WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 35
Cempaka mengangkat tangannya tinggi, membuat tubuh Lastri terangkat tinggi pula. Setelah itu, Cempaka menurunkan tangannya dengan cepat. Tubuh Lastri pun ikut terjatuh dan terhempas dengan keras ke lantai keramik lorong itu.
“Huekk!” darah kental menyembur dari mulut Lastri. Membuat Cempaka tertawa-tawa, arwah itu tampak sangat senang sekali.
“Ihihihihiikk!” tawa Cempaka.
“Lastri!” panggil Herman sembari mendorong tubuh Darto. Darto pun jatuh tersungkur dengan wajah yang penuh lebam.
“Ihihihiiik!” kalian semua ingin mati bersama dan menemani aku di sini?”
“Dasar setan laknat! Aku akan menghapuskan dirimu.” Herman memegangi tubuh Lastri yang tergeletak di lantai lorong itu.
“Singkirkan dia, Her!” perintah Lastri. Herman pun mengeluarkan sisa air sakti pemberian Mbah Dukun. Dan mengarahkan botol itu pada Cempaka yang berdiri mengambang di hadapannya.
Belum sempat Herman menyiramkan air sakti itu, Darto lebih dulu bangkit dan menukul tangan Herman.
“Ihihhihii! Kalian satu profesi kenapa malah berkelahi?” tawa Cempaka. Arwah itu sempat-sempatnya mengejek kedua pria yang telah menguburnya hidup-hidup pada masanya.
Cempaka segera mengibaskan tangannya kedepan, membuat Darto dan Herman terdorong cukup jauh dari tempatnya.
“Uhkk!” eluh Herman.
“Akkhh!” er*ng Darto sembari memegangi punggungnya.
Kedua pria itu terhempas pada tembok, tepat setengah meter di atas kuburan Cempaka.
“Lastri, aku memberimu dua pilihan. Habisi dirimu sendiri atau aku yang mencabut nyawamu?”
“Aku tidak akan mati! Kau tidak akan bisa menghabisi aku!” teriak Lastri sembari menyeka darah yang belepotan di wajahnya. Seperti anak balita yang habis makan selai stroberi.
“Benarkah?” Cempaka mundur sekitar satu meter dari hadapan Lastri. “Kalau begitu, aku akan membuat dirimu merasakan sakitnya meregang nyawa. Hihihihihi!”
Swossss...! Cempaka menghilang sesaat, tetapi kemudian ia datang dengan membawa sesuatu di dalam genggaman tangannya.
“Terimalah dan rasakan!” Cempaka melemparkan sesuatu yang ada di dalam genggaman tangannya pada wajah dan tubuh Lastri.
“Huekk huekkk!” Lastri, mual dan langsung muntah-muntah.
Begitu juga dengan Herman, ia dan Lastri begitu jijik saat melihat sesuatu yang sudah merayapi tubuh dan wajah Lastri. Ternyata yang di lemparkan Cempaka adalah kumpulan belatung hidup.
Darto hanya menatap ngeri pada mahluk yang bergoyang dan bergerak di tubuh Lastri, belatung itu menjadi tumbuh semakin banyak.
“Itu adalah hewan ternak dari air yang kau berikan padaku waktu itu! Kau rusak wajahku tanpa belas kasihan, kini kau harus merasakan balasan dari apa yang telah kau perbuat!” Tiba-tiba, wajah Cempaka yang semula mulus. Kini berubah rusak dengan belatung yang memenuhi wajahnya.
“Sebentar lagi, belatung itu akan melubangi seluruh permukaan kulit mu. Ku rasa, sakitnya akan seimbang dengan sakit yang pernah kurasakan!”
Swosss...!
Cempaka terbang kembali dan menghilang. “Ya allah, wajah Cempaka,” batin Darto.
“Herman, rasanya gatal, perih, sakit dan panas. Bagaimana? Tolong singkirkan hewan menjijikan ini!” pinta Lastri.
Herman membatu Lastri menyingkirkan belatung-belatung itu. Tapi, bukannya berkurang, belatung itu menjadi semakin banyak. Kini, wajah Lastri sudah berubah merah. Tampaknya, belatung itu bukanlah belatung biasa, dengan cepat belatung itu bekerja di permukaan kulit putih dan bersih Lastri.
Tak lama kemudian, Cempaka datang berjalan ke tempat itu dengan menyeret sekop juga cangkul di tangan kiri dan kanannya.
“Cempaka!” panggil Papa Harun yang baru saja tiba bersama dengan istrinya, Radit, Ibra, Sarah, Toni dan Farhan.
Cempaka berbalik dan melihat orang-orang yang ada di belakangnya.
Lastri, Herman dan juga Darto terkejut melihat kehadiran dan kedatangan Harun.
“Harun! Harun tolong aku,” ucap Lastri sembari berjalan merangkak ke arah Papa Harun dan yang lainnya. “Wanita setan ini ingin menghabisi aku, tolong aku.” Lastri terus merangkak, tapi tak sampai-sampai pada posisi Papa Harun dan yang lainnya.
Tangan Lastri terus menggapai-gapai. Cempaka tidak tinggal diam. Ia mengangkat cangkul yang ada di tangannya. Dan menjatuhkan cangkul itu tepat di tangan kiri Lastri yang terus menggapai posisi Papa Harun.
“Cempaka!” teriak rombongan Papa Harun, termasuk Darto.
“Lastri!” teriak Herman pula.
Plak srekk!” cangkul tajam itu memotong pergelangan tangan Lastri.
“Akkhhhhh!” Lastri terus meng*rang dan berteriak kesakitan.
“Ihihihiiikkk! Sekarang tinggal menunggu ajalmu sampai, dan belatung-belatung itu akan masuk ke dalam lubang kem*luanmu dan juga organ tubuhmu yang lain.”
“Pa, gimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Radit pada Papanya itu.
“Biarkan saja, kita hanya perlu melihat tanpa menolong. Sebentar lagi polisi akan datang, biar mereka yang menyelesaikan masalah ini!” ujar Papa Harun.
Ingin berbuat sesuatu pun tidak mungkin, dendam yang ada pada Cempaka sangatlah besar. Papa Harun tidak bisa menghentikannya.
“Pa, lihatlah wanita itu! Dia hampir sekarat di buat Cempaka,” kata Mama Retno sembari menujuk Lastri yang terus bergerak tidak karuan di tempatnya.
.
.
.
BERSAMBUNG!
Hahahaa! Asli, Neng puyeng!🤕
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu