masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ricuh
Sepulang dari Kanada badanku demam tinggi. Dokter bilang aku menunjukkan gejala flu dan kelelahan.
Perbedaan jam yang sangat jauh itu memang membuatku pusing dan harus menyesuaikan diri oleh malam dan siang.
Seperti pagi ini setelah sarapan aku sangat mengantuk. Entah efek obat atau karna biasanya jam 8 pagi di Indonesia sama saja jam 7 malam di Kanada.
"Istirahat aja ya sayang. Jangan pikirin kerjaan dulu. Kesehatan kamu lebih penting kan." Keenan mengusap dahiku, menyingkirkan anak rambut yang sedikit berantakan.
"Kakak mau berangkat kerja?" Tanyaku pada Keenan.
"Aku mau hadirin rapat sebentar nanti aku langsung pulang, janji nggak akan lama." Keenan mencium keningku.
"Kakak hati hati ya." Kataku mencium tangannya.
"Sini cium dulu." Keenan mencium dahi, hidung kedua pipiku dan bibirku.
"Kamu masih demam sayang. Sini bobo aja ya." Aku hanya mengangguki kata katanya dan nggak bisa mengantarnya sampai pintu depan.
Sepulang dari Kanada aku menjadi lebih manja pada Keenan. Tadinya aku hanya ingin menunjukan pada Keenan kalo aku cuma mencintai Keenan seorang. Tapi kami malah menjalin hubungan yang lebih baik.
00
Minggu ini nana cafe cabang baru sudah buka. Keluarga Keenan datang juga di pembukaan cafeku. Sayangnya anak anak cafe lama nggak bisa ikutan ke sini karena menunggu cafe utama.
Beberapa rekan bisnis Keenan bahkan datang ke sini. Aku sangat senang karena akhirnya kami bisa buka cabang.
"Mama Nana berhasil. Semoga bisnis yang kita bangun ini bisa jadi lebih sukses lagi ya." Kataku sambil menatap foto mamaku di dekat kasir.
"Nana." Seseorang memanggilku dari belakang.
"Ibra." Aku membalikkan badanku menatap Ibra.
"Selamat atas cabang baru Nana cafe. Maaf ya, aku baru bisa Dateng siang gini." Ibra tiba tiba memelukku untuk memberi selamat.
"Terimakasih banyak. Tanpa bapak Ibra Nana cafe nggak mungkin semudah ini bisa berdiri disini" kataku berterimakasih pada Ibra.
"Ayolah jangan gitu. Oh ia, ini hadiah dari aku." Ibra mengambil sebuah kotak besar yang di bawa oleh seseorang di sebelahnya.
"Ya ampun terimakasih banyak ya Ibra. Saya jadi ngerasa nggak enak karena anda sangat baik dengan kami." Kataku sopan padanya.
"Nggak papa, aku ikut senang kalau kamu senang." Ibra menatapku dalam seakan penuh harap.
"Permisi." Keenan tiba tiba muncul di sebelahku.
"Oh Keenan. Kesini juga?" Ibra menjabat tangan Keenan ramah.
"Ah tentu. Saya harus mendukung bisnis istri saya dong." Keenan merangkul bahuku mesra.
"Hah? Istri?" Ibra kaget saat Keenan mengatakan aku istrinya.
Ibra menatapku seakan nggak percaya. Lalu menatap ke arah Keenan lagi.
"Ia, apa anda belum tau? Ini istri saya Nana. Kami menikah 8 bulan lalu. Saya juga mengundang keluarga anda. Sayang sekali tapi anda nggak datang kan. " Kata Keenan menjelaskan dengan wajah yang sedikit sombong.
"Ooh, ternyata sudah lumayan lama ya. Semoga menjadi keluarga yang bahagia. Saya nggak bisa lama lama karena harus mengurus rapat pindah tugas siang ini." Ibra mengulurkan tangannya padaku. Tapi malah Keenan yang menyambutnya.
"Terimakasih ya sudah datang kemari." Ucap Keenan dengan senyum lebar seperti mengejek.
00
"Kamu kenal Deket sama dia sayang?" Tanya Keenan padaku.
"Ia, Ibra itu pelanggan setia di toko yang lama." Kataku pada Keenan.
"Jangan terlalu dekat sama dia ya istriku." Keenan mencium puncak kepalaku tanpa malu dan pergi menuju tamu yang kenal dengannya.
"Harusnya aku minta maaf sama Ibra karena nggak pernah kasih tau kalo aku sudah menikah sebelumnya." Batinku.
Aku kaget saat ada suara gelas pecah. Pandangan semua orang di cafe tertuju pada orang yang menjatuhkan gelas itu.
"Ngapain dia disini." Gumamku pelan.
"Yaaah, gelasnya pecah. Maaf yaa. Aku pecahin gelasnya." Jasmine berdiri dari duduknya.
"Kalian semua harus tau ya." Kini Jasmine sudah naik ke atas kursi cafeku.
"Denger gw baik baik." Kini semua pandangan pengunjung menatap Jasmine yang naik ke kursi.
Beberapa bodyguard Keenan sudah mendekat tapi Keenan memberi aba aba agar menahan.
"Lo Nana. Ini cuma gelas ya yang gw hancurin. Gimana perasaan Lo? Hari yang sangat indah ini gelas yang di siapkan ini hancur berserakan. Sama kaya hati gw. Dengerin ya kalian semua." Sebelum selesai bicara beberapa bodyguard Keenan sudah mendekati Jasmine.
"Berenti kalian. Liat ini kalo berani mendekat aku bakal bunuh diri disini." Jasmine mengeluarkan pisau dari dalam tasnya.
"Jasmine turun dari situ sekarang." Keenan menatap Jasmine dengan tatapan mematikan. Jasmine yang tadinya percaya diri agak menjauhkan sedikit pisau dari lehernya.
"Gw nggak akan berhenti yaaa. Chagi, apasih bagusnya perempuan itu. Aku udah temenin kamu selama ini tapi kamu malah nikah sama dia? Aku lebih baik mati aja daripada harus bertahan dengan hati yang hancur kaya gelas itu." Jasmine menangis di atas kursi itu sekarang orang orang menatap ke arahku, Jasmine dan Keenan bergantian.
"Jasmine turun sekarang." Keenan sedikit membentak Jasmine yang sedang menangis.
"Nggak. Aku nggak mau turun sebelum kamu pilih aku di banding dia. Aku bakal mati disini. Biar semua orang tau kalo Nana pelakor. Dan aku mau dia ngerasain gimana rasanya aku yang hidup bahagia dan datang dia sebagai penghancur." Jasmine Sudah melukai sedikit lehernya mengeluarkan darah.
"Cepet chagiyaaa. Kamu pilih aku kaaan." Jasmine menatap Keenan penuh harap.
Keenan menatapku dan Jasmine bergantian. Jasmine yang sudah menangis dan aku yang masih nggak percaya dengan semua ini.
"Kamu bodoh ya. Kenapa sih harus ngerusak acara orang. Aku lebih pilih Nana Karena dia nggak bodoh. Perempuan itu bukan cuma muka aja yang di urus. Tapi otak sama perilaku juga di urusin." Keenan mendekati Jasmine.
"Aku maunya kamuuuu.chagiyaaaa." Jasmine berjongkok di kursi saat Keenan berdiri tepat di depannya.
"Lain kali kalo mau bertindak di pikir dulu ya. Urusan kita udah selesai, tapi urusan kamu sama polisi belum selesai." Keenan mengambil pisau dari tangan Jasmine setelah mengatakan itu.
"Chagi jangan laporin Jasmine ke polisi." Jasmine memeluk Keenan saat akan di tangkap oleh bodyguard.
"Kamu mending nyerah sekarang atau mendekam di penjara?" Tanya Keenan yang nggak mencoba melepas pelukan Jasmine.
"Maafin aku. Chagiya, maaf." Jasmine sekarang malah bersujud di bawah Keenan.
"Bangun sekarang, minta maaf sama Nana. Terus kamu pergi dari sini jangan pernah ganggu hidup Nana lagi." Keenan hanya berdiri di tempatnya menunggu Jasmine bergerak.
"Aku nggak akan pernah minta maaf sama pelakor kaya dia." Jasmine berjalan menjauhi Keenan.
Tanpa di sangka dia malah berlari ke arahku. Adam yang di dekatku langsung berdiri di depanku untuk melindungi.
"Jasmine!! Kesabaran aku udah habis ya." Teriak Keenan. Jujur saja baru kali ini aku mendengar Keenan berteriak.
"Kakak. Sekarang Jasmine minta maaf. Tapi kalo ada kesempatan lagi. Semoga kita bisa ketemu, dalam keadaan kakak di tinggalkan sama Keenan. oh ia, Selamat anda berhasil menjadi tempat pelarian Keenan." Jasmine bergetar saat mendengar teriakan Keenan, tapi tetap menatapku dengan tersenyum jahat.
"Semoga hidup kalian bahagia." Adam membawa Jasmine kepada bodyguard disana. Dan Jasmine di bawa pergi dari sini.
"Tempat pelarian? Maksud Jasmine apa." Pandanganku menggelap. Semua gelap.
.
.
.
.
.
.
.
TBC..
29.08.2020
Nadiapuma