Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Menyerang Malammu
Happy Reading ...
🍁🍁🍁
Sebuah pesawat meledak di udara, menyisakan semburat warna jingga kemerahan di angkasa. Serpihan-serpihannya menghujam ke lautan. Beserta rongsokannya segera meluncur bebas menukik tajam, membawa gelombang dan kemudian tenggelam perlahan.
Wisnu terlihat gusar, wajahnya nampak penuh kekhawatiran. Apa langkahnya setelah ini, haruskah melanjutkan rencananya awal. Kabur bersama Isna.
Kepulan asap berasal dari beberapa pulau yang mengelilingi pulau utama ini jelas, menyiratkan kematangan strategi Krisna menahan serangan. Soal nanti apa yang akan terjadi dengan pertanggung jawaban, pasti Seno sudah merancang penyelesaiannya.
Wisnu masih menunggu, saat yang tepat. Saat menatap kesekeliling nampak masih baik-baik saja. Angkara sepertinya sudah berhasil memulihkan system. Terbukti banyaknya pesawat yang putar balik karena tak ada ijin melakukan pendaratan.
Wisnu bergerak waspada, menatap beberapa rekan pengawal yang sudah bersiap mengamankan keadaan sekitar. Mengawasi setiap pergerakan yang mencurigakan.
"Sudah jam 12.05, apa Isna sudah bersiap pergi?" gumamnya menatap jam di pergelangan tangannya, hingga dia memutuskan untuk kesana.
Sementara itu …
🌹🌹
“Itu … itu suara apa?” resah Isna dengan nafas tersengal.
Tubuhnya dipermainkan Krisna, tak ada seinchi pun yang lepas dari sentuhan tangan dan bibirnya.
“Dengarkan nafasku saja,” ucapnya masih menikmati tubuh istrinya.
Deru nafas mereka menyatu, Isna tak begitu saja pasrah, banyak gerakan yang dia lakukan untuk menghalau aksi Krisna yang membuatnya seperti dipermainkan.
Tapi, justru hal itulah yang membuat Krisna semakin menggelora. Isna berbeda, penuh tantangan untuk menikmati tubuhnya. Dia bukan gadis yang dengan lihai meladeni aksinya, tapi gadis kaku tak berpengalaman yang sedikit melawan aksinya.
Krisna menyukainya, sebuah tantangan.
Rasa cinta yang mulai hadir dan bersemi, seperti pohon yang hampir mati karena terbakar api kehidupan yang keras. Krisna menemukan kembali ritme kehidupan monotonnya. Bersama gadis ini, dunia mudanya kembali berseri.
“Sakit, Kriss!”
Pekikan suara Isna membuat Krisna sejenak berhenti melancarkan aksinya, dia menatap wajah Isna yang mengeluarkan keringat dengan menggigit bibirnya. Isna mencengkeram erat kulit bagian punggungnya.
Berbeda ketika dia bisa memberi lenguhan akibat pemanasannya, pada proses penyelesaian malah membuat Krisna merasa frustasi.
Sesulit inikah? Batinnya mengerang.
Ingin dia menyelesaikan dengan indah, nyatanya malah isak tangis Isna dan cengkeraman di punggungnya yang menyisakan rasa perih.
“Maafkan aku, Isna. Aku tidak bisa berhenti,” desahnya mencium leher dan telinga Isna. Menyapu air mata itu dengan ciumannya.
“Ahh … berhentilah, sakit sekali,” rintih Isna dengan mata terpejam.
Dengan bobot tubuh dua kali lipat dari dirinya, tetap saja hanya bisa membuat Isna menahan sengalan napasnya tanpa bisa melawan.
“Aku mencintaimu, Isna.”
Ucapan Krisna, ucapan murni dari hatinya. Dia ingin sekali mengucap itu ribuan kali, namun dia bukan pria penuh gombalan dimulutnya. Dia menunjukkan cinta dan kasih dengan perbuatan.
Krisna menyentak tubuh Isna tanpa memperdulikan lagi isak tangisnya, baginya rintihan tangisnya sebagai kebahagiaan untuknya.
“Terimakasih Isna, menjadikan aku yang pertama bagimu,” bisiknya mesra.
