Kisah petualangan para penyihir di Madriga.
Sebuah benua sihir yang hidup berdampingan dengan berbagai makhluk mitologi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida Anggraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Misi penyelamatan III
...KERAJAAN NAHDARA...
...(Source : Google)...
Hanada masih didalam bilik kerajaan, wanita itu terengah-engah mencari cara untuk menyelamatkan ayahnya. Hanada beberapa kali mengintip dari dinding yang dia lubangi dengan pedangnya.
Dia melihat Isa yang sedang mondar-mandir kebingungan, dia yakin pria itu sedang mencarinya. Hanada berjalan lagi menyusuri jalan tikus itu. Lalu sampailah dia di ruangan ganti kerajaan. Disana tempat semua pakaian penting Nahdara disimpan.
Hanada berjalan keluar dari pintu rahasia yang dia tahu. Wanita itu menghela nafas lega. Dia merasa aman, kemudian terdengar suara pintu seperti sedang didobrak paksa.
Brak brak
Terdengar suara pintu itu berasal dari ruangan lain, Hanada pun mengerjap dan terkejut mendengarnya. Wanita itu segera berdiri lalu bersembunyi dibalik patung prajurit berbaju zirah.
Pintu ruangan itu pun didobrak juga, terlihat seorang faun mencoba mencari Hanada. Untung saja faun itu tidak bersama prajurit lain.
Faun itu mengarahkan pandangannya ke patung berbaju zirah, dia melihat busur Hanada yang runcing tinggi menjulang. Dia menyeringai sambil mendekat kearah wanita itu.
"Keluarlaaaaah!" Faun itu sambil tertawa mencoba menggoda Hanada.
Dengan sigap Hanada langsung berdiri dan keluar dari persembunyiannya, tanpa jeda dia langsung menghantam wajah faun dengan tangannya.
Faun itu mundur tak merasa kesakitan, "wah rupanya putri ada disini" kata pria itu.
"Jangan sampai kau menyesal karena ingin menyerangku!" Kata Hanada. Bobot busur yang dipegang Hanada terasa padat.
"Hiyaaa!!" Hanada membagi dua busurnya yang kini sudah menjadi pedang yang runcing. Hanada melepaskan semua pemikirannya dan menarik napas. Dia tidak merasa gentar, hanya karena faun itu jauh lebih besar darinya bukan berarti dia takut.
Faun itu pun mengeluarkan pedangnya, dengan dua tumpuan kaki yang lebih lincah dari Hanada tentu saja membuatnya lebih percaya diri. Faun menahan serangan Hanada.
Suara logam saling menghantam menggema memekakkan telinga. Tidak ada orang lain disana selain mereka. Hanada memutar badannya dan menyerang lagi. Faun itu mendelik menyaksikan hal ini. Dia tak dapat menyangkal rasa takut yang melemahkan keyakinannya.
Kedua mata Hanada berkilat seperti sepasang mutiara pucat yang dibenamkan dalam tertawa menggeram bergema. Kedua pedangnya nyaris tak bergerak di genggamannya selagi dia melesat maju.
Hanada mengalirkan energi dengan unsur api pada pedangnya. Dia menyerang faun itu dengan agresif.
Brak
Serangannya melesat dan tidak mengenai Faun itu, melihat kesempatan didepan matanya faun itu langsung menyerang Hanada dengan tendangannya. Hanada terpelanting menabrak patung prajurit tadi sampai patung itu jatuh.
Satu pedang Hanada terlepas dari genggamannya , pedang itu meredup seiring jauhnya dari pusat energi. Sedangkan rasa sakit diperutnya akibat tendangan itu seperti menjalar ke tulang rusuk. Untunglah, dia punya satu jarum kecil beracun yang bisa dia gunakan pada Faun itu.
Kenapa tidak terpikir sejak tadi olehnya? Hanada melihat Faun itu berjaga-jaga dari serangannya. Hanada pun membuat tipuan agar faun bodoh itu tidak mengetahui gerakannya. Saat faun itu lengah Hanada melancarkan aksinya.
Hanada mengambil jarum kecil dibalik kain bajunya, masih dengan posisi duduk memegang perutnya, dia langsung melemparkan jarum kecil itu ke arah faun. Kini jarum itu menancap pada kaki Faun. Efek racunnya akan berlangsung dengan cepat sampai membuat faun itu lemas dan tidak berdaya.
"Apa ini?" itu pertanyaan terakhir Faun sebelum dia terkapar dilantai. Hanada menghela nafas lega. Tapi, tidak sampai disitu langkah kaki seorang prajurit pun terdengar masuk lagi ke ruangan tadi.
Hanada dengan sigap berdiri meraih kembali pedangnya. Kali ini, dia menyatukan dua pedang itu dan ia jadikan busur. Ia akan langsung menembakan anak panahnya ke arah prajurit itu.
Sreeet anak panah terlepas dari busurnya.
Anak panah Hanada melesat ke arah pria itu, tapi tangan prajurit itu dengan cepat menahan anak panah tadi sebelum menancap ke dada bidangnya. Pria itu menoleh kearah wanita didepannya.
