“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 30
“Terus kita bakalan usir Dafrina? Kasian Bi.”
“Kita bisa ngobrol di kamar, aku kangen sama kamu.” Alisha mengangguk, mereka berdua memasuki rumah dan langsung ke kamar setelah menyapa Dafrina, Dhevi, dan Ibnu di ruang keluarga.
Alisha duduk di tepi kasur diikuti oleh Albiru. “Dia akan aman berada di apartemennya, Sha. Kamu gak perlu khawatir, dengan dia ada di sini, rasanya kurang baik dan sebaiknya dalam rumah tangga kita gak ada orang lain selain orang tua yang membersamai kita.” Alisha mencerna perkataan suaminya itu.
“Iya juga. Aku nurut aja deh, nanti aku bilangin sama Dafrina.”
“Aku yang akan bilang sama dia, dan aku akan menaruh beberapa pengawal agar kamu gak khawatir lagi sama dia. Jadi Dafrina akan aman dan Uljan gak akan bisa menyentuh dia lagi.” Alisha kemudian memeluk kembali suaminya itu, mendekapnya erat dan menciumnya berkali-kali.
“Sayang banget aku tu sama kamu, Bi.” Albiru mengedip mesra lalu mencium kembali istrinya.
“Aku juga, boleh dong kalau minta lebih dari ini.” Alisha tertawa karena paham akan permintaan suaminya itu. Alisha mengangguk menyetujui dan mereka melakukan hubungan halal berdua, penuh kenikmatan dan desahan.
Keringat mereka bersatu dan Alisha kini lelah di bawah Albiru, pria itu menaikkan selimut lalu memiringkan tubuh agar bisa menatap wajah istrinya.
“Kamu sangat cantik, selalu cantik di mata aku Sha. Kayaknya mustahil aku bisa jauh dari kamu, gak ada perempuan yang mampu menandingi kamu di hati aku.” Alisha tersenyum dan mengusap wajah suaminya itu.
“Kamu ini bisa aja, perasaan pujian itu setiap malam deh kamu kasih ke aku.”
“Ya karena kamu memang pantas dipuji sayang. Kamu segalanya buat aku.” Alisha membenamkan wajahnya ke dada Albiru.
“Aku sebenarnya masih takut sama Naya sih, Bi.”
“Kenapa Naya?”
“Dengar-dengar, keluarga dia bakalan kasih jaminan dan hukuman Naya akan diringankan. Dia bakalan bebas dan takutnya malah bertindak lebih jauh lagi sama kita. Aku yakin kalau dia dendam sama kita, Bi.” Albiru mengusap lembut rambut Alisha.
“Gak perlu takut, dia gak akan bisa macam-macam lagi. Aku akan jagain kamu semampu aku Sha, rasa trauma kamu akan dibayar tuntas dengan hukuman yang akan Naya terima. Dia gak akan bebas begitu saja, percaya sama aku.” Alisha mengangguk dan perkataan Albiru tadi cukup dalam maknanya.
Pria itu tentu sudah menyiapkan rencana yang sangat matang untuk membuat Naya dihukum dan dia juga sudah membayar seorang sipir penjara agar mengawasi Naya dan memberitahu perkembangan serta dengan siapa Naya bertemu. Semua berjaga agar Naya tidak merencanakan hal gila lagi pada istrinya.
***
Pagi harinya, Albiru menemui Dafrina bersama dengan Alisha, mereka duduk di ruang tamu dan sekarang Albiru tidak masuk kerja. Dia ingin menghabiskan hari bersama sang istri berdua saja di rumah.
“Kamu udah aman, Dafrina. Kamu bisa kembali ke apartemen kamu dan beberapa pengawal sudah aku siapkan untuk kamu. Uljan tidak akan berkutik lagi, aku sudah memberikan peringatan padanya dan kamu aman.” Albiru berkata dengan tegas.
Dafrina seakan berat untuk kembali ke apartemen, karena dia merasa sudah sangat disayang oleh Dhevi dan Ibnu. Bahkan dia bukan ingin menetap di sana karena Albiru, melainkan karena ingin disayang oleh Dhevi.
“Dafrina,” panggil Alisha yang membuat Dafrina tersentak lalu tersenyum.
“Oh iya, aku akan kembali ke apartemen hari ini.” Albiru mengangguk.
“Kamu kenapa? Kok kayak berat gitu kembali ke sana?” tanya Alisha yang memahami Dafrina.
“Gak ada Sha. Sedih aja sih, aku baru aja ngerasain disayang sama bunda kamu. Aku nyaman sama beliau, tapi gapapa. Aku gak mau tinggal lama-lama di sini juga karena ini rumah tangga kalian, aku bakalan kembali ke apartemen dan hidup seperti biasa.” Alisha menatap sendu pada suaminya seakan memohon agar Dafrina tetap di sini saja.
Albiru mengusap rahangnya dan menatap Dafrina kembali. “Apa kamu benar-benar tidak merencanakan sesuatu?” tanya Albiru yang masih belum yakin akan perubahan Dafrina padahal memang wanita itu amat tulus untuk berubah.
“Iya Bi. Aku paham kalau kamu mencurigai aku tapi jujur saja, aku sangat nyaman di sini karena Tante Dhevi yang sayang sama aku, itu aja.” Albiru menghela napas dan menatap Dafrina kembali.
“Begini saja, kamu bisa menempati paviliun belakang rumah. Kamu bebas di sana sampai Alisha nanti melahirkan, karena Bunda Dhevi bakalan di sini juga. Selama itu, kamu aku izinkan tinggal di sini tapi setelah Alisha melahirkan, kamu harus pergi.” Dafrina tersenyum senang.
“Makasih banyak. Aku janji gak akan gangguin kalian kok.”
Keputusan Albiru itu juga disetujui oleh kedua orang tuanya, orang tua Alisha, serta Alisha sendiri.
***
Albiru membawa istrinya itu jalan-jalan di taman berdua, rasanya sangat tenang menghabiskan waktu dengan istri tercinta seharian penuh ini. Dia juga membawa Alisha belanja ke mall dan membebaskan istrinya itu membeli apapun yang ia mau.
“Hai bro.” Nando kembali menyapa dan saat ini Alisha dan Albiru sedang memilih belanjaan.
“Hai. Kau lagi, apa kabar?” balas Albiru.
“Baik, hai Sha. Gimana kabar kamu? Ikut prihatin sama yang menimpa kamu ya Sha. Aku masih ingat nih gimana galaunya Albiru cerita saat kamu pergi.” Nando berujar.
“Iya Nan, ya mau gimana lagi ya, namanya juga hidup, ada aja gebrakannya.” Mereka bertiga tertawa.
“Akhirnya kau dengan gadis impianmu juga ya, Bi.” Nando menepuk pundak Albiru.
“Selama aku bisa memiliki dia, aku akan terus mengikat dia dengan baik.” Kedua pria itu tertawa renyah.
“Ya sudah, kalian lanjut saja, aku juga mau pergi.”
Nando meninggalkan mereka dan Alisha mendekati suaminya. “Nando sama siapa sekarang, Bi? Soalnya aku liat sosmednya Hana, dia gak sama Nando.” Albiru mencubit ujung hidung istrinya.
“Mereka putus dan Nando memiliki istri yang gak kalah baik dan cantik dari Hana. Dia lumayan cepat juga sih buat move on.” Alisha mengangguk.
“Kok kamu enggak?” ledek Alisha yang langsung mendapat kecupan ringan di bibirnya dari Albiru. “Malu ih.” Albiru hanya terkekeh mendapatkan pukulan ringan di lengannya.
Mereka kembali memilih barang yang akan dibeli, lalu lanjut ke toko kosmetik untuk membeli perlengkapan kecantikan Alisha yang sudah mulai habis di rumah.
Alisha memilih beberapa skincare yang biasa dia pakai, sementara Albiru terus mengikuti dari belakang. Setelah semua dapat, mereka membayar dan keluar dari mall tersebut. Cukup banyak belanjaan Alisha karena Albiru membiarkan istrinya sampai puas.
Saat akan memasuki mobil dan Albiru masih sibuk menyusun belanjaan ke dalam bagasi. Alisha dihampiri oleh seorang pria yang ternyata sedari tadi melihat dirinya selama di dalam mall.
“Ini sapu tangan kamu jatuh,” kata pria itu sambil memberikan sapu tangan milik Alisha. Albiru yang mendengar ada suara pria bicara pada istrinya langsung menoleh dan menutup bagasi.
“Oh ini bukan sapu tangan saya, Mas.” Alisha menyahuti dengan lembut.
“Bukan ya? Soalnya tadi saya lihat jatuh dekat kamu belanja.” Alisha tersenyum lembut lalu menggeleng.
“Bukan Mas, ini bukan punya saya.” Pria itu menatap Alisha dengan tatapan berbeda yang mana Albiru tidak suka melihat itu.