Krisna menciumi bibir istrinya yang tersengal dengan nafas pendek-pendek. Pengalaman pertama yang menyakitkan bagi Isna. Dengan bibir tersenyum bahagia Krisna mengecup kening Isna dan turun dari tubuhnya, memeluknya sayang, mendekapnya erat tanpa mau melepaskan.
Aku akan selalu menjadi pertama dan selamanya untukmu, tak ada yang boleh menyentuhmu selain aku. Kau milikku untuk selamanya, Isna
Derap langkah dari luar kamar, membuat Krisna waspada. Telinga sensitifnya mampu membuatnya tahu berapa orang yang berlari kecil dihalaman belakang resortnya.
3 orang, membawa pistol dan dua pisau lipat di tangan kiri.
Krisna membaca pergerakan. Dia segera bangun dan menutupi tubuh Isna yang kelelahan dengan selimut.
Sambil meraih pakaiannya yang tercecer dilantai, Krisna memakainya cepat dan menatap waspada ke arah jendela kaca.
“Isna,” bisiknya dengan menjumputi baju Isna di lantai.
Segera meloncat ke kasur hingga membuat Isna terbangun karena kasurnya terhentak.
“Ayo, aku bantu memakai bajumu,” ucapnya lirih, masih menatap kesekeliling kamar Isna. Suasana nampak remang.
Krisna segera meraih tubuh mungil itu dan menempelkan bajunya. Dengan mata setengah sadar, Isna memakai pakaiannya lagi. Tubuhnya rasanya sakit semua.
“Aku akan menggendongmu, kalau kau tidak bisa jalan. Maaf harus ku lakukan sekarang atau aku malah terluka saat orang lain yang pertama melakukannya padamu.”
“Apa maksudnya?” desah Isna mendorong tubuh Krisna hingga sedikit terhuyung kebelakang.
“Masuk ke kamar mandi dengan langkah pelan, cari lemari yang ada kacanya dan masuklah kesana. Lewati lorong, jangan takut. Wisnu sudah menunggumu disana,” bisik Krisna sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Isna.
“Kau, tahu kalau aku ….”
Isna menelan ludahnya kaku, bagaimana mungkin Krisna tidak marah padanya.
“Aku marah, tapi tanda kepemilikanku sudah penuh ditubuhmu, artinya apa? Kemanapun kamu lari, aku akan menemukanmu. Sekarang pergilah, aku akan mengikuti permainan Kartika.”
Lagi-lagi Isna tertegun mendengar bisikan Krisna. Bagaimana mungkin sikap diamnya ternyata penuh misteri.
“Ayo cepat, tak ada waktu lagi,” tukasnya mencium bibir Isna dan melepaskan setengah hati.
“Aku, pergi,” pamit Isna menatap sejenak Krisna dan segera menggeser tubuhnya.
Rasa sakit dan perih dia tahan. Ingin dia mengumpat dan menjambaknya dengan kesal, namun apa daya, keadaan mencekam malah sedang merangkup pikirannya.
Aku tidak pernah menyangka, malam pertamaku diiringi dengan situasi yang mencekam seperti ini, sialnya aku.
Isna melangkah pelan disusul Krisna berjalan mundur, membelakanginya. Setelah Isna masuk kamar mandi, Krisna segera berguling dan mengintip dari balik tirai kamar, memandang ke bawah dengan sebelah matanya.
“Sial, siapa pengawal penghianat itu. Kartika, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu.”
Krisna menggeram dalam hatinya. Menyaksikan kini yang seharusnya jadi pengawalnya sedang melakukan penyelinapan. Jelas Krisna tahu, target tidak melukai, tapi menculik Isna dari sisinya.
Ceklak!
Krisna mengokang senpinya. Mengarah pada beberapa pengawal berpakaian serba hitam yang mengarah pintu belakang.
Dorr!!
“Binggo!” seru Krisna, satu pengawalnya tertembak.
Mati? Bukan urusannya.
Krisna berguling ke sisi pintu keluar dan berdiri waspada.
Dorr!! Pyaaarrr!!
Kaca jendela kamarnya hancur berantakan, Krisna menutupi wajahnya dengan lengan, menghalau serpihan yang terpencar.
Sialan! Mereka berani bermain denganku!
Krisna segera berlari cepat mengarah ke pintu ruang kerjanya.
Dorrr!! Dorr!!
Beberapa tembakan mengarah ke kamarnya, untung dia bisa berlari cepat hingga tak mengenai tubuhnya. Beberapa barang dikamar yang terkena tembakan nampak berantakan. Krisna segera masuk kedalam ruang kerjanya dan mengunci pintu.
Isna, larilah yang jauh. Semakin jauh, semakin kau aman. Aku akan selalu memaafkanmu, walau bagaimanapun, Wisnu tetaplah musuhmu.
Krisna menatap layar monitor dan mengamati cctv. Mencari letak dimana Kartika berada.
Dimana istri cantikku itu.
Krisna mencoba mengamati rekaman di setiap ruangan. Dadanya berdegup kencang, dia pun segera lari keluar ruang kerjanya dengan penuh kewaspadaan.
Suara desingan senjata api kian bersahutan. Nampaknya pengawal Krisna sudah mulai terkena serangan. Lebih tepatnya saling menyerang, beberapa menghianatinya.
Dia berlari dengan gesit tanpa menoleh, pandangannya tertuju pada balkon. Dimana Kartika berada saat ini, dengan berurai air mata, kini dia menatap Krisna.
Dengan nafas tersengal Krisna berhenti berlari, sedikit berjongkok dengan tangan bertumpu dilututnya. Mengatur nafas dan memandang Kartika disana.
“Lepaskan dia!” Teriak Krisna menatap tajam dua pria berbaju hitam dengan wajah tertutup, menyisakan kedua mata saja yang terlihat.
“Serahkan gadis itu, dan aku akan melepaskan istrimu ini,” balasnya dengan mengacungkan pistol di pucuk kepala Kartika.
Kartika bersimpuh di lantai dengan tubuh bergetar, dia menangis sesegukan, matanya merah memandang Krisna yang masih memaku.
Bagaimana ini? Ini bagian rencanamu atau kau benar-benar bagian dari korban?
Krisna menghentak kaki frustasi. Pikirannya gamang. Dia acungkan pistolnya mengarah ke kedua orang itu dengan deru nafas amarah. Krisna merasa dipermainkan.
“Jatuhkan pistolmu, atau aku tidak segan untuk menembak kepala istrimu ini hingga hancur, apa kau siap kehilangan wanita yang sudah 12 tahun berada di sisimu?” ejeknya disertai tawa.
Krisna masih mengacungkan pistolnya.
“Aku tidak menyangka, kau rela menukar istrimu ini setelah dengan istri baru beberapa hari, apa yang baru lebih menggairahkan bagimu?” tambahnya lagi sambil terkekeh.
“Diam! Atau aku akan menembak mulutmu itu, hingga hancur dan membuat gigimu seperti remahan debu,” balas Krisna dengan mata menatap tajam.
Krisna menatap Kartika dengan gusar. Dia nampak sedang berpikir tajam.
Suara desingan kian menjadi, malam ini malam yang panas. Nampak api dimana-mana dari arah kejauhan. Krisna memejamkan matanya sejenak dan melepaskan pistolnya tepat dibawah kakinya.
“Bagus, dimana gadis itu? Kau sembunyikan dimana? Kau tau bos kami sudah menunggunya bertahun-tahun dan kau dengan seenaknya mencurinya setelah dia membesarkan gadis itu? Kau serakah, Tuan Krisna,” ejeknya lagi sambil menarik Kartika agar bangun.
“Kau tahu, aku tidak pernah sekalipun memukul wanita, jadi kalau kau kasar sedikit saja padanya, jangan kau kira kau bisa bebas melenggang dari sini bersama nyawamu, mengerti?”
Krisna melangkah maju. Pengawal itu nampak sedikit gentar dengan senjata mengacung ke arah Krisna. Dua pistol mengarah padanya.
“Lepaskan dia, saat ini Isna sedang dalam perjalanan, kalau kau masih membuang waktu disini, aku yakin dia sudah jauh,” urai Krisna dengan wajah yakin.
Kedua pengawal itu segera melemparkan tubuh Kartika ke arah Krisna dan secepat kilat berlari meloncati balkon dengan seutas tali. Meluncur cepat ke bawah.
Krisna segera mendorong Kartika. Melangkah cepat mengambil pistol dan berlari ke tembok pagar balkon, membidik para pengawal yang telah sampai dihalaman.
Dor!! Dorr!!
“Shittt!!”
Krisna mengumpat kesal karena meleset. Dadanya kian bergemuruh marah, menatap Kartika yang masih menangis meringkuk di lantai.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Krisna meraih Kartika dan memeluknya. Kartika membalas pelukan itu dengan erat.
🌚🌚🌚
Isna dengan kaki gemetar menyusuri lorong, batinnya mengumpat kesal dengan nafas tersengal ketakutan.
Kenapa dia harus memilih waktu disaat keadaan kacau seperti ini?
Isna memukul tembok dengan kesal. Merutuki hatinya yang seakan mulai melemah, kenapa bisa mulai juga menyukai pria itu.
Disusurinya lorong lembab yang hanya beberapa lampu kecil tembok sebagai penerangnya.
Beberapa langkah kedepan dia menemukan sebuah pintu berbahan besi, kokoh sekali terlihat. Isna nampak kesulitan untuk membukanya, beberapa kali dia mencoba menarik, tapi sulit.
Sial sial sial!
Isna kembali merasa kesal. Kemudian di mondar-mandir berpikir, dia menelisik semua yang nampak berada di sekitarnya, dia lalu menarik sebuah tuas dan pintu otomatis terbuka perlahan. Isna bernapas lega.
Benar katamu, Tuan Krisna. Kepanikan dan kekhawatiran hanya akan menambah runyam, menutupi akal pikiran. Tidak ada hal yang bisa diselesaikan dengan mengedepankan kekhawatiran saja.
Isna menggumam dalam hati dan melongok sedikit mengamati area luar. Kebun, area kebun samping menuju ke area jalan keluar bagian bangunan khusus pegawai. Isna hapal jalan itu, dia sering mengunjungi ketiga pelayan pribadinya.
Isna dengan badan gemetar melangkah keluar dengan tatapan waspada, berusaha tidak membuat suara agar tidak menjadi perhatian beberapa orang yang nampak berlarian.
Isna segera merangsek dan menyembunyikan dirinya dibalik rimbunan tumbuhan perdu di taman. Mencoba mencari sosok Wisnu berada.
Dor!! Dor!!
Suara tembakan mengarah ke bagian bangunan pegawai membuat jeritan kian menggetarkan tekad Isna untuk berlari. Kakinya malah nampak semakin bergetar saja.
“Cepat! Katakan dimana gadis itu atau aku akan menghabisi kalian semua!” teriak beberapa pengawal merangsek ke dalam. Menembak beberapa pegawai yang berusaha membuat pergerakan.
Isna menutup matanya dengan meringkuk dibawah pohon.
Hanya gara-gara aku, kalian semua mengalami ini? tidak bisa ku biarkan.
Dengan tekad Isna segera bangkit dan berjalan menuju bangunan itu.
“Aku akan menyerah saja,” ucapnya dengan tetesan air mata. Dia tak sanggup melihat pelayan pribadinya menjadi korban.
Namun, ada tarikan tangan meraih tubuhnya, hingga membuatnya terjungkal jatuh berdua menghempas ke tanah. Matanya membulat dengan nafas tersengal, pria itu menggeleng tak setuju.
~ Janganlah menjadi manusia lemah, karna kau terlahir dari tekad dan dorongan dari nafas seorang ibu yang kuat. ~By Syala Yaya
🐙Merancu
~ R: Thor, kok adegan KrIsna cuma gitu sih, nggak asyik.
~ A: Yaelah, nggak asyik gimana? itu adegan dengan bahasa elegan tauk 😄😄😄
~R: Kurang Augh ... thor.
~A: Masa sih? aku aja nulisnya sambil deg deg syer lhoh😄, mbayangin berpengalaman vs polos. Bayangin sendiri ya.
~ R: Ahh ... author mah, nggak bisa di tawar.
~ A: Ya iya dong.😄😄
🍃
Bersambung …
Hai Readers tersayang ...
Setia terus ya pada kisah KrIsna. Semoga selalu menantikan update novelku😊
Baca juga karya Para Author Seniorku yang selalu memberiku dukungan, membuatku terinspirasi, dengan kisah cinta dari tokoh novelnya yang mendebarkan hati😊
dan juga karya Kak Roffey Zain
Terimakasih untuk dukungan kalian semua, melalui cara apa saja, entah dibaca saja, nambah like, komen, vote juga rate 5. Aku sangat mengapresiasi semuanya.
Salam Cinta dariku ~ Syala Yaya 🌹🌹