Queen adalah anak seorang pengusaha kaya, tapi kehidupannya tidaklah bahagia saat kedua orangtuanya lebih sayang kepada adiknya dikarenakan sang adik menderita penyakit.
Queen pun memilih tinggal di desa bersama Neneknya, dan di sanalah awal Queen bertemu dengan seorang polisi tampan yang sederhana.
Akankah cinta tumbuh diantara mereka dengan kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kembalinya Safa
3 bulan pun berlalu, klinik Queen sudah beroperasi. Queen memanfaatkan gedung bekas balai desa dan merenovasinya sehingga sekarang gedung terbengkalai itu disulap menjadi klinik untuk pengobatan para warga di kampung itu.
Semua warga sangat antusias dan menyambut dengan suka cita dengan keberadaan klinik itu, mereka tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke kampung sebelah untuk berobat.
Saat ini Queen sedang menulis obat-obatan yang diperlukan untuk kliniknya, tiba-tiba pintu di ketuk.
"Silakan masuk!" seru Queen tanpa melihat ke arah pintu.
Queen sedang tanggung menulis, tapi lama-kelamaan Queen mengerutkan keningnya karena orang itu belum duduk juga. Hingga akhirnya Queen mengangkat kepalanya dan terlihat di ambang pintu Rifki berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Ya ampun, ngapain kamu malah berdiri di situ? bukanya masuk."
Queen menghentikan kegiatannya dan bangkit dari duduknya menghampiri kekasihnya itu. Rifki menatap Queen dengan raut wajah yang sedikit cemberut.
"Kenapa, kok cemberut kaya gitu?" tanya Queen dengan senyumannya.
"Gak usah senyum-senyum segala, kalau aku lihat senyum kamu, aku jadi lupa akan marah aku kepadamu," ketus Rifki.
"Idih kok gitu? lagipula kenapa kamu marah?"
Rifki terdiam, tanpa menjawab pertanyaan Rifki pun langsung memeluk Queen membuat Queen tersentak.
"Katanya kamu dokter, tapi kenapa kamu gak peka banget sih sama perasaanku."
"Hai pak polisi, aku dokter dan aku hanya peka sama penyakit kalau sama perasaan, aku kurang ngerti."
Rifki melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik wanitanya itu.
"Kamu tahu, sudah 2 hari kamu mengabaikan pesanku bahkan panggilanku juga jarang di angkat, apa aku sudah melakukan kesalahan sama kamu?"
Queen terkejut, memang untuk beberapa hari ini Queen sangat sibuk sampai dia melupakan pacarnya sendiri.
"Astagfirullah, maaf karena beberapa hari ini aku sibuk banget, pasien tiba-tiba membludak bahkan banyak dari kampung sebelah pun malah justru berobat ke sini," sesal Queen.
Memang benar apa yang dikatakan Queen, pasien membludak sekali. Bahkan yang hanya sakit kepala sedikit pun mereka langsung datang ke klinik cuma gara-gara hanya ingin diperiksa oleh Queen, si dokter cantik yang saat ini menjadi primadona di kampung itu.
Rifki duduk di kursi dengan wajah yang masih cemberut, membuat Queen menyunggingkan senyumannya. Queen menghampiri Rifki dan memeluk Rifki dari belakang, kemudian mencium pipi Rifki berkali-kali hingga akhirnya Rifki mulai tersenyum.
Rifki menarik tangan Queen sehingga Queen terduduk di pangkuan Rifki.
"Kamu pikir aku tidak tahu, kalau selama ini banyak pria yang datang ke sini hanya untuk bertemu denganmu."
"Masa sih? tapi mereka ke sini karena ada keluhannya," sahut Queen.
"Keluhan apa? aku tahu mereka cuma modus saja karena hanya ingin di pegang-pegang sama tanganmu ini," kesal Rifki dengan menggenggam tangan Queen.
"Kamu cemburu?"
"Jelaslah cemburu, pria itu gila kalau gak cemburu melihat wanitanya pegang-pegang pria lain," kesal Rifki.
"Astagfirullah, gemes banget kalau lihat Pak polisi lagi cemburu," ledek Queen dengan mencubit kedua pipi Rifki.
"Kamu ya, malah bercanda."
"Sudah ah jangan ngambek terus, tugas seorang dokter itu memang seperti ini mau pria atau pun wanita, mau muda atau pun tua, aku harus profesional. Masalah mereka cuma modus, aku gak peduli, yang penting aku melaksanakan tugas aku sebagai dokter dan kamu jangan cemburu dong, karena sebanyak apa pun pria yang datang ke sini, tetap saja yang ada di hati aku hanyalah Pak polisi seorang," seru Queen dengan senyumannya.
"Benar ya, soalnya aku sudah tidak bisa berpaling lagi dari kamu Queen, malahan aku ingin cepat-cepat menikahi kamu."
"Yakin kamu mau nikahin aku?"
"Yakinlah."
Queen menatap kedua bola mata Rifki dan tidak ada kepalsuan di sana.
"Baiklah, aku terima permintaan kamu."
"Serius, sayang?"
"Iya, aku serius."
Rifki kembali memeluk Queen, bahkan Rifki sampai menitikkan airmatanya saking bahagianya. Bukan tanpa alasan Rifki sampai menangis seperti itu, karena dulu Rifki mempunyai kenangan pahit dalam masalah asmaranya.
Dulu, Rifki sudah hampir menikah tapi di hari pernikahan, calon mempelai wanitanya kabur karena si calon wanita lebih memilih pria yang lebih kaya daripada Rifki.
***
Sementara itu, di jembatan pembatas kampung, seorang wanita baru saja turun dari atas ojeg. Wanita itu tampak bahagia karena bisa kembali ke kampung halamannya, setelah bertahun-tahun dia tinggal di kota.
"Akhirnya aku sampai juga di kampung kelahiran ku, Rifki tunggu aku dan aku berharap kamu akan memaafkanku dan mau kembali padaku," batin wanita itu.
Wanita itu bernama Safa Amalia, dulu Safa adalah kembang desa dan banyak sekali yang menyukai Safa serta menginginkan Safa menjadi istri mereka namun sayang, hati Safa berlabuh pada seorang pemuda tampan yang saat itu masih dalam proses pendidikan menjadi seorang polisi yang tidak lain adalah Rifki.
Safa mulai berjalan sembari sesekali memperhatikan pemandangan di sekitarnya.
"Kampung ini sudah banyak berubah, baru saja 4 tahun aku meninggalkannya sudah banyak sekali perubahan yang terjadi di sini," batin Safa.
Safa tampak menyunggingkan senyumannya kepada setiap orang yang ada di sana, tapi sayang semua orang justru mengacuhkan Safa bahkan tidak sedikit yang menatap Safa dengan tatapan meremehkan.
Mereka masih ingat kejadian 4 tahun yang lalu, saat Safa memutuskan untuk kabur dihari pernikahannya dengan Rifki sehingga membuat Pak Haris sakit-sakitan sampai sekarang.
"Ngapain anak tidak tahu diri itu kembali lagi ke sini?"
"Dasar, perempuan tidak tahu malu, tidak punya perasaan, kasihan Mas Rifki dan keluarganya harus menanggung malu akibat ulah perempuan itu."
Begitulah celetukan-celetukan yang Safa dengar membuat hatinya sakit dan mempercepat langkahnya, dia ingin cepat-cepat sampai di rumahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Safa pun sampai di rumahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ya Allah Safa."
Mama Nunung segera memeluk anaknya itu, sudah 4 tahun dia tidak pernah bertemu dengan anaknya karena Safa memang tinggal di kota bersama suaminya.
"Mana suamimu, Nak?"
"Ah itu....kita masuk dulu Ma, nanti biar Safa ceritakan semuanya."
Safa pun mengajak Mamanya masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi.
"Ayah mana, Ma?"
"Ayahmu masih di sawah, kamu belum jawab pertanyaan Mama, Nak."
Safa menggenggam erat tangan Mamanya itu, dan meneteskan airmatanya.
"Maafkan Safa, Ma."
"Ya Allah, kamu kenapa Safa?"
"Ternyata Mas Agung tidak sebaik yang Safa pikirkan, selama 4 tahun hidup dengannya, Safa sangat tersiksa Ma. Hanya saja Safa tidak bilang sama Mama dan Ayah karena Safa takut kalian sedih."
"Astagfirullah."
"Awal-awal Mas Agung memang baik sama Safa Ma, bahkan dia memberikan semua yang Safa mau tapi setahun kemudian, sifat Mas Agung berubah dan mulai kasar sama Safa bahkan Safa sampai keguguran, Ma," seru Safa dengan deraian airmata.
Awalnya Mama Safa marah kepada anaknya itu karena sudah menyakiti hati Rifki, tapi mau bagaimana lagi Safa malah memilih kabur dengan pria yang baru saja dia kenal dan terbujuk dengan rayuannya.
*
*
*
Yuk, mana nih yang ikutan event gift mumpung masih ada waktu sampai akhir bulan.