Aulia merasa sangat kaget karena Andika tiba-tiba saja meminta dirinya untuk mengandung benihnya, awalnya dia tidak mau karena tidak mungkin dia mengandung benih dari pria yang sudah beristri.
Walaupun pada kenyataannya dia mencintai Andika dalam diam, tapi dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Gue mohon, elu mau ya, hamil anak gue?"
"Ngga mungkin gue hamil anak elu, bini elu gimana entar?"
"Jangan sampai dia tahu, nyokap minta cucu. Mereka ngancem kalau bini gue ngga cepet hamil, gue disuruh cerai. Padahal, bini gue mandul."
Kuy pantengin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Tidak Ada Kesempatan
Suasana pagi ini terlihat begitu canggung, baik Andika, Alika ataupun Aulia terlihat terdiam seraya menikmati sarapan pagi mereka dengan pikiran yang berkecamuk.
Sebenarnya Alika berusaha untuk cuek dan seolah tidak tahu menahu hubungan antara Aulia dan juga Andika, dia tidak mau ambil pusing.
Namun, tetap saja Aulia dan Andika seakan begitu canggung saat berhadapan dengan Alika. Entah kenapa tatapan Alika begitu berbeda menurut mereka.
"Oh ya Andika, Sayang. Kalau sarapannya sudah selesai, lekaslah bekerja. Karena Mom akan mengajak Aulia untuk melakukan perawatan," ucap Alika di sela sarapan paginya.
"Perawatan apa Mom? Aulia sedang mengandung, apa tidak berbahaya?" tanya Andika dengan raut wajah khawatir.
Melakukan perawatan biasanya menggunakan obat-obatan, hal itu membuat Andika takut akan berefek kepada kehamilan Aulia.
Alika tentu saja memperhatikan raut wajah putranya tersebut, ternyata perhatian Andika begitu besar untuk Aulia, pikir Alika.
"Justru ini adalah perawatan yang bagus untuk ibu hamil, karena dia tidak akan mengalami stress selama masa kehamilannya. Dia akan lebih merasa tenang, apalagi bayi yang Aulia kandung ada du--"
Belum sempat Alika melanjutkan ucapannya, Aulia yang takut ketahuan jika calon buah hatinya ada dua langsung memotong ucapan dari mertua rahasianya tersebut.
Dia takut jika Andika akan mengetahui jika calon buah hati mereka ada dua, dia takut jika Andika akan marah karena dia sudah berbohong.
"Ehm! Memangnya ada perawatan apa aja Tante?" tanya Aulia dengan cepat.
Alika langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa melihat raut kekhawatiran di wajah Aulia, Alika menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya. Kenapa Aulia menikah secara sembunyi-sembunyi dengan putranya?
Dia juga bertanya-tanya di dalam hatinya, kenapa Aulia berusaha keras untuk menyembunyikan janin yang berada di kandungannya itu?
Sebenarnya apa yang direncanakan Aulia di dalam pernikahan tersembunyi itu, Alika belum paham.
Namun, dia sengaja Ingin lebih dekat dengan Aulia agar dia tahu apa tujuan dan maksud dari menantu rahasianya tersebut.
"Banyak, Sayang. Nanti setelah sampai di salon kecantikan kamu bisa memilih perawatan apa pun yang kamu inginkan," jawab dari Alika.
Usia kandungan Aulia memang baru delapan belas minggu, tapi dia sudah sering merasakan pegal-pegal dan juga sakit pinggang serta punggung.
Mungkin saja dengan melakukan perawatan hal itu bisa teratasi, pikir Aulia. Maka dari itu, dia terlihat bersemangat untuk menerima ajakan dari mertua rahasianya itu.
"Baiklah, aku setuju!" jawab Aulia bersemangat.
"Bagus! Kita akan bersenang-senang," ucap Alika.
"He'em," jawab Aulia.
Melihat kedekatan antara ibunya dan juga Aulia, Andika merasa sangat senang. Rasa-rasanya jika Andika jujur pasti Alika tidak akan marah, pikirnya.
Namun, Andika merasa bingung harus memulai mengucapkan semuanya dari mana. Karena jujur saja, Andika benar-benar tidak nyaman harus berbohong dari ibunya tersebut.
Dia pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya, haruskah saat ini juga dia jujur tentang Andini yang tidak bisa melahirkan karena sudah melakukan pengangkatan rahim?
Atau, haruskah Andika jujur tentang pernikahannya dengan Aulia yang sudah berjalan hampir tujuh bulan?
"Andika, Sayang. Kenapa kamu malah melamun?" tanya Alika.
Andika yang terlihat sedang melamun terlihat tertarik alam nyata, dia terlihat tersenyum kaku ke arah ibunya tersebut.
"Tidak apa-apa, Mom. Hanya memikirkan tentang pekerjaan saja," jawab Andika.
Kembali Alika memperhatikan raut wajah putranya tersebut, kebohongan terjadi lagi di sana ,Alika sangat tahu.
"Oh," jawab Alika yang tidak mau memperpanjang urusan.
Setelah mengatakan hal itu, tidak ada lagi pembicaraan antara Andika, Aulia dan juga Alika. Mereka terlihat menghabiskan sarapan paginya, lalu Andika terlihat berpamitan kepada Alika.
"Aku sudah selesai, Mom." Andika menghampiri Alika dan mengecup keningnya. Setelah itu, Andika terlihat menolehkan wajahnya ke arah Aulia. "Pimoy, anterin gue ke depan dong," pinta Andika.
Untuk sesaat Aulia terdiam, karena dia takut jika Alika akan curiga terhadap dirinya. Namun, jika tidak menuruti keinginan Andika, Aulia juga merasa tidak enak hati.
"Anterin gih, anak manja Tante yang satu ini," kata Alika.
"Ya, Tante," jawab Aulia.
Dalam hati Andika merasa sangat senang karena ibunya meminta Aulia Untuk mengantarkan dirinya, berbeda dengan Aulia yang terlihat begitu canggung kala berjalan beriringan dengan suaminya itu.
Saat tiba di halaman rumah, Andika yang hendak masuk ke dalam mobil terlihat menarik lembut pinggang istrinya.
Dia terlihat menunduk dan hendak mencium bibir istrinnya, sayangnya hal itu tidak dia lakukan karena Andika melihat Alika yang berjalan ke arahnya.
Dengan cepat Andika melepaskan pelukannya, dia bahkan terlihat memundurkan langkahnya agar tidak terlalu dekat dengan Aulia.
Dalam hati Andika merutuki kedatangan ibunya yang dirasa tidak tepat, berbeda dengan Alika, walaupun dia pura-pura tidak melihat akan hal itu, tapi di dalam hatinya dia tertawa.
"Andika, Sayang. Kamu melupakan tas kerja kamu," ucap Alika seraya menyerahkan tas kerja milik Andika.
"Ah, iya, Mom. Terima kasih," ucap Andika seraya menerima tas kerja miliknya.
"Cepatlah pergi, Mom juga akan segera pergi," ucap Alika.
"Ah iya, Mom." Andika terlihat menatap perut buncit Aulia dengan sedih.
Sebelum pergi tentu saja dia ingin menyapa calon buah hatinya, tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan di hadapan ibunya.
Alika benar-benar ingin tertawa melihat akan hal itu, apalagi ketika melihat Andika yang langsung menjauhkan tubuhnya dari Aulia ketika putranya itu akan mencium istri rahasianya itu.
"Salah sendiri banyak bohongnya," gumam Alika yang pastinya tidak didengar oleh Aulia dan juga Andika.
Akhirnya Andika harus puas berangkat bekerja sebelum menyapa calon buah hatinya dulu, karena dia tidak mungkin melakukannya di hadapan sang ibu.
"Pimoy, Sayang. Sekarang ganti baju dulu, yuk. Tante sudah memesankan baju dari butik langganan Tante tadi pagi," ucap Alika.
"Eh? Kok repot banget, akunya jadi ngga enak hati," ucap Aulia.
"Tidak apa-apa, pakailah bajunya. Sudah Tante simpan di dalam kamar Andika," titah Alika.
"Ya, Tante," jawab Aulia patuh.
Aulia terlihat langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Andika, Alika terlihat tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
Dia benar-benar tidak menyangka jika hubungan Aulia dan juga Andika akan serumit ini, dia merasa tidak paham dengan keputusan mereka berdua.
"Sepertinya aku harus menyelidiki kondisi rumah tangga putraku," putus Alika.
Setelah mengatakan hal itu Alika terlihat masuk ke dalam kamarnya, dia juga ingin bersiap sebelum pergi ke salon kecantikan bersama dengan menantu rahasianya.
Di lain tempat.
Andini terlihat sudah bersiap, dia terlihat begitu cantik dengan memakai dress selutut berwarna biru muda.
Andini bahkan sudah terlihat memoles wajahnya dengan make up tipis, bahkan dia juga terlihat memoles bibirnya dengan gincu berwarna merah muda.
Baru saja Andini hendak keluar dari dalam kamarnya, Andika terlihat datang dengan wajah kusut.
"Ka--kamu pulang?" tanya Andini.
Andini terlihat begitu gugup saat melihat suaminya pulang, padahal dia sedang tidak melakukan apa pun.
"Hem," jawab Andika. Dia langsung menghampiri Andini dan memeluk istrinya itu, lalu dia menyandarkan kepalanya di pundak istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Andini.
Bukannya menjawab, Andika malah mengusakkan wajahnya pada cerukan leher istrinya.
"Kepala aku pusing," jawab Andika.
Dia menggigit leher istrinya dengan gemas, Andini hanya mampu menahan gejolak rasa yang datang. Karena pagi ini dia sedang tidak ingin melakukan olah raga ranjang.
"Kalau begitu kamu istirahat saja," kata Andini seraya mengusap lembut puncak kepala suaminya.
Mendapatkan perlakuan lembut seperti itu dari Andini, Andika terlihat mendongakkan kepalanya dan menatap wajah istrinya.
Dahinya langsung berkerut dalam ketika menyadari jika Andini kini sudah terlihat begitu cantik dan juga rapi.
"Kamu cantik banget, mau pergi ke mana?" tanya Andika dengan penasaran.
Tubuh Andini terlihat menegang, dia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah dia jujur jika pagi ini dia ingin menemui putri dari mantan kekasihnya, pikir Andini.
Melihat istrinya yang hanya diam saja, Andika terlihat mengecup bibir Andini beberapa kali. Lalu, dia bertanya.
"Kenapa kamu malah diam saja? Apa aku tidak boleh tahu kamu akan pergi ke mana?" tanya Andika lagi.
"Ehm! Aku, itu. Anu, aku---"