dengan gaun pengantin berwarna putih.
Yuri seorang gadis cantik yang berusia dua puluh empat tahun, sejak lulus SMA dia bekerja di sebuah restoran milik keluarga Nisa,yang notabennya adalah teman masa SMA Yuri dulu.
Selanjutnya apa yang terjadi dengan Yuri dan Nisa? Sehingga membuat Yuri menikah dengan pacarnya Nisa ya itu Haikal seorang CEO muda kaya raya?
Penasaran kan? ayo ikuti terus kisah dari "Selembar Surat Kontrak".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Sementara itu Yuri berjalan dengan perasaan yang hampa, bukan nya menuju kamar rawat Oma, dia malah berjalan ke arah taman rumah sakit.
"Seharusnya aku tidak merasa sedih seperti ini? Bukan kah ini sudah seharusnya aku rasakan?"Batin Yuri sambil menyeka air matanya.
Perasaan aneh itu kembali menghampiri Yuri, rasa sedih dan tidak enak nya melihat bagaimana Haikal begitu menyayangi Nisa, dia bahkan bisa memeluk Nisa dengan perasaan cinta yang benar-benar tulus.
"Ibu, aku merindukan ibu, sayang sekali ibu tidak di rawat di rumah sakit ini."Batin Yuri.
Yuri pun memilih untuk menenangkan dirinya di taman itu, dia tidak ingin kembali ke dalam rumah sakit karena mungkin saja Haikal dan Nisa tidak membutuhkan dirinya di sana.
Itu hanya akan membuat Nisa marah jika dia terus berada di dekat Haikal.
Sementara itu di ruang rawat Oma.
"Oma, di mana Yuri?"Tanya Haikal dan Nisa yang masuk ke dalam ruang rawat oma.
"Bukan kah dia pergi mencari mu?"Tanya Oma balik.
"Dia sudah kembali,aku melihat nya."Jelas Nisa santai.
Haikal pun terdiam, entah apa yang dia pikirkan saat ini, yang jelas dia merasa ada sebuah perasaan aneh di hati nya saat melihat Yuri menatap nya tadi dari jauh saat dia berpelukan dengan Nisa.
"Biar kan aku mencari nya, karena sebentar lagi kita akan kembali ke mansion membawa Oma."Ucap Nisa pura-pura baik di depan banyak orang.
"Tidak usah, biar kan Haikal yang mencari Yuri, kau di sini saja, bereskan baju-baju ku."Ucap Oma kepada Nisa.
"Tapi Oma."Ucap Nisa kesal.
"Haikal suami nya, kau tidak perlu khawatir itu."Jelas Oma lagi.
"Ba,baik Oma."Jawab Nisa dengan terpaksa.
Haikal pun kembali keluar dari ruang rawat tersebut untuk mencari Yuri.
"Di mana dia? Apa mungkin sudah pulang duluan?"Batin Haikal karena tidak menemukan Yuri di mana pun.
Sementara itu di taman rumah sakit.
"Aw."Leguh Yuri saat sebuah bola yang ukurannya nya sedikit besar mengenai kaki nya.
"Bola siapa ini?"Batin Yuri sambil memegang bola tersebut.
"Bibi, maaf kan aku, aku tidak sengaja menendang bola itu terlalu keras sehingga menyakiti kaki mu."Ucap seorang anak laki-laki yang seperti nya baru berusia enam tahun.
Anak laki-laki itu menghampiri Yuri dengan perasaan bersalah, dia juga terlihat mengunakan baju pasien rumah sakit.
"Ini bola mu?"Tanya Yuri kepada anak itu.
"Iya bibi, maaf."Jawab anak itu sambil menunduk kan kepala nya.
"Tidak apa-apa,ini aku kembalikan, lain kali hati-hati lah, jangan bermain bola di kawasan ini, di sini banyak para pasien yang sedang duduk untuk menghirup udara segar."Jelas Yuri dengan lembut.
"Iya bibi, tapi aku juga salah satu dari pasien di rumah sakit ini."Jawab anak itu sambil mengambil bola yang di berikan Yuri kepada nya.
"Benarkah? Maaf kan aku, aku tidak memperhatikan pakaian mu, jika kau sakit di mana orang tua mu? Mengapa kau sendiri di sini? Sakit seperti ini kau juga tidak boleh bermain bola."Jelas Yuri panjang lebar.
"Em, aku hanya punya ayah ku, ibu ku sudah meningal, tadi aku meminta ayah untuk membeli kan eskrim makanya aku tinggal sendiri di sini."Jelas anak itu dengan ramah nya.
"Sebaiknya kau menunggu di dalam, sendiri di sini kan tidak baik kau masih kecil"Ucap Yuri merasa kasihan terhadap anak itu karena dirinya sudah tidak memiliki ibu di usia yang masih begitu kecil.
"Tidak bibik, besok-besok aku belum tentu bisa main seperti ini lagi, dua haru lagi aku akan melakukan operasi dan dokter bilang kemungkinan hidup ku hanya sedikit jika operasi nya gagal aku akan meningal."Jawab anak kecil itu dengan wajah sedih nya menatap Yuri.
"Apa? Mengapa separah itu? Apa aku boleh tau kau ini sakit apa?"Tanya Yuri lagi.
"Emm, aku tidak tau, ayah ku tau, tapi aku tidak boleh bersedih karena jika operasi nya gagal aku akan bertemu dengan ibu di surga."Jawab anak itu dengan wajah yang kini terlihat bahagia dengan senyum yang mengembang.
"Heyy, mendekat lebih dekat lagi, aku akan memberi tahu sesuatu kepada mu."Ucapan Yuri menahan rasa sedih dan terharu nya mendengar ucapan anak kecil itu tadi.
"Ada apa bibi?"Tanya nya kebingungan.
"Dengar kan aku ya, aku tau kau merindukan ibu mu, tapi kau tidak boleh meningal kan ayah mu, apa kau mau ayah mu bersedih saat kau tidak ada di sisi nya? Jangan seperti itu ya, aku yakin kau pasti akan sembuh, dokter akan melakukan penanganan yang terbaik untuk mu, ayah mu mengharapkan kesembuhan mu, kau tidak boleh meningal kan nya, ibu mu pasti akan lebih senang jika kau bisa menjaga ayah mu di sini."Ucap Yuri panjang lebar dengan air mata yang tak bisa di bendung lagi.
Anak kecil itu terdiam, perlahan tangan nya mengusap lembut air mata Yuri yang menetes membasahi pipi putih dan caby itu.
Bersambung ....
klo seandainya iya, wah haikal kau berhutang nyawa sama yuri