"Hanada," suara itu tidak lagi asing baginya. Hanada melihat raut wajah pria itu dengan seksama.
"Candrasa!" Hanada dengan raut wajah gembira menghampiri pria itu dan memeluknya erat.
Seketika Hanada meneteskan air mata bahagia dan lega, akhirnya dia bisa melihat sahabatnya lagi. Terlebih, pria itu sudah sadar dari tidurnya. Candrasa membalas pelukan Hanada. Dilihatnya seorang faun terbaring di lantai, Candrasa pun menoleh lagi ke arah Hanada.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Candrasa.
Hanada menggeleng, "kenapa bertanya? Kau lihat, aku tidak baik-baik saja! Kerajaanku sedang kacau. Ini semua karena kesalahanku, jika aku tidak menolak Perjodohan itu. Mungkin mereka tidak akan berbuat hal ini." sorot mata Hanada dipenuhi rasa sesal.
Dia menyalahkan dirinya atas kejadian yang menyerang kerajaan Nahdara itu. Candrasa menatap Hanada dengan sendu.
"Ini bukan kesalahanmu, tidak ada yang perlu disesali Hanada, walaupun kau tidak menolak perjodohan itu hal ini tetap akan terjadi. Bahkan mungkin akan lebih buruk dari ini, mengingat tujuan utama mereka menjodohkan mu dengan Putra Mahkotanya bukanlah karena cinta tapi karena untuk merebut kekuasaan." Candrasa menggenggam tangan Hanada.
"Sekarang kita harus pergi dari sini!" Candrasa mencoba membawa Hanada keluar. Hanada mundur dan menggeleng, dia tidak bisa kemana-mana. Masih ada ayahnya yang harus dia selamatkan.
Tak lama, suara langkah kaki mendekat. Candrasa dan Hanada segera bersembunyi di pojokan dibalik cermin besar. Mereka saling berhimpitan. Terdengarlah suara dengusan seseorang.
Nafas Hanada dan Candrasa saling menderu, mereka berhadapan dengan gugup. Telinga Candrasa memerah melihat Hanada ada didekatnya.
"Kemana lagi aku harus mencari Hanada," Gumam seorang pria yang berjalan masuk keruangan tadi. Mendengar suara itu, Hanada dan Candrasa kini saling bertukar tatap.
"Air?" Kata Hanada pelan ke arah Candrasa pria itu pun mengangguk. Meeka yakin, itu adalah suara Air.
Hanada dan Candrasa pun keluar dari persembunyian mereka berdua, lalu berjalan menemui pria tadi. Air kemudian menatap mereka agak membelalak, dia menghembuskan nafas pelan syukurlah kedua sahabatnya itu baik-baik saja dihadapannya.
Air membuka lebar tangannya, senyum girang terukir pada wajah pria itu sambil berjalan mendekat ke arah sahabat-sahabatnya. begitupun dengan Hanada dan Candrasa. Hanada berlari kecil lalu memeluk Air erat.
"Air!" Air yang bertubuh tinggi agak membungkuk untuk memeluk Hanada, wanita itu sampai berjinjit untuk bersandar dipundak pria itu. Air memeluk pinggang Hanada, didepannya ada Candrasa yang menatap mereka dengan sedikit senyuman tipis diwajahnya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat khawatir padamu." Air semakin memeluk Hanada erat, tapi ada perasaan aneh pada Candrasa. Dia tidak seharusnya merasakan perasaan itu, apakah itu cemburu?
Candrasa menatap mereka dengan tanpa ekspresi, Air dan Hanada pun melepaskan pelukan mereka, tapi mereka masih saling menatap satu sama lain. Hanada mengalirkan beberapa tetes air mata kepipinya. Dengan sigap Air menyeka air mata itu, sambil tertawa kecil.
"Jangan menangis, kau sudah sampai sejauh ini. Mari buktikan pada ayahmu bahwa kau layak menjadi Kesatria dan layak memimpin Kerajaan ini." Air menyeringai, Candrasa mengambil beberapa langkah maju.
Dia menoleh ke arah Hanada, wanita itu pun kini menatap Candrasa.
"Air benar, kami akan membantumu menuntaskan ini." Kata Candrasa pada Hanada yang kini menyunggingkan senyuman bahagia.
Tak lama, suara langkah kaki segerombolan orang mendekat disekitar sana.
Mereka bertiga saling bertukar tatap, Candrasa mengeluarkan pedangnya, Air mengerat pegangan pada pedangnya juga, dan Hanada membagi kedua busur menjadi pedang. Dia memutarkan itu sambil melakukan ancang-ancang.
Candrasa dan Air tersenyum bangga melihat wanita itu.
...****************...
...****************...
Terimakasih sebelumnya jangan lupa like dan komen yaaa.
kalau g nyantai ntar banyak Typo.😁
buat penyemangat, aku kasih sekuntum🌷 untk kakak opti yang cantik nan indah bagaikan burung camar